Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
6Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pertarungan teori

Pertarungan teori

Ratings: (0)|Views: 1,250|Likes:
Published by ziyya_elhakim

More info:

Published by: ziyya_elhakim on Sep 14, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

09/23/2012

pdf

text

original

 
Pertarungan teori-teori : Tantangan Ideologi PancasilaOleh Rum Rosyid
Dari Kamus Wikipedia, ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan. Kata tersebutdiciptakan Destutt de Tracy pada akhir abad ke-18 untuk mendefinisikan ‘’sains tentangide”. Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, cara memandang segalasesuatu, akal sehat dan beberapa kecenderungan filosofis, atau serangkaian ide yangdikemukakan kelas masyarakat dominan walaupun minoritas kepada seluruh anggotamasyarakat yang mayoritas. Ideologi juga dapat didefinisikan sebagai aqidah ‘aqliyah(akidah yang sampai melalui proses berpikir) plus aqidah naqliyah yang melahirkanaturan-aturan dalam kehidupan. Di sini akidah ialah pemikiran menyeluruh tentang alamsemesta, manusia, dan hidup; serta tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupandi samping hubungannya dengan sebelum dan sesudah alam kehidupan.Dari definisi di atas, sesuatu bisa disebut ideologi jika memiliki dua syarat, yakni:1. Ide yang meliputi aqidah ‘aqliyah dan aqidah naqliyah yang keduanya memberi jalandan aturan bagi kehidupan dan masalah kehidupan. Jadi, ideologi harus unik karena harus bisa memecahkan problematika kehidupan.2. Metode yang meliputi metode penerapan, penjagaan, dan penyebarluasan ideologi.Jadi, ideologi harus khas karena harus disebarluaskan ke luar wilayah lahirnya ideologiitu.Jadi, suatu ideologi bukan semata berupa pemikiran teoretis seperti filsafat, melainkandapat dijelmakan secara operasional dalam kehidupan. Menurut definisi kedua tersebut,apabila sesuatu tidak memiliki dua hal di atas, maka tidak bisa disebut ideologi,melainkan sekedar paham. Dalam ilmu sosial, ideologi politik adalah sebuah himpunanide dan prinsip yang menjelaskan bagaimana seharusnya masyarakat bekerja, danmenawarkan ringkasan order masyarakat tertentu. Ideologi politik biasanya mengenaidirinya dengan bagaimana mengatur kekuasaan dan bagaimana seharusnya dilaksanakan.Kaum kapitalis dan sosialis ’menghadirkan’ dialektika dalam keseharian hidup kita.Mereka berlomba mencipta teori-teori baru untuk meyakinkan masyarakat dunia, bahwakonsep mereka adalah jalan menuju masa depan yang baik. Para teoretisi kapitalis,misalnya, melahirkan teori-teori modernisasi, antara lain: teori pembangunan, teoritabungan dan investasi, dan sebagainya. Teori kaum ini yang mutakhir adalah ide tentang Neoliberalisme melalui gerakan globalisasi dan pasar bebasnya. Di sisi lain, kaumsosialis pun, tak kalah menggertaknya. Karl Marx, memelopori untuk menelanjangikeserakahan kaum kapitalis melalui teori Materialisme dialektika-historisnya, Althusser dengan teori Strukturalisnya, Antonio Gramsci dengan teori Hegemoninya, hingga teori"kritis"oleh Max Hokheimer dan (mazhab frankfurtnya) yang mengajukan kembalikonsep dasar Marx, yakni pembebasan manusia dari segala belenggu penindasan dan penghisapan.Di luar dua pemain besar ini,muncul juga pemikiran postmodernisme yang keluar daritradisi Aufklarung. Ragam pemikiran postmodernisme bersatu dalam sebuah ide bersama, penolakan atas "narasi-narasi” besar penyelamatan manusia, menolak obyektifitas ilmu pengetahuan, dan menolak pemikiran dikotomis. Penekanan ideologi inikepada hak untuk berbeda (the right of different). Melalui teori dekonstruksi, dengan
 
