Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
12Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Hukum Dan Keadilan Dalam Persfektif Islam

Hukum Dan Keadilan Dalam Persfektif Islam

Ratings: (0)|Views: 2,637|Likes:

More info:

Published by: Timur Abimanyu, SH.MH on Sep 26, 2010
Copyright:Public Domain

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/26/2013

pdf

text

original

 
 
By Timur Abimanyu, SH.MHHUKUM DAN KEADILAN DALAM PERSFEKTIF ISLAM
Oleh: Prof Dr. H. Muchsin, S.H.
 Abstrak 
Islam adalah agama pant Nabi yaitu sejak Nabi Adam a.s.,dan/atau, hanya agama NabiMuhammad Saw. Pada zaman Nabi Adam a.s. pelaku Umiak pidana yang dilakukan oleh salahseorang anak Nabi Adam kepada saudaranya dihukum dengan penggalian tanah untuk ntakantkorban, dan hukumannya satzt itu – menurut penulis – barn sebatas perasaan dan jiwanya yangmerasa bersalah melakukan pembunuhan akibat menuruti godaan setan. Pada zaman Nabi baniIsrael, anak Ya`kub a.s. yang terbukti sebagai pencuri barang kerajaan tempat kakaknya bekerjadihukum tanpa boleh dibawa pulang ke hadapan ayahnya oleh saudara-saudaranya. Dua contohtersebut menunjukkan bahwa pelaku tindak pidana hams dilzukunz. Putusan hukunt yangthjatuhkan oleh Nabi Sulaiman a.s. untuk menyerahkan bayi kepada salah seorang ibu yang think ingin bayi yang dipersengketakannya dibelah dna tidak diingkari sebagai putusan yang benar,sesuai sesuai dengan hukum dan keadihzn, karena ibis sejati tidak nzungkin akan melakukanitya, berbeda dengan ibu lainnya yang menginginkan bayi itu dibelah diri.Pada zaman bani Israel pula, sebagaimana ditryatakan oleh Nabi 114/thammad Saw. dolant salahsatu hadis-NYa bahwa kehancuran umat-umat dahuht disebabkan ntereka tidak menegakkanhukunz apabila pelaku tindak pith:no/ya tergolong kaunt bangsawan, clan sebaliknya, apabila yangmelakukannya rakyat jelata, hukum ditegakkan. Sedangkan Nabi Saw. menyatakan dengan tegas"Jika Fatimah binti Muhammad melakukan pencurian, pasti Aku akan potong tangannya."Peristiwa lainnya adalah beliau tidak segera menjatuhkan Warman kepada pelaku yang mengakumelakukan tindak pidana sehingga diyakini benar bahwa perbuatan yang dilakukan benar-benar terjadi, dan hukunzan tersebut terbatas pada pelakunya. Sebagian sahabat yang jejak rekamnyatersebut (taint)t buku-buku peradilan, juga menotfits sesuai dengan keyakinannya, seperti All binAbi Talib yang sengketanya tentang baju perang yang digugatnya sebagai nziliknya berada dalamkekuasaan orang Yahudi, dikalahkan karena baju perang tersebut tidak berada di tangannya tetapi berada di tangan tergugat, Yahudi tersebut. Beberapa kasus penyelesaian sengketa hukunz di alasmenunjukkan bahwa hukunt Islam itu merupakan rahmat bagi seluruh mannsia, clan Yahudi
 
 tersebut merasakannya pula, yang konon – memeluk Islam setelah itu. Bahkan bukan hanyasebagai rahnzat bagi manusia, hokum Islam pun ntenjadi penawar hafi, petunjuk dan rahmat bagiorang yang beriman. Oleh karma itu, ada 3 (tiga) tujuan pokok hukum Islam, yaitu: pendidikan pribadi, penegakan keadilan masyarakat, dan kemaslahatan. Alen:mit penulis, hukum Islam yangtelah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya sebagaimana diuraikan di alas nzernpakan salah bagiandari syariat Islam. Dua bagian lainnya dari syariat Islam adalah nzasalah keimanan dan akhlak !samba-Nya, atau masalah i`tiaddiyah dan khuluqiyah. (
Sumber data : Asadurrahman
)============
 Pendahuluan,
Islam adalah agama para Nabi yaitu sejak Nabi Adam a.s., dan bukan hanya agama Nabi Muhammad Saw. Pada zaman Nabi Adam a.s. pelaku tindak pidana yang dilakukan olehsalah seorang anak Nabi Adam kepada saudaranya dihukum dengan penggalian tanah untuk makam korban, dan hukumannya saat itu – menurut penulis–baru sebatas perasaan dan jiwanyayang merasa bersalah melakukan pembunuhan akibat menuruti godaan setan.Pada zaman Nabi bani Israel, anak Ya`kub a.s. yang terbukti sebagai pencuri barang kerajaantempat kakaknya bekerja dihukum tanpa boleh dibawa pulang ke hadapan ayahnya oleh saudara-saudaranya. Dua contoh tersebut menunjukkan bahwa pelaku tindak pidana hares dihukum.Putman hukum yang dijatuhkan oleh Nabi Sulairnan a.s. untuk menyerahkan bayi kepada salahseorang ibu yang tidak ingin bayi yang dipersengketakannya dibelah dua tidak diingkari sebagai putusan yang benar, sesuai dengan hukum dan keadilan, karena ibu sejati tidak mundin akanmelakukannya, berbeda dengan ibu Iainnya yang menginginkan bayi itu dibelah dua.Pada zaman bani Israel pula, sebagaimana dinyatakan oleh Nabi Muhammad Saw. dalam salahsate hadis-Nya bahwa kehancuran umat-umat dahulu disebabkan mereka tidak menegakkan hukumapabila pelaku tindak pidananya tergolong kaum bangsawan, dan sebaliknya, apabila yangmelakukannya rakyat jelata, hukum ditegakkan.Sedangkan Nabi. Saw. menyatakan dengan tegas "Jika Fatimah binti Muhammad melakukan pencurian, pasti Aku akan potong tangannya." Peristiwa lainnya adalah beliau tidak segeramenjatuhkan hukuman kepada pelaku yang mengaku melakukan tindak pidana sehingga diyakini benar bahwa perbuatan yang dilakukan benar-benar terjadi, dan hukuman tersebut terbatas pada pelakunya. Sebagian sahabat yang jejak rekamnya tersebut dalam buku-buku peradilan, jugamemutus sesuai dengan keyakinannya, seperti Ali bin Abi Talib yang sengketanya tentang baju perang yang digugatnya sebagai miliknya berada dalam kekuasaan orang Yahudi, dikalahkankarena baju perang tersebut tidak berada di tangannya tetapi berada di Langan tergugat, Yahuditersebut. 
 
 Beberapa kasus penyelesaian sengketa hukum di atas menunjukkan bahwa hukum Islam itumerupakan rahmat bagi seluruh manusia, dan Yahudi tersebut merasakannya pula, yang – konon – memeluk Islam setelah itu. Bahkan. bukan hanya sebagai rahmat bagi manusia, hukum Islam punmenjadi penawar hati, petunjuk dan rahmat bagi orang yang beriman. Oleh karena itu, ada 3 (tiga)tujuan pokok hukum Islam, yaitu: pendidikan pribadi, penegakan keadilan masyarakat, dankeinaslahatan.Menurut penulis, hukum Islam yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya sebagaimanadiuraikan di atas merupakan salah bagian dari syariat Islam. Dua bagian lainnya dari syariat Islamadalah masalah keimanan dan akhlak hamba-Nya, atau masalah dan khulugiyah.Al-Sydthibi — sebagaimana dikutip Asafri Jaya Bakri — mengatakan bahwa syariat ini . bertujuanmewujudkan kemaslahatan manusia di dunia dan akherat, atau ungkapan lainnya bahwa hukum-hukum disyariatkan untuk kemaslahatan hamba. Secara umum, Allah memerintahkan hamba-Nya(uli al-amr) untuk menjatuhkan hukum dengan adil, yang disebut dalam Alquran dengan kalimatcia.31-.,1,5-c-'C.)1. Dalam gamatika Arab, kalimat " 'an tahkunuT dan kalimat bi al- `adl saling berhubungan, yang sering disebut dengan istilah jar wa majria- muta'alliq bi 'an tahkuma. Artinya,hukum yang ditegakkan haruslah hukum yang adil.Dan menurut pemahaman penulis, ayat yang, berbunyi (.1.12-11,11.).c-1(:)1 memberikan petunjuk lebih jauh lagi yaitu apabila terjadi pertentangan antara hukum dan keadilan, maka yangdidahulukan adalah keadilan.Selain itu, Rasul Saw. juga memberikan memberikan pedoman umum sumber hukum (materil, pen.) yang digunakan, yang salah satunya adalah ijtihad. Dalam kesempatan lain, Beliaumengatakan bahwa ijtihad yang tepat dari seorang hakim berbuah dua pahala, sedangkanijtihadnya yang tidak tepat pun melahirkan satu pahala, yaitu pahala ijtihad. Satria Effendi M. Zainmengatakan (pada tahun 2000) bahwa hakim termasuk kelompok alz1 al-dzikr, yang disebutAlquran dalam ayat "fars'alii ahl al-dzilcr."Pembahasa, Kata ijtihad berasal dari kata (ai) atau, yang artinya bersungguh-sungguh, dan setelahditambahkan dua huruf kata tersebut menjad atau yang menunjukkan mubólaghah (keadaan lebih),maksimal dalam suatu tindakan atau perbuatan! Muhammad Abu Zahrah (selanjutnya disebut AbuZahrah) mengartikan ijtihad dengan "menggunakan maksimal kemampuan agar sampai kepadasuatu urusan atau perbuatan. Nadiyah al- Syarif al-`Umri mengatakan – sebagaimana dikutipAsafri – bahwa kata ijtihad tidak boleh dipakai kecuali dalam persoalan-persoalan yang memang berat dan sulit. Menurut Salahuddin Maqbul Ahmad sebagaimana dikutip Asafri – mengatakan bahwa kata ijtihad harus dipakai dalam persoalan-persoalan yang sulit secara hissi (fisik) sepertisuatu perjalanan, atau persoalan-persoalan yang sulit secara maknawi (non-fisik) sepertimelakukan penelaahan teori ilmiah atau upaya mengistinbatkan hukum. Oleh karena itu,mengangkat pena tidak disebut dengan ijtihad. Asafri mengatakan bahwa pengertian ijtihadmenurut bahasa ini ada relevansinya dengan pengertian ijtihad menurut istilah karena keduanyamengandung arti bersungguh-sungguh dalam melakukan segala sesuatu.Menurut istilah ulama Usul Fikih, ijtihad adalah penggunaan seorang ahli fikih terhadapkeluasannya dalam mengistinbatkan hukum-hukum yang praktis dari dalil dalil terineinya.mSebagian ulama mendefinisikan ijtihad dalam pandangan ahli Usul Fikih dengan menggunakan

Activity (12)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Sofia Gve liked this
Amien Wijaya liked this
Musa Menfo liked this
adambitor1713 liked this
Musa Menfo liked this
Zul Jone liked this
Din's Falas'z liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->