Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
18Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Upaya Hukum Peninjauan Kembali

Upaya Hukum Peninjauan Kembali

Ratings: (0)|Views: 1,534 |Likes:

More info:

Published by: Timur Abimanyu, SH.MH on Sep 26, 2010
Copyright:Public Domain

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/21/2012

pdf

text

original

 
 
By Timur Abimanyu, SH.MHPERSFEKTIF PERBEDAAN PENDAPAT TERHADAPUPAYA HUKUM PENINJAUAN KEMBALI YANGDIAJUKAN JAKSA PENUNTUT UMUM
Menganalisa serta mengkaji terhadap fenomena-fenomena, fakta-kata yang salingmempertentangkan didalam hukum acara mengenai pengajuan upaya hukum Peninjauan Kembaliyang dilakukan oleh pihak Kejaksaan serta implikasi secara yuridis terhadap dimungkinkannya pengajuan upaya hukum Peninjauan Kembali oleh Jaksa Penuntut Umum pada wilayah hukum peradilan di Indonesia. Secara teoritik perundangan Peninjauan Kembali merupakan hak terpidanaatau ahli warisnya, tetapi dalam praktek peradilan didalam hawa politik era reformasi indonesia,dimana pengajuan upaya hukum Peninjauan Kembali oleh Jaksa Penuntut umum telah beberapakali dilakukan didalam beracara diperadilan.Pada masa-masa orde baru dimana hawa politik yang mempengaruhi kewenangan peradilan, yang didalam beracara diperadilan menunjukkan bahwa Jaksa Penuntut Umum secarateoritik memang tidak memiliki hak untuk mengajukan upaya hukum Peninjauan Kembali, akantetapi didalam prakteknya Mahkamah Agung pernah mengabulkan upaya hukum PeninjauanKembali yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum melalui putusan No. 55PK/Pid/1996 dalamkasus Muchtar Pakpahan. Majelis hakim Agung dalam pertimbangan hukumnya menggunakanPasal 263 KUHAP dan Pasal 21 Undang-Undang No. 14 Tahun 1970 yang sekarang telah digantioleh Undang-Undang No. 4 tahun 2004 dengan menafsirkan pihak-pihak berkepentingan dalam perkara pidana adalah Jaksa Penuntut Umum dan terpidana sebagai pihak yang dapat mengajukanupaya hukum Peninjauan Kembali. Namun sebenarnya penafsiran tersebut tidak diperbolehkankarena ketentuan Pasal 21 Undang-Undang No. 14 Tahun 1970 yang sekarang telah diganti olehUndang-Undang No. 4 Tahun 2004 telah dijelaskan dalam penjelasan pasalnya bahwa yangdimaksud pihak-pihak berkepentingan adalah terhukum dan ahli warisnya. Dari uraian tersebutdapat dilihat terlihat terdapat pertentangan dasar hukum yang digunakan Mahkamah Agungsehingga putusan Mahkamah Agung RI No. 55PK/Pid/1996 tidak dapat dijadikan yurisprudensi kedepan.Pengaturan terhadap Jaksa Penuntut umum dalam mengajukan upaya hukum PeninjauanKembali mengenai boleh atau tidaknya perlu diatur secara tegas (apakah berbentuk PERMA atau peraturan lainnya untuk mencegah kekosongan Hukum didalam beracara), yang sehingga terhadapupaya kepastian hukum dan rasa keadilan masyarakat bisa tercapai/terpenuhi. Sementaramenunggu revisi KUHAP, Mahkamah Agung dapat menggunakan wewenangnya sesuai Pasal 79Undang-Undang 5 Tahun 2004 tentang mahkamah Agung dalam memberikan ketentuan mengenaidimungkinkannya Peninjauan Kembali oleh Jaksa Penuntut Umum.Sebagai uraian tersebut diatas marilah kita melihat berdasarkan fakta yang terjadi denganmelihat kasus-kasus yang didapat dari beberapa sumber data dan informasi terkait : 
 
 P U T U S A NMAHKAMAH AGUNG RIReg.  No. 15 PK/Pid/2006Resume Perkara:Terdakwa merupakan pemilik sewa atas suatu rumah. Pada tahun 1965 terdakwa menyewakanrumahnya kepada saksi korban. Pada bulan juni 2002 saksi korban/penyewa meninggalkan rumahsewanya selama kurun waktu 2 bulan (tidak terlalu jelas apakah yang dimaksud 2 bulan atau kurunwaktu juni s/d november). Pada bulan November 2002 terdakwa membongkar pintu rumah yangdisewa tersebut dengan merusak kusen, pintu dan kunci rumah, kemudian menggantinya dengankunci rantai sepeda. Ketika saksi korban mengetahui kejadian tersebut saksi korban menggantikunci rantai sepeda yang dipasang Terdakwa dengan dengan kunci baru. Ketika saksi korban tidak ada dirumah Terdakwa kembali memaksa masuk ke rumah dengan jalan merusak kunci yang barudipasang saksi korban. Atas perbuatan tersebut terdakwa didakwa dengan pasal 200 ayat 1 KUHP, pasal 406 KUHP, dan pasal 335 KUHP.Pada tingkat pertama terdakwa dinyatakan terbukti atas dakwaan kedua (406 KUHP –  pengerusakan barang) dan dihukum dengan hukuman penjara selama 6 bulan. Pada tingkat banding putusan PN dibatalkan, Pengadilan Tinggi menyatakan terdakwa tidak terbukti atas semuadakwaan. Pada tingkat kasasi Mahkamah Agung membatalkan putusan PT, MA memutus perbuatan terdakwa terbukti namun perbuatan tersebut bukan tindak pidana (onslaght). PutusanMA tersebut diputus pada tanggal 21 September 2005. Pada tanggal 28 Juli 2005 JPU mengajukanPK. Pada tanggal 19 Juni 2006 MA memutus permohonan PK tersebut, menyatakan membatalkan putusan kasasi. Dalam putusan PK tersebut MA menyatakan terdakwa terbukti melanggar pasal406 KUHP dan dijatuhi hukuman penjara selama 4 bulan.Pertimbangan MAMenimbang, bahwa terlebih dahulu perlu dipertimbangkan apakah permohonan PeninjauanKembali terhadap putusan yang telah berkekuatan hukum yang diajukan oleh Jaksa PenuntutUmum/saksi korban/pihak ketiga yang berkepentingan tersebut secara formil dapat diterima,mengingat Pasal 263 ayat 1 KUHAP secara limitatief sekali, menentukan bahwa yang berhak untuk mengajukan permohonan Peninjauan Kembali hanya terpidana atau ahli warisnya dan putusan yang dapat dimohonkan Peninjauan Kembali tidak boleh merupakan putusan bebas atau putusan dilepaskan dari segala tuntutan hukum;Menimbang, bahwa sehubungan dengan hal tersebut Mahkamah Agung menganggap perlu untuk mengemukakan hal-hal sebagai berikut :1.Bahwa ditinjau dari teori dan praktek yurisprudensi, dibenarkan melakukan penafsiranekstensif dalam bentuk to growth the meaning atau over rule maupun depature. Akan tetapi,ada yang berpendapat penafsiran ekstensif tidak dibenarkan dalam bidang hukum acara.Alasannya, hukum acara (terutama acara pidana) adalah “hukum publicyang bersifat“imperative”, prinsipnya sebagai hukum public yang bersifat imperative, berfungsi sebagai therule of the game. Tidak boleh dikesampingkan melalui penafsiran luas oleh aparat penegak hukum. Oleh karena itu, ketentuan hukum acara tidak boleh dikesampingkan melalui tindakan
 
 diskresi (discretion) atau kebijaksanaan, tindakan yang seperti itu dianggap: Mengakibatkanterjadinya proses pemeriksaan yang tidak sesuai dengan hukum acara atau undue process;Dan setiap pemeriksaan yang undue process merupakan pelanggaran dan perkosaan terhadaphak asasi tersangka atau terdakwa;2.Oleh karena itu, proses penyelesaian perkara yang menyimpang dari hukum acara,dikualifikasikan sebagai unfair trial (peradilan yang tidak jujur);Bertitik tolak dari argumentasi ini, pada prisipinya tidak boleh melakukan penafsiran ataudiskresi yang luas dalam penerapan hukum acara. Setiap tindakan yang mengesampingkanketentuan acara, dianggap melanggar asas due process dan fair trial. Oleh karena itu, penafsrianluas terhadap hukum acara dapat menjerumuskan penegakan hukum ke arah : where law ends,tyranny begin (ungkapan ini tertulis pada pintu masuk Departemen of justice di Washington DC);Sehubungan dengan itu, putusan No.55 PK/Pid/1996 yang mengembangkan (to growth)atau menyimpangi (overrule) ketentuan Pasal 263 KUHAP atas alasan kepentingan umum dankeadilan moral, tidak dapat dibenarkan karena melanggar prinsip due process dan fair trial sertasifat imperative yang menjurus kepada peradilan “tirani”; Akan tetapi, sebaliknya ada yang berpendapat, meskipun hukum acara tergolong hukum public yang berifat imperative,dimungkinkan untuk melakukan penafsiran atau diskresi apabila hal itu dibutuhkan untukmencapai proses penyelesaian yang lebih fair ditinjau dari aspek kepentingan umum dan tuntutan rasakeadilan yang lebih hakiki serta manusiawi atau disebut according to the principle of justice;Bahkan berkembang pendapat umum yang mengatakan : tanpa penafsiran atau diskresi dalam penerapan hukum acara, tidak mungkin aparat penyidik, penuntut, dan peradilan dapatmenyelesaikan kasus perkara pidana. Sifat hukum acara sebagai ketentuan public memang diakui“imperative” , tetapi tidak seluruhnya absolute. Ada ketentuan yang dapat “dilenturkan” (flexible)dikembangkan (growth) bahkan disingkirkan (overrule) sesuai dengan tuntutan perkembangan rasakeadilan dan kemanusiaan dalam satu konsep : to improve the quality of justice and to reduceinjustice.Salah satu bukti nyata yang tidak dapat dipungkiri dalam sejarah perjalanan KUHAP, kasus Natalegawa dalam perkara No.275 K/Pid/1983 (10 Desember 1993). Dalam perkara ini,Mahkamah Agung telah mewujudkan case law yang telah menjadi state decisis melalui “extensiveinterpretation”:· Dalam kasus ini, walaupun Pasal 244 KUHAP “tidak memberi hak” kepada penuntut umummengajukan kasasi terhadap “putusan bebas” (…terdakwa atau penunut umum dapatmengajukan permintaan pemeriksaan kasasi kepada Mahkamah Agung kecuali terhadap putusan bebas);· Akan tetapi, ternyata dalam kasus Natalegawa sifat imperative yang melekat pada ketentuan ini“dilenturkan”, bahkan disingkirkan (overrule) dengan syarat apabila putusan bebas yangdijatuhkan, bukan pembebasan murni. Sejak saat itu, kasasi yang diajukan penuntut umumterhadap putusan bebas pada prinsipnya dibenarkan oleh Mahkamah Agung, berarti penerimaankasasi yang diajukan penuntut umum terhadap putusan bebas, merupakan bentuk penafsiran luasyang jelasjelas bersifat contra legem atau “bertentangan dengan undang-undang “ (dalam hal ini bertentangan dengan Pasal 244 KUHAP). Jika pertimbangan yang tertuang dalam putusan perkara ini diperas, intisari atau esensinya : to improve the quality of justice and to reduce in justice yang terkandung dalam putusan bebas Natalegawa; 

Activity (18)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Zoer Yanto liked this
Ari Putra liked this
Elly Triad liked this
Anto Widi liked this
dr.Hansen.SH liked this
Julian Akihiko liked this
Rojo Jogya liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->