Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
14Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pidato Bung Karno 1 Juni 1945, Lahirnya Pancasila (Ke-2)

Pidato Bung Karno 1 Juni 1945, Lahirnya Pancasila (Ke-2)

Ratings: (0)|Views: 2,854|Likes:
Published by cahPamulang
Uploaded from Google Docs
Uploaded from Google Docs

More info:

Published by: cahPamulang on Aug 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

03/31/2013

pdf

text

original

 
Saudara-saudara! Sesudah saya bicarakan tentang hal “merdeka” maka sekarangyang bicarakan tentang hal dasar.
 
Paduka tuan Ketua yang mulia! Saya mengerti apakah yang Paduka tuan Ketuakehendaki! Paduka tuan Ketua minta dasar, minta
 philosophisce grondslag
, atau jikalau kita boleh memakai perkataan yang muluk-muluk, Paduka tuan Ketuayang mulia meminta suatu “
Weltanschauung
”, di atas mana kita mendirikannegara Indonesia itu.
 
Kita melihat dalam dunia ini, bahwa banyak negeri-negeri yang merdeka, danbanyak di antara negeri-negeri yang merdeka itu berdiri di atas “Weltanschauung”. Hitler mendirikan Jermania di atas “national-sozialistischeWeltanscahuung”, filsafat nasional-sosialisme telah menjadi dasar negaraJermania yang didirikan oleh Adolf Hitler itu. Lenin mendirikan negara Sovyet diatas satu “Weltanschauung”. Yaitu Marxistische, Historisch-MaterialistischeWeltanschauung. Nippon mendirikan negara Dai Nippon di atas “Weltanschauung”, yaitu yang dinamakan “Tenoo Koodoo Seishin”. Di atas “Tenoo Koodoo Seishin” inilah negara Dai Nippon didirikan. Saudi Arabia, IbnSaud, mendirikan negara Arabia di atas satu “Weltanschauung”, bahkan di atassatu dasar agama, yaitu Islam. Demikian itulah, yang diminta oleh Paduka tuanKetua yang mulia: Apakah “Weltanschauung” kita, jikalau kita hendak mendirikanIndonesia yang merdeka?
 
 
Tuan-tuan sekalian, “Weltanschauung” ini sudah lama harus kita bulatkan didalam hati kita dan di dalam pikiran kita, sebelum Indonesia datang. Idealis-idealis di seluruh dunia bekerja mati-matian untuk mengadakan bermacam-macam “Weltanschauung” mereka itu. Maka oleh karena itu, sebenarnya tidakbenar perkataan anggota yang terhormat Abikoesno, bila beliau berkata, bahwabanyak sekali negara-negara merdeka didirikan dengan isi seadanya saja,menurut keadaan. Tidak! Sebab misalnya, walaupun menurut perkataan JohnReed: “Sovyet – Rusia didirikan di dalam 10 hari oleh Lenin c.s.”, John Reed, didalam kitabnya: “Ten days that shock the world”, “Sepuluh hari yangmenggoncangkan dunia”, walaupun Lenin mendirikan Sovyet- Rusia di dalam 10hari, tetapi “Weltanschauung”nya telah tersedia berpuluh-puluh tahun. Terlebihdulu telah tersedia “Weltanschauung”-nya, dan di dalam 10 hari itu hanyasekedar direbut kekuasaan, dan ditempatkan negara baru itu di atas “Weltanschauung” yang sudah ada. Dari 1895 “Weltanschauung” itu dicobakan di “generala-repetitie-kan”.
 
Lenin di dalam revolusi tahun 1905 telah mengerjakan apa yang dikatakan olehbeliau sendiri “generale-repetitie” daripada revolusi tahun 1917. Sudah lamasebelum 1917, “Weltanschauung” itu disedia-sediakan, bahkan diikhtiar-ikhtiarkan. Kemudian, hanya dalam 10 hari, sebagai dikatakan oleh John Reed,hanya dalam 10 hari itulah didirikan negara baru, direbut kekuasaan, ditaruhkankekuasaan itu di atas “Weltanschauung” yang telah berpuluh-puluh tahunumurnya itu. Tidakkah pula Hitler demikian?
 
Di dalam tahun 1933 Hitler menaiki singgasana kekuasaan, mendirikan negaraJermania di atas National-sozialistische Weltanschauung.
 
