Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
21Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Penggalian Sejarah Pekabaran Injil Masuk Tanah Minahasa

Penggalian Sejarah Pekabaran Injil Masuk Tanah Minahasa

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 7,467|Likes:
Published by bete emesce

More info:

Published by: bete emesce on Jul 02, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

06/24/2013

pdf

text

original

 
Penggalian Sejarah Pekabaran Injil Masuk TanahMinahasa
Tanggapan terhadap pernyataan R Mawikere
Oleh: Pdt Dr AF Parengkuan MTh
Harian Komentar, Rabu (25/06) memuat berita tentang upaya pelurusan Sejarah Pekabaran Injil diTanah Minahasa, dengan judul ‘Riedel dan Schwarz Bukan Penginjil Pertama di Minahasa’ dengannarasumber Raymond Mawikere Mhum.Untuk menanggapi hal itu, Pdt Dr AF Parengkuan MTh, mantan Ketua Sinode GMIM dan ahlisejarah gereja, bersedia memberikan tanggapan melalui tulisan, yang baru saja disemilokakan.Berikut catatan lengkap Pdt Dr AF Parengkuan:
Hari ini, kita mengadakan Semiloka dengan judul: Peng-galian Sejarah Pekabaran Injil Masuk TanahMinahasa. Su-dah sejak beberapa waktu yang lalu ada pertanyaan dari ang-gota-anggota jemaat:Apakah tepat untuk mengatakan bahwa Pekabaran Injil dan Pendidik-an Kristen nanti mulai pada177 tahun yang lalu, pada 12 Juni 1831?” Petanyaan ini be-lum memperoleh jawaban yang dapatditerima oleh semua ka-langan di lingkungan GMIM. Dengan judul semiloka ter-sebut di atas, kitadiperhadap-kan pula dengan pertanyaan yang sama, yang mudah-mu-dahan melalui semiloka inikita memperoleh masukan-masukan yang sesungguhnya memberi kejelasan tentang waktumasuk-nya Pekabaran Injil dan Pen-didikan Kristen di Minahasa.Sebenarnya usaha untuk menggali Sejarah Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen sudah dicobauntuk disusun, pada waktu GMIM merayakan 70 Tahun GMIM Bersinode, pada tanggal 30September 2004. Sebuah buku dengan sampul terbilang istimewa un-tuk peringatan perayaan ituberjudul Menggali Harta Ter-pendam. Penerbitannya telah diprakarsai oleh panitia pada waktu itu.Dua orang dosen Bidang Studi Sejarah Gereja di Fakultas Teologia UKIT yang diminta untukmenyusun isi buku tersebut adalah Pdt DR Arnold Fr Parengkuan MTh dan Pdt David M LintongSTh. Dua topik utama yang diurai-kan dalam buku itu adalah mengenai “GMIM dan Pekabar-anInjil” dan “Tata Gereja GMIM Sepanjang Sejarahnya”.Dalam penulisan Sejarah Gereja di Indonesia sekarang ini, para ahli yang terhimpun dalamPaguyuban Ahli Sejarah Kekristenan di Indonesia (PASKI) telah mengembangkan suatu pendekatankontekstual. Bukan lagi memberi banyak penekanan pada peran para missio-naris/zendeling dariBarat, melainkan berusaha menggali peran penduduk pribumi dalam pem-beritaan injil dan
IK
 
pengembang-annya di daerah di mana me-reka berasal. Demikian juga dalam penyusunan bahanse-miloka ini, saya mencoba un-tuk mendapatkan catatan-ca-tatan historis yang berkenaandengan peran perintis-perintis pribumi dalam Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen.Dari data-data itu diharap-kan kita boleh meninjau kem-bali apakah penentuan mulai-nyaPekabaran Injil dan Pendi-dikan Kristen memang masih dapat dipertahankan atau su-dahmemerlukan revisi bagi peletakan dasar pengetahuan anak cucu kita tentang Seja-rah GMIM.Keadaan Masyarakat Mina-hasa Sebelum Perjumpaan dengan Pendatang dari Barat.Mengapa kita mulai dengan pokok ini? Jawaban semen-tara adalah bahwa yang ber-inisiatif danmengambil ke-putusan untuk me-nerima Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen adalah orangMinahasa yang su-dah mendiami Ta-nah Minahasa se-belum kedatangan orang-orang asing daribelahan bumi bagian barat. Pada waktu itu penduduk Minahasa tinggal di wilayah-wilayahpedalaman. Mereka terdiri dari beberapa sub-etnis dengan bahasanya masing-masing, yakni: Tonsea, Toulour, Tountemboan, Tom-bulu, Pasan-Ponosakan dan Bantik. Dalam wilayah peda-lamanitu mereka bebas dari pengaruh Arab dan India2.Berdasarkan cerita-cerita kuno tentang penyebaran sub-sub-etnis di Minahasa dan cerita tentangmusyawarah di Watu Pinawetengan dapat disimak bahwa masyarakat Minahasa di masa sebelumkedatangan bangsa-bangsa Barat telah mengenal adanya orang-orang yang berinisiatif sebagaipemimpin. Karena ke-istimewaan yang mereka miliki seorang, maka ia men-dapat penghormatandan di-segani oleh masyarakat di se-kitarnya.Orang-orang seperti itu dike-nal sebagai Tonaas dan Wa-lian3. Suara mereka didengar olehanggota masyarakat kare-na kewibawaan, keberanian dan kharisma yang mereka miliki4.Berkenaan dengan pandang-an keagamaan, orang Minaha-sa purba telah memiliki konsep tentangkuasa tertinggi, yang kehendaknya ditafsirkan dari gejala-gejala alam. Umpama-nya, untukmengetahui apakah maksud dan rencana seseorang direstui oleh kuasa tertinggi itu, maka merekamenyendiri di tempat yang sunyi untuk men-dengar suara burung Manguni. Bilangan sembilanmenjadi pe-gangan tentang ke-sempurna-an. Karena itu jika suara bu-rung Manguni berbunyisembi-lan kali maka itu menjadi pe-tunjuk bahwa maksud mereka direstui oleh kuasa tertinggi. Jika tidak maka mereka ha-rus menunda rencana itu dan menunggu sampai ada tanda berikutyang boleh menjadi pe-gangan. Kuasa terbatas lainnya diungkap-kan dalam bentuk pengajaranyang lebih bersifat etika. Kita tidak akan memba-has ini satu persatu karena tentang itu dapatdibaca dalam tulisan-tulisan yang sudah pernah diterbitkan oleh orang Minahasa sebelumnya. Yang hendak diambil sebagai contoh adlah beberapa hal yang menunjukkan akan kepercaya-anpada kuasa terbatas, yang bersifat lokal. Umpamanya, un-tuk mengajarkan masyarakat agarmenghormati kegiatan pri-badi orang lain, maka untuk melewati batu besar, pohon be-sar, mataair, seseorang harus mendehem lebih dulu sebelum sampai di tempat-tempat itu. Dalam tradisikepercayaan la-ma di Minahasa yang juga dipe-lihara sebagai adat, penekanan ketetapan inidiarahkan kepa-da penghormatan terhadap kuasa supernatural terbatas itu. Tetapi ditinjau dari sisipe-ngajaran etika, tem-pat seperti batu be-sar dan pohon besar sering dipakai untuk menjaditempat membuang hajat, se-dangkan mata air menjadi tempat orang mandi.Dengan mendehem, maka sesorang yang hendak mele-wati tempat itu memberi kesem-patanbagi yang bersangkutan untuk membalas dengan men-dehem pula atau berjongkok di dalam airsampai ke lehernya sehingga orang yang akan le-wat dapat melanjutkan perja-lanannya, ataulebih berha-ti-hati jika hendak meniti jem-batan bambu melewati parit.Dari kedua contoh ini dapat dipahami bahwa orang Mina-hasa purba telah memiliki ni-lai-nilaikeagamaan dan etika. Ini penting bagi kita untuk menyadari bahwa sebelum orang Barat datangke Mina-hasa, mereka sudah memiliki kepercayaan dan memper-oleh pendidikan melalui adat.
 
