Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Menghidupkan Kembali Tradisi Cina/Tionghoa di Indonesia

Menghidupkan Kembali Tradisi Cina/Tionghoa di Indonesia

Ratings: (0)|Views: 366 |Likes:
Published by buncit8
Tidak lagi dipungkiri bahwa masyarakat Cina/Tionghoa yang berada di seluruh Indonesia adalah bagian yang tak terpisahkan dari masyaraklat Indonesia lainnya. Sekalipun suku bangsa ini bukan lahir dari kandungan tanah air Ibu Pertiwi akan tetapi sejarah panjangnya bermukim dibumi nusantara yang telah berabad-abad membuat tak bedanya seperti suku/ etnik yang ada di Indonesia. (Joice Gani, 1990, dan Hari Poerwanto, 2003)
Tidak lagi dipungkiri bahwa masyarakat Cina/Tionghoa yang berada di seluruh Indonesia adalah bagian yang tak terpisahkan dari masyaraklat Indonesia lainnya. Sekalipun suku bangsa ini bukan lahir dari kandungan tanah air Ibu Pertiwi akan tetapi sejarah panjangnya bermukim dibumi nusantara yang telah berabad-abad membuat tak bedanya seperti suku/ etnik yang ada di Indonesia. (Joice Gani, 1990, dan Hari Poerwanto, 2003)

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: buncit8 on Sep 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/10/2012

pdf

text

original

 
MENGHIDUPKAN KEMBALITRADISI CINA/TIONGHOA DI INDONESIA
Oleh: Shaifuddin Bahrum (Makassar)
Pendahuluan
Tidak lagi dipungkiri bahwa masyarakat Cina/Tionghoa yang berada di seluruhIndonesia adalah bagian yang tak terpisahkan dari masyaraklat Indonesia lainnya.Sekalipun suku bangsa ini bukan lahir dari kandungan tanah air Ibu Pertiwi akan tetapisejarah panjangnya bermukim dibumi nusantara yang telah berabad-abad membuat tak  bedanya seperti suku/ etnik yang ada di Indonesia. (Joice Gani, 1990, dan HariPoerwanto, 2003)Orang Cina/Tionghoa yang ada di Indonesia juga mengembangkan kebudayaanmereka yang bersumber dari budaya nenek moyang mereka di negeri China atauTiongkok yang kemudian beberapa diantara dapat berasimilasi dan berakulturasi dengankebudayaan setempat di mana mereka bermukim. Sehingga orang Cina di Indonesiadapat di bagi menjadi orang Cina Jawa, Cina Sunda, Cina Batak, Cina Bali, CinaSingkawang, Cina Makassar dan lain-lain sebagainya. Masing kelompok etnis Cinatersebut memiliki kesamaan pola social dan budaya akan tetapi merekapun memiliki perbedaan-perbedaan yang diakibatkan oleh pergaulannya dengan masyarakat dan budaya setempat (Shaifuddin Bahrum; 2003)Persamaan dan perbedaan atau kajian-kajian terhadap berbagai aspek kebudayaanorang Cina di Indonesia merupakan kajian menarik di Indonesia ketimbang hanyamempersoalkan etnis ini dalam pola-pola konflik social atau dalam peta politikekuasaan di Indonesia. Kajian budaya secara holistic dengan pendekatan sinkronik dandiakronik masih terasa sangat sedikit dilakukan dan dipublikasikan. Padahal kajian-kajiantersebut sangat dibutuhkan untuk memulihkan buruknya kondisi social antaretnisdiberbagai wilayah di Indonesia.
 
