Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Plural is Me

Plural is Me

Ratings: (0)|Views: 200 |Likes:

More info:

Published by: Mohammad Jibriel Avessina on Aug 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/13/2010

pdf

text

original

 
Hasil Notulensi:Diskusi Pluralisme Hukum dalam perspektif Global
Dalam diskusi perdana Insititute Antropologi Indonesia tertanggal 14 Agustus 2010 membahastentang artikel
 pluralisme hukum dalam perspektif global 
 
yang termaktub di dalam buku hukumyang `bergerak` karya ibu
Sulistyawati Irianto
. Buku hukum yang bergerak adalah salah satu karyakontemporer di dalam perspektif antropologi hukum.Sebagai salah satu karya yang “relatif baru” paradiskusan mengalami kebingungan dalam memahami maksud dalam penulisan artikel ini.Diskusi dihadiri oleh:
1.
Jibriel Avessina2.Reza Elka
3.
Maisa Yudhoyono4.Aries
5.
Saviara Shania6.Pepeng
7.
Yulizar Syafrie8.Ruddy Agusyanto9.RijoAdapun kebingungan para diskusan termaktub dalam empat kebingungan mendasar tentang artikel iniyakni :
1.
Apakah artikel Ini bermaksud membahas perubahan hukum formal dan permasalahanhukum non formal?
2.
Apakah artikel ini bertujuan mempermasalahkan keseteraan hukum yang menjadialternatif pilihan bagi pengguna hukum di era globalisasi?3.Apakah keterkaitan di antara borderless state, borderless law, globalisasi hukum dan pluralisme hukum yang dibahas dalam artikel ini ?.
4.
Mengapa asimilasi atau hibrida hukum di era Globalisasi hukum justru diperlukan?....Untuk memahami kegelisahan yang dikemukakan oleh para diskusan maka perlu dipahami ringkasanartikel yang pikiran pikiran/ prinsip pokok yang dikemukakan dalam artikel Pluralisme hukum dalam perspektif global, Ringkasan artikel tersebut adalah sebagai berikut:
Pluralisme hukum dalam perspektif global
Berbicara mengenai pengertian pluralisme hukum pada masa awal sangat berbeda dengan masasekarang, pada masa pluralisme hukum diartikan sebagai koeksistensi antara berbagai sistem hukumdalam lapangan sosial (
 social field 
) tertentu yang dikaji dan sangat menonjolkan dikotomi antarahukum negara disatu sisi dan berbagai macam hukum rakyat disisi lain (Griffith,1986). Ko-eksistensiyang dimaksud adalah antara berbagai sistem hukum dalam lapangan sosial tertentu yang dikaji, dansangat menonjolkan antara hukum negara di satu sisi, dan berbagai hukum rakyat di sisi lain. Para ahlihanya melakukan pemetaan
mapping 
terhadap keanekaragaman hukum (mapping of legal universe)…dalam lapangan kajiannya, yaitu dengan menggolong-golongkan sistem hukum yang hidup bersamadalam suatu
 social field 
.
 
