Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
12Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Realitas Pragmatisme Pendidikan Di Indonesia

Realitas Pragmatisme Pendidikan Di Indonesia

Ratings: (0)|Views: 536 |Likes:
Published by ziyya_elhakim

More info:

Published by: ziyya_elhakim on Sep 14, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/25/2012

pdf

text

original

 
Realitas Pragmatisme Pendidikan di IndonesiaOleh Rum Rosyid
“Apa yang sering dikerjakan oleh dunia pendidikan kita. Dibendungnya aliran sungaiyang bebas berkelok-kelok”, tulis Henry David Thoreau (1850). Ungkapan salah satutokoh aliran anarkisme pendidikan yang hidup pada 1817-1862 ini mungkin perlu kitarenungi kembali jika kita bicara soal pendidikan saat ini. Terlebih, pembicaraan kitadibingkai dalam perspektif kritis, seperti misalnya keringnya dimensi sosial pada dunia pendidikan kita. Dunia pendidikan dalam perspektif kritis, tak ubahnya seperti penjajahan bagi manusia.Ketika manusia dikenalkan dengan lingkungan barunya melalui institusi pendidikan, saatitu pula ia potensial dijajah secara kognitif. Persinggungan kita dengan dunia di ruang-ruang kelas tiap hari hanyalah persinggungan dengan teks-teks yang tak selalu aktual,seperangkat alat uji yang tak mencerdaskan, dan hegemoni wibawa guru yan terkesandipaksakan. Bahkan, salah satu kesalahan terbesar pendidikan adalah, ditariknya kitadalam ‘dunia asing’ yang terpisah dari problematika dan dinamika masyarakatsesungguhnya. Mari kita bayangkan, seberapa banyakkah waktu yang disediakan olehguru bagi kita untuk berfikir tentang kekerasan politik, kenakalan remaja, kenakalan dirikita sendiri, bumi hangus di Ambon, teriakkan merdeka kawan-kawan kita di Aceh, buruknya kualitas anggota parlemen di daerah, dan sederet fenomena sosial lainnya? Nothing. Kalaupun ada, ia hanya menjadi ‘bumbu’ dari ocehan panjang guru-guru kita,tanpa ekspresi empatik sama sekali.Potret-potret sosial itu --sungguhpun teramat mengesankan, tak sempat kita amati dankita diskusikan di dalam kelas. Padahal, kita mungkin adalah siswa-siswa yang pintar menghafal teori-teori sosial lengkap dengan siapa tokoh pengusungnya. Maka lengkaplahkita, dalam istilah WS Rendra, menjadi generasi ‘gagu’ di tengah masyarakat: ada, tetapitak kuasa mengeja gejala-gejala sosial yang sedang terjadi di tengah-tengah kita.Peningkatan mutu sekolah secara massal merupakan suatu upaya untuk menciptakan danmenjamin proses perubahan berlangsung secara terus menerus dan bisa dilaksanakan olehsemua sekolah. Sekolah memiliki latar belakang dan potensi masing-masing, yangmenyebabkan tidak mungkin dilaksanakan “one size fits for all” policy.Sebenarnya, lembaga pendidikan adalah sarana sosialisasi kedua sesudah keluarga. Olehkarena fungsinya sebagai sarana sosialisasi itulah sekolah seharusnya banyak mengadopsimetodologi sosial yang menjamin fungsi sosialisasi itu terpenuhi secara optimal. Yaitu bagaimana individu-individu warga belajar tak sekedar saling kenal dan bergaul antar mereka, tetapi juga harus melibatkan lingkungan sekitar. Secara mikro, sekolah harusmenjadi lembaga yang bisa menjalin interaksi dan interelasi yang harmonis denganlingkungan atau masyarakat sekitarnya. Secara makro, ia harus menjamin adanyaketerkaitan psikologis dan intelektual dengan kondisi sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa. Ini berarti bahwa dinamika sosial, budaya, ekonomi, dan politik yangtengah terjadi menjadi referensi yang penting dalam daur belajar kita. Kalau tidak, benarlah sekolah itu akan menjadi ‘menara gading’ yang menjadikan warga belajarnyacenderung asosial dan pragmatik; tidak memiliki orientasi sosial yang jelas dan dedikatif.
 
