4
Bab 1
Tokyo, awal musim semi yang lembut dan hangat. Suara-suara keras dankehebohan itu muncul dari lantai bawah tempat tinggalnya. Sebuah asrama putridi kawasan kampus Universitas Tokyo yang terkenal karena tradisi danhistorisnya.
Ugh
, a
pa yang terjadi? Rasanya baru beberapa menit aku tertidur.
Hampir sepanjang malam ia berkutat di depan komputer denganprogramnya. Perlahan gadis itu menggeliat malas, berharap dirinya hanyaterpengaruh mimpi. Tapi ketika keributan di bawahnya bukan menghilang,sebaliknya bahkan terdengar semakin parah, pertanda sesuatu yang luar biasatengah terjadi.
Berarti bukan ilusi, bukan pengaruh
mimpi. Yap!
Ia tersentak bangun dan melemparkan selimutnya dengan sebal.Sepasang matanya reflek melirik jam wekker di atas meja belajarnya. Baru pukulenam, biasanya saat begini para penghuninya masih bergulung dalam selimuttebalnya masing-masing. Dilihatnya ranjang di sebelahnya sudah kosong.Bahkan Haliza, dara Malaysia yang kutu buku itu pun sudah beraktivitas?Gadis yang melintas di pikirannya tiba-tiba muncul dari kamar mandi.Terdengar senandungnya yang merdu. Ia masih mengenakan jubah mandidengan rambut terbalut handuk setelah keramas. Wajahnya segar dan berseri-seri, pertanda ia merasakan kebahagiaan dan kenyamanan hatinya. Tanpatekanan sama sekali!“Mmh… segaar!
Oyaho gozaimasu
1
, Garsini
-san,
” ujarnya mengajakbercanda dalam nada riang tak dibuat-buat. Garsini mengucak-ucak matanyayang masih berat lalu memandanginya keheranan. Ya, heran dengan semangatdan gerak-geriknya yang tampak lebih lincah dari biasanya. Ia masih ingat saatpertama kali mereka bertemu beberapa bulan yang lalu di
daigaku
2
.Haliza, saudara seiman berbusana Muslimah seperti dirinya, tampak agakgelisah berdiri canggung di antara para
gakusei
3
baru. Mereka sedang diterima
1
Selamat pagi
2
universitas
3
mahasiswa
Add a Comment