Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
7Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Psikologi Perempuan Melepas Jilbab

Psikologi Perempuan Melepas Jilbab

Ratings: (0)|Views: 4,407|Likes:
Psychology of Fashion: Fenomena Perempuan [Melepas] Jilbab
(Psychology of Fashion: The Phenomenon of Women [Removing Their] Jilbab).

Author:
Juneman

Preface:
Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, M.A., A.P.U.
Dra. Tiwin Herman, M.Psi.

Epilogue:
Afrizal Malna
dr. G. Pandu Setiawan, Sp. K.J.

Format: Book

Edition: I (First Edition), July 2010

Description:
Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2010
xxxiv + 398 p.
14,5 x 21 cm

ISBN 13: 978-979-25-5325-3
ISBN 10: 979-25-5325-8

Notes: Includes bibliographical references (p. 371-386) and index

Subjects: Religion Psychology, Social-Humanities, Pluralism, Jilbab

Launched in Jakarta, August 2010, attended by:

1. Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, S.S., M.A., a member of Presidential Advisory Council, Republic of Indonesia (Dewan Pertimbangan Presiden RI / Wantimpres Bidang Pendidikan dan Kebudayaan)

2. Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, M.A., A.P.U., a member of Indonesian Academy of Sciences (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia / AIPI Komisi Ilmu Kebudayaan)

More info: http://knol.google.com/k/juneman/psychology-of-fashion-fenomena/2qc7aganedjje/1
Psychology of Fashion: Fenomena Perempuan [Melepas] Jilbab
(Psychology of Fashion: The Phenomenon of Women [Removing Their] Jilbab).

Author:
Juneman

Preface:
Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, M.A., A.P.U.
Dra. Tiwin Herman, M.Psi.

Epilogue:
Afrizal Malna
dr. G. Pandu Setiawan, Sp. K.J.

Format: Book

Edition: I (First Edition), July 2010

Description:
Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2010
xxxiv + 398 p.
14,5 x 21 cm

ISBN 13: 978-979-25-5325-3
ISBN 10: 979-25-5325-8

Notes: Includes bibliographical references (p. 371-386) and index

Subjects: Religion Psychology, Social-Humanities, Pluralism, Jilbab

Launched in Jakarta, August 2010, attended by:

1. Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, S.S., M.A., a member of Presidential Advisory Council, Republic of Indonesia (Dewan Pertimbangan Presiden RI / Wantimpres Bidang Pendidikan dan Kebudayaan)

2. Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, M.A., A.P.U., a member of Indonesian Academy of Sciences (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia / AIPI Komisi Ilmu Kebudayaan)

More info: http://knol.google.com/k/juneman/psychology-of-fashion-fenomena/2qc7aganedjje/1

More info:

Published by: Juneman, S.Psi., C.W.P., M.Si. on Aug 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

