Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
18Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Teori Aktivitas Industri& pengembangan desa

Teori Aktivitas Industri& pengembangan desa

Ratings: (0)|Views: 3,202|Likes:
Published by noor_puspito
by galuh fathia santi
by galuh fathia santi

More info:

categoriesTypes, Research, Science
Published by: noor_puspito on Sep 05, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/07/2013

pdf

text

original

 
 
AKTIVITAS INDUSTRI DAN PENGEMBANGAN WILAYAH PERDESAAN
oleh:GALUH FATHIA SHANTI
2.1. Konsep Aktivitas Industri2.1.1 Pengertian Aktivitas Industri
Studi mengenai industri pada umumnya akan selalu dititikberatkan pada bahasanmengenai industri manufaktur; yang identik dengan kegiatan membuat atau menghasilkandalam jumlah besar dengan menggunakan teknologi dan mesin-mesin (Chapman danWalker, 1991).Menurut Daljoeni (1998: 167) aktivitas industri didefinisikan sebagai usahapengubahan suatu komoditi agar menjadi lebih bermanfaat (
commercial manufacturing
).Setidaknya terdapat tiga hal dalam setiap kegiatan industri ini, yaitu pengumpulan bahanmentah, ada peningkatan terhadap kegunaannya lewat pengubahan bentuk serta pengirimankomoditi yang lebih berharga ini ke tempat lain
.
Dari pengertian
 
tersebut, maka dapatdikatakan bahwa sebuah aktivitas industri akan sangat bergantung pada faktor-faktorproduksi yang berkaitan satu sama lain sebagai suatu sistem produksi. Faktor produksiyang terlibat dalam aktivitas industri antara lain faktor produksi berupa bahan mentah,bahan bakar (energi), faktor produksi tenaga kerja (buruh), modal serta kemampuanmanajerial.
Aktivitas Industri Sebagai Kutub Pertumbuhan
Konsep dasar kutub pertumbuhan pada awalnya diperkenalkan secara sistematisoleh Perroux dalam tulisannya pada tahun 1955. Konsep ini terkait erat dengan ekonomikeruangan yang tersusun atas kekuatan
sentrifugal
dan
sentripetal
dari sebuah pusat ataukutub pertumbuhan. Setiap kutub akan menjadi pusat keluarnya kekuatan sekaligus sebagaipusat yang akan menarik berbagai kekuatan ke dalamnya. Dari sini dapat dicatat bahwakonsep dasar kutub pertumbuhan Perroux ini kemudian diaplikasikan secara jelas dengankeberadaan industri (Kuklinski: 21).Menurut Perroux, industri merupakan aktivitas dengan tingkat inovasi tinggi dandapat berlangsung dalam unit ekonomi yang luas. Aktivitas industri dapat mendominasilingkungannya dan memberikan pengaruh kepada unit ekonomi lain.
 
