Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
75Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Fungsi Dan Anatomi Sinus Paranasalis

Fungsi Dan Anatomi Sinus Paranasalis

Ratings: (0)|Views: 4,447 |Likes:

More info:

Published by: vika_asriningrum2563 on Sep 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/14/2013

pdf

text

original

 
Fungsi dan Anatomi Sinus ParanasalisSOURCE: Grand Rounds Presentation, UTMB, Dept. of OtolaryngologyDATE: January 9, 2002RESIDENT PHYSICIAN: Glen Porter, MDFACULTY PHYSICIAN: Francis B. Quinn, Jr., MDSERIES EDITORS: Francis B. Quinn, Jr., MD and Matthew W. Ryan, MD
Materi ini disiapkan oleh residen sebagai sebagian persyaratan dalam Program LatihanPostGraduate departemen Otolaringologi/ Bedah Kepala dan Leher dan tidak dimaksudkan untuk pemakaian klinis. Materi ini disajikan dengan tujuan untuk menstimulasi diskusi kelompok dalam tataran konferensi. Tidak ada jaminan, baik itusecara eksplisit maupun implisit, mengenai akurasi, kelengkapan ataupun ketepatanwaktunya. Materi ini tidak mencerminkan opini sekarang maupun masa lalu fakultasUTMB dan sebagiknya tidak digunakan untuk tujuan diagnosis ataupun terapi tanpat berkonsultasi dengan sumber literatur yang layak dan opini profesional.
PENDAHULUAN
Kompleksitas anatomi sinus paranasalis, maupun fungsinya menjadikan sinusadalah topik pembelajaran yang menarik dan bermanfaat. Terdapat empat pasang sinus,yaitu sinus frontalis, ethmoidalis, sphenoidalis dan maxillaris. Sinus ini adalah ronggaudara yang dilapisi oleh mukosa yang terletak di dalam tulang-tulang wajah dantengkorak. Perkembangan sinus bermula dari saat dalam kandungan, tetapi sinus yangrelevan secara klinis saat lahir adalah sinus maxillaris dan ethmoidalis. Perkembangandinding lateral nasus bermula sebagai struktur halus dan tidak terdiferensiasi.Perkembangan pertama adalah concha maxillaris yang kemudian menjadi conchainferior. Setelah itu,tonjolan mesenkin yang adalah concha ethmoidalis, tumbuh menjadiconcha nasalis media, superior dan suprema, yang terbagi lagi menjadi conchaethmoidalis kedua dan ketiga. Pertumbuhan ini diikuti dengan perkembangan sel-sel ager nasi, processus uncinatus dan infundibulum ethmoidalis. Sinus kemudian mulai berkembang.Sistem resultan adanya kavitas, depresi, ostia dan procesus adalah sistemkompleks struktur yang harus dipahami secara mendetail sebelum penatalaksanaan bedah penyakit sinus dapat berjalan aman dan efektif. Selanjutnya, anatomi makroskopis,anatomi mikroskopis, fisiologi dan fungsi sinus akan diuraikan.
DINDING NASUS LATERAL
Dinding lateral nasus meliputi sebagian os ethmoidale, os maxilla, palatina,lacrimale, dan lamina pterygoideus medialis os sphenoidale, os nasal dan concha nasalisinferior. Tiga hingga empat concha terproyeksi dari dinding tersebut; concha nasalissuprema, superior dan media terproyeksi dari os ethmoidale. Concha nasalis inferior dianggap sebagai struktur mandiri. Setiap struktur ini melapisi ruangan udara di bawahnya dan di sebelah lateralnya yang dikenal dengan nama meatus. Sepotong keciltulang yang terproyeksi dari os ethmoidale yang menutupi muara sinus maxillaris yangterletak di lateral dan membentuk palung di posterior concha nasalis media.Bagian tulang
 
yang tipis disebut processus uncinatus. Dinding samping nasus bagian superior terdiriatas cellula ethmoidalis yang membatasi epitel olfaktori dan lamina cribosa di sebelahlateral. Di sebelah superior cellula ethmoidalis anterior terdapat sinus frontalis yang bermuara diantara cellula. Bagian superoposterior dinding nasus bagian lateral adalahdinding anterior sinus sphenoidalis yang berada di inferior sella turcica dan sinuscavernosus.
SINUS MAXILLARISPerkembangan
Sinus maxillaris (antrum Highmori) adalah sinus yang pertama berkembang.Struktur ini biasanya terisi cairan saat lahir. Pertumbuhan sinus ini terjadi dalam dua fasesela pertumbuhan tahun 0-3 dan 7-12. Selama fase terakhir, pneumatisasi menyebar lebihke arah inferior ketika gigi permanen erupsi. Pneumatisasi dapat sangat luas hingga akar gigi terlihat dan selapis tipis jaringan lunak menutupi mereka.
Struktur
Sinus maxillaris dewasa berbentuk piramida yang bervolume sekitar 15 ml (34x33x23mm). Basis sinus adalah dinding nasus dengan puncak menunjuk ke arah processuszygomaticus. Dinding anterior mempunyai foramen infraorbital yang terletak pada parsmidsuperior yang dilalui oleh nervus infraorbital pada atap sinus dan keluar melaluiforamen tersebut. Bagian tertipis dinding anterior terletak di superior gigi caninus padafossa canina. Atap dibentuk oleh lantai cavum orbita dan dipisahkan oleh perjalanannervus infraorbitalis. Dinding posterior tidak jelas. Di sebelah posterior dinding initerdapat fossa pterygomaxillaris yang dilewati arteri maxillaris interna, ganglionsphenopalatina dan canalis Vidian yang dilewati nervus palatinus mayor dan foramenrotundum. Lantai, seperti didiskusikan di atas, bervariasi ketinggiannya. Dari lahir hinggausia 9 tahun, lantai sinus berada di atas cavitas nasalis. Pada usia 9 tahun, lantai sinus biasanya berada sejajar dengan lantai nasus. Lantai biasanya terus berkembang ke inferior seiring dengan pneumatisasi sinus maxillaris. Karena hubungannya berdekatan dengangigi geligi, penyakit gigi dapat menyebabkan infeksi sinus maxillaris dan ekstraksi gigidapat mengakibatkan fistula oroantral.
Suplai Darah
Sinus maxillaris disuplai oleh arteri maxillaris interna. Arteri ini termasuk mempercabangkan arteri infraorbitalis (berjalan bersama nervus infraorbitalis),sphenopalatina rami lateralis, palatina mayor dan arteri alveolaris. Drainase vena berjalandi sebelah anterior menuju vena facialis dan di sebelah posterior menuju vena maxillarisdan jugularis terhadap sistem sinus dural.
Inervasi
Sinus maxillaris diinervasi oleh rami maxillaris. Secara rinci, nervus palatina mayor dannervus infraorbital.
Struktur TerkaitDuctus nasolacrimalis
 
Ductus nasolacrimalis merupakan drainase saccus lacrimalis dan berjalan dari fossalacrimalis pada cavum orbita, dan bermuara pada bagian anterior meatus nasalis inferior.Ductus terletak sangat berdekatan dengan ostium maxillaris (kira-kira 4-9 di sebelahanterior ostium.
Ostium Natural
Ostium maxillaris terletak di bagian superior dinding medial sinus. Ostium ini biasanya terletak setengah posterior infundibulum ethmoidalis atau di sebelah posterior sepertiga inferior processus uncinatus. Tepi posterior ostia bersambungan dengan lamina papyracea, sehingga menjadi patokan batas lateral diseksi bedah. Ukuran ostium kira-kira2,4 mm tetapi dapat bervariasi dari 1 – 17 mm. Delapan puluh delapan persen ostiummaxillaris tersembunyi di posterior processus uncinatus dan dengan demikian tidak dapatterlihat dengan endoskopi.
Ostium accessoris/ Fontanella Anterior/ Posterior
Ostium ini non-fungsional dan berfungsi untuk drainase sinus jika ostium naturaltersumbat dan tekanan atau gravitasi intrasinus menggerakkan material keluar dariostium. Ostium accessoris biasanya ditemukan di fontanela posterior. 
SINUS ETHMOIDALISPerkembangan
Sinus ethmoidalis terlihat jelas sebagai struktur yang berisi cairan pada bayi yang baru lahir. Selama perkembangan fetus, cellula ethmoidalis anterior berkembang terlebihdahulu, yang kemudian diikuti dengan cellula ethmoidalis posterior. Cellula berkembang bertahap dan berukuran optimal pada usia 12 tahun. Cellula biasanya tidak nampak padaradiografi hingga usia satu tahun. Septa bertahap menipis dan berpneumatisasi ketika usia bertambah. Cellula ethmoidalis adalah sinus yang paling bervariasi dan kadangditemukan di superior cavum orbita, lateral terhadap sinus sphenoidalis, ke arah atapsinus maxillaris dan di sebelah superoanterior sinus frontalis. Cellula-cellula ini memilikinama. Cellula di sebelah superior cavum orbit disebut cellula supraorbital dan ditemukan pada sekitar 15% pasien. Invasi cellula ethmoidalis hingga lantai sinus frontalis disebut bulla frontalis. Perluasan hingga ke concha nasalis media disebut concha bullosa. Celluladi atap sinus maxillaris (infraorbital) disebut “cellula Haller”, dan ditemukan pada 10% populasi. Cellula ini dapat menyumbat ostium, menyempitkan infundibulum danmengakibatkan gangguan fungsi normal sinus. Sedangkan cellula yang meluas secaraanterolateral ke arah sinus sphenoidalis disebut cellula Onodi (10%). Variabilitas umumcellula ini menjadikan pencitraan preoperatif penting untuk assesment anatomi individu pasien.
Struktur
Cellula ethmoidalis posterior dan anterior bervolume 15 ml (3,3 x 2,7 x 1,4 cm). Cellulaethmoidalis berbentuk seperti piramida dan terbagi menjadi cellula kecil jamak yangdipisahkan oleh septum tipis. Atap cellula ethmoidalis terdiri atas struktur penting. Atapcellula ethmoidalis melandai ke posterior (15 derajat) dan medial. Dua-pertiga anterior atap tebal dan kuat dan terdiri atas os frontal dan foveola ethmoidalis. Sepertiga posterior 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->