Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sekolah Sebagai Miniatur Masyarakat

Sekolah Sebagai Miniatur Masyarakat

Ratings: (0)|Views: 584|Likes:
Published by ziyya_elhakim

More info:

Published by: ziyya_elhakim on Sep 14, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

09/14/2010

pdf

text

original

 
Sekolah Sebagai Miniatur Masyarakat : Idealisme PendidikanOleh Rum Rosyid
Meminjam seruan Bung Karno yang terkenal, sekarang ini kita perlu “membangun dunia baru.” Tetapi upaya untuk membangun dunia yang baru itu kiranya harus dimulai denganterlebih dahulu “membangun Indonesia baru.” Dan upaya membangun Indonesia baru itumungkin harus dimulai dengan membangun elite politik yang benar-benar lahir darikalangan rakyat dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Dalam Indonesia yang baru itudiharapkan tiada lagi kalaupun ada kecil peranannya-kelompok elite yang hanya sibuk  berebut kekuasaan dan pengaruh.Hal ini bisa terjadi jika para aktivis muda reformasi sekarang ini tidak enggan untuk  belajar dari para aktivis pergerakan generasi tahun 1920-an. Di satu pihak meneruskansikap militan generasi itu dalam memperjuangkan cita-cita bersama dan rela berkurbandemi cita-cita itu. Di lain pihak menolak kecenderungan untuk mewarisi sistem pemerintahan sebelumnya, yakni kecenderungan untuk mengganti elite lama dengan eliteyang baru tetapi yang pola dan orientasi politiknya tetap sama. Dengan demikian akan bisa diharapkan lahirnya elite politik yang benar-benar berorientasi pada semakinterwujudnya demokrasi.“Kaki kami telah berada di jalan menuju demokrasi,” lanjut Presiden Soekarno dalam pidatonya di depan Kongres AS itu. “Tetapi kami tidak ingin menipu diri sendiri denganmengatakan bahwa kami telah menempuh seluruh jalan menuju demokrasi,”sambungnya. Ia sadar bahwa meskipun selama bertahun-tahun bangsa Indonesia telah beperang melawan kolonialisme, imperialisme dan elitisme, jalan menuju demokrasimasih tetap panjang. Tetapi Bung Karno juga sadar bahwa betapapun panjangnya sebuah perjalanan, ia harus dimulai dengan langkah-langkah pertama.Reformasi pendidikan diibaratkan sebagai pohon yang terdiri dari empat bagian yaituakar, batang, cabang dan daunnya. Akar reformasi yang merupakan landasan filosofisyang tak lain bersumber dari cara hidup (way of life) masyarakatnya. Sebagai akarnyareformasi pendidikan adalah masalah sentralisasi-desentralisasi, masalah pemerataan-mutu dan siklus politik pemerintahan setempat. Setelah melihat keprihatinan mengenai pendidikan Indonesia serta penyebabnya, yang harus dilakukan adalah kembali ke filosofidasar pendidikan. Pendidikan adalah sebuah tindakan fundamental, yaitu perbuatan yangmenyentuh akar-akar hidup kita sehingga mengubah dan menentukan hidup manusia.Jadi, mendidik adalah suatu perbuatan yang fundamental karena mendidik itu mengubahdan menentukan hidup manusia. Kesejahteraan suatu bangsa amat bergantung padatingkat pendidikannya, apalagi pada zaman sekarang. Kesimpulannya, pendidikan itu me-manusia-kan manusia muda Pendidikan adalah suatu bentuk hidup bersama yangmembawa manusia muda ke tingkat manusia purnawan. (Driyarkara, 1991).Sebagai batangnya adalah berupa mandat dari pemerintah dan standar-standarnya tentangstruktur dan tujuannya. Dalam hal ini isu-isu yang muncul adalah masalah akuntabilitasdan prestasi sebagai prioritas utama. Cabang-cabang reformasi pendidikan adalahmanajemen lokal (on-site management), pemberdayaan guru, perhatian pada daerahsetempat. Sedangkan daun-daun reformasi pendidikan adalah keterlibatan orang tua peserta didik dan keterlibatan masyarakat untuk menentukan misi sekolah yang dapat
 