 Namun demikian dalam kekinian berbagai perdebatan dan diskusi telah melahirkan pemikiran –  pemikiran baru tentang pluralisme hukum yang lebih tajam dan berarti dalam menganalisis fenomenahukum dalam masyarakat diberbagai belahan dunia, bagaimana globalisasi dalam bidang ekonomi, politik, budaya dalam konteks sejarah dapat menjelaskan globalisasi dalam bidang hukum. Menurut - penulis, seiring dengan terjadinya pertukaran ekonomi, terjadi juga pertukaran dalam bidang politik,hampir tidak ada lagi negara yang dapat menjalankan politik tertutup secara absolute.
borderless state
menjadi salah satu atribut globalisasi.
Bagaimana Dengan Globalisasi Hukum ?
Menurut penulis, globalisasi tidak lagi dapat diartikan sebagai perjalanan satu arah dari barat ketimur melalui penyebaran nilai dan konsep demokrasi, hak asasi manusia beserta instrumen hukumnya,namun globalisasi adalah juga persebaran nilai, konsep dan hukum dari berbagai penjuru duniamenuju ke segala penjuru dunia. Menurut penulis artikel ini, globalisasi tidak hanya diindikasikanoleh
 Borderless State
, tetapi juga
 Borderless Law
. Hukum (unsur-unsur hukum – yaitu aturan-aturandalam pasal-pasal hukum) dari wilayah tertentu dapat menembus ke wilayah wilayah lain yangtanpa batas. Penulis artikel ini menyatakan Hukum internasional dan transnational dapat menembuske wilayah negara – negara manapun, bahkan wilayah lokal yang manapun di akar rumput atausebaliknya, bukan hal yang mustahil bila hukum dan prinsip prinsip lokal diadopsi sebagian atauseluruhnya menjadi hukum berskala internasional misalnya Prinsip dalam
 Alterrnative Dispute Resolition
( ADR ) dapat ditemukan dalam karakter sengketa yang dipelajari secara antropologis, penyelesaian sengketa bertujuan untuk mencapai WIN WIN SOLUTION ( COMPROMISE )dimana semua pihak merasa diuntungkan dan dimenangkan, sekarang ADR banyak dipelajari dandikembangkan diberbagai masyarakat manapun didunia ini, bisa juga terjadi mekanisme penyelesaiansengketa di nasional dan lokal yang melakukan negosiasi dalam arena
multi – sited 
dan didasarkan pada relasi relasi kekuasaan sangat penting untuk melihat bagaimana relasi kekuasaan itumenstrukturkan interaksi dan bagaimana interaksi diproduksi, hal diatas sangat berkaitan dengan perspektif baru dalam metodologi antropologi, khususnya etnografi dalam mempelajari globalisasihukum, dimana pendekatan pluralisme hukum mendapatkan perspektif yang baru.
Kondisi ini menyebabkan “Hukum dianggap bergerak”
karena memasuki wilayah wilayah lainyang “tanpa batas” maka terjadi persentuhan dan dinamika yang cepat. Menurut penulis Buku initerdapat aktor aktor yang menyebabkan hukum dianggap bergerak yaitu adalah buruh migran, NGOinternasional, korporasi multinasional. Dalam hal ini terjadi interaksi, kontestasi dan Salingadopsi/saling pinjam (sistem hukum internasional, nasional dan local).
Implikasi metodologis Multi spatial, Multisited
Penulis menyatakan Berbicara mengenai hubungan antara peristiwa pada skala luas ( NASIONAL )dengan peristiwa pada tingkat mikro ( LOKAL ) adalah berkaitan dengan keberadaan suatumasyarakat yang dipandang tersusun atas berbagai
 semi – autonomous social field 
( SASF ), dalamhal ini dapat dijelaskan bagaimanakah individu menanggapi peristiwa hukum pada tingkat nasional,interenasional dan berdasarkan pengalamannya atau apa yang diketahuinya mengenai bidang hukum pada tingkat yang makro itu, apakah yang ia lakukan, ketika ia sendiri berhadapan dengan masalahhukum.
Pengertian Pluralisme Hukum Dalam Perspektif Global
Penulis menyatakan bahwa ciri pluralisme hukum dalam perspektif global yang memberi perhatian pada penomena globalisasi hukum barangkali akan memunculkan pertanyaan, apakah maksudnya bahwa sistem hukum yang berbeda itu
 saling berkontestasi atau sebaliknya beradaptasi satu samalain
sehingga sistem hukum tertentu tidak dapat di pandang sebagai suatu entitas yang jelas batas –  batasnya karena sudah berbaur satu sama lain. Dalam perspektif penulis buku ini, pada masa sekarangkonsep hukum yang mengacu pada konsepsi
normatieve
dan
cognitive
ini digunakan kembali untuk menguraikan kerumitan dalam menjelaskan kerangka pikir pluralisme hukum. Seberapa jauh sistemhukum saling berdifusi dan berkompetisi dan terjadi perubahan sebagai konsekuensinya sangatlah bervariasi, tergantung pada konteks geografi dan ruang lingkup substansi hukum apa. Keragaman itu
 