Tetapi kapankah Hitler mulai menyediakan dia punya “Weltanschauung” itu?Bukan di dalam tahun 1933, tetapi di dalam tahun 1921 dan 1922 beliau telahbekerja, kemudian mengikhtiarkan pula, agar supaya Naziisme ini, “Weltanschauung” ini, dapat menjelma dengan dia punya “Munchener Putch”,tetapi gagal. Di dalam 1933 barulah datang saatnya yang beliau dapat merebutkekuasaan, dan negara diletakkan oleh beliau di atas dasar “Weltanschauung” yang telah dipropagandakan berpuluh-puluh tahun itu.
 
 
Maka demikian pula, jika kita hendak mendirikan negara Indonesia merdeka,Paduka tuan Ketua, timbullah pertanyaan: Apakah “Weltanschauung” kita, untukmendirikan negara Indonesia Merdeka di atasnya? Apakah nasional-sosialisme?Apakah historisch-materialisme? Apakah San Min Chu I, sebagai dikatakan olehdoctor Sun Yat Sen?
 
Di dalam tahun 1912 Sun Yat Sen mendirikan negara Tiongkok merdeka, tetapi “Weltanschauung”nya telah diikhtiarkan tahun 1885, kalau saya tidak salah,dipikirkan, dirancangkan. Di dalam buku “The three people’s principles” San MinChu I, Mintsu, Minchuan, Min Sheng, nasionalisme, demokrasi, sosialisme, telahdigambarkan oleh doctor Sun Yat Sen. Weltanschauung itu, baru dalam tahun1912 beliau mendirikan negara baru di atas “Weltanschauung” San Min Chu I itu,yang telah disediakan terdahulu berpuluh-puluh tahun.
 
Kita hendak mendirikan negara Indonesia Merdeka di atas “Weltanschauung” apa? Nasional-sosialisme-kah? Marxisme-kah, San Min Chu-I-kah, atau “Weltanschauung” apakah?
 
Saudara-saudara sekalian, kita telah bersidang tiga hari lamanya, banyak pikirantelah dikemukakan, macam-macam, tetapi alangkah benarnya perkataan dr.Soekiman, perkataan Ki Bagoes Hadikoesoemo, bahwa kita harus mencaripersetujuan, mencari persetujuan faham. Kita bersama-sama mencari persatuanphilosophische grondslag, mencari satu “Weltanschauung” yang kita semuasetuju: Saya katakana lagi setuju! Yang Saudara Yamin setujui, yang Ki Bagoessetujui, yang Ki Hadjar setujui, yang Saudara Sanoesi setujui, yang saudaraAbikoesno setujui, yang saudara Lim Koen Hian setujui, pendeknya kita semuamencari modus. Tuan Yamin, ini bukan kompromis, tetapi kita bersama-samamencari satu hal yang kita bersama-sama setujui. Apakah itu? Pertama-tama,saudara-saudara, saya bertanya: Apakah kita hendak mendirikan IndonesiaMerdeka untuk sesuatu orang untuk sesuatu golongan? Mendirikan negaraIndonesia Merdeka yang namanya saja Indonesia Merdeka, tetapi sebenarnyahanya untuk mengagungkan satu orang, untuk memberi kekuasaan kepada satugolongan yang kaya, untuk memberi kekuasaan pada satu golongan bangsawan?
 
Apakah maksud kita begitu? Sudah tentu tidak! Baik saudara-saudara yangbernama kaum kebangsaan yang di sini, maupun saudara-saudara yangdinamakan kaum Islam, semuanya telah mufakat, bahwa bukan negara yangdemikian itulah kita punya tujuan. Kita hendak mendirikan suatu negara “semuabuat semua”. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golonganbangsawan, maupun golongan yang kaya, tetapi “semua buat semua”. Inilahsalah satu dasar pikiran yang nanti akan saya kupas lagi. Maka, yang selalumendengung di dalam saya punya jiwa, bukan saja di dalam beberapa hari didalam sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosaki ini, akan tetapi sejak tahun 1918, 25tahun lebih, ialah: Dasar pertama, yang baik dijadikan dasar buat negaraIndonesia, ialah dasar kebangsaan.
 

Activity (14)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Vino Harusbisa liked this
Mbe Batak Nade liked this
HusnulMarfuah liked this
Adi Ida Ayu liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->