Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
6Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Krisis Dan Keterpurukan Pendidikan Indonesia

Krisis Dan Keterpurukan Pendidikan Indonesia

Ratings: (0)|Views: 206 |Likes:
Published by ziyya_elhakim

More info:

Published by: ziyya_elhakim on Sep 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/29/2014

pdf

text

original

 
Krisis dan Keterpurukan Pendidikan IndonesiaOleh Rum RosyidSekularisme Sebagai Paradigma Pendidikan
Jarang ada orang mau mengakui dengan jujur, sistem pendidikan kita adalah sistem yangsekular-materialistik. Biasanya yang dijadikan argumentasi, adalah UU Sisdiknas No. 20tahun 2003 pasal 4 ayat 1 yang berbunyi, “Pendidikan nasional bertujuan membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak dan berbudi mulia, sehat, berilmu, cakap, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air.”Tapi perlu diingat, sekularisme itu tidak otomatis selalu anti agama. Tidak selalu anti“iman” dan anti “taqwa”. Sekularisme itu hanya menolak peran agama untuk mengatur kehidupan publik, termasuk aspek pendidikan. Jadi, selama agama hanya menjadimasalah privat dan tidak dijadikan asas untuk menata kehidupan publik seperti sebuahsistem pendidikan, maka sistem pendidikan itu tetap sistem pendidikan sekular, walaupun para individu pelaksana sistem itu beriman dan bertaqwa (sebagai perilaku individu).Secara umum merupakan pengaruh budaya globalisasi. Globalisasi mendorong pergeseran nilai-nilai masyarakat kearah sekulerisme yang mempengaruhi paradigma pendidikan. Orientasi pendidikan pada peserta didik (student learning center).Proses belajar seumur hidup. Lumernya batas antara pendidikan formal dengan non-formal. Berkembangnya pendidikan jarak jauh dan multimedia.Meningkatnya standar mutu dan daya saing. Berkembangnya pendekatan multi disiplinkeilmuan. Meningkatnya peran teknologi komunikasi dan informasi dalam proses pendidikanSesungguhnya diakui atau tidak, sistem pendidikan kita adalah sistem pendidikan yangsekular-materialistik. Hal ini dapat dibuktikan antara lain pada UU Sisdiknas No. 20tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang dan jenis pendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi: Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan,akademik, profesi, advokasi, keagaman, dan khusus.Dari pasal ini tampak jelas adanya dikotomi pendidikan, yaitu pendidikan agama dan pendidikan umum. Sistem pendidikan dikotomis semacam ini terbukti telah gagalmelahirkan manusia salih yang berkepribadian religius sekaligus mampu menjawabtantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi.Secara kelembagaan, sekularisasi pendidikan tampak pada pendidikan agama melaluimadrasah, institut agama, dan pesantren yang dikelola oleh Departemen Agama;sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah, kejuruan serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional. Terdapat kesanyang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) dilakukan olehDepdiknas dan dipandang sebagai tidak berhubungan dengan agama. Pembentukankarakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan justru kurangtergarap secara serius. Agama ditempatkan sekadar sebagai salah satu aspek yang perannya sangat minimal, bukan menjadi landasan dari seluruh aspek kehidupan.Hal ini juga tampak pada BAB X pasal 37 UU Sisdiknas tentang ketentuan kurikulum pendidikan dasar dan menengah yang mewajibkan memuat sepuluh bidang mata pelajaran dengan pendidikan agama yang tidak proposional dan tidak dijadikan landasan bagi bidang pelajaran yang lainnya.
 
Ini jelas tidak akan mampu mewujudkan anak didik yang sesuai dengan tujuan dari pendidikan nasional sendiri, yaitu mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaranagar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatanspiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, sertaketerampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Kacaunyakurikulum ini tentu saja berawal dari asasnya yang sekular, yang kemudianmempengaruhi penyusunan struktur kurikulum yang tidak memberikan ruang semestinya bagi proses penguasaan peradaban Illahiyah dan pembentukan kepribadian taqwa.Pendidikan yang sekular-materialistik ini memang bisa melahirkan orang pandai yangmenguasai sains-teknologi melalui pendidikan umum yang diikutinya. Akan tetapi, pendidikan semacam itu terbukti gagal membentuk kepribadian peserta didik dan penguasaan tsaqâfah rabbani. Berapa banyak lulusan pendidikan umum yang tetap saja‘buta agama’ dan rapuh kepribadiannya? Sebaliknya, mereka yang belajar di lingkungan pendidikan agama memang menguasai tsaqâfah Islam dan secara relatif sisikepribadiannya tergarap baik. Akan tetapi, di sisi lain, ia buta terhadap perkembangansains dan teknologi.Akhirnya, sektor-sektor modern (industri manufaktur, perdagangan, dan jasa) diisi olehorang-orang yang relatif awam terhadap agama karena orang-orang yang mengerti agamaterkumpul di dunianya sendiri (madrasah, dosen/guru agama, Depag), tidak mamputerjun di sektor modern.Jadi, pendidikan sekular memang bisa membikin orang pandai, tapi masalah integritaskepribadian atau perilaku, tidak ada jaminan sama sekali. Sistem pendidikan sekular ituakan melahirkan insan pandai tapi buta atau lemah pemahaman agamanya. Lebih buruk lagi, yang dihasilkan adalah orang pandai tapi korup. Profesional tapi bejat moral. Iniadalah out put umum dari sistem pendidikan sekular. Mari kita lihat contoh negaraAmerika atau negara Barat lainnya. Ekonomi mereka memang maju, kehidupan publiknya nyaman, sistim sosialnya nampak rapi. Kesadaran masyarakat terhadap peraturan publik tinggi.Tapi, perlu ingat bahwa agama ditinggalkan, gereja-gereja kosong. Agama dilindungisecara hukum tapi agama tidak boleh bersifat publik. Hari raya Idul Adha tidak bolehdirayakan di lapangan, azan tidak boleh pakai mikrofon. Pelajaran agama tidak saja absendi sekolah, tapi murid-murid khususnya Muslim tidak mudah melaksanakan sholat 5waktu di sekolah. Kegiatan seks di kalangan anak sekolah bebas, asal tidak melanggar moral publik. Narkoba juga bebas asal untuk diri sendiri. Jadi dalam kehidupan publik kita tidak boleh melihat wajah agama.Sistem pendidikan yang material-sekularistik tersebut sebenarnya hanyalah merupakan bagian belaka dari sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang juga sekular.Dalam sistem sekular, aturan-aturan, pandangan, dan nilai-nilai Islam memang tidak  pernah secara sengaja digunakan untuk menata berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Karena itu, di tengah-tengah sistem sekularistik ini lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama.
Krisis Pendidikan Sekuler
Krisis multidimensional yang melanda Indonesia telah membuka mata kita terhadapmutu Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia, dan secara tidak langsung juga merujuk  pada mutu pendidikan yang menghasilkan SDM itu sendiri. Meskipun sudah merdeka
 
