Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
LAPORAN SOSIALISASI PILEG 2009-Print

LAPORAN SOSIALISASI PILEG 2009-Print

Ratings: (0)|Views: 598 |Likes:
Published by yosbat

More info:

Published by: yosbat on Sep 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/25/2012

pdf

text

original

 
1
LLaappoorraanneeggiiaattaann SSoossiiaalliissaassiiddaannSSiimmuullaassiiPPeemmiilluuLLeeggiissllaattii BBaaggiiaallaannggaannoommuunniittaassMMaassyyaarraakkaatt MMaarrggiinnaallaabbuuppaatteennLLaabbuuhhaannbbaattuu 22000099
 
 
1
LAPORAN SOSIALISASI DAN SIMULASI PLAPORAN SOSIALISASI DAN SIMULASI PLAPORAN SOSIALISASI DAN SIMULASI PLAPORAN SOSIALISASI DAN SIMULASI PEMILU LEGISLATIFEMILU LEGISLATIFEMILU LEGISLATIFEMILU LEGISLATIFBAGI KALANGAN KOMUNITASBAGI KALANGAN KOMUNITASBAGI KALANGAN KOMUNITASBAGI KALANGAN KOMUNITAS MASYARAKATMASYARAKATMASYARAKATMASYARAKAT MARGINALMARGINALMARGINALMARGINALKABUPATEN LABUHANBATU 2009KABUPATEN LABUHANBATU 2009KABUPATEN LABUHANBATU 2009KABUPATEN LABUHANBATU 2009
 
A.A.A.A.
 
PENDAHULUANPENDAHULUANPENDAHULUANPENDAHULUANSetelah berbulan-bulan DPRRI melakukan pembahasan terhadap Rancangan Undang-Undang Pemilihan Umum (RUU Pemilu) akhirnya hanya menghasilkan kesepakatanremeh-temeh. Misalnya pemberian suara dengan cara memberi tanda (menulis)menggantikan cara coblos (tusuk). Soal yang remeh-temeh itu bahkan masuk kategoripasal alot. Namun, dalam UU Pemilu ini poin Penentuan calon terpilih adalah yangpaling akhir dibahas karena bersentuhan langsung dengan kepentingan besar partaidalam hal perebutan kursi di DPR dan DPRD. Senin, 3 Maret 2008 DPR RI besertapemerintah telah merampungkan pembahasan RUU Pemilu yang akan digunakansebagai aturan main penyelenggaraan Pemilu 2009.Berbarengan dengan disahkannya UU Pemilu, terbitlah kerumitan baru. Harus diakuiada perubahan menuju representasi yang semakin baik dengan dilonggarkannyaaturan soal Bilangan Pembagi Pemilihan (BPP). Pada Pemilu 2009, caleg hanya perlumengumpulkan suara setara dengan 30 % BPP untuk meraih kursi DPR, DPRDProvinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Namun, ketentuan ini tak berhenti di situ. Adasejumlah kondisi di mana caleg terpilih harus ditetapkan berdasarkan nomor urut.Menurut Pasal 214, kondisi itu adalah,
Pertama 
, calon yang memenuhi 30% BPP lebihbanyak dari jumlah kursi yang diperoleh partai politik.
Kedua,
jika terdapat dua calonatau lebih yang memenuhi 30% BPP dengan perolehan suara sama, penentuan calonterpilih diberikan kepada calon yang memiliki nomor urut lebih kecil.
Ketiga,
apabilacalon yang memenuhi 30% BPP kurang dari jumlah kursi yang diperoleh partaipolitik, kursi diberikan kepada calon terpilih ditetapkan berdasarkan nomor urut. Dan
keempat,
dalam hal tak ada calon yang memperoleh suara sekurang-kurangnya 30%BPP, calon terpilih ditetapkan berdasarkan nomor urut. Jelas sekali ketentuan iniberpretensi menggelembungkan "kekuasaan" di tangan parpol. Tanpa ada perubahancara parpol dalam menetapkan siapa mendapat nomor urut jadi dan siapa pula yangsekadar dapat nomor urut sepatu, hakikatnya syarat 30% BPP tidak kianmeningkatkan nilai representasi anggota legislatif terhadap massa pemilih.
1
 Sistem yang digunakan pada seluruh pemilu pada masa Orde Baru sampai Pemilu 1999adalah sistem proporsional dengan daftar tertutup
(PR Closed List) 
. Baru pada Pemilu2004 yang berdasarkan UU No 12/2003 menggunakan sistem proporsional dengandaftar calon terbuka. Akan tetapi, karena penetapan calon terpilih masih dibatasidengan perolehan suara sebesar BPP, kita akhirnya mengetahui bahwa sistemproporsional yang namanya terbuka telah berjalan sebagai sistem yang tertutup(sedikit terbuka). Dan dalam pelaksanaan pemilu, persaingan di antara para calondalam satu partai juga akan sulit berkembang sehat. Sebab, dalam pemilu, beban calonyang berada pada nomor urut calon "jadi" akan lebih ringan dibandingkan calon yangberada pada nomor urut bawah. Para calon pada nomor urut bawah, untukkeberhasilan dalam pemilu harus berusaha ekstra keras. Namun, tetap kecil kepastianuntuk bisa terpilih.
1
Moh Sasul Arifin dalam “Kerumitan Teknis Pemilu 2009”, www.pikiran-rakyat.com
 
2
Bagi masyarakat pemilih, sistem pemilu yang terbuka sedikit juga akan memberidampak terhadap kepeduliannya kepada calon-calon terpilih. Masyarakat akan lebihpeduli kepada wakil rakyat pilihannya. Kepedulian dapat dalam bentuk berupayamelakukan komunikasi, berlaku kritis, dan terus mengawasi. Suatu wujud kepeduliantinggi yang seharusnya tercipta dalam perbaikan demokrasi di Indonesia. Namun, haltersebut akan sangat sulit tercipta kalau wakil rakyat dari daerah pemilihannya bukankarena mendapat suara terbanyak, tetapi karena posisi nomor urutnya, sebagaicerminan yang lebih dikehendaki oleh partai politiknya.
2
 Sejalan dengan itu, beberapa partai politik dalam menentukan calon terpilih padaPemilu 2009 menganut sistem suara terbanyak. Padahal, Undang-Undang Pemilu yangdihasilkan oleh wakil partai politik di DPR menetapkan lain. Yaitu calon terpilihditentukan berdasarkan nomor urut dan 30% BPP. Sedikitnya terdapat 9 parpol yangakan menerapkan sistem suara terbanyak dalam menetapkan caleg 2009 kala itu.Parpol itu antara lain: PAN, Golkar, Demokrat, Barnas, Hanura, PBR, PDS, PDIP, danPNBK.PDIP memakai suara terbanyak bila ada caleg yang mendapatkan suara 15 persen BPP,namun bila tidak ada maka kembali ke nomor urut. Sedangkan PNBK menyesuaikandengan situasi dan kondisi di suatu daerah pemilihan.Dengan diterapkannya sistem suara terbanyak maka sudah terdapat dua sistem yangdipakai dalam menetapkan caleg terpilih.
Pertama,
tetap mengacu kepada Undang-Undang Pemilu No 10 Tahun 2008. UU Pemilu ini mengatur bahwa calon terpilihanggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota ditetapkan berdasarkanperolehan suara calon yang mendapatkan 30 % dari BPP di daerah pemilihantersebut. Bila tidak ada caleg yang memenuhi kuota tersebut maka, calon akanditetapkan sesuai dengan nomor urut (sistem proporsional terbuka terbatas).
Kedua,
 dengan menggunakan suara terbanyak dengan menyampingkan nomor urut (sistemproporsional terbuka murni) seperti yang diamanatkan undang-undang.Dipilihnya sistem suara terbanyak oleh beberapa parpol patut diberikan apresiasikarena telah mengembuskan angin segar bagi demokrasi kita. Selama ini sistem nomorurut dirasakan tidak memenuhi rasa keadilan karena terpilihnya caleg berdasarkannomor urut dan bukan berdasarkan suara yang diperolehnya. Dalam kata lain seorangcaleg ditetapkan menjadi anggota legislatif adalah berasal dari kedekatannya denganpartai ketimbang kedekatan dengan masyarakat atau konstituennya. Hal ini biasanyaakan menimbulkan
split loyality 
di dalam internal partai di mana kader partai yangduduk di legislatif cenderung sangat loyal kepada pengurus parpol ketimbang pemilihyang menjadi konstituennya.Sebaliknya sistem yang berdasarkan suara terbanyak akan menumbuhkan kompetisiantara caleg parpol yang berbeda maupun sesama caleg dalam satu partai. Dalamsistem ini, semua caleg mendapatkan kesempatan sama untuk menjadi caleg terpilih.Terpilih atau tidaknya caleg tergantung usaha dia untuk memopulerkan diri danmeraih simpati pemilih. Sehingga caleg yang terpilih adalah caleg yang benar-benarmempunyai kapasitas yang mumpuni dan mampu untuk menjelaskan program-programnya dengan baik ke masyarakat. Bukan caleg yang sekedar mengandalkan lobike petinggi parpol untuk mendapatkan nomor urut yang kecil - sering kali dalam
2
Hadar N Gumay, Sistem Pemilu 2009: Terbuka, Tetapi Sedikit (4)

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->