Beberapa Ritual
Dalam era reformasi dewasa ini masyarakat Cina di Indonesia khusunya Makassar  berupaya untuk kembali mengangkat berbagai upacara ritual mereka yang selama OrdeBaru tidak diperbolehkan oleh pemerintah untuk dilaksanakan. Upacara seperti TahunBaru telah dilakukan secara meriah dan terbuka sejak tahun 1999 atau 2550 Imlek, dan puncak kemeriahan pelaksanaan Imlek terlihat pada tahun 2003 atau 2552.Pada tahun tersebut masyarakat Tionghoa di Makassar bersepakat untumengarak arca-arca dewa keluar dari klenteng atau vihara. Arak-arakan ini dilaksanakan pada acara Cap Gop Meh atau upacara hari ke 15 Imlek. Arak-arakan ini berlangsung ±8 Km mengelilingi Wilayah Pecinan atau Kampong Cina (China Town). MasyarakatKota Makassar ketika itu tumpah ruah ke jalan menyaksikan arak-arakan tersebut yangdiramaikan dengan arak-arakan arca dari sejumlah klenteng dan vihara, pertunjukan barongsai dan ular naga, pawai kendaraan hias, dan pertunjukan para manusia sakti yangmenusuk-nusuk dirinya dengan berbagai benda tajam.Dalam pawai tersebut bukan hanya masyarakat Cina di Makassar yang terlibatdalam pawai akan tetapi juga sejumlah, masyarakat setempat ikut terlibat di dalamnya.Tim kesenian tradisi Bugis-Bakassar ikut terlibat dalam perayaan Imlek ini. MisalnyaKomunitas Bissu dari Kabupaten Pangkep, Kelompok Kesenian I Lologading dan Musik Tanjidor dari Makassar, dan Kelompok Tari Pakarena dari Kabupaten Takarar.Pada tahun 2004 perayaan Imlek tidak lagi dilaksanakan secara meriah karena pada tahun tersebut bertepatan dengan bencana alam Tsunami di Aceh yang menjadikanIndonesia secara keseluruhan berduka-cita. Perayaan Imleh dilaksanakan secarasederhana saja dan kegiatan sosial lebih ditonjolkan, bahkan masyarakat Tionghoa diMakassar mengumpulkan dana yang kemudian disumbangkan ke Aceh.Dua tahun berikutnya pelaksanaan Imlek dilaksanakan secara sederhana sajadengan mengambil tema-tema kebersamaan. Pada acara-acara Imlek dilaksanakan
 
 beberapa kegiatan selain acara ritual di klenteng atau di vihara. Acara-acara tersebutantara lain acara malam resepsi, diskusi budaya, dan bakti sosial.Selain acara Imlek dan Cap Go Meh masih terdapat sejumlah upacara ritual yangsering dilaksanakan oleh masyarakat Cina di Makassar antara lain;- Sembahyang meja tinggi tanggal 9 bulan Imlek,-
Ching Beng 
(sembahyang arwah leluhur)tanggal 4-5 bulan 4 Imlek -
Tuan Ui Cie
(Makan kue Bakcang) tanggal 5 bulan 5-
Chong Yen Cie
(Sembahyang Arwah/ bagi-bagi beras)tanggal 15 bulan 7 imlek -
Cong Cin Cie
(makan Kue Bulan) tanggal 15bulan ke 8-
Chong Yan Cie
(Sembayang Kelahiran Dewa Naga)tanggal 9 Bulan 9 Imlek -
Tong Tzu Cie
(Makan Onde Kecil berwarna-warni)10 hari menjelang tahun baru Masehi Beberapa upacara ritual di atas dilatar belakangi oleh sejarah yang kemudianmenjadi mitos yang dihormati dalam masyarakat di China. Meskipun cerita-cerita rakyatyang menyebar itu telah dituliskan akan tetapi penyebarannya dilakukan secara lisan.Di Indonesia demikian halnya. Tradisi menjalar dalam masyarakat melalui tuturanorang-orang tua mereka kepada generasinya. Sebenarnya tradisi ini tercatat dalam kitab-ajaran kepercayaan Khonghucu atau Budha yang ditulis dalam aksara China. Akan tetapi buku tersebut hanya dimiliki secara terbatas oleh orang-orang tertentu. Sementarakebanyakan orang-orang tua mereka hanya merekam dalam ingatan pelajaran yang pernah ia dapatkan ketika belajar di sekolah yang diasuh oleh orang China puluhan tahunyang lalu.Meskipun oleh generasi yang berusia diatas 50 tahun masih ada yabf sempatmembaca buku-buku teks yang beraksara Mandarin, akan tetapi pada generasi yang lebih

Activity (3)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->