Jacques Derrida sebagai motornya, paham ini memutus rantai perdebatan ideologi yang bertikai beserta seluruh rasionalitas yang membenarkannya. Isme-isme besar itu akankehilangan pengikut dan pendukung bersamaan dengan berakhirnya utopia dalammasyarakat modern. Tidak ada lagi keyakinan sistematis yang dapat menjawabtantangan-tantangan dunia yang kian kompleks.The end of History and The last mannya Francis Fukuyama mewartakan kemenangankaum kapitalisme."Kita dapat menyaksikan, "demikian katanya…akhir sejarah yangsedemikian itu: yakni akhir dari evolusi ideologis umat manusia dan universalisasidemokrasi liberal barat sebagai bentuk final dari sistem pemerintahan manusia.”Pertarungan ideologi mungkin berakhir, tetapi bagi masyarakat dunia ancaman pertikaianyang lebih besar akan terjadi. Samuel P. Huntington, menulis sebuah artikel yangkemudian menjadi buku, The Clash of Civilization and The Remaking of World Order.Sejak tahun 1993, ia mewarningkan kemungkinan benturan antar peradaban dunia, yangantara lain meliputi budaya, dan agama akan mewarnai dunia di masa depan. Bom diWTC 11 September 2001, konflik-konflik etnis, dan agama diseluruh dunia, hinggatragedi Bom Bali I dan II mungkin bisa menyadarkan betapa kita manusia, makhluk mulia ciptaan Tuhan menjadi sangat kejam akibat dari kesadaran ideologi.George Ritzer, dari kubu sosialis, jauh-jauh hari telah mengcounter Fukuyama denganmengatakan kemenangan kapitalisme disebabkan karena supporting systemnya lebihmempunyai kekuatan dan kekuasaan, bukan karena teori ini lebih manusiawi, lebih baik,apalagi lebih benar. Kemunculan pengetahuan ilmiah yang lebih realistis dalam melihatgejala-gejala sosial akan mendesakralisasi keberadaan ideologi.
Indonesia dalam Pertarungan Ideologi
Bangsa Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia, tak terlepas dari pengaruhideologi sejak zaman pra kemerdekaannya. Namun, secara umum perbedaan pandanganakan ideologi dapat dikemas menjadi sebuah alat pemersatu. Sukarno menulis dalamSuluh Indonesia Muda, tahun 1926 tentang Nasionalisme, Islamisme dan Marxismesebagai faham-faham yang menjadi roh pergerakan di Indonesia, bahkan di Asia. Tetapi jauh sebelumnya Indische Partij, Sarekat Islam, I.S.D.V (Indische Sociaal DemocratischeVereniging) telah merumuskan ideologinya masing-masing sebagai alat perjuangan.Setelah kemerdekaan, pemerintah mulai mengalami kesulitan menangani perbedaanideologi-ideologi ini, mulai dari pemberontakan kaum komunis tahun 1948 di Madiun,DI/TII dan Permesta hingga tragedi PKI tahun 1965. Sejak saat itu, seolah-olah bangsaIndonesia trauma dengan sejarah pertarungan ideologi. Maka mulailah dijalankan sistemrepresif oleh rezim penguasa dengan mewajibkan semua ormas dan orpol menggunakansatu asas sebagai ideologi, Pancasila. Meski dalam prakteknya sangat ambigu bangsa ini justru terseret jauh dalam pusaran sistem ekonomi kapitalisme, bahkan kapitalisme globaldengan neoliberalismenya.Berbeda dengan masa Orde Baru yang menggunakan pendekatan represif, hegemonik,dan proses indoktrinisasi melalui P4 sebagai alat untuk meneguhkan kekuasaan, sejak eraReformasi bangsa ini mulai kembali diramaikan oleh berbagai ideologi Islam, Nasionalisme, Sosialisme, Marhaenisme, Kristen, dan sebagainya. Disisi lain,
 
