Jacques Derrida sebagai motornya, paham ini memutus rantai perdebatan ideologi yang bertikai beserta seluruh rasionalitas yang membenarkannya. Isme-isme besar itu akankehilangan pengikut dan pendukung bersamaan dengan berakhirnya utopia dalammasyarakat modern. Tidak ada lagi keyakinan sistematis yang dapat menjawabtantangan-tantangan dunia yang kian kompleks.The end of History and The last mannya Francis Fukuyama mewartakan kemenangankaum kapitalisme."Kita dapat menyaksikan, "demikian katanya…akhir sejarah yangsedemikian itu: yakni akhir dari evolusi ideologis umat manusia dan universalisasidemokrasi liberal barat sebagai bentuk final dari sistem pemerintahan manusia.”Pertarungan ideologi mungkin berakhir, tetapi bagi masyarakat dunia ancaman pertikaianyang lebih besar akan terjadi. Samuel P. Huntington, menulis sebuah artikel yangkemudian menjadi buku, The Clash of Civilization and The Remaking of World Order.Sejak tahun 1993, ia mewarningkan kemungkinan benturan antar peradaban dunia, yangantara lain meliputi budaya, dan agama akan mewarnai dunia di masa depan. Bom diWTC 11 September 2001, konflik-konflik etnis, dan agama diseluruh dunia, hinggatragedi Bom Bali I dan II mungkin bisa menyadarkan betapa kita manusia, makhluk mulia ciptaan Tuhan menjadi sangat kejam akibat dari kesadaran ideologi.George Ritzer, dari kubu sosialis, jauh-jauh hari telah mengcounter Fukuyama denganmengatakan kemenangan kapitalisme disebabkan karena supporting systemnya lebihmempunyai kekuatan dan kekuasaan, bukan karena teori ini lebih manusiawi, lebih baik,apalagi lebih benar. Kemunculan pengetahuan ilmiah yang lebih realistis dalam melihatgejala-gejala sosial akan mendesakralisasi keberadaan ideologi.
Indonesia dalam Pertarungan Ideologi
Bangsa Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia, tak terlepas dari pengaruhideologi sejak zaman pra kemerdekaannya. Namun, secara umum perbedaan pandanganakan ideologi dapat dikemas menjadi sebuah alat pemersatu. Sukarno menulis dalamSuluh Indonesia Muda, tahun 1926 tentang Nasionalisme, Islamisme dan Marxismesebagai faham-faham yang menjadi roh pergerakan di Indonesia, bahkan di Asia. Tetapi jauh sebelumnya Indische Partij, Sarekat Islam, I.S.D.V (Indische Sociaal DemocratischeVereniging) telah merumuskan ideologinya masing-masing sebagai alat perjuangan.Setelah kemerdekaan, pemerintah mulai mengalami kesulitan menangani perbedaanideologi-ideologi ini, mulai dari pemberontakan kaum komunis tahun 1948 di Madiun,DI/TII dan Permesta hingga tragedi PKI tahun 1965. Sejak saat itu, seolah-olah bangsaIndonesia trauma dengan sejarah pertarungan ideologi. Maka mulailah dijalankan sistemrepresif oleh rezim penguasa dengan mewajibkan semua ormas dan orpol menggunakansatu asas sebagai ideologi, Pancasila. Meski dalam prakteknya sangat ambigu bangsa ini justru terseret jauh dalam pusaran sistem ekonomi kapitalisme, bahkan kapitalisme globaldengan neoliberalismenya.Berbeda dengan masa Orde Baru yang menggunakan pendekatan represif, hegemonik,dan proses indoktrinisasi melalui P4 sebagai alat untuk meneguhkan kekuasaan, sejak eraReformasi bangsa ini mulai kembali diramaikan oleh berbagai ideologi Islam, Nasionalisme, Sosialisme, Marhaenisme, Kristen, dan sebagainya. Disisi lain,