05/14/2013

pdf

text

original

 
cari
Home
KEBINEKAAN
Penyeragaman yang Menyusup
Jumat, 27 Agustus 2010 | 03:33 WIB
Upaya meminggirkan mereka yang berbeda belakangan ini menjadi kegundahan banyak anggotamasyarakat karena Indonesia adalah ”berbeda-beda tetapi tetap satu”.Namun, menurut penelitian tim dari Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak PerempuanRahima, gerak penyeragaman tersebut sudah terjadi setidaknya sejak tahun 2007-2008. Jalur yangdigunakan salah satunya melalui pendidikan di sekolah.Farha Ciciek, pemimpin penelitian beranggotakan lima peneliti tersebut, menemukan, kelompok-kelompok konservatif dan radikal keagamaan bersifat nasional ataupun transnasional menggunakansekolah, terutama kegiatan ekstrakurikuler kerohanian, sebagai tempat menyosialisasi nilai danpraktik menolak keberagaman, mengembangkan kepatuhan tanpa nalar kritis, mengajarkankebenaran tunggal, cenderung mengembangkan sentimen keumatan dan kurang pada rasakebangsaan dan kemanusiaan, menolak yang berbeda, dan mendiskriminasi perempuan.Penelitian dilakukan di 30 SLTA, terutama SMAN, SMKN, termasuk madrasah aliyah negeri. Dalampemaparan penelitian pada acara penganugerahan Saparinah Sadli Award, Selasa (24/8) diJakarta, Ciciek mengatakan, praktik tersebut juga ditemui di SMAN terkemuka di kota-kotapenelitian. Penelitian dilakukan di Jakarta, Pandeglang, Cianjur, Cilacap, Yogyakarta, Jember, danPadang.Penelitian dilakukan awalnya untuk mengetahui praktik diskriminasi jender di sekolah. ”Tetapi,sejumlah guru, terutama guru agama, orangtua murid SLTA, anggota ormas agama, dan aktivislembaga swadaya masyarakat mengeluhkan perilaku ’aneh’ yang menggelisahkan di rumah dan disekolah,” tutur Ciciek.Di antaranya, siswi-siswi sebuah sekolah teladan di Yogyakarta dilarang tampil dalam acarakesenian sekolah dengan alasan suara adalah aurat. Ada pula ibu yang merasa tak mengenalianaknya lagi karena si anak tak mau berhubungan dengan ibunya karena si anak menganggap imanibunya tak sebaik si anak. ”Ada juga ’anak yang hilang’ yang diakui juga oleh Kementerian Agama,”kata Ciciek.
Diskriminasi
Aksi-aksi tersebut, demikian Ciciek, melahirkan diskriminasi jender dengan legitimasi agama.Diskriminasi itu dilembagakan melalui organisasi resmi sekolah, yaitu kegiatan ekstra kurikuler keagamaan, tecermin dari struktur dan kultur organisasi serta materi ajar yang disampaikan dalambentuk buku, majalah, selebaran, hingga VCD film.Siswi, misalnya, tidak boleh mengetuai organisasi ekstrakurikuler, perempuan hanya bolehmemimpin perempuan, suara perempuan di ruang publik dianggap aurat, pemisahan ketat ruanganantara siswi dan siswa, pembedaan peran dengan penekanan peran domestik/rumah tanggal untuksiswi. ”Pembedaan ruang dengan memakai tabir itu dilakukan di sekolah umum teladan,” kata Ciciek.Menghadapi kemunduran dalam penghargaan atas kesetaraan jender tersebut, ajakan Rahimakepada organisasi kemasyarakatan ikut serta menyosialisasikan keberagaman, kesetaraan dankeadilan mendapat tanggapan baik. Begitu juga respons Kementerian Agama serta PemerintahProvinsi DI Yogyakarta. Yang responsnya belum menggembirakan adalah Kementerian PendidikanNasional. ”Mereka beralasan, pendidikan urusan daerah setelah otonomi daerah,” kata Ciciek.
Luruskan Sejarah Kelahiran SoekarnoDetik-detik Meletusnya Gunung...Ibra: Guardiola MinikamkuBalotelli KecelakaanAyo Taufik! Tinggal Selangkah LagiGunung Sinabung Meletus
»Selengkapnya
TANAH AIR
Merajut nusantara melaluiliputan khusus berita danvideo
KOMPAS ePaper 
Koran digital denganpembaca terbanyak diIndonesia
KOMPASKita
Rubrik untuk membuka ruang
KOMPAS.comCetak ePaper Bola Entertainment Games Tekno Otomotif Female Health Properti Forum Kompasiana Images Mobile KompasKarier PasangIklan GramediaShop
Terpopuler
TerkomentariTerekomendasiKabar Palmerah
HomeNasionalRegionalInternasionalMegapolitanBisnis & KeuanganOlahragaSainsTravelOaseEdukasiEnglishArchiveVideoMore
 !"""""#$%&%
 
