Welcome to Scribd. Sign in or start your free trial to enjoy unlimited e-books, audiobooks & documents.Find out more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
14Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Islam Di Madinah - Gst

Islam Di Madinah - Gst

Ratings: (0)|Views: 2,025|Likes:
Published by Cat Thoms

More info:

Published by: Cat Thoms on Sep 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/19/2012

pdf

text

original

 
BAB IPENDAHULUANISLAM DI MADINAH
Islam pada periode Madinah adalah Islam yang terus mencari tata sistem pemerintahan yang cocok. Hingga Nabi wafat, model politik yang baku tak pernahdiformulasikan olehnya. Hal ini lumrah saja, karena tujuan dan fungsi utama Nabiadalah sebagai seorang rasul dan bukan pemimpin --dan apalagi-- pemikir politik.Islam sebagai komunitas politik di Madinah adalah hasil kolaborasi berbagai unsur, antara Nabi, kaum muslim, oran-orang Yahudi Madinah, danlingkungan politik ketika itu, khususnya dua imperium besar Romawi dan Persia.Ajaran-ajaran Islam menyangkut persoalan-persoalan keduniaan merupakan“karya bersama” yang diciptakan oleh kondisi dan situasi di mana Nabi hidup.Dengan kata lain, tak pernah ada bentuk final dari ajaran-ajaran itu, karena Nabidan para pengikutnya selalu berusaha mencari model yang terbaik yang bisaditerapkan dalam masyarakat Islam.Sebagai produk kolaborasi banyak unsur, ajaran-ajaran dan doktrin Islamsesungguhnya bersifat relatif. Ia tunduk kepada kepentingan-kepentingansituasional. Dari sudut pandang sejarah, tidak ada yang permanen dalam doktrinIslam, karena ia diciptakan oleh kondisi tertentu. Adanya unsur-unsur beragamdalam masa-masa awal pembentukan Islam juga mengindikasikan bahwa tidak ada yang murni “religius” dalam doktrin Islam. Apalagi perkara-perkara yangmenyangkut persoalan publik seperti politik, ekonomi, dan hukum, unsur-unsur “sekular” (non-agama) sangat kental mewarnai pembentukan doktrin-doktrintersebut.Dalam banyak urusan menyangkut persoalan keimanan, perintah rincimengenainya kerap kali datang langsung dari Nabi berdasarkan petunjuk wahyu.Tapi dalam banyak urusan keduniaan, seringkali wahyu (baca; Alquran) datang belakangan untuk mengkonfirmasi atau mengoreksi apa yang dilakukan Nabi dan para sahabatnya. Dengan kata lain, dalam urusan-urusan keduniaan, Nabidibebaskan Tuhan untuk melakukan kreativitas dan ijtihadnya sendiri --yang1
 
kadang salah dan kadang benar-- sedangkan dalam masalah-masalah keimanan,Tuhan memberikan garis-garis besar secara langsung lewat wahyu.Dengan demikian, praktik kehidupan berpolitik (
 polity
) Nabi di Madinahsesungguhnya bukanlah sebuah pelaksanaan terhadap sebuah format tata pemerintahan yang sudah jadi dan sempurna, tapi merupakan proses percobaanyang dilakukan secara terus-menerus. Karenanya, sebagai sebuah masyarakatyang masih sangat sederhana, Madinah pada masa Nabi bukanlah inspirasi yangideal untuk tata-kehidupan bernegara, apalagi negara modern. Kota ini tak punyamodel yang jelas tentang format politik, ekonomi, dan juga hukum. Hal ini karenamisi utama Nabi adalah sebagai seorang rasul dan bukan sebagai pemimpin politik. Apa-apa yang menyangkut bidang-bidang ini, Nabi lebih seringmenjalankannya berdasarkan “logika keadaan” ketimbang perintah-perintah bakudari Tuhan.Dalam bidang hukum, misalnya, Nabi lebih sering menerapkan standar umum yang berlaku ketika itu. Aturan-aturan hukum yang sebelumnyadipraktikkan oleh masyarakat Madinah, dan khususnya pemeluk Yahudi, diadopsidan dipertahankan. Beberapa pasal atau aturan hukum yang dijalankan Nabi untuk menegakkan keadilan di Madinah bahkan kadang tak ditemukan sama sekalidalam Alquran, tapi memiliki rujukan dalam tradisi masyarakat Madinah.Misalnya, untuk menyebut satu contoh, hukuman rajam. Jenis hukuman initak ditemukan dalam Alquran. Ia adalah warisan hukum bangsa Yahudi yangsecara jelas disebut dalam kitab Perjanjian Lama. Bahkan, aturan teknis dari penerapan hukum ini sangat kental diwarnai semangat keyahudian (
 Israiliyyat 
).Dalam sebuah Hadis tentang pelaksanaan hukum rajam, Nabi mengutip kitab suciorang-orang Yahudi bahwa “hendaknya yang paling suci di antara kalian yangmelempar batu pertama.”Alquran lebih sering mengkonfirmasi apa-apa yang dijalankan Nabi dan para sahabatnya mengenai persoalan-persoalan hukum ketimbang memberiinisiatif tentang apa yang harus dilakukan Nabi. Bahