Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
9Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kebijakan Pendidikan

Kebijakan Pendidikan

Ratings: (0)|Views: 372 |Likes:
Published by ziyya_elhakim

More info:

Published by: ziyya_elhakim on Sep 14, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/02/2013

pdf

text

original

 
Kebijakan Pendidikan : intervensi pemerintah dalam pendidikanOleh Rum Rosyid
Dalam perjalanan sejarah, sistem pendidikan di Indonesia berulang kali berganti. Mulaidari rentetan kurikulum di era Orde Baru, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) danKurikulum Terpadu Satuan Pendidikan (KTSP). Berubahnya kurikulum yang cepatdalam rentang waktu yang pendek mengakibatkan kegagapan sistem di kalangan pendidik serta pelajar.Guru yang seharusnya mengawal proses pendidikan tidak menguasai sepenuhnya konsep pendidikan yang digulirkan oleh pemerintah. Pendidikan bangsa pun tak jelas arahnya,karena sistem yang dijalankan hanya merupakan adopsi sistem pendidikan dari luar negeri yang sudah basi. Sistem pendidikan comotan dari luar negeri yang dipuja-pujaternyata telah menjadi sampah di negeri asalnya. Institusi pendidikan semestinya beradadi garda terdepan dalam memproduk manusia beradab agar bisa membangun peradabanyang bermartabat. Namun, masalahnya sistem dan paradigma pendidikan Indonesia yang bercorak materialis saat ini cenderung menghasilkan cendekiawan yang pragmatis.Peningkatan mutu sekolah tidak bisa melepaskan diri dari intervensi politik. Memang pendidikan khususnya sekolah bukan lembaga atau organ politik, namun kebijakan pemerintah yang harus dilaksanakan adalah merupakan kebijakan politik. Dalam banyak hal sekolah tidak bisa menghindari dari politik ini. Artinya, sekolah mau tidak mau harustunduk dan patuh pada intervensi politik pemerintah. Betapapun sekolah, kepala sekolahdan guru, meyakini bahwa kebijakan tersebut tidak baik dan tidak pas untuk sekolahnya,tetap saja sekolah harus menerima dan melaksanakan. Sebutlah sebagai contoh, kebijakanUjian Nasional, KTSP, sertifikasi guru dengan porto folio, SBI, sekolah gratis denganmembebankan pada sekolah. Sudah barang tentu intervensi politik dari pemerintah initidak jarang menjadikan upaya peningkatan mutu sekolah semakin berat.Peningkatan mutu sekolah, dapat disebut sebagai suatu perpaduan antara knowledge-skill, art, dan entrepreneurship (Zamroni, 2009). Suatu perpaduan yang diperlukan untuk membangun keseimbangan antara berbagai tekanan, tuntutan, keinginan, gagasan-gagasan, pendekatan dan praktik. Perpaduan tersebut di atas berujung pada bagaimana proses pembelajaran dilaksanakan sehingga terwujud proses pembelajaran yang berkualitas. Semua upaya peningkatan mutu sekolah harus melewati variabel ini. Proses pembelajaran merupakan faktor yang langsung menentukan kualitas sekolah.Pembelajaran adalah proses yang kompleks rumit dimana berbagai variable saling berinteraksi. Banyak variable dalam proses interaksi antara guru dan siswa berkaitandengan suatu materi tertentu yang tidak dapat dikendalikan secara pasti. Terdapatketerkaitan berbagai yang sulit untuk diindentifikasi mana yang mempengaruhi dan manayang dipengaruhi. Hasil pembelajaran tidak bisa diestimasi secara matematis, pasti. Anak yang kecapekan atau kurang gizi atau memiliki persoalan pribadi jelas akanmempengaruhi proses dan hasil pembelajaran. Demikian pula kemiskinan dan kondisikeluarga akan berpengaruh. Siswa yang memiliki motivasi dan yang tidaki memiliki akan berbeda dalam kaitan dengan proses dan hasil pembelajaran. Dengan singkat, apa pengaruh eksternal dan internal dalam diri siswa yang akan mempengaruhi proses dan
 
hasil pembelajaran. Dan sekali lagi, tidak semua pengaruh tersebut dapat dikendalikanoleh kepala sekolah dan guru.Sebagai suatu proses interaksi antara siswa dan guru berkaitan dengan materi tertentu,maka tidak hanya kondisi siswa yang berpengaruh, tetapi juga kondisi guru tidak kalah pentingnya mempengaruhi kualitas pembelajaran. Pepatah mengatakan, “kalau inginmelihat prestasi siswa lihatlah kualitas gurunya”. Kondisi guru yang bervariasi berartikualitas dan hasil pembelajaran juga akan bervariasi. Semakin tinggi kesenjangankualitas guru, semakin tinggi kesenjangan prestasi siswa. Kualitas interaksi jugadipengaruhi oleh keberadaan dan kualitas fasilitas, termasuk kurikulum yangdipergunakan.
Kualitas Pembelajaran : Inti reformasi pendidikan
Peningkatan mutu atau kualitas pembelajaran merupakan inti dari reformasi pendidikandi negara manapun. Hal ini disebabkan oleh asumsi bahwa, peningkatan mutu sekolahyang memiliki peran penting dalam peningkatan mutu pendidikan nasional, tergantung pada kualitas pembelajaran. Namun, peningkatan kualitas pembelajaran sangat bersifatkontekstual, sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial dan kultural sekolah danlingkungannya. Berbagai penelitian menunjukan bagaimana bagaimana pentingnyakondisi dan lingkungan sekolah mempengaruhi kualitas pembelajaran, seperti, dalam penelitian tentang sekolah efektif (Purkey & Smith, 1983), kerja guru dan pembelajaran(McLaughlin Talbert, 1993), retrukturisasi sekolah dan kinerja organisasi (Darling-Hammond, 1996), yang semuanya ini bermuara pada suatu pernyataan “apabila inginmeningkatkan kualitas pembelajaran, kualitas sekolah sebagai satu kesatuan dimana pembelajaran berlangsung harus ditingkatkan”.Sebagai lembaga internasional yang bergerak di bidang budaya dan pendidikan,UNESCO banyak memberikan perhatian dan berupaya mendorong peningkatan mutusekolah di banyak negara, khususnya negara-negara sedang berkembang. Setiap tahunUNESCO kantor Asia & Pasifik bekerjasama pemerintah China dan Thailand secara bergantian menyelenggarakan seminar innovasi pendidikan yang difokuskan pada peningkatan mutu sekolah. UNESCO memiliki resep bahwa untuk meningkatkan kualitassekolah diperlukan berbagai kebijakan, yang mencakup antara lain (UNESCO, 2001dalam Zamroni, 2009):1. Sekolah harus siap dan terbuka dengan mengembangkan a reactive mindset,menanggalkan “problem solving” yang menekankan pada orientasi masa lalu, berubahmenuju “change anticipating” yang berorientasi pada “how can we do things differently”.2. Pilar kualitas sekolah adalah Learning how to learn, learning to do, learning to be, danlearning to live together.3. Menetapkan standard pendidikan dengan indikator yang jelas.4. Memperbaharui dan kurikulum sehingga relevan dengan kebutuhan masyarakat dan peserta didik.5. Meningkatkan pemanfaatan ICT dalam pembelajaran dan pengeloaan sekolah.6. Menekankan pada pengembangan sistem peningkatan kemampuan professional guru.7. Mengembangkan kultur sekolah yang kondusif pada peningkatan mutu.8. Meningkatkan partisipasi orang tua masyakat dan kolaborasi sekolah dan fihak-fihak 
 
