Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
8Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
TRADISI LISAN DALAM KONTEKS MASA KINI: KARAKTERISTIK SOSIAL- KULTURAL DIBALIK MITOS

TRADISI LISAN DALAM KONTEKS MASA KINI: KARAKTERISTIK SOSIAL- KULTURAL DIBALIK MITOS

Ratings: (0)|Views: 3,979|Likes:
Published by buncit8
Mitos dan logos keduanya adalah momen-momen dalam pengetahuan manusia mengenai kenyataan yang sama-sama berusaha menyusun skema kenyataan agar dapat dimengerti secara teratur. Mitos dan logos adalah dua saudara sekandung yang sebenarnya memiliki musuh bersama, yaitu khaos atau kekacaubaluan. Manusia tidak tahan hidup dalam sebuah dunia yang tidak mampu memberikan jawaban atas mengapa-nya kehidupan dan realitas, dan mitos adalah kakak kandung logos yang menyelematkan manusia dari khaos dan logos datang kemudian tampil lebih maju.
(Hardiman,2003:172).
Mitos dan logos keduanya adalah momen-momen dalam pengetahuan manusia mengenai kenyataan yang sama-sama berusaha menyusun skema kenyataan agar dapat dimengerti secara teratur. Mitos dan logos adalah dua saudara sekandung yang sebenarnya memiliki musuh bersama, yaitu khaos atau kekacaubaluan. Manusia tidak tahan hidup dalam sebuah dunia yang tidak mampu memberikan jawaban atas mengapa-nya kehidupan dan realitas, dan mitos adalah kakak kandung logos yang menyelematkan manusia dari khaos dan logos datang kemudian tampil lebih maju.
(Hardiman,2003:172).

More info:

categoriesTypes, Resumes & CVs
Published by: buncit8 on Sep 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/03/2013

pdf

text

original

 
TRADISI LISAN DALAM KONTEKS MASA KINI:KARAKTERISTIK SOSIAL- KULTURAL DIBALIK MITOS
I RATU AYU MAS MEMBAH 
1
Mitos dan logos keduanya adalah momen-momen dalam pengetahuan manusia mengenai kenyataan yang sama-sama berusaha menyusun skema kenyataan agar dapat dimengerti secarateratur. Mitos dan logos adalah dua saudara sekandung yangsebenarnya memiliki musuh bersama, yaitu
khaos
ataukekacaubaluan. Manusia tidak tahan hidup dalam sebuah duniayang tidak mampu memberikan jawaban atas
mengapa
-nyakehidupan dan realitas, dan mitos adalah kakak kandung logosyang menyelematkan manusia dari
khaos
dan logos datangkemudian tampil lebih maju.(
Hardiman,2003:172
).
I. Pendahuluan
Sebagai sebuah refleksi perlu kiranya dicermati bahwa di Bali problema dan isuyang menonjol sakarang ini adalah: (1) terjadinya perebutan atau kompetensi tajam pemanfaatan sumber daya yang terbatas, seperti lahan dan air. Bali adalah pulau kecildengan sumber daya lahan dan air yang terbatas, namun kni menjadi rebutan antar-kepentingan industri pariwisata, perumahan, dan pertanian. Di Bali dalam waktu limatahun terakhir ini menurunnya areal persawahan diperkirakan mencapai 1000 ha per tahun. Penciutan lahan sawah ini sungguh pesat lebih-lebih untuk daerah dekat kota,karena dipicu oleh harga tanah yang meroket. Rupanya, bagi petani pemiliki sawah didaerah dekat perkotaan cenderung tergoda oleh tawaran harga tanah yang sangat tinggi.Sebab, jika dibandingkan dengan mengusahakan sendiri untuk bercocok tanam hasilnyasungguh tidak seimbang. Ratusan hektar sawah dalam waktu singkat telahdialihfungsikan ke pemakaian lain di luar sektor pertanian khususnya pemukiman, (2)tekanan pada lingkungan berupa erosi dan abrasi pantai, polusi lahan oleh plastik, air oleh polutan sisa pestisida, sabun, zat warna, air panas, pencemaran udaya, pemasanganreklame yang sembarangan, (3) dislokasi budaya berupa perilaku konsumerisme dan
1
Makalah ini disampaikan pada Seminar Internasional dan Festival Tradisi Lisan Nusantara pada tanggal1-4 Desember 2006 di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, yang diselenggarakan oleh DirektoratTradisi, Seni dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI bekerjasama dengan Asosiasi TradisiLisan Nusantara (ATL).
1
 