Ke depan, menurut Ciciek, jejaring masyarakat sipil harus dikuatkan dan introspeksi padapendekatan selama ini. Dia menyebut, masukan dari mereka yang pernah berada di dalam jaringankonservatif, ide pembebasan perempuan sangat memukau, tetapi secara praktis ”kurang berhati”.”Meskipun ide yang ditanaman keras, teman itu menyebutkan, pendekatannya sangat lembut,merangkul, memanusiakan; pendekatan kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan pribadi. Diadianggap anggota keluarga, dibantu mengatasi segala kesulitan, mulai dari uang sekolah/kuliah,sampai dicarikan jodoh,” tutur Ciciek.Intinya, demikian Ciciek, ide konservatif yang mendiskriminasi itu menyusup tanpa kita sadarikarena melalui jalur pendidikan. Kegiatan ekstrakurikuler itu mendapat dana untuk kegiatan merekadari sponsor perusahaan swasta/bisnis, orangtua, hingga sekolah/negara.Awalnya sekolah merasa terbantu sebab menganggap kegiatan tersebut sebagai penangkal darinarkoba dan tawuran. Apabila tadinya hanya ditularkan melalui kegiatan ekstrakurikuler keagamaan,perlahan diadopsi kegiatan inti sekolah, antara lain melalui aturan seragam sekolah, bahkan di SMAdan SMK, kemudian ke rumah dan ruang publik lain.
Keragaman
Berbagai upaya penyeragaman terebut tidak terbatas pada satu kelompok dominan, tetapi juga didalam kelompok minoritas, termasuk yang berbasis agama.Meski demikian, dinamika masyarakat saat ini yang masih memberi ruang keragaman pemikiranbukanlah hal yang terberi, tetapi harus dipelihara dan dijaga. Seperti saat peluncuran bukuPsychology of Fashion, Fenomena Perempuan (Melepas) Jilba (LkiS, 2010) pada Selasa (24/8).Buku hasil penelitian kualitatif pada empat perempuan di empat kota di Jawa untuk program S-1Psikologi ditulis Juneman. Dia mengajak memahami dan menghargai keragaman di masyarakat. Ditengah tingginya semangat di masyarakat agar perempuan mengenakan jilbab, demikian Juneman,pilihan narasumber penelitian melepas jilbab tidak dapat diartikan berkurang keimanannya.Musdah Mulia, pembahas buku, mengingatkan, dalam fikih perbedaan pemikiran adalahkeniscayaan. Dia mencontohkan perempuan sufi Rabiah Addawiyah yang memberikan hidupnyabagi Tuhan, tanpa pamrih pada surga-neraka. Itu memotivasi berlomba pada kebaikan dan tidakmengklaim kebenaran tunggal. (NMP/MH)
 
Font:
 
A
A
A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini.Kirim Komentar Anda
 
Kirim Komentar Anda
NamaEmailKomentar 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhakuntuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.interaktif pembaca,tokoh,dan pengelola media.
More:
Index Berita Info Kita Surat Pembaca Berita Duka Seremonia DKK Matahati Tanah Air Kompas Kita Kompas AR Kompas DakodeKompas Widget Kompas Apps Kabar Palmerah RSS Feed
About Kompas.com |Advertise with us| Info iklan | Privacy policy | Terms of use | Karir | Contact Us | Kompas Accelerator For IE 8©2008 - 2010 KOMPAS.com — All rights reserved
 !"""""#$%&%
 