lain.9. Melaksanakan Quality Assurance.Definisi tunggal kualitas sekolah yang diterima banyak fihak sulit untuk dirumuskan.Apalagi, rumus definisi mutu sekolah amat terkait dengan tujuan dan strategi pendidikanyang ada. Begitu pula kualitas sekolah dipersepsikan berbeda-beda menurut kepalasekolah, guru, siswa dan orang tua siswa.Kualitas sekolah memiliki berbagai makna. Seperti, a)bisa berupa suatu konsensus tidak tertulis atas kondisi-kondisi sekolah, yang kemudian menjurus sekolah favorit di satuujung dan dan sekolah “terlihat” di ujung lain; b)kualitas input yang ada; c)kualitas proses yang terjadi; d)kualitas kurikulum yang tercermin dalam kegiatan sekolah sehari-hari; e)kualitas output, baik dalam bentuk pencapaian ataupun dalam bentuk “gain score”;f)value added, dalam, arti sejauh mana sekolah secara totalitas mengalami peningkatan;dan, g)jumlah lulusan yang diterima Perguruan Tinggi ternama. (Prof. Zamroni, 2009).Dalam kaitan dengan mutu sekolah, UNICEF mendeskripsikan sebagai suatu kondisidimana: a)siswa sehat, bergizi, dan siap mengikuti proses pembelajaran dan dapatdukungan dari orang tua siswa dan masyarakat; b)lingkungan sekolah sehat, aman, tidak  bias gender dan fasilitas belajar tercukupi; c)kurikulum sekolah menjamin siswamendapatkan pelajaran yang memadai, khususnya pengetahuan dan ketrampilan untuk hidup; d)proses dilaksanakan oleh guru yang terlatih dengan menekankan pada pendekatan “learner-centered teaching”, manajemen kelas yang berkualitas, evaluasi dan penilaian yang tepat, dan bisa mengurangi disparitas hasil dari berbagai latar belakangyang ada; dan, e)outcome sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan aktif  berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. Namun, selama ini pembicaraan mutu sekolah cenderung dititik beratkan pada pengetahuan dan ketrampilan yang dikuasai oleh siswa. Memang, sangat seringdibicarakan secara filosofis dan teoritis siswa harus memiliki cipta, karsa, rasa atau siswamemiliki otak, hati dan budi, tetapi pada akhirnya tetap saja mutu kembali pada seberapa jauh siswa sudah menguasai pengetahuan dan ketrampilan yang telah diajarkan disekolah. Lebih ironis lagi, pengetahuan yang dikuasai siswapun diestimasi dengan pendekatan yang dangkal: kemampuan menghafal.Makna mutu hanya diartikan sebagai kemampuan penguasaan pengetahuan merupakansuatu realitas. Secara sadar dan terencana kondisi ini harus diubah. Perubahan dalamkaitan dengan mutu ini merupakan keharusan, khususnya apabila dikaitkan dengan masadepan, era baru abad 21. Mereka yang tidak mau berubah akan menjadi terasing dantertinggal zaman. Dengan puitis, Eric Hoffer (1971) pemikir berkebangsaan AmerikaSerikat menyatakan: “In times of change, learners inherit the Earth, while the learned findthemselves beautifully equipped to deal with a world that no longer.” Seorang ahli pendidikan, lebih spesifik tokoh manajemen dan kebijakan pendidikan, Michael Fullan(1994), menegaskan bahwa perubahan tidak dapat dihindarkan. Banyak pendidik terbawaarus perubahan masa depan, dengan berbagai euphoria, tetapi tidak menyadari masadepan itu sendiri, dengan lebih senang mempertahankan status quo. Fullan mengingatkandengan keras bahwa “yesterday’s scores will not win tomorrow’s ball games.” Oleh

Activity (9)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Ervin Darso liked this
Ryan Kurniawan liked this
Akmal Mundiri liked this
Budi Supriyanto liked this
Rusli Siman liked this
ziyya_elhakim liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->