senang meniru dari apa yang dilakukan oleh wisatawan terutama oleh generasi muda, (4) pembagian keuntungan ekonomis yang tak merata baik antar-daerah satu dengan yanglainnya, antara yang punya dengan yang tak punya, sehingga memunculkan kecemburuansosial yang tajam, dan (5) kelemahan manajemen merupakan juga penyebab darimunculnya isu dan problem terutama dikaitkan dengan masalah koordinasi dalammenetapkan satu kebijakan (Manuaba,1999:9-10; Sutawan,1997:251). Isu dan problemitu sepantasnya mendapatkan perhatian semua komponen masyarakat Bali, sehinggadapat ditemukan jalan pemecahan yang bersifat holistik yang mengacu pada konsep
Tri Hita Karana
2
Meskipun Bali memiliki landasan filosofi
tri hita karana
dalam mengelola perubahan atas problema dan isu seperti di atas, namun sekarang ini secara realitas orangBali telah mengalami perubahan karakter, sebagai imbas dari modernisasi dan globalisasi.Perubahan karakter ini menyangkut; munculnya kasus (1) kekerasan, seperti perkelahianmasal antar-banjar, pemuda, kelompok, desa adat, (2) kasus bunuh diri; gantung diri,minum racun, (3) kasus aborsi dan penyimpangan seksual di kalangan remaja, (4)menipisnya keyakinan akan nilai-nilai agama (pranata) yang sesungguhnya dipedomanidalam menjalankan hidup, (5) terkikisnya sistem jaringan sosial; dalam keluarga,kelompok, maupun masyarakat melalui berbagai lembaga sosial maupun aktivitas sosial,(6) menipisnya kepercayaan kepada orang lain, lembaga, maupun pemerintah sebagaiinstitusi sosial, (7) kecenderungan hubungan sosial yang bersifat eksploitasi dan bermusuhan pada individu, kelompok, maupun lembaga (Duija,2006:33).Berdasarkan refleksi di atas, tampaknya masyarakat Bali perlu menengak sejenak masa lampau yang mememunculkan masalah sosial-kultural di beberapa bagian daerah diBali. Masa lampau yang dimaksud adalah refleksi diri yang terpesankan di dalam sebuahtradisi lisan, yang terlindas oleh hiruk-pikuknya modernitas bahkan postmodernitassekarang ini. Pemahaman terhadap sebuah tradisi diperlukan jika mau memahami lebih jauh budaya sebuah komunitas, sekecil apapun sebuah komunitas itu. Setiap komunitas
2
 
Tri Hita Karana
merupakan landasan filosofis dalam membuat, menetapkan, memecahkan setiap persoalan yang muncul pada masyarakat Bali khususnya, Indonesia umumnya. Artinya, orientasi pemecahan masalah mengacu pada hubungan vertikal dan horizontal, yakni memiliki fondasi nilai agama(
 parahyangan
), berlandaskan pada hubungan harmonis antar komponen manusia itu sendiri secarasosiologis, baik menyangkut perbedaan kaya-miskin, hubungan sosial, kekuasaan dan sebagainya(
 pawongan
). Dan memiliki keterkaitan dengan keseimbangan kosmologi yang terkait dengan lingkungan(
 palemahan
) Baca: I Gusti Ketut Kaler 
 Butir-Butir Tercecer Tentang Adat Bali 2
, 1994. hal 85-90.
2
 
memiliki akar tradisi (
tradition roots
) yang berbeda-beda berdasarkan, geografis, adat-istiadat, bahasa, agama dan sebagainya. Sebuah tradisi bisa lahir atas penghayatanmasyarakat terhadap alam lingkungannya sebagai jawaban pralogis dari sebuah misterialam sekitarnya. Oleh karena itu, dalam sebuah tradisi akan ditemukan juga fakta-fakta budaya di dalamnya. Menurut Edi Sedyawati (1995:4) di dalam sebuah tradisi lisan(sastra lisan) dapat digali fakta-fakta budaya, seperti: sistem geneologis, kosmologi dankosmogoni, sejarah, filsafat, etika, moral, sistem pengetahuan dan kaidah-kaidahkebahasaan. Pengungkapan makna secara holistik fakta-fakta budaya itulah sebagaialasan mengapa begitu penting arti sebuah tradisi lisan di masa kini (zaman modern).Salah satu tradisi lisan yang akan dicermati pada kesempatan ini berasal darisebuah daerah yang disebut sebagai bagian dari masyarakat
 Bali Aga
. Konsep
 Bali-Aga
merupakan konsep yang secara teoretis digunakan dalam rangka pengaruh Jawa-Hindudi Bali terutama pasca-Majapahit (1343) pada saat ekspidisi Gajah Mada ke Bali.Perbedaan ini adalah perbedaan pengaruh kebudayaan Jawa-Hindu di berbagai daerah diBali dalam zaman Majapahit dahulu, yang menyebabkan adanya dua bentuk masyarakatdi Bali, ialah
 Bali Aga
dan Bali Majapahit (
wong Majaphit 
). Masyarakat
 Bali Aga
kurangsekali mendapat pengaruh dari kebudayaan Jawa Hindu dari Majapahit dan mempunyaistruktur tersendiri. Orang
 Bali Aga
 pada umumnya mendiami desa-desa di daerah pegunungan, seperti: Sembiran, Cempaga Sidatapa, Pedawa, Tigawasa di KabupatenBuleleng dan desa Tenganan Pegringsingan di Kabupaten Karangasem (Bagus,(Bagus,1987:286). Orang
 Bali-Aga
sekarang tinggal mendiami beberapa desa di pegunungan di Bali Utara ialah desa-desa Sembiran, Pedawa, Tigawasa, Cempaga,Sidatapa, dan desa-desa di Bali Selatan adalah Tenganan Pegrinsingan dan Trunyan(Dhari,1985:241-242). Kedua tipe masyarakat Bali tersebut memiliki karakteristitersendiri termasuk dalam hal adat dan sistem kepercayaan yang berlaku sejak dahulusampai sekarang masih dipertahankan.Sebuah Desa yang tidak masuk di dalam kategori di atas adalah daerah MuntiGunung di Kabupaten Karangasem, yang sampai ini masyarakatnya ‘identik dengan pengemis laten’ yang ada di Bali. Demikian juga daerah-daerah pegunungan tandus yang berada di Kabupeten Buleleng bagian Timur, ternyata berkaitan dengan sebuah tradisilisan yang berkembang dari munculnya mitos air yang berhulu pada Gunung Batur dan3

Activity (8)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Ika Imueet liked this
I WAYAN MADIYA liked this
Iwe Brayut liked this
Lanang Cerancam liked this
sahadeva27 liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->