Kebijakan dan upaya peningkatan mutu sekolah harus memiliki fleksibilitas yang tinggi.Meskipun, tetap saja harus ada dimensi kebijakan dan upaya yang bersifat imperatif untuk semua sekolah.(Zamroni, 2009) Rencana Strategis Depdiknas antara lain memuatvisi, dan misi Pendidikan Nasional. Visi Pendidikan Nasional Indonesia adalahterwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.Pada tahun 2005, HDI Indonesia menduduki peringkat 110 dari 177 negara di dunia.Bahkan peringkat tersebut semakin menurun dari tahun-tahun sebelumnya. HDIIndonesia tahun 1997 adalah 99, lalu tahun 2002 menjadi 102, kemudian tahun 2004merosot kembali menjadi 111 (Human Development Report 2005, UNDP). MenurutLaporan Bank Dunia (Greaney, 1992) dan studi IEA (International Association for theEvaluation of Educational Achievement), di Asia Timur menunjukkan bahwaketerampilan membaca siswa kelas IV SD di Indonesia berada pada peringkat terendah.Rata-rata skor tes membaca untuk siswa SD: 75,5 (Hongkong), 74,0 (Singapura), 65,1(Thailand), 52,6 (Filipina), dan 51,7 (Indonesia).Kondisi anak-anak Indonesia hanya mampu menguasai 30 persen dari materi bacaan danmereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran.Hal ini disebabkan karena mereka sangat terbiasa dalam menghapal serta mengerjakansoal pilihan ganda. Sementara itu, kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutanke-12 dari 12 negara di Asia (berdasarkan survei Political and Economic Risk Consultant). Dalam hal daya saing, Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaituhanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara di dunia (The World Economic ForumSwedia, 2000). Ini artinya: Indonesia hanya berpredikat sebagai follower, bukan sebagaileader.Misi Pendidikan Nasional adalah: (1) Mengupayakan perluasan dan pemerataankesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia; (2)membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usiadini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar; (3) meningkatkankesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukankepribadian yang bermoral; (4) meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman,sikap, dan nilai berdasarkan standar nasional dan global; dan (5) memberdayakan peranserta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalamkonteks Negara Kesatuan RI. Manusia Indonesia yang dimaksud dalam visi pendidikannasional Indonesia adalah manusia berkualitas dalam kecendekiawanan, kecerdasanspiritual, emosional, sosial, serta kinestetis (gerak tubuh) dan kepiawaian, serta mampumenghadapi perkembangan dan persaingan global.Untuk membangun dunia pendidikan tidak akan terlepas dari dorongan dan semangatspiritualisme. Bangsa-bangsa di Timur Tengah mengalami masa kejahiliyahan pada saatsebelum Islam datang, begitu juga di Eropa dan Amerika mengalami masa kegelapan
 
 pada saat agama tidak memberikan ruh pencerahan terhadap para pemeluknya.Masa Kejayaan bangsa-bangsa di Timur Tengah diawali dengan kedatangan Islam diSaudi Arabia. Dengan system pendidikan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW,mampu mengubah paradigma jahiliyah/kebodohan menjadi peradaban yang maju. AjaranIslam yang pertama kali diturunkan kepada utusan Allah ini adalah iqro yang artinyamembaca. Sehingga dalam perjalanan sejarah tercatat bahwa negara-negara ataukerajaan-kerajaan yang dikuasai oleh Islam berubah menjadi bangsa yang berilmu pengetahuan dan maju seperti munculnya kerajaan di Andalusia dan Cordoba sebagai pusat ilmu pengetahuan dunia pada masa abad pertengahan itu.Demikian juga yang terjadi di Eropa dan Amerika, pada saat Eropa mengalami masakegelapan muncul tokoh pembaharu dari kalangan agamawan Kristen yaitu Calvin.Dalam bukunya, Weber menganalisis bahwa kemajuan ekonomi yang pesat di Eropa danAmerika disebabkan adanya Etika Protestan. Etika protestan lahir di Eropa melaluiagama protestan yang dikembangkan oleh Calvin(Ahmad Subagyo, 2003). Disini munculajaran yang mengatakan bahwa seseorang itu sudah ditakdirkan sebelumnya untuk masuk ke surga atau neraka. Tetapi orang yang bersangkutan tentu saja tidak mengetahuinya.Karena itu, mereka menjadi tidak tenang, menjadi cemas, karena ketidakjelasan nasibnyaini. Salah satu cara untuk mengetahui apakah mereka akan masuk surga atau nerakaadalah keberhasilan kerjanya di dunia yang sekarang ini. Kalau seseorang berhasil dalamkerjanya didunia, hampir dapat dipastikan bahwa dia ditakdirkan untuk naik surga. Kalaukerjanya selalu gagal di dunia ini, hampir dapat dipastikan bahwa dia akan masuk keneraka. Adanya kepercayaan ini membuat orang-orang penganut Protestan Calvin bekerjakeras untuk meraih sukses. Mereka bekerja tanpa pamrih; artinya mereka bekerja bukanuntuk mencari kekayaan material, melainkan untuk mengatasi kecemasannya. Inilah yangdisebut sebagai Etika Protestan. Narasi besar tentang pendidikan tidak terlepas dari sistem dunia yang berlaku. Pendidikanmerupakan bagian dari sistem yang lebih besar, dimana dia berfungsi untuk menciptakan pelaku-pelaku (agen) yang akhirnya ikut melanggengkan sistem kekuasaan yang ada.Rasionalitas instrumental yang bertujuan praktis ekonomis telah sangat berpengaruh pada pembentukan karakter pendidikan modern. Efektivitas pendidikan dan spesialisasi ilmumenjadi sebuah tuntutan yang memunculkan suatu spesifikasi status dan peran. Ini padaakhirnya juga akan berpengaruh pada perkembangan maupun posisi dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan berkembang seiring dengan kemampuanmanusia untuk mengolah alam. Ilmu pengetahuan yang berguna ialah yang bisamengembangkan kemampuan manusia dalam mengolah alam untuk keuntungan yangsebanyak-banyaknya. Dengan demikian, ilmu pengetahuan itu sendiri telah menjadi bagian dari lingkaran kepentingan kelas (golongan) penguasa untuk menjagakesinambungan sistem yang berlaku.Idealisme pendidikan menjadi luntur ketika terkait dengan globalisasi, yang memilikidua sifat utamanya, de-teritorialisasi dan trans-nasionalisme. De-teritorialisasi dimengertisebagai hilangnya batas-batas wilayah geografis dari negara-negara nasional. Sedangkantrans-nasionalisme berusaha “menghilangkan” makna nasional dan lokal. Yang nasionalatau lokal tetap ada namun menjadi tidak berharga. Dengan demikian, pendidikan

Activity (12)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Riani Sandi liked this
Hadi Sumantoro liked this
pemaron liked this
PiTh IpiTh liked this
srimaryani liked this
Christover Roy liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->