akan ditemukan dalam hal institusi dan jenis – jenis aktor yang terlibat dan kekuatannya dalam saling- pengaruh itu akan sangat berbeda.
cluster 
atau bagian – bagian dari sistem –sistem hukum itu saling berkaitan menjadi saling bersentuhan, lebur, memberi respon satu sama lain dan berkombinasisepanjang waktu.Maka menurut Penulis artikel ini argumen yang mengatakan bahwa lapangan pluralisme hukumterdiri dari sistem – sistem hukum yang dapat dibedakan batasnya, tidak laku lagi. terlalu banyak fragmentasi, overlap dan ketidakjelasan. batas antara hukum yang satu dan yang lain menjadi kabur dan hal ini merupakan proses yang dinamis.Pada akhirnya artikel tersebut secara konseptual menjelaskan ada beberapa pokok bahasan pentingdalam pemikiran pluralisme hukum mutakhir.
PERTAMA
, hukum di pandang sangat memainkan peranan penting dalam globalisasi, karena hukum bersentuhan dengan domain sosial, politik, ekonomi.
KEDUA
, ada aktor – aktor yang menyebabkan hukum bergerak. mereka adalah para individu maupunorganisasi yang sangat ” MOBILE ”. para aktor ini penting dalam proses globalisasi dan glokalisasidan menjadi agen bagi terjadinya perubahan hukum.
KETIGA
, pemahaman globalisasi dalam konteks sejarah sangatlah penting, globalisasi hukum sudahterjadi sejak dahulu seiring dengan terjadinya penjajahan, penyiaran agama dan perdagangan padamasa silam. Sepanjang sejarah dilihat bagaimana hukum internasional dan traktat dapat menyebabkanhukum yang bergerak namun pada saat ini globalisasi dianggap memiliki karakter yang berbeda.
KEEMPAT
, perkembangan dari pemikiran di atas tidak hanya menyebabkan perlunya redefinisiterhadap pemikiran mengenai pluralisme hukum, tetapi juga memiliki signifikasi terhadap munculnyametodologi antropologi ” BARU ”----------------------------------------------------------------------
Hasil Diskusi
Dari Pemaparan pokok pokok pemikiran artikel tersebut maka diskusan menyimpulkan bahwa telahterjadi kesalahpahaman yang dilakukan oleh penulis buku dalam melihat dan memahami realitas.Untuk dapat memahami hal tersebut maka diskusan menelurkan pembahasan yakni:Ruddy Agusyanto:
1.Kesalah pahaman atas konsep “social field” dan konsekuensinya
Diskusan melihat Penulis melihat dan memahami realitas Hukum yang tak berbatas (borderless law) perbedaan dari proses globalisasi saat ini adalah adanya unsur-unsur hukum yang terdiri dari isi dari pasal dalam sistem hukum yang dianggap bergerak dalam menembus batas batas pada sistem hukummaka oleh penulis artikel hal ini dinyatakan sebagai
borderless law
sebagai salah satu karakter yangmembedakan dari sebelumnya. Oleh karena itu, pluralisme hukum sebelumnya dimaknai berdasarkankeberagaman atas unsur2 hukum dari sistem hukum yang ada“ko-eksistensi antara berbagai sistem hukum dalam
 social field 
tertentu yang dikaji, dan sangat menonjolkan antara hukumnegara di satu sisi, dan berbagai hukum rakyat di sisi lain(Griffiths, 1986) dimana para ahli hanya melakukan
mapping 
terhadap keanekaragaman hukum dalam lapangan kajiannya,yaitu dengan menggolong-golongkan sistem hukum yanghidup bersama dalam suatu
 social field 
- hukum internasional,nasional dan internasional”-

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->