Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
16Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Guru Sebagai Agen Perubahan

Guru Sebagai Agen Perubahan

Ratings: (0)|Views: 600 |Likes:
Published by ziyya_elhakim

More info:

Published by: ziyya_elhakim on Sep 14, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/27/2013

pdf

text

original

 
Guru sebagai Agen PerubahanOleh Rum Rosyid
Dalam upaya mengimplementasikan paradigma pendidikan masa depan, peran gurusebagai pilar utama peningkatan mutu pendidikan jelas tidak boleh dipandang sebelahmata. Sudah saatnya guru diberi kebebasan dan keleluasaan untuk mengelola proses pembelajaran secara kreatif, “liar”, dan mencerdaskan, sehingga pembelajaran berlangsung efektif, menarik, dan menyenangkan. Sudah bukan saatnya lagi gurudipajang dalam “rumah kaca” yang selalu diawasi gerak-geriknya, sehingga guru yangdianggap “tampil beda” dalam mengelola proses pembelajaran “kena semprit” dandihambat kariernya.Profesi guru bukan sembarangan, melainkan penting dan menentukan masa depan bangsa. Dengan demikian guru harus menjadi orang yang memiliki jati diri kuat,senantiasa menjadi tauladan dan merencanakan, melaksanakan pembelajaran denganserius sepenuh hati. Siswa juga harus memiliki cara pandang baru, yakni, sekolah bukanmerupakan keharusan melainkan kebutuhan; siswa bukan peserta pasif, melainkan peserta aktif, siswa bukan tidak berdaya, melainkan memiliki kekuatan untuk merealisir apa yang dinginkan; apa saya bisa mengerjakan, YES saya bisa kerjakan; dan, tidak sekedar senang bisa lulus, melainkan Why not the best. Dengan demikian siswa menjadiindividu yang memiliki cita-cita yang tinggi, semangat belajar keras dan yakin bahwayang bersangkutan mampu.Dalam Undang-undang Nomor 20/2003 tentang Sisdiknas (pasal 40 ayat 2) jelasdinyatakan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban: (1) menciptakansuasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis; (2)mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; dan (3)memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengankepercayaan yang diberikan kepadanya. Ini artinya, guru tidak lagi berperan sebagai“piranti negara” yang semata-mata mengabdi untuk kepentingan penguasa, tetapi sebagai“hamba kemanusiaan” yang mengabdikan diri untuk “memanusiakan” generasi bangsasecara “utuh” dan “paripurna” (cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual) sesuaidengan tuntutan zaman.Dalam konteks demikian, guru harus benar-benar menjadi “agen perubahan” dan menjadisosok profesional yang senantiasa bersikap responsif dan kritis terhadap berbagai perkembangan dan dinamika peradaban yang terus berlangsung di sekitarnya. Guru - bersama stakeholder pendidikan yang lain - harus selalu menjadikan sekolah bagaikan“magnet” yang mampu mengundang daya pikat anak-anak bangsa untuk berinteraksi, berdialog, dan bercurah pikir dalam suasana lingkungan pembelajaran yang menarik danmenyenangkan. Dengan cara demikian, tidak akan terjadi proses deschooling society dimana sekolah mulai dijauhi oleh masyarakat akibat ketidakberdayaan pengelola sekolahdalam menciptakan institusi pembelajaran yang “murah-meriah” di tengah merebaknyagaya hidup hedonistik, konsumtif, materialistik, dan kapitalistik.Demikian pula, orang tua siswa harus memiliki cara pandang baru. Yaitu, tanggung jawab ortu tidak selesai dengan membayar uang ke sekolah; yang terikat dengan
 
 perjanjian dan kewajiban sekolah tidak hanya anaknya, melainkan juga dirinya;sepenuhnya percaya pada sekolah dan bekerjasama dengan sekolah; perlumengembangkan keserasian apa yang di sekolah dan apa yang di rumah; tidak adasekolah murah, sekolah itu mahal; dan, angka nilai penting, tetapi bukan segala-segalanya. Dengan demikian orang tua akan patuh pada aturan sekolah dan berpartisipasidalam membantu terlaksananya kegiatan sekolah.Kebijakan kedua dalam peningkatan mutu adalah memperkuat penekanan sekolahsebagai suatu entitas mandiri, sebagai implikasi dari kebijakan SBM dan KTSP. Olehkarena itu, semua intervensi dalam rangkaian peningkatan mutu senantiasa melewatisekolah. Kondisi memerlukan kesadaran diri secara serius dari kalangan sekolah sendiri.Sekolah telah memiliki memiliki kemandirian dan kemerdekaan sebagai basis munculnyawatak kreatif innovative dan berani mengambil resiko.
Mentalitas Wiraswasta : Sebagai Tantangan
Demam wirausaha di dunia perguruan tinggi sebenarnya berasal dari keinginan Indonesiameniru silicon valley-nya Amerika Serikat. Seorang tokoh bernama Iskandar Alisjahbanamenjadi peletak ide ini. Pada 10 Mei 1963, seorang mahasiswa berbicara di depan ratusanmahasiswa lainnya. Dalam orasinya, ia menyinggung soal mahasiswa Cina di kampustempatnya belajar. Kata-kata yang diucapkannya menyinggung kelebihan mahasiswaCina.Yang dibicarakannya bukan ajakan untuk meniru prestasi mahasiswa Cina. Sangmahasiswa tersebut malah menyulut kebencian pribumi dan non-pribumi. "Bakar motor-motor mereka," kata orator bernama Siswono. Kejadian ini terjadi di Institut TeknologiBandung. Untung kejadian itu tidak berlangsung lama. Seorang dosen datang danmenempeleng balik mahasiswa yang berkoar tersebut. Lalu ia berkata, "Sis, menampar orang secara fisik di kampus, itu haram hukumnya. Di kampus orang harus menampar dengan otak, berdebat!"Sang dosen, Iskandar Alisjahbana lantas membawa mahasiswanya itu ke tempat lain dandiajak berbicara. Tentu saja, Iskandar tidak ingin ITB yang disebut menyulut konflik rasial di Indonesia sehingga ia perlu mengamankan mahasiswanya tersebut. "Sis lalumembuat buku dan meminta maaf pada seluruh sivitas akademika. Itu dua bulan setelahkejadian itu," kata Iskandar pada suata sesi wawancara dengan Kampus dan budayawanHawe Setiawan, 15 November 2008.Kenapa mahasiswa bisa bertingkah rasis seperti itu? Iskandar mengatakan mahasiswa-mahasiswa ITB yang berdarah pribumi cemburu dengan prestasi non-pribumi. Cemburu berawal dari sedikitnya mahasiswa pribumi naik kelas ketimbang non-pribumi. "Padazaman saya masih mahasiswa, hanya ada dua pribumi yang lulus ujian lisan. Sampaizaman saya jadi dosen pun kejadiannya tidak beda jauh," ujarnya terkekeh.Kelemahan akademis seperti itu tidak dibiarkan lama oleh Iskandar. Ia menilaimahasiswa pribumi tidak 'bodoh' apa yang dibicarakan oleh kolonial sebagai inlander  pemalas. Ia mengatakan, adanya sikap rendah diri karena perlakukan koloniallah yangmembuat banyak generasi muda saat itu seperti lemah. Ditambah lagi karut-marut politik membuat runyam perhatian ke dunia pendidikan.
 
