tahun, genetik, strain virus dengue, dan infeksi virus dengue sekunder (Andajani, 2006).DBD merupakan penyakit yang sering menimbulkan suatu letusanKejadian Luar Biasa (KLB) dengan jumlah kematian yang besar. PenyakitDBD yang pertama kali ditemukan pada tahun 1968 di Surabaya dengankasus 58 orang anak, 24 diantaranya meninggal dengan
Case Fatality Rate
(CFR) = 41,3%. Mengingat angka CFR – nya yang tinggi, cepatnya penyebaran dan kecenderungan terjadi peningkatan maka DBD merupakansalah satu masalah yang harus segera ditangani dengan cepat di Indonesia(Ditjen PPM&PL, 2001).Menurut data yang didapatkan di Puskesmas Bareng, KabupatenJombang ditemukan 1 kasus DBD pada 31 Desember 2008 dan 1 kasuskematian karena DBD pada Februari 2009 di Desa Tebel. Sedangkan padadesa –desa yang lain pada Kecamatan Bareng didapatkan juga kasus DBDtetapi tidak sampai ada yang meninggal. Dengan adanya kasus kematiantersebut maka dapat dikatakan Desa Tebel merupakan Desa Endemiskarena terdapat Kejadian Luar Biasa (KLB) disana.Banyak faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit demam berdarah dengue, antara lain faktor hospes (host), lingkungan(environment), dan faktor virus itu sendiri. Faktor hospes yaitukerentanan (susceptability), dan respons imun. Faktor lingkungan(environment) yaitu kondisi geografis (ketinggian dari permukaan laut,curah hujan, angin, kelembapan, musim), kondisi demografis (kepadatan,mobilitas, perilaku, adapt istiadat, sosial ekonomi penduduk), jenis dankepadatan nyamuk sebagai vektor penular penyakit. Faktor
agent
yaitusifat virus dengue yang hingga saat ini telah diketahui ada 4 jenis serotypevirus dengue yaitu Dengue 1, 2, 3, dan 4. Dari berbagai penelitian yangtelah dilakukan di India telah terjadi pergeseran genotipe virus Denguestrain Den-2. Demikian pula kejadian di 4 negara di Amerika Latin danSrilangka menunjukkan bahwa timbul genotipe baru dari Den-2 yang berhubungan dengan terjadinya DHF-DSS. Di Indonesia khususnya Jawa2