Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tahlilan buat orang yang sudah meninggal dunia

Tahlilan buat orang yang sudah meninggal dunia

Ratings: (0)|Views: 646 |Likes:
Published by Kang_Jojo_114

More info:

Published by: Kang_Jojo_114 on Sep 27, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/10/2012

pdf

text

original

 
BAB PERTAMATAHLILAN (MENGIRIM PAHALA BACAAN KEPADA MAYIT)
....Berikut ini penulis bawakan sejumlah pendapat Ulama-ulama Syafi'iyah tentang masalahdimaksud, yang penulis kutip dari kitab-kitab Tafsir, Kitab-kitab Fiqih dan Kitab-kitab Syarahhadits, yang penulis pandang mu'tabar (dijadikan pegangan) di kalangan pengikut-pengikut madzhabSyafi'i.
1. Pendapat Imam As-Syafi'i rahimahullah.
 Imam An-Nawawi menyebutkan di dalam Kitabnya, SYARAH MUSLIM, demikian. "Artinya :Adapaun bacaan Qur'an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit), maka yang masyhur dalammadzhab Syafi'i, tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi.... Sedang dalilnya Imam Syafi'idan pengikut-pengikutnya, yaitu firman Allah (yang artinya), 'Dan seseorang tidak akanmemperoleh, melainkan pahala usahanya sendiri', dan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam (yangartinya), 'Apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah amal usahanya, kecuali tiga hal,yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak yang shaleh (laki/perempuan) yang berdo'auntuknya (mayit)". (An-Nawawi, SYARAH MUSLIM, juz 1 hal. 90).Juga Imam Nawawi di dalam kitab Takmilatul Majmu', Syarah Madzhab mengatakan. "Artinya :Adapun bacaan Qur'an dan mengirimkan pahalanya untuk mayit dan mengganti shalatnya mayit tsb,menurut Imam Syafi'i dan Jumhurul Ulama adalah tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi,dan keterangan seperti ini telah diulang-ulang oleh Imam Nawawi di dalam kitabnya, SyarahMuslim". (As-Subuki, TAKMILATUL MAJMU' Syarah MUHADZAB, juz X, hal. 426).(menggantikan shalatnya mayit, maksudnya menggantikan shalat yang ditinggalkan almarhumsemasa hidupnya -pen).
2. Al-Haitami
.Al-Haitami di dalam Kitabnya, AL-FATAWA AL-KUBRA AL-FIGHIYAH, mengatakan demikian."Artinya : Mayit, tidak boleh dibacakan apa pun, berdasarkan keterangan yang mutlak dari Ulama'Mutaqaddimin (terdahulu), bahwa bacaan (yang pahalanya dikirmkan kepada mayit) adalah tidak dapat sampai kepadanya, sebab pahala bacaan itu adalah untuk pembacanya saja. Sedang pahalahasil amalan tidak dapat dipindahkan dari amil (yang mengamalkan) perbuatan itu, berdasarkanfirman Allah (yang artinya), 'Dan manusia tidak memperoleh, kecuali pahala dari hasil usahanyasendiri". (Al-Haitami, AL-FATAWA AL-KUBRA AL-FIGHIYAH, juz 2, hal. 9).
3. Imam Muzani
Imam Muzani, di dalam Hamisy AL-UM, mengatakan demikian. "Artinya : Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam memberitahukan sebagaimana yang diberitakan Allah, bahwa dosa seseorang akanmenimpa dirinya sendiri seperti halnya amalan adalah untuk dirinya sendiri bukan untuk orang lain".(Tepi AL-UM, AS-SYAFI'I, juz 7, hal.262).
4. Imam Al-Khuzani
Imam Al-Khuzani di dalam Tafsirnya mengatakan sbb. "Artinya : Dan yang masyhur dalammadzhab Syafi'i, bahwa bacaan Qur'an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit) adalah tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi". (Al-Khazin, AL-JAMAL, juz 4, hal.236).
5. Tafsir Jalalaian
Di dalam Tafsir Jalalaian disebutkan demikian. "Artinya : Maka seseorang tidak memperoleh pahalasedikitpun dari hasil usaha orang lain". (Tafsir JALALAIN, 2/197).
6. Ibnu Katsir
Ibnu Katsir dalam tafsirnya TAFSIRUL QUR'ANIL AZHIM mengatakan (dalam rangkamenafsirkan ayat 39 An-Najm). "Artinya : Yakni, sebagaimana dosa seseorang tida dapat menimpa
 
kepada orang lain, demikian juga menusia tidak dapat memperoleh pahala melainkan dari hasilamalnya sendiri,dan dari ayat yang mulia ini (ayat 39 An-Najm), Imam As-Syafi'i dan Ulama-ualama yang mengikutinya mengambil kesimpulan, bahwa bacaan yang pahalanya dikirimkankepada mayit adalah tidak sampai, karenabukan dari hasil usahanya sendiri. Oleh karena ituRasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah menganjurkan umatnya untuk mengamalkan(pengiriman pahala bacaan), dan tidak pernah memberikan bimbingan, baik dengan nash maupun dengan isyarat, dan tidak ada seorang Sahabat pun yang pernah mengamalkan perbuatan tersebut, kalau toh amalan semacam itu memang baik, tentu mereka lebih dahulumengerjakannya, padahal amalan qurban (mendekatkan diri kepada Allah) hanya terbatas yang adanash-nashnya (dalam Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam) dan tidak  boleh dipalingkan dengan qiyas-qiyas dan pendapat-pendapat".Demikian diantaranya pelbagai pendapat Ulama Syafi'iyah tentang TAHLILAN atau acara pengiriman pahala bacaan kepada mayit/roh, yang ternyata mereka mempunyai satupandangan,yaitu bahwa mengirmkan pahala bacaan Qur'an kepada mayit/roh itu adalah tidak dapat sampaikepada mayit atau roh yang dikirimi, lebih-lebih lagi kalau yang dibaca itu selain Al-Qur'an, tentusaja akan lebih tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi.Ditulis kembali oleh Yayat Ruhyat.[Disalin dari buku Tahlilan dan Selamatan menurut Madzhab Syafi'i, oleh Drs Ubaidillah, hal. 8-15terbitan Pustaka Abdul Muis - Bangil, tanpa tahun]
PENDAPAT KE-EMPAT IMAM MADZHAB Tentang "BACAAN QUR'AN BUKANUNTUK ORANG MATI"Madzhab Imam ABU HANIFAH
 Di dalam kitab fiqih Madzhab Hanafy halaman 110 disebut : Bahwa membaca Qur'an dikuburanorang mati itu hukumnya makruh, menurut pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan ImamAhmad, karena perbuatan ini termasuk BID'AH, tidak terdapat dalam sunnah Rasul.
Madzhab Imam AS-SYAFI'I
 Menurut pendapat Imam Syafi'I, bahwa ganjaran bacaan Qur'an itu tidak akan sampai kepada orangmati. Alasan yang dipakai oleh beliau adalah firman Alloh Subhanahu wa ta'ala di surat An-Najam:39, yang berbunyi : "Dan seseorang itu tidak akan mendapat melainkan hasil usahanya" (Q.S.An- Najam: 39).Seperti juga dalam sabda Rasululloh Shollallohu 'alaihi wasallam : "Apabila seseorang anak Adammeninggal, putuslah amalnya melainkan tiga perkara, sedekah jariyah atau ilmunya yangdimanfaatkan atau anak yang sholeh mendo'akannya" (HR. Muslim)Imam Nawawi pensyarah hadist Muslim didalam penjelasannya mengenai hadist tersebut, beliau berkata: "Adapun bacaan Qur'an kemudian ganjarannya dihadiahkan kepada orang mati, ataumenggantikan sholatnya dan lain-lain ibadat, kesemuanya itu tidak akan sampai kepada orang mati".Pendapat ini yang termasyur menurut Imam Syafi'I dan jumhur ulama. Penjelasan ini banyak terdapat dalam Syarah kitab Muslim oleh Imam Nawawi sendiri.Di dalam Syarah kitab Manhaj, Imam Nawaei berkata : "Menurut pendapat yang masyhur di dalammadzhab Imam Syafi'I, sesunggguhnya bacaan Qur'an itu ganjarannya tidak akan sampai kepadaorang mati."Syekh Izzu bin Abdis Salaam pernah ditanya pendapatnya, "Bagaimana hukumnya menghadiahkanganjaran bacaan Qur'an kepada orang mati, apakah sampai atau tidak ??"Beliau menjawab : "Ganjaran bacaan itu hanya untuk orang yang membaca, bukan untuk oranglain". Kemudian beliau berkata : "Tetapi alangkah anehnya masih ada ulama yangmembolehkannya. Alasan mereka ialah sebagai satu kebijaksanaan dan juga supaya tidak tidur (berjaga) di rumah orang mati. Alasan demikian itu bukan merupakan suatu alasan yang berdasar 
 
kepada agama, tetapi merupakan alasan yang dibuat-buat. Hal yang demikian ini tidak bolehdijadikan sebagai satu hujjah." [1] Note[1] :Ironisnya, ada sekelompok orang yg merasa sebagai bagian dari pengikut Madzhab Imam Syafi'Iyang fanatik sekali, tetapi tidak mau mengikuti pendapat Imam Sayfi'I, khusus yg satu ini, ataudengan kata lain mereka tidak mau mengikuti pendapat Imam Syafi'I yang menganggap bacaanQur'an untuk orang mati adalah tidak sampai.
Madzhab Imam MALIK 
 Syekh Ibnu Abi Jumrah pernah berkata : "Sesungguhnya bacaan Qur'an dikuburan orang mati itutermasuk perbuatan BID'AH, bukan sunnah Rasululloh Shollallohu 'alaihi wasallam". Ucapantersebut dalam kitab Al-Madkhal.Syekh Ad-Dardiiry didalam kitab As-Syarhus Shagir Juz : I halaman 180 menerangkan bahwa"Bacaan Qur'an disisi orang mati atau sesudahnya, diatas kuburannya termasuk perbuatan yangdibenci oleh Islam karena bukan merupakan perintah Alloh Subhanahu wa ta'ala dan Rasul-Nya,atau bukan pula menurut perjalanan para sahabatnya, dan juga bukan menurut perjalanan para ulamasalaf. Sesuatu yang wajar dikerjakan oleh orang yang masih hidup terhadap salah seorang Muslimialah mendo'akan dan memintakan maghfiroh untuknya."
Madzhab Imam AHMAD BIN HAMBAL
Imam Ahmad bin Hambal pernah melihat seorang yang sedang membacakan Al-Qur'an diataskuburan, maka beliau menghardiknya dengan ucapan : "Alangkah anehnya orang ini, ketahuilah bahwa bacaan Qur'an di kuburan adalah termasuk perbuatan BID'AH".Ibnu Taimiyah pernah berkata : "Ada beberapa orang yang meriwayatkan dari Imam Ahmad binHambal : "Bahwa membaca Qur'an di kuburan itu termasuk perbuatan yang DIBENCI oleh agama.Demikian pulan pendapat para ulama salaf dan para sahabat Imam Ahmad."Ibnu Taimiyah : "Membaca Qur'an diatas orang mati itu termasuk perbuatan BID'AH. Berlainandengan membaca Surah Yaasin atas orang yang hampir mati (sedang Naza'I, ingat bukan yang sudahmati, red), hal ini termasuk sunnah.Imam Ahmad bin Hambal pernah berkata : "Bukan suatu kebiasaan (adat) bagi para ulama Salaf menghadiahkan ganjaran puasa-puasa sunnah, sholat-sholat sunnah, haji ataupun bacaan Qur'an atasorang mati. Justru karena itu tidak patut kita melakukan sesuatu amal yang tidak pernah merekakerjakan."Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah di dalam kitab Zaadul Ma'aad Juz I halaman 146 menjelaskan bahwa "Rasululloh Shollallohu 'alaihi wasallam tidak pernah beri contoh untuk BERKUMPUL-KUMPUL dirumah orang yang kematian serta membacakan ayat-ayat Qur'an untuk mereka yangtelah meninggal. Amalah demikian ini bukanlah sunnah hukumnya, tetapi termasuk perbuatanBID'AH yang dibenci oleh agama." [2]Adapun riwayat yang berbunyi : "Bacalah Yaasin atas orang mati diantara kamu", riwayat ini tidak  boleh dijadikan hujjah untuk membolehkan bacaan Yaasin, karena derajatnya TIDAK SAH.Riwayat ini dikatakan Ma'lul (berpenyakit), sedang sanadnyapun dikatakan Mudl-tharib dan adarawi yang Majhul. Dengan demikian menjadikan riwayat ini sebagai satu alasan boleh membacaYaasin atas orang mati TIDAK DAPAT DITERIMA.Menurut Imam Al-Fairuz Baadiy : "Bacaan Qur'an untuk orang mati itu hukumnya BID'AH YANGTERCELA dalam agama." Note[2]:Dalam masalah berkumpul-kumpul di rumah orang mati, marilah kita perhatikan pendapat dari paraulama sebagai berikut :1. Di dalam kitab Al-Majmu' Syarah kitab Muhadz-dzab Juz V : halaman 286 baris ke-12 danseterusnya : "Adapun berkumpul-kumpul di rumah orang kematian, kemudian mereka mengadakanmakanan dan minuman untuk orang yang berkumpul-kumpul itu, maka perbuatan itu tidak syak lagiadalah termasuk BID'AH, karena tidak ada satupun riwayat yang menerangkan bahwa pada zamanRasululloh Shollallohu 'alaihi wasallam pernah terjadi hal-hal yang demikian itu.

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Mustam Wongsodiyono added this note
Trim; Ust. (keterangan tentang hukum tahlilan); sami'na wa atho'na. Siap untuk mengamalkan, dan menyebarluaskan. HM. Mustang Srgkalsleman.
Erwanto Az liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->