Uraian Singkat Mengenai Orang-orang Kristen Pertama yang Masuk Tanah Minahasadan Penerimaan Orang Mina-hasa atas Ajaran Ke-agamaan dan Pendi-dikan yangMereka Bawa.
Menurut catatan-catatan historis yang kita miliki5 orang-orang Spanyol lebih dulu datang ke Mina-hasa dari pada orang Portugis, yakni pada tahun 1525. Nanti sesudah 1580 barulah mereka lebihmenetap. Orang-orang Portugis nanti datang ke Minahasa pada tahun 1563, sebagai usahatandingan terhadap ekspidisi Sultan Khai-run dari Ternate6. Kedua bangsa ini datang ke Minahasauntuk berdagang pala, cengkih dan kopra. Tetapi di samping itu mereka juga membawa iman Katolik dari negeri mereka. Pendeta-pendetaProtestan nanti da-tang ke Minahasa pada abad ke-17 (1663) bersama-sama dengan VOC (SerikatDagang Hindia Timur). Mereka meng-geser kekuasaan Spanyol dan Portugis.Pendeta-pendeta VOC itu an-tara lain, Ds. Jacobus Monta-nus, yang dalam perjalanan-nya ke Taruna singgah juga di Manado pada tahun 1675.Pada waktu itu ada seorang yang dibaptis, ada satu rumah gereja dan satu sekolah. Tidak jelasapakah orang yang dibap-tis adalah dari kalangan pega-wai VOC. Namun menarik un-tukmengangkat di sini apa yang disebutkan oleh Molsber-gen tentang seorang wali negeri Malukubernama Pieter Roose-laar yang dari tahun 1700 sam-pai dengan 1706 mengadakan studi tentangkeadaan di wila-yah pemerintahannya yang lu-as, termasuk Manado. Ia me-nyebutkan tentangtiga orang pemimpin hukumtua, yakni Soupit dari Tombariri, Lonto dari Tonsea Tonsaronson (To-unsarongsong ?) dan Paat dari Tomohon. Disebutkan sedikit-nya ada 567 jiwa orang Kristen danadanya pemimpin-pemim-pin yang luar biasa, ada sebu-ah sekolah pribumi dan se-orang gurukeliling yang me-mimpin kebaktian serta men-didik para pemuda. Walaupun yang menjadi sasaranpeneliti-an itu menyangkut kekuatan perekonomian di wilayah-wi-layah tersebut, namun dalam-nya diinformasikan tentang adanya orang-orang Kristen dan sekolah pribumi di sekitar Tombariri, Tomohon dan Ton-sea pada awal abad ke-187. Da-ri informasi itu dapat disimak bahwa ada gurukeliling yang sangat mungkin berasal dari Minahasa yang sangat berpe-ran dalam pekabaran Injildan penyelenggaraan pendidikan di ketiga wilayah itu. Jika kita perhatikan ini, maka kerja pe-kabaran Injil di Minahasa su-dah cukup intensif dan dilaku-kan oleh guru pribumi, walau-pun jumlahnya sangat langka. Molsbergen juga menyebutkan tentang Ds. Adams yang dise-but-sebutdatang ke Tondano dan tentang desa-desa Atep dan Kapataran(g) yang pada se-kitar tahun 1786nampaknya menjadi tempat mendarat pe-rahu-perahu dari luar Minaha-sa, seperti perahu yangdikenal dengan nama “kora-kora”. Tempat sekitar Atep itu kemu-dian dikenal sebagai LabuhanKora-kora8. Walaupun disentil oleh Molsbergen bahwa ada ha-rapan Ds. Adams akan mem-perhatikan kepercayaan Kris-ten yang pernah dimiliki oleh penduduk di sana, namun kita tidakmemiliki data yang jelas tentang siapa-siapa orang Mi-nahasa yang dibaptis pada waktu itu9.Dengan demikian sampai bubarnya VOC pada ta-hun 1799, telah ada guru-guru pribumi yang giatmengabar-kan Injil dan berkeliling di be-berapa desa/wilayah untuk mengajar penduduk yang telahmenjadi Kristen. Nama mereka memang tidak disebutkan, ke-cuali guru-guru pribumi yangmemperoleh didikan para zen-deling di abad ke-19, sesudah VOC dibubarkan dan babak barudalam pekabaran Injil se-telah badan-badan pekabaran Injil terbentuk di Eropa pada akhir abadke-18, seperti ada-nya NZG (Nederlandse Zende-ling Genootschap) atau Per-kumpulan PekabarInjil Belan-da) yang didirikan pada 19 De-sember 1797. Lembaga-lemba-ga yang giatmelaksanakan pe-kabaran Injil ke luar Eropa itu timbul oleh pengaruh gerakan Pietisme, yangmerupakan arus kekuatan kerohanian di Eropa yang hendak mengimba-ngi kecenderunganpementing-an segi intelektual para pemim-pin gereja di masa pasca-Re-formasi, kemudianmenekan-kan agama hati, kesalehan dan pelaksanaan tugas menga-barkan Injil di antara orangKristen.
Pemahaman Umum Jemaat-jemaat di Minahasa tentang Permulaan Pekabaran Injil diMinahasa.
Peringatan Hari Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen di Minahasa, sebagaimana yang berlakusampai sekarang ialah bahwa penentuan mulainya Pekabaran Injil dan Pendidik-an Kristen diMinahasa nanti terjadi pada waktu para zen-deling Johan Frederich Riedel dan Johan Gotlieb

Activity (21)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Tania Sari liked this
Trixa Rumayar liked this
erladys liked this
shieby liked this
akansil liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->