Jilbab di Tengah Modernitas
Rabu, 12 Jan 2011 09:24 WIBPada akhir tahun 1970-an, jilbab membanjiri pola kehidupan masyarakatdunia. Globalisasi jilbab ini tak lain karena lahirnya revolusi Iran yangdikomandoni Imam Khomeini pada akhir 1970-an. Salah simbol kemenanganKhomeini adalah mengenakan jilbab bagi para pendukungnya, bahkankemudian dijadikan legitimasi politik Islam yang dipimpinnya. Berjilbabakhirnya menjadi trend umat manusia, bukan saja umat Islam, sebagaibentuk eksentrik lahirnya peradaban baru dunia. Sampai-sampai EmhaAinun Najib membuat puisi bertajuk “lautan jilbab” yang melihat Indonesia juga kebanjiran trend dunia dalam mengenakan jilbab.Trend berjilbab ini menjadi ideologi global yang berbaur dengan gejolakpolitik global menjelang akhir abad ke-20. Ragam berjilbab manusia ini jugamelahirkan gerak trend global baru pada awal abad ke-21 yang menjelajahi dunia bahwa tanpa jilban pun, manusia bisamelesakkan tradisi berperadaban. Jilbab bukan lagi sebagai trend ideologis, melainkan sebuah trend budaya yang telahberjalan pada dasawarsa sebelumnya. Buku bertajuk “
Psychology of Fashion
:
Fenomena Perempuan (Melepas) Jilbab
iniberupaya melihat trend melepas jilbab bukanlah sebagai “pembangkangan” dalam beragama, tetapi sebagai sebuah trendglobal yang niscaya.Penulis melihat bahwa kewajiban berjilbab bukanlah simbol bagi perempuan. Banyak lelaki di Timur Tengah yang berjilbablayaknya perempuan. Berjilbab merupakan psikologi manusia dalam menyesuaikan diri dengan konteks jamannya. Setiap jaman memberikan tanda dan jawab sendiri, sehingga anak manusia harus mempunyai kreativitas psikologis yangmemberikan daya elastis dalam menjawab tanda jaman. Jilbab merupakan tradisi dalam berbudaya, bukanlah khitab agamayang mengharuskan perempuan memakainya.Perempuan postmodern saat ini biasa dengan melepaskan jilbabnya. Sekali lagi, bukan berarti membangkang atas ajaranagama, tetapi memang jilbab merupakan trend global yang dipengaruhi jalan politik. Tidak berjilbab mencobamempertaruhkan jiwa psikologisnya dalam suatu aliran gerak organisasional. Pertaruhan ini akan menjadi sebuah gerak baruideologis yang mematahkan lautan jilbab sebagai jalan politik yang coba dilanggengkan para aktornya. Para pendukunglautan jilbab pastilah menggunakan banyak argumentasi agama untuk melegitimasi jalan politik jilbabnya dalam mencuri harikonstituen politik yang sedang dijalaninya.Tak berjilbab dengan demikian menjadi “tradisi tanding” yang mencoba bergerak melakukan dekonstruksi atas kemutlakanyang dijalankan secara sewenang-wenang. Kesewenangan dalam berjilbab sudah tidak relevan lagi di tengah laju kehidupankontemporer, selain karena lemah dalam argumentasinya, juga karena diselingi jalinan politik yang berada dibalik layar.Tradisi tanding ini bisa menjadi trend global abad ke-21 yang mendekontruksi jelajah rezim lautan jilbab yang dikomandoniIran.Penulis melihat fakta mutakhir terus memperlihatkan bahwa fenomena melepas jilbab telah melepaskan fanatisme beragamadan berpolitik. Beragama dan berpolitik tidak lagi dimaknai secara monilitik, saklek dan logisentris. Tetapi beragama yangramah, toleran dan penuh penghargaan. ____________________________ udul buku :
Psychology of Fashion
:Fenomena Perempuan (Melepas) JilbabPenulis : JunemanPeresensi : Siti Muyassarotul Hafidzoh (Peneliti CDIE UIN Sunan Kalijaga)Penerbit : LKiS YogyakartaTebal : 298 halamanCetakan : I, November 2010Kata KunciBuku  jilbab Modernitas
Kirim komentar baruNama anda:*E-mail:*
The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
Homepage:Komentar:*15/01/2011 06:08 WIB |Indeks
BERITA TERKAIT
Memangnya Kenapa Kalau Aku Berjilbab?Jilbab Kok Gitu? Koreksi Jilbab IndonesiaKehidupan 1 Perempuan Bersama 14 Laki-LakiMenguak Kehidupan Para Pecandu Seks danMembangun Kesadaran BaruKorupsi Dalam Sebuah KisahBerakhirnya Era Pelarangan Buku di Indonesia
KATA KUNCI POPULAR
Buku
 
Bursa
 
Citizen Journalism
Ekonomi & Energi
 
Fokus IsuGaya Hidup
 
Khasanah
Malaysia & InternasionalNasional
 
Opini
 
Otomotif 
 
Pokok&Tokoh
 
Politik & HukumRagam
 
Rumor dan Fakta
 SuratPembaca 
Topik Aktual
Powered by
Translate
HOME
 
NASIONAL
 
MALAYSIA & INTERNASIONAL
 
EKONOMI & ENERGI
 
POLITIK & HUKUM
 
RAGAM
 
KHASANAH
 
TOPIK AKTUAL
 
FOKUS ISU
 
POKOK & TOKOHOTOMOTIF
 
BURSA 
 
FOTO
 
BUKU
 
GAYA HIDUP
 
CITIZEN JOURNALISM
 
OPINI
 
RUMOR & FAKTA 
 
INDEKS
 !""!"""#!#" $""#!""#%&'

Activity (7)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Prabu Gomong liked this
rifmaghulam liked this
Erry Watie liked this
Tatan Munandar liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->