terperangkapnya Indonesia ke dalam "ideologi" Pancasila yang ditafsirkan secaramonolitik dan hegemonik oleh penguasa orde baru adalah pengalaman masa lalu. Filsuf,yang juga pakar etika politik Prof. Dr. Franz Magnis Suseno SJ berpendapat, jangan pernah lagi menyerahkan negara dan bangsa Indonesia ini kepada penafsiran monolitik dan bias kekuasaan akan ideologi apapun.Menurutnya, Pancasila ia lebih sepakat menganggapnya sebagai dasar negara lebih tepatdisebut kerangka nilai atau cita-cita luhur bangsa Indonesia secara keseluruhan. Lebihlanjut ia mengatakan, ideologi manapun termasuk komunisme, selalu punya cacatmetodologik yang serius. Alasannya, karena ia telah menyelundupkan serta menyelipkankategori paham benar-salah ke dalam politik praktis. Ragam warna ideologi tanah air kita belakangan ini, dengan berbagai tuntutan seperti penegakan syariah Islam, Pemilu 2009yang akan datang bisa saja menjadi ajang deideologisasi dunia pendidikan dan memberi pertimbangan bagi kita bahwa sebaiknya Pancasila tidak disandingkan dengan Ideologi-ideologi tersebut. Saya sepakat dengan pemikiran Pancasila sebagai ”kontrak sosial”yang membingkai dan mengelola pluralitas bangsa Indonesia. Sebagai kontrak sosial, ia berdiri di atas semua ideologi karena ia merupakan suatu dasar kontrak pembentukannegara Indonesia. Sehingga berarti, jika Pancasila diubah maka niscaya pembubaran Negara Kesatuan Repulik Indonesia harus dilakukan terlebih dahulu.Kalau kategori benar-salah itu sudah menjadi sebuah praksis berpolitik, konsekuensilogikanya jelas, yakni pemerintahan akan menjadi totaliter. Padahal, dalam politik praktissebenarnya hanya dikenal kategori baik-buruk dengan beberapa variannya. Kategori benar-salah itu hanya ada dalam kerangka sebuah teori atau ajaran dan bukan padatataran praktis. Inilah yang menjadi tantangan kita dalam melakukan kontekstualisasi danimplementasi Pancasila. Memandang baik-buruk sebagai problem etika dengan benar salah sebagai problem teoritis, bukan berarti keduanya bertentangan. Karena setiap yang baik adalah benar dan setiap yang buruk adalah tidak benar. Seperti curang dalam perdagangan adalah tidak baik dari sisi etika, tetapi dapat dibuktikan juga bahwa perilakutersebut tidak benar karena dalam jangka panjang akan merugikan pelakunya, sepertisepinya pembeli, atau bahkan lebih halus dari itu yaitu problem psikologi seperti tekananmental.Reformasi, keterpurukan ekonomi, dan beberapa kali amandemen UUD 45 membuat kitalupa atau setidaknya sedikit mengabaikan prinsip universal Pancasila yang merupakankristalisasi kearifan dan kebijaksanaan (wisdom), nilai dan budaya, serta bentangansejarah bangsa. Akibatnya, kehidupan kebangsaan yang kita jalankan nampak carut-marut. Cara hidup beragama yang dikembangkan pun masih melestarikan kekerasan,konflik, dan aroma truth claim di masyarakat. Perdamaian dan kesepahaman yang bergaya militeristik tanpa jiwa Pancasila menempa anak bangsa tumbuh dalamkebengisan, dendam, dan degradasi moral.
Pancasila Sebagai Ideologi alternatif 
Banyak yang meragukan bangunan teoritis Pancasila. Bahkan kredo, bahwa pancasilasemacam ideologi “gado-gado” yang tak jelas orientasi dan dasarnya, telah di jadikanopini kuat yang terseret arus reformasi. Uforia reformasi tak hanya berdampak positif  pada perkembangan demokratisasi, hak asasi manusia, dan desentralisasi. Tetapi

Activity (6)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Feri Feriadi liked this
khaerul umam liked this
ziyya_elhakim liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->