Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
12Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Implikasi Cost Recovery

Implikasi Cost Recovery

Ratings: (0)|Views: 464 |Likes:
Published by blubiantara
Cost Recovery PSC Economics Goldplating Saving Index
Cost Recovery PSC Economics Goldplating Saving Index

More info:

Published by: blubiantara on Aug 25, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/22/2013

pdf

text

original

 
1
Implikasi Cost Recovery(2008)Benny Lubiantara
Cost recovery merupakan salah satu topik yang paling sering menjadi bahan pembicaraan,tidak saja terbatas di kalangan migas, namun juga menarik bagi masyarakat awam. Tidak mengherankan kalau kita sering melihat komentar yang terkadang kurang proporsional,hal ini timbul semata mata karena belum begitu dipahaminya mekanisme cost recoveryini, khususnya dalam PSC Indonesia.Didalam kontrak migas antara Pemerintah dengan Perusahaan Migas (Kontraktor), padadasarnya apapun bentuknya, pasti ada yang namanya mekanisme cost recovery, costrecovery sebenarnya tidak hanya terdapat didalam model PSC, didalam sistemConcession (Royalty/Tax) pun sebenarnya ada, memang istilahnya bukan cost recovery,lebih sering digunakan istilah cost deductions, dalam Service Contract, pun demikian, adamekanisme seperti diatas. Pada intinya: Perusahaan migas itu melakukan investasidengan uang mereka, jadi setelah usaha tersebut menghasilkan sesuatu, adalah wajarapabila biaya biaya yang sudah dikeluarkan tersebut dibayarkan kembali.Kapan cost recovery bisa dilakukan?, tergantung terms & conditions didlam kontraknya,sebagian besar Fiscal Terms didunia ini, mengenakan royalty, artinya prioritas pertamadari gross revenue itu adalah untuk membayar royalty terlebih dahulu, setelah itu, sisanyadapat digunakan untuk membayar biaya yang telah dikeluarkan (cost recovery).Indonesia agak unik, karena ada FTP (First Tranch Petroleum) besarnya 15%-20%,berbeda dengan royalty, FTP ini dibagi antara bagian pemerintah dengan Kontraktor.Beberapa negara tertentu tidak mengenakan royalty, jadi grosss revenue bisa langsungdigunakan untuk membayar cost recovery, dalam banyak kasus, cost recovery ini dibatasimisalnya 70% dari gross revenue pada tahun tersebut, apabila jumlahnya tidak cukup,maka sisanya akan dibayarkan ke tahun berikutnya (carry forward).Apa tujuan utama: royalty, FTP dan cost recovery limit? Mengingat investasi migas inimemerlukan biaya yang sangat besar, tujuan utamanya tidak lain untuk menjamin agarpemerintah memperoleh bagian migas dari saat awal produksi. Apabila tidak ada royaltyatau FTP atau cost recovery limit, pemerintah tidak akan memperoleh bagian profit oil,semua gross revenue akan digunakan untuk membayar kembali biaya biaya yang telahdikeluarkan (cost recovery).
 
2Didalam sistem PSC, dikenal istilah profit oil, yaitu: gross revenue
 – 
FTP
 – 
cost recovery,yang selanjutnya dibagi antara pemerintah dan Kontraktor. metode pembagiannyabervariasi, ada yang besarnya tetap (fixed), bergantung laju produksi, berdasarkankumulatif produksi, faktor faktor tertentu
(“R” faktor),
ROR, harga minyak, kondisigeologi (frontier area, kedalaman, etc), dan ada juga yang berdasarkan sifat minyaknya(API gravity) dan lain lain.Setelah profit oil dibagi, maka Kontractor akan dikenakan pajak, tergantung kontraknya,apakah besarnya profit oil split tersebut sebelum dikenakan pajak (before tax) atausetelah dikenakan pajak (after tax). Tentu ada parameter lain, seperti DMO (DomesticMarket Obligation), state participation dan lain lain. Dari pembagian iini selanjutnyaKontraktor dapat menghitung arus kas (cash flow) mereka.
Goldplating
Ada istilah yang cukup dikenal yang disebut goldplating, yaitu kecenderunganKontraktor untuk melakukan investasi yang sebenarnya tidak begitu diperlukan(unnecesarry investment). Goldplating ini menjadi topik yang hangat, khususnya baginegara negara tuan rumah (host countries). Alur pemikirannya seperti ini: dengan adanyamekanisme cost recovery, maka semua biaya pada akhirnya akan dikembalikan juga,dengan demikian negara pasti akan mengalami kerugian, sampai disini cukup jelas bahwasemakin tinggi cost recovery, semakin berkuranglah bagian yang akan masuk ke pundipundi negara. Hal yang perlu di analisa lebih lanjut adalah benarkah kalau cost recoverynaik, keuntungan Kontraktor akan meningkat?Lihat gambar dibawah,
diasumsikan telah terjadi “goldplating” sebesar $1, gambar disebelah kiri sebelum ada “goldplating”, gambar sebelah kanan,
terjadi goldplating
sebesar $1, (sehingga “cost oi
l
” naik dari
$39 menjadi $40).
 
3Siapa yang diuntungkan kalau biaya naik? Kita dapat melihat bahwa negara (hostcountry) jelas akan mengalami kerugian, bagiannya dari gross revenue turun dari $51.85menjadi $51 (atau turun sebesar $0.85). Bagaimana dengan Kontrakor? profit oilKontraktor turun dari $12.32 menjadi $12.06, akibatnya pajak yang harus dibayarkan juga turun dari $7.19 ke $7.07, dengan demikian total profit oil setelah pajak Kontraktor juga mengalami penurunan sebesar $0.15 (angkanya tidak persis $0.15 karena ada faktorpembulatan).Dengan demikian, akibat kenaikan biaya sebesar $1 tersebut, Kontraktor sebenarnyamengalami kerugian dan yang lebih mengalami kerugian tentunya Negara. Siapa yangdiuntungkan? Jawabnya: Oknum!. Goldplating atau mark-up sebesar $1 itu akan masuk kantong oknum, tentu saja oknum ini bisa siapa saja, baik oknum yang berkerja diperusahaan Kontraktor, maupun oknum di perusahaan penyedia jasa (service companies)atau bahkan oknum dari host country tersebut.Namun demikian, kita sebaiknya tetap harus memilah milah, apabila cost recoverymengalami kenaikan, tidak selalu hal tersebut dikonotasikan sebagai goldplating ataumark-up. Kalau harga minyak naik, biasanya harga harga komoditi penunjang migas dan jasa penunjang ikut mengalami kenaikan, akibatnya: tentu cost recovery akan meningkatpula. Sebaiknya kita jangan semata mata melihat nilai nominalnya, karena pada saat yangsama (karena naiknya harga mintak), maka gross revenue juga akan naik, Tentu akanlebih proporsional apabila kita melihat cost recovery tersebut sebagai persentase dariGross revenue.

Activity (12)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Sean Choi liked this
rafiqimtihan liked this
Mitha Satib liked this
Mitha Satib liked this
Ruddy V Phd liked this
Mitha Satib liked this
Benny Nafariza liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->