/  10
 
POLITIK PERSATUAN VERSUS POLITIK ADU DOMBA
Oleh: Rudi HartonoKenaikan harga BBM sudah diumumkan. Pemerintah merasa baru saja memenangkan sebuahpertarungan panjang dengan kaum oposisi. Kemenangan itu bukan hanya kemenanganmencegah krisis politik yang mengancam kekuasaannya, akan tetapi juga kemenanganmenerapkan politik pecah belah (
devide et impera 
) yang menyebabkan luka mendalamditubuh gerakan oposisi. Pemerintah telah mengerahkan segala upaya untuk memenangkanpertarungan ini dalam berbagai metode dan level serangan. Hasilnya lumayan sukses,meskipun ini adalah bom waktu karena kenaikan BBM telah mengakumulasi krisis yangsetiap saat akan meledak. Akan tetapi kemenangan sementara rejim ini merupakan pukulantelak bagi oposisi dalam 3 (tiga) kali gerakan menentang kenaikan harga BBM dimasapemerintahan SBY-JK.Ibarat sebuah kekalahan dalam pertarungan besar. Kelompok oposisi kini sibuk salingmengumpat, saling menyalahkan, Saling memaki-maki, ada yang merintih sedih karenakalah, ada pula yang pura-pura menang untuk menutupi rasa malu. Dinamika dikalanganoposisi tidak juga menampakkan gejala membaik, malah semakin memperluasfragmentasinya. Yang jelas, kita kaum oposisi (penentang kenaikan harga BBM) sudahditampar dengan begitu menyakitkan dan sekarang rejim memberikan kehebohan baru buatkita: perburuan Munarman dan
Euro 2008 Fiesta 
.
Politik Adu Domba
Sebelum menaikkan harga BBM, pemerintah sebenarnya sudah menghitung potensi-potensigejolak politik dan gejolak sosial yang akan timbul kalau hal itu dilakukan. Sehingga,pemerintah berupaya agar isu kenaikan harga BBM bisa dikemas sedemikian rupa agar bisameredam potensi gejolak politik yang akan muncul. Caranya,
 pertama 
, pemerintah akanmemobilisasi media massa untuk berpihak kepada kebijakan pemerintah disamping menjadicorong bagi keluarnya bahasa-bahasa pembenaran pemerintah.
Kedua 
alasan menaikkanharga BBM harus didramatisasi agar terdengar seperti sebuah situasi
force majour 
, tidak adaada lagi pilihan lain.
Ketiga 
, apparatus kekerasan (POLRI dan TNI) harus dipersiapkan gunamencegah kemungkinan aksi massa membesar dan membahayakann stabilitas kekuasaan.
Keempat 
, lakukan politik pecah belah terhadap masyarakat guna mengarahkan pada konflikhorisontal agar tidak tidak menjadi konflik vertical. Kelompok oposisi harus di isolasi denganmenyebarkan propoganda-propoganda menyesatkan agar mereka (kaum oposisi) tidakmenyatu dengan sektor luas masyarakat.Meskipun menaikkan harga BBM adalah harga mati yang mesti dilakukan oleh pemerintahanpro –asing seperti SBY dan JK, akan tetapi beberapa minggu sebelum isu kepastian kenaikan
 
harga BBM, pemerintah masih melontarkan jaminan tidak akan menaikan harga BBM karenamembebani perekonomian rakyat. Banyak yang termakan oleh trik ini, terutama dari lapisanklas menengah keatas yang mudah menerima logika rejim berkuasa. Setelah beberapa lakonpalsu usai diadegankan, pemerintahpun memberikan pernyataan publik bahwa “Kenaikanharga BBM tidak dapat dihindarkan”.Dalam sebuah siaran pers, Jusuf Kalla, Ketua umum Golkar menyatakan, pencabutan subsidiBBM akan menguntungkan orang miskin karena selama ini subsidi hanya dinikmati orang-orang kaya. Bagi Kalla, pencabutan subsidi yang kemudian digantikan dengan kompensasiberupa Bantuan Lansung Tunai akan sangat menguntungkan rakyat miskin. Menurut Kalla, jika kenaikan harga BBM batal, sama artinya dengan membatalkan kebijakan pemerintahmemberikan bantuan langsung tunai kepada orang miskin. ”Jadi, setiap ada demonstrasimenyatakan tak setuju (kenaikan harga BBM), sama dengan mengurangi rezeki orangmiskin” (
Kompas 
, 8/5 halaman 18). Ini adalah sebuah pernyataan menggelikan dan tidak“capable” diucapkan oleh seorang Wapres.Tidak masuk logika berfikir kita memang, akan tetapi dalam logika berfikir rakyat miskinyang semakin didera krisis, logika fragmatisme akan membawa mereka menerima pernyataanYusuf Kalla. Dimata pemerintah, pernyataan Jusuf Kalla ini akan menjadi senjata pamungkasuntuk menetralisir rakyat miskin agar tidak ikut dalam demonstrasi menolak kenaikan hargaBBM. Pernyataan ini juga mencoba mengarahkan masyarakat pada dua kutub yangberlawanan yakni orang miskin yang dirugikan demonstrasi dan kelompok penentang yangmenganggap kenaikan harga BBM akan menambah beban ekonomi yang dihadapi rakyat.Ketika aksi massa sudah mulai muncul dimana-mana, media massa mulai mencobamemainkan perannya dengan baik. Demonstrasi pertama yang muncul di makassar berujungbentrok. Polisi menangkap sejumlah mahasiswa dengan tuduhan bahwa mahasiswa telahmelakukan aksi kekerasan dan mengganggu ketertiban. Cara pandang polisi ini kemudiandijadikan sudut pandang berita semua media massa mainstream. Latar belakang politisditutupi dengan rapat, kemudian yang ditonjolkan adalah aspek gangguankeamanan/ketertiban dan aksi-aksi anarkis. Pemutar-balikkan fakta oleh media ternyatatidak menyurutkan semangat mahasiswa, berbagai aksi demonstrasi yang digelar berujungbentrok pula, terutama dikampus-kampus di Makassar. Media tetap mempertahankan polapemberitaannya mengikuti intensitas aksi massa.Rencana pemerintah menaikkan harga BBM bukan saja memicu gejolak politik di tingkatanmasyarakat berupa aksi-aksi massa, tetapi juga memicu konflik terbuka di level elit politiknasional. Beberapa tokoh politik terutama dari kubu oposisi memanfaatkan keadaan iniuntuk melancarkan serangan kepada pemerintahan sekarang. konstalasi politik nasional punmemanas, terjadi friksi ditingkatan elit borjuis dan berpotensi meluas dan membesar.Pemerintah yang berkuasa (SBY-JK dan elit politik pro-asing) sangat khawatir jikalau
 
keresahaan massa di akar rumput (yang sudah manifest dalam aksi-aksi protes) bertemudengan keresahan dan kepentingan elit politik penentang kenaikan BBM. Pertemuan duakepentingan itu akan mendorong rejim berkuasa pada krisis kepercayaan luas biasa termasukkrisis politik (kekuasaan). Yang dikhawatirkan pun mulai terjadi. Dalam aksi Front RakyatMenggugat (FRM) dua politisi nasional yang menentang kenaikan harga BBM, yakni Dr.Risal Ramli (mantan menko era Gusdur) dan Rieke Dyah Pitaloka (Politisi PDIP) munculditengah-tengah ribuan massa dan menyampaikan orasi politik yang mengecam pemerintah.Pemerintah dan BIN kelabakan. Situasi ini harus dihambat agar tidak berkembang luas dandiikuti oleh elit politik yang lain. Apalagi makin banyak elit yang menentang kenaikan hargaBBM dan memberikan dukungan kepada mahasiswa. Lagi-lagi politik pecah belahdilancarkan. Elit politik tidak boleh menyatu dengan gerakan massa, kedua grup ini harusdiisolasi dan kalau perlu dipertentangkan. Syamsir Siregar, Menkopolkam, dan Wapreslansung melancarkan tuduhan, beberapa elit politik yang punya kepentingan menyingkirkanpemerintah turut menunggangi aksi-aksi mahasiswa dan rakyat. Tuduhan “tunggang-menunggangi” kemudian berkembang bersahut-sahutan didukung oleh ekspose regular darimedia. Hasilnya cukup efektif! beberapa kelompok gerakan memagari kelompoknya sebagaigerakan murni. Kelompok yang terbilang radikal (mengaku kiri revolusioner) terkenaprovokasi ini dan menyatakan diri sebagai gerakan yang bersih. Ada contoh dimana seorangelit politik dari PDIP mendatangi aksi-aksi, akan tetapi ditolak dengan alasan non-kooptasi.
Sedikit soal Tunggang-Menunggangi
Tunggang-menunggangi dalam aksi-aksi massa adalah hal biasa dan senantiasa terjadi.Terlebih jikalau gerakan massa sudah memasuki arena politik, dimana kepentingan-kepentingan dari berbagai kelompok saling merajela mencari kaitan. Konsep politik adudomba dengan isu “tunggang-menunggangi” dulu dipopulerkan oleh rejim orde baru untukmengisolasi gerakan mahasiswa dari kelompok politik. Kita bisa melihat jelas dalam rentetangerakan massa mahasiswa dimasa –masa awal kekuasaan orde baru; gerakan anti korupsi,gerakan mahasiswa 1974, dan gerakan mahasiswa 1978. Ketika aksi-aksi buruh dan kaumtani meningkat untuk perbaikan kondisi ekonomi, pemerintah melancarkan isu “bahwagerakan buruh-tani sedang ditunggangi oleh PRD dan mahasiswa-mahasiswa komunis”.“Tidak ada yang netral” demikian menurut filsafat materialisme-dialektik. Memasuki arenapolitik yang luas dan banyak kepentingan memang memberikan peluang gerakan akandimanfaatkan dan dikooptasi. Tapi, politik memang arena real dari pertarungan kekuasaan.Jadi, sah-sah saja kalau kemudian ada upaya menunggangi dan memanfaatkan karena itulahbentuk kontradiksi dan saling menegasikan dari kutub-kutub yang berlawanan. Ibaratnya, jangan berharap bisa mandi di kolam kalau badan, kaki dan tangan kita tidak mau basah.Seberapa besar potensi gerakan rakyat akan dimanfaatkan dan dikooptasi elit? Itu akan sangattergantung pada sejauh mana gerakan rakyat menerapkan strategi-taktik yang tepat danagenda politik yang jelas. Kalau keduanya tidak ada, jangankan diwilayah politik di luar 

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...