 Pada dasarnya, Perroux memfokuskan bahasan mengenai perkembangan kutubpertumbuhan ini dalam lingkup ekonomi. Namun kemudian, Christaller dan Loschmengembangkan teori ini dengan menambahkan dimensi geografi dan keruangan.Sehingga, istilah kutub pertumbuhan menurut konsep Perroux tidak merujuk pada dimensigeografi, sedangkan pada perkembangan berikutnya, terdapat istilah pusat pertumbuhan(
growth centre
) yang mengacu pada aspek lokasi keruangan (Glasson, 1978: 172).Sementara, terdapat pendapat lain, bahwa istilah kutub pertumbuhan lebih mengacu kepadalingkup nasional, sedangkan pusat pertumbuhan mengacu kepada skala regional.Menurut Glasson (1978: 173), pada prinsipnya terdapat tiga konsep dasar ekonomidan pengembangan lingkup geografinya sebagai berikut:a. Konsep
leading industries
dan perusahaan propulsif.Dalam konsep ini sebuah kutub pertumbuhan berupa perusahaan propulsif yangmenjadi
leading industries
dan mendominasi unit ekonomi lain. Hal tersebut dapatberbentuk sebuah perusahaan propulsif saja atau juga dapat berupa kompleks atau kawasanindustri. Lokasi industri–industri tersebut secara geografis umumnya disebabkan olehbeberapa faktor, antara lain adanya sumberdaya alam, seperti air dan bahan bakar; adanyafaktor sumberdaya buatan, seperti jaringan komunikasi, pelayanan infrastruktur sertaketersediaan tenaga kerja; atau adanya kesempatan dan peluang lain di lokasi tersebut.Konsep ini menunjukkan adanya kaitan yang kuat antara industri dengan sektorekonomi lainnya. Kaitan tersebut dapat berbentuk kaitan “ke depan” (
 forward linkages
),artinya industri mempunyai rasio penjualan hasil industri yang tinggi terhadap rasio total.Sedangkan kaitan ke belakang (
backward linkages
) berarti bahwa industri mempunyairasio input output terhadap rasio total.b. Konsep PolarisasiKonsep ini menyatakan bahwa pertumbuhan
leading industries
yang cepat dapatmenyebabkan terjadinya polarisasi unit ekonomi yang lain ke dalam kutub pertumbuhantersebut. Proses polarisasi ini secara implisit akan menimbulkan berbagai keuntunganaglomerasi ekonomi, baik keuntungan internal maupun eksternal. Polarisasi ekonomi iniakan memicu polarisasi geografi melalui aliran sumberdaya dan konsentrasi aktivitasekonomi.
 
 c. Konsep
Spread Effect 
Konsep ini menyatakan bahwa ketika mencapai keadaan dinamik, kualitas propulsif suatu kutub pertumbuhan akan menyebar ke daerah di sekitarnya. Konsep
spread effect 
 dan
trickling down
ini menjadi semakin populer sebagai teori yang menjadi dasar bagiberbagai kebijakan.
2.2
 
Aglomerasi Industri
Para ahli geografi dan perencana wilayah pada umumnya cenderungmenghubungkan masalah pengembangan industri dengan teori-teori lokasi klasik yangawalnya diperkenalkan oleh Weber (1929) dan kemudian diperbaharui menjadi teori lokasineoklasik oleh Hoover (1937), Isaard (1956) dan Moses (1958). Secara eksplisit, teori-teoriyang berbasis pada teori Weber ini dapat dijelaskan melalui logika sebuah prosespenentuan lokasi organisasi industri.Konsep tersebut dihubungkan dengan adanya dinamika secara agregat dari suatukutub pertumbuhan. Inilah yang menjadi dasar adanya pemikiran tentang prosesaglomerasi industri. Kaitannya dengan industri, kutub pertumbuhan disini diartikan sebagaisektor produksi yang memiliki kaitan ke belakang (
backward linkages
), baik secaralangsung maupun tak langsung, dengan sektor-sektor lainnya dalam jumlah besar. Kutubpertumbuhan menjadi posisi sentral dalam struktur input dan output produksi.Proses aglomerasi industri diawali dari adanya industri utama pada lokasi tertentuyang menjadi pusat pertumbuhan bagi lingkungan sekitarnya. Kemudian seiring denganproses perkembangan industri utama tersebut, akan bermunculan jenis industri-industrihulu (
upstream industries
) dalam jumlah besar yang berlokasi di tempat tersebut. Industrihulu ini menghasilkan produksi yang nantinya menjadi input bagi industri utama. Dalamperkembangan berikutnya, jenis industri-industri hilir (
downstream industries
) yangmemindahkan lokasi industri mendekati industri utama semakin bertambah. Hal ini untuk mempermudah akses memperoleh produksi industri utama sebagai input bagi prosesproduksi industri-industri hulu (Scott, 1990:45-46).Dari proses aglomerasi tersebut, terbentuk pula adanya keterkaitan ke depan dan kebelakang dalam sebuah kutub pertumbuhan, sebagai satu kekuatan yang berdimensikeruangan (Perroux, 1961).Efek turunan yang cukup signifikan dari adanya aglomerasi industri tersebut antaralain:

Activity (18)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Fatimah Samsi liked this
Seftinaa Dwiee liked this
Md Fatimah liked this
rasthoen liked this
Selandir Biru liked this
Dini Ni liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->