Iskandar melepaskan beban politik pada dunia pendidikan dan mengalihkan perbaikanmutu mahasiswa pada program-program seperti need of achievement (NAch) training.Pelatihan ini bertujuan mendongkrak motivasi dan kreativitas mahasiswa di zaman itu.Maksudnya, agar mahasiswa Indonesia bisa mandiri dan tidak melulu disebut malas."Ada orang yang need of achievement-nya tinggi. Ada juga orang yang punya need of affiliation yang tinggi, dan ada orang yang need of power-nya tinggi. Setiap manusia punya tiga need ini. Indonesia adalah masyarakat gotong royong. Saya datangkan seorangdosen dari Amerika," jelasnya.Pelatihan Need of Achievement sebenarnya landasan dari pelatihan wirausahawan.Iskandar membawa wacana ini pertama kali ke ITB dimana saat itu perguruan tinggihanya menghasilkan mahasiswa berkemampuan teknis dan calon pekerja belaka.Di berbagai perguruan tinggi pelatihan, training, dan beasiswa menjadi wirausahawandibuka. Misal, Institut Pertanian Bogor (IPB). Mengutip situs lembaga tersebut, sekitar 2.000 mahasiswa IPB mendaftar pada program pengembangan kewirausahawan padaMaret 2009. Konon, dana permodalan yang tersedia Rp 1,4 miliar.Sama halnya dengan IPB, pihak kemahasiswaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)Bandung pun membagikan dana kewirausahaan kepada mahasiswanya. Sebanyak Rp 1miliar akan diberikan kepada 108 mahasiswa. Besaran dana itu berasal dari bantuanDirektorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Selain kampus yangmembuka lebar-lebar pintu bagi mahasiswa yang ingin mengubah nasib melalui pelatihanwirausaha, banyak pula komunitas ekstrakampus yang membuka layanan pelatihanseperti ini. Meski pandangan wirausaha dalam pendidikan kadangdicibir sebagai praktik pragmatisme pendidikan, tapi di sisi lain ilmu wirausaha dianggap jalan keluar dari "musibah" menumpuknya pengangguran intelek di negeri ini.Banyaknya pelatihan seperti ini tentu bukan fenomena tanpa sebab. Terbersit namaseorang tokoh pendidikan dan disebut tokoh pendobrak menara gading perguruan tinggi,Iskandar Alisjahbana sebagai pelopor gerakan wirausaha di dalam perguruan tinggi diIndonesia. Tokoh yang meninggal dunia pada 16 Desember 2008 itu meninggalkanwacana berharga bagi dunia pendidikan Indonesia. Pada periode Iskandar menjadi Rektor ITB (1976-1978), Iskandar membangun inkubator bisnis di ITB. Ia datangkan pula ahliwirausaha dari Amerika Serikat, membuat kerjasama dengan dengan universitas luar negeri dan menyinergikan akademik teknis dengan ilmu perusahaan. Iskandar berhentidengan aktivitasnya sebagai rektor setelah rumahnya diberondong peluru tentara kala ITBdiduduki tentara 1979.Meski kini Iskandar telah tiada, tapi catatan sejarah dan pemikirannya bergeming di ITB.Karena Pak Is, begitu ia akrab dipanggil, tidak ada lagi pertarungan rasial karenacemburu nilai. Siswono Yudohusodo sudah menjadi pejabat di negeri ini dan pengusaha pula. Anak didiknya yang lain seperti Arifin Panigoro pun sudah menjadi pembesar Grup Medco. Yang ada saat ini adalah ITB dan berbagai perguruan tinggi berlomba-lomba mencetak sarjana yang wirausahawan dan menyambungkan perguruan tinggidengan industri. Cita-cita menjadikan Indonesia seperti silicon valley

Activity (16)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Sri Tharani liked this
Yuliana Pare liked this
Shaifah Nabilah liked this
Mohd Rizan Rizan liked this
Syuhaida Syu liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->