KATA PENGANTAR
Hukum Islam sebagai hukum yang berdiri sendiri telah mempunyai kedudukan yang kuat, baik di masyarakat maupun dalam peraturan perundang-undangan negara. Dimana kerajaan-kerajaan Islam yang pernah berdiri di Indonesia melaksanakan hukum Islam dalam wilayahkekuasaannya masing-masing. Dengan timbulnya komunitas-komunitas masyarakat Islam, makakebutuhan akan lembaga peradilan yang memutus perkara berdasarkan hukum Islam makindiperlukan.Pada tahun 1830 Pemerintah Belanda menempatkan peradilan agama di bawah pengawasan "landraad" (pengadilan negeri). Hanya lembaga landraad yang berkuasa untuk memerintahkan pelaksanaan putusan pengadilan agama dalam bentuk "excecutoire verklaring"(pelaksanaan putusan). Pengadilan Agama tidak berwenang untuk menyita barang dan uang (DaudAli : 223). Dan tidak adanya kewenangan yang seperti ini terus berlangsung sampai denganlahirnya Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Dengan keluarnya Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang telah memberikan landasan untuk mewujudkan peradilan agama yang mandiri, sederajat dan memantapkan serta mensejajarkankedudukan peradilan agama dengan lingkungan peradilan lainnya.Setelah dikeluarkan dan berlakunya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentangPerubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Dengan tujuanuntuk rnewujudkan tata kehidupan bangsa, negara, dan masyarakat yang tertib, bersih, makmur,dan berkeadilan bahwa Peradilan Agama merupakan lingkungan peradilan di bawahMahkamah Agung sebagai pelaku kekuasaan kehakiman yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Akan tetapi terjadi perubahankembali yaitu dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 masih perlu disempurnakankembali yaitu dengan mengadakan perubahan kedua yaitu dengan Undang-Undang Nomor 50Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 7 Tan 1989 tentang PeradilanAgama.Selnjutnya pada era reformasi, terjadi pula perubahan secara besar-besaran pada lembaga peradilan, khususnya peradilan agama, dimana peradilan Agama harus menundukkan diri kepadaUndang-Undang Satu Atap yaitu UU No. 5 Tahun 2004 tentang Mahkmah Agung-RI dan UU Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Dan telah terjadi perubahan pada UU