Cukup mengaggetkan memang, tapi itulah fakta yang ada. Itu baru penelitian di daerah yang selama inikenal kota pelajar yang notebene secara akal harusnya lebih terkendali tapi justru malah sebaliknya. Selainitu, perkembangan zaman juga akan mempengaruhi perilaku seksual dalam berpacaran para remaja.. Halini, misalnya, dapat dilihat bahwa hal-hal yang-ditabukan remaja pada beberapa tahun lalu seperti berciuman dan bercumbu, kini sudah dibenarkan remaja. Bahkan ada sebagian kecil dari mereka setujudengan free . Perubahan terhadap nilai ini, misalnya, terjadi dengan pandangan remaja terhadap hubunganseks sebelum menikah. Dua puluh tahun lalu hanya 1,2 persen, 9,6 persen setuju hubungan seks sebelummenikah. Sepuluh-tahun kemudian angka itu naik menjadi di atas 10 persen. Lima tahun kemudian angkaini naik menjadi 17 persen setuju. Bahkan ada remaja sebanyak 12,2 persen yang setuju free .Sementara itu kasus-kasus kehamilan yang tidak dikehendaki sebagai akibat perilaku seksual dikalangan remaja juga mulai meningkat dari tahun ke tahun. Meski sulit diketahui pasti, di Indonesia angkakehamilan sebelum menikah, tetapi dari berbagai penelitian tentang perilaku seksual remaja, menyatakantentang besarnya angka kehamilan remaja. Catatan konseling remaja menunjukkan, kasus kehamilan yangtidak dikehendaki pada tahun 1998/1999 tercatat sebesar 113 kasus. Beberapa hal ini menarik berkaitandengan catatan itu misalnya hubungan seks pertama kali biasanya dilakukan dengan pacar (71 persen),teman biasa (3,5 persen), suami (3,5 persen); inisiatif hubungan seks dengan pasangan (39,8 persen), klien(9,7 persen), keduanya (11,5 persen); keputusan melakukan hubungan seks: tidak direncanakan (45 persen),direncanakan (20,4 persen) dan tempat yang biasa digunakan untuk melakukan hubungan seks adalahrumah (25,7 persen) hotel (13,3 persen). Konsekuensi dari kehamilan remaja ini adalah pernikahan remajadan pengguguran kandungan. Hasil penelitian PKBI beberapa waktu lalu menunjukkan, di Medan, JakartaYogyakarta, Surabaya, Bali, dan Manado, angka kehamilan sebelum nikah pada remaja dan yang mencari pertolongan untuk digugurkan meningkat dari tahun ke tahun. Sebuah perkiraan yang dibuat sebuah harianmenunjukkan, setiap tahun satu juta perempuan Indonesia melakukan pengguguran besarnya angkakehamilan remaja. dan 50 persen berstatus belum menikah serta 10-15 persen di antaranya remaja. Upaya pendampingan dari orangtua dan lembaga yang peduli kepada remaja adalah sebuah hal yang mestidilakukan, dan tentu saja pendampingan yang bersahabat, dan berpihak kepada remaja itu sendiri.Itu baru kita lihat dari sisi problematika biologisnya, belum lagi soal kebimbangan menentukan arah hidupremaja itu sendiri. Setidaknya data dan fakta di atas menjadi bahan perenungan kita bersama, bahwaternyata persoalan remaja ini tidak bisa dianggap enteng, tapi harus mendapatkan perhatian serius baik oleh pemerintah, para orang tua dan lembaga yang peduli akan remaja. Belum lagi kalau kita bicara soal remajayang terkena Narkoba, seperti data yang penulis ambil dari Badan Narkotika Nasional, pada tahun 1999 – 2003 jumlah tersangka kasus narkoba yang berusia 16 – 19 tahun mencapai 2.186 kasus, usia 21 – 24mencapai 6.845 kasus. Lalu bagaimana dengan remaja Banten...? itulah yang akan menjadi kajian kami di