diterima dan bernilai bagi masyarakat setempat. Terdapat tiga kondisi untuk terjadinyareformasi pendidikan yaitu adanya perubahan struktur organisasi, adanya mekanismemonitoring dari hasil yang diharapkan secara mudah yang biasa disebut akuntabilitas danterciptanya kekuatan untuk terjadinya reformasi.Pembaruan pendidikan merupakan suatu proses multi dimensonal yang kompleks, dantidak hanya bertujuan untuk menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang dirasakan,tetapi terutama merupakan suatu usaha penelaahan kembali atas aspek-aspek sistem pendidikan yang berorientasi pada rumusan tujuan yang baru [Jusuf Amir Faisal, 1995],dan senantiasa berorientasi pada kebutuhan dan perubahan masyarakat. Oleh karena itu,upaya pembaruan pendidikan tidak akan memiliki ujung akhir sampai kapanpun. Karena persoalan pendidikan selalu saja ada selama peradaban dan kehidupan manusia itu sendirimasih ada. Pembaruan pendidikan tidak akan pernah dapat diakhiri, apalagi dalam abadinformasi seperti saat ini, tingkat obselescence dari program pendidikan menjadi sangattinggi. Hal ini dapat terjadi karena perkembangan teknologi yang digunakan olehmasyarakat dalam sistem produksi dapat mengembangkan teknologi dengan kecepatanyang amat tinggi kerana ia harus bersaing dengan pasar ekonomi secara global, sehingga perhitungan efektivitas dan efesiensi harus menjadi pilihan utamanya [Suyanto danHisyam, 2000:17]. Tetapi sebaliknya disisi lain, "dunia pendidikan tidak dapat denganmudah mengikuti perkembangan teknologi yang terjadi di masyarakat sebagai akibat sulitditerapkannya perhitungan-perhitungan ekonomi yang mendasarkan pada prinsipefesiensi dan efektivitas terhadap semua unsurnya. Tidak semua pembaruan pendidikandapat dihitung atas dasar efisiensi dan untung rugi karena pendidikan memiliki misi penting yang sulit dinilai secara ekonomi, yaitu misi kemanusiaan" [Suyanto dan Hisyam,2000:17].
Agenda Reformasi Sistem Pendidikan Nasional
Pendidikan merupakan kebutuhan penting bagi setiap manusia, negara, maupun pemerintah. Karena penting, maka pendidikan harus selalu ditumbuhkembangkan secarasistimatis oleh para pengambil kebijakan yang berwenang di Republik ini [Suyanto danHisyam, 2000:17]. Upaya pendidikan yang dilakukan suatu bangsa selalu memilikihubungan yang signifikan dengan rekayasa bangsa tersebut di masa mendatang.Pendidikan selalu dihadapkan pada perubahan, baik perubahan zaman maupun perubahanmasyarakat. Maka, mau tidak mau pendidikan harus didisain mengikuti irama perubahantersebut, kalau tidak pendidikan akan ketinggalan. Oleh karena itu, tuntutan perubahan pendidikan selalu relevan dengan kebutuhan masyarakat, baik pada konsep, kurikulum, proses, fungsi, tujuan, manajemen lembaga-lembaga pendidikan, dan sumber daya pengelolah pendidikan.Milenium ketiga baru saja kita masuki. Tentu saja bekal hidup pada milenium tersebutharus berbeda dengan bekal hidup kita pada milenium kedua, khususnya pada abad ke-19-20. Kehidupan pada milenium ketiga benar-benar berada pada tingkat persainganglobal yang sangat ketat. Artinya, siapa saja yang tidak memenuhi persyaratan kualitasglobal, akan tersingkir secara alami dengan sendirinya (Suyanto dan Hisyam, 2000:2).Salah satu paradigma yang berbeda adalah paradigma di dalam aspek stabilitas dan predikbilitas, bila pada milenium kedua orang selalu berfikir bahwa segala sesuatu itustabil dan bisa diprediksi, pada milenium ketiga semakin sulit untuk melihat adanyastabilitas (Djamaluddin Ancok, 1998:2).
 
Ketika dunia menghadapi gerakan globalisasi, Amerika Serikat, dalam dokumen America2000: An Education Strategy, terdapat enam tujuan pendidikan nasional Amerika Serikat.Salah satunya bahwa Amerika Serikat memnginginkan memiliki pengaruh secara global.Maka untuk mencapai cita-cita itu, pendidikan nasional diformulasikan sebagai : USstudents will be first in the world in science and mathematics achievement [Suyanto danHisyam, 2000:22]. Dengan demikian, Amerika Serikat dalam salah satu strategi pendidikannya menginginkan mahasiswa dan para pelajarnya memiliki prestasi yangunggul di dunia dalam hal menguasai ilmu pengetahuan dan matematika.Suatu usaha pembaruan pendidikan karena adanya tantangan kebutuhan dan perubahanmasyarakat pada saat itu, dan pendidikan juga diharapkan dapat menyiapkan produk manusia yang mampu mengatasi kebutuhan dan perubahan masyarakat tersebut. Dengandemikian, pendidikan sebenarnya lebih bersifat konservatif, karena selalu mengikutikebutuhan dan perubahan masyarakat. Sebagai contoh : misalnya, pada masyarakatagraris, konsep pendidikan didisain agar relevan dengan perkembangan dan kebutuhanmasyarakat pada era tersebut, begitu juga apabila perubahan masyarakat menjadimasyarakat industrial dan era informasi, maka pendidikan juga didisain mengikuti irama perkembangan masyarakat industri dan masayarakat era informasi, dan seterusnya.Demikian siklus perkembangan perubahan pendidikan, kalau tidak pendidikan akanketinggalan dari perubahan zaman yang begitu cepat.Untuk menghadapi kondisi milineum ketiga yang semakin tidak bisa diprediksi tersebut,diperlukan kesiapan sikap mental manusia untuk menghadapi perubahan yang sangatcepat. Orang tidak bisa lagi bersifat reaktif, hanya menunggu dan menghindari setiap persoalan atau resiko demi resiko, dengan mempertahankan status-quo. Tetapi pada eramilineum ketiga, orang lebih bersifat proaktif dengan memiliki toleransi atasketidakjelasan yang terjadi akibat perubahan dengan tingkat dinamika yang tinggi.Keran demokrasi dan demokratisasi begitu terbuka dan membahana pada masa reformasisekarang ini. Maka dari itu pula, reformasi pendidikan mutlak bagi bangsa ini dan dapatsegera diwujudkan menyusul semakin pentingnya sektor pendidikan dijadikan prioritasutama pembangunan, dimana pembiayaan dan kewenangan menjadi fokus utama dalamreformasi pendidikan tekait dengan desentralisasi pendidikan di era otonomi daerah saatini(Maman Suratman, 2007). Diantara berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah pasca orde baru (orde reformasi), adalah kebijakan di bidang pendidikan yangmenentukan kiprah bangsa ini di masa depan. Niscaya, sumber daya manusia yangunggul akan dibentuk melalui sistem pendidikan yang merupakan kapital sosial bagi pembentuk generasi masa depan. Diharapkan, tidak hanya pemerintah yang“memikirkan” konsep dan sistem pendidikan yang ideal, tetapi merupakan tanggung jawab bersama.Dalam konsepsi perikehidupan berbangsa dan bernegara yang menuju kearah civilsociety sekarang ini, era reformasi dan otonomi daerah seakan angin segar sekaliguskesempatan besar dalam reformasi di segala bidang untuk kemajuan bangsa. Sekali lagi, pendidikan merupakan kunci bangsa untuk eksis dan bersaing di kancah global di masadepan. Pengalaman negara-negara barat yang bermasyarakat dengan tingkat pendidikan

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->