Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
P. 1
(2) Belajar Merebut Kekuasaan - Belajar Merebut Kekuasaan Di Tingkat Lokal

(2) Belajar Merebut Kekuasaan - Belajar Merebut Kekuasaan Di Tingkat Lokal

Ratings: (0)|Views: 851 |Likes:
Published by redmundo99
Buku Belajar Merebut Kekuasaan (FBBPR - Praxis)
Buku Belajar Merebut Kekuasaan (FBBPR - Praxis)

More info:

Published by: redmundo99 on Sep 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/23/2012

pdf

text

original

 
139
 
Pengalaman Gerakan Pro Demokrasidi Sulawesi Tengah Tahun 2008
Simpul Sulawesi Tengah FBB Prakarsa Rakyat
1
Latar Belakang dan Konteks
M
impi tentang reformasi adalah mimpi tentang perubahan.Mimpi te ntang “rakyat yang berdaulat secara politik danberkeadilan secara ekonomi. Tetapi setelah satu dekadeberlalu, mimpi itu tetaplah mimpi. Di media massa, para pengamat,baik yang ahli maupun amatiran, lebih sering kedapatan gelengkepala sembari mengerutkan dahi, ketika ditanyakan tentangkontribusi reformasi bagi rakyat. “Tidak banyak yang berubahdalam reformasi, selain demokratisasi prosedural dan wilayahkontrol publik yang mulai terbuka lebar”, nilai mereka.
1 Paper Untuk Lokakarya Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat, Bali, 9-12 Fe-bruari 2009. Tim Penulis : Edmond Leonardo, Moh. Masykur, Ferry Anwar, RudiAsiko, Nasution Camang.
 
140
 
Belajar Merebut Kekuasaan di Tingkat Lokal
Memang tidak bisa ditampik, reformasi telah berjayamelakukan perubahan politik radikal bernama: demokratisasi dandesentralisasi. Namun perubahan itu ternyata tidak berkorelasilangsung dengan perubahan kesejahteraan rakyat. Pergantianrezim yang dilakukan melalui mekanisme Pemilu demokratistidak melahirkan pemimpin – baik di pusat maupun daerah –yang memiliki karakter kerakyatan, visioner dan peduli terhadappenderitaan rakyatnya. Wajah parlemen pun demikian, dipenuhioleh para politisi yang hanya sibuk memikirkan kepentingandiri dan kelompoknya, sehingga mengabaikan agenda pokokreformasi. Akibatnya, rakyat pun merasakan buah pahit reformasi:“kesengsaraan”.Dalam konteks Sulawesi Tengah, demokrasi dandesentralisasi sebagai produk reformasi, telah melahirkan rezimpengobral sumber daya alam, peternak gurita korupsi dan pelestariironi-ironi sosial.
2
Ketiga karakter rezim tersebut bertali temalimenjadi faktor yang mengakibatkan kesengsaraan rakyat.
Obral Sumber Daya Alam
Lima tahun terakhir, boleh dibilang sebagai tahun-tahundimana kuasa modal cukup leluasa melenggang kangkungmelakukan ekspansi ke Sulawesi Tengah. Bisnis yang dibidikkebanyakan menukik ke ekstraksi sumber daya alam. Ini terjadi,karena SDA Sulawesi Tengah memang cukup potensial, terutamasektor kehutanan dan migas. Kondisi inilah yang membuat parapenguasa setempat (legislatif dan eksekutif) terbuai menggadaikanSDA tersebut ke kuasa modal.
2 Ini adalah tiga isu pokok yang digeluti NGO (elemen pro demokrasi) sepanjang2007-2008 (diperbaiki lagi redaksinya)
 
141
 
Belajar Merebut Kekuasaan di Tingkat Lokal
Alasan-alasan untuk memacu pertumbuhan ekonomidan kesejahteraan rakyat di daerah, dikedepankan sebagaiamunisi pembenar. Dan Undang-undang No 22/ 1999 tentangOtonomi Daerah, yang berganti menjadi Undang-Undang No.32/2004 Tentang Pemerintahan Daerah, dijadikan alat legitimasi.Karena atas nama desentralisasi, Undang-undang ini memangmendelegasikan sejumlah kewenangan pengelolaan SDA kepadapemerintah daerah.Hasilnya, lebih dari tiga jutaan hektar atau diatas limapuluh persen wilayah Sulawesi Tengah telah tergadai ke segelintirkuasa modal.
3
Tentu saja tak jadi soal jika proses gadai itu benar-benar menjadi berkah bagi kesejahteraan rakyat. Tapi sejauh ini,yang dituai justeru sebaliknya: Ancaman ekologis. Ambil contoh,gejala deorestasi. Hingga saat ini, laju deforestasi hutan SulawesiTengah telah mencapai di atas 62.012 hektar pertahun atau 7,2
3
 Pertama
 ,
Kuasa Perkebunan sebanyak kurang lebih 20 perusahaan dengan luarareal konsesi sekitar 93,135 hektar yang tersebar di lima (5) kabupaten. Arealkonsesi tersebut diperoleh berdasarkan izin Hak Guna Usaha (HGU), Izin UsahaPerkebunan berdasarkan SK. Gubernur dan Izin Lokasi melalui SK Bupati, ber-Gubernur dan Izin Lokasi melalui SK Bupati, ber-dasarkan rekomendasi dari instansi perkebunan terkait.
 Kedua
, Kuasa Pembala-kan sebanyak 14 Perusahaan dengan luas areal konsesi sedikitnya 951,705 hektar,yang diperoleh berdasarkan izin Hak Pengelolaan Hutan (HPH) atau Izin UsahaPemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) dari Pemerintah Pusat. Diluar itu, Pe-merintah Daerah – provinsi maupun kabupaten – masih mengeluarkan ratusan izinPemanfaatan Kayu (IPK) dengan luasan areal konsesi masing-masing maksimal10.000 hektar.
 Ketiga,
Kuasa Pertambangan. Dalam hal ini, sekitar 6 perusahaanmengantongi izin Kontrak Karya (KK) dari Pemerintah Pusat. Lebih dari 100 peru-sahaan mengantongi 151 izin Kuasa Pertambangan (KP) dari Pemerintah Daerah,dan 68 perusahaan mengantongi Surat Izin Pertambangan Daerah (SIPD). Totalluasan konsesi mencapai 2.405.162 Ha. Dalam perhitungan sementara Walhi Sul-teng, separuh atau lebih dari 1 juta hektar areal KP tersebut, mengambil kawasanhutan. Sumber data Walhi Sulteng, Potret Kehutanan Sulawesi dengan contoh ka-sus di Kabupaten Morowali laju kerusakan hutan di Morowali antara tahun 2001-2007 mencapai 253.587 hektare atau 42.265 hektare per tahun. Kerusakan ituterutama disebabkan aktivitas penebangan kayu yang sangat atraktif melalui izinHPH, IPK untuk kepentingan pembukaan perkebunan kelapa sawit, pembukaanlahan tambang ditambah pembalakan liar yang di-
back up
oknum-oknum aparatdi wilayah itu

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Aduwina Fopkra liked this
Hizz Buy liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->