lebih dari setengah abad, akan tetapi mutu pendidikan Indonesia dapat dikatakan masihsangat rendah dan memprihatinkan. Hal tersebut setidaknya dapat kita ketahui denganmelihat 2 (dua) indikator sekaligus, yaitu indikator makro seperti pencapaian HumanDevelompement Index (HDI) dan indikator mikro seperti misalnya kemampuanmembaca.Menurut Human Development Reports , HDR 2002 (Laporan Pembangunan Manusia2002) yang dikeluarkan oleh Program Pembangunan PBB ( United Nations DevelopmentProgramme, UNDP) tentang Human Development Indicators 2002, Indonesia menempati peringkat 110 dari 173 negara yang diteliti dengan Human Development Index (HDI)0.684. Posisi Indonesia itu jauh di bawah negara anggota ASEAN, misalnya Singapura(25), Brunei Darussalam (32), Malaysia (59), Thailand (70), Vietnam (109).Kemudian pada HDR 2003, indeks tersebut merosot menjadi 0,682. Penurunan indeksyang mencerminkan memburuknya kualitas manusia Indonesia ini juga terlihat darimenurunnya peringkat HDI, dari urutan 110 ke 112, sementara Malaysia naik ke peringkat 58 dan Vietnam masih di urutan ke 109. ( Suara Pembaharuan , 23/07/2003)Berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh UNDP pada Human Development Report2005, ternyata Indonesia menduduki peringkat 110 dari 177 negara di dunia. Bahkanyang lebih mencemaskan, peringkat tersebut justru sebenarnya semakin menurun daritahun-tahun sebelumnya, di mana pada tahun 1997 HDI Indonesia berada pada peringkat99, lalu menjadi peringkat 102 pada tahun 2002, dan kemudian merosot kembali menjadi peringkat 111 pada tahun 2004.Menurut IMD (2000), dalam hal daya saing, Indonesia menduduki peringkat ke-45 dari47 negara. Sedangkan, Singapura berada pada peringkat 2 dan Malaysia serta Thailandmasing-masing pada urutan ke-25 dan ke-23. Terkait masalah produktivitas, terungkap bahwa produktivitas SDM Indonesia sangatlah rendah, hal tersebut setidaknyadikarenakan kurangnya kepercayaan diri, kurang kompetitif, kurang kreatif, dan sulit berprakarsa sendiri (selfstarter). Itu semua disebabkan oleh sistem pendidikan yang topdown dan tidak mengembangkan inovasi dan kreativitas (N. Idrus - CITD 1999).Begitu pula dari berbagai data perbandingan antar negara dalam hal anggaran pendidikanyang diterbitkan oleh UNESCO dan Bank Dunia dalam “The World Bank (2004):Education in Indonesia: Managing the Transition to Decentralization (IndonesiaEducation Sector Review), Volume 2, hal. 2-4”, Indonesia adalah negara yang terendahdalam hal pembiayaan pendidikan. Pada tahun 1992, menurut UNESCO, pada saatPemerintah India menanggung pembiayaan pendidikan 89% dari keperluan, Indonesiahanya menyediakan 62,8% dari keperluan dana bagi penyelenggaraan pendidikannasionalnya. Sementara itu, dibandingkan dengan negara lain, termasuk negara yanglebih terbelakang seperti Srilanka, persentase anggaran yang disediakan oleh PemerintahIndonesia masih merupakan yang terendah.Dampak krisis ekonomi, yang menurunkan pendapatan riil masyarakat, terusmembayangi dunia pendidikan Indonesia, khususnya pendidikan dasar, sehinggamemaksa upaya penyelamatan oleh semua pihak. Kekhawatiran itu paling tidak tercermindari hasil pengamatan Dr Hafid Abbas terhadap masyarakat di sekitar beberapa sekolahswasta jenjang SD dan SMP yang terkena PHK di Kecamatan Tamblang, Bekasi.Pengamat pendidikan dari IKIP Jakarta itu menemukan di setiap kelas SD dan SMP,kecuali kelas terakhir, terdapat empat sampai delapan anak, atau 10 sampai 20 persen

Activity (6)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Min Hee liked this
Feby Polymorpa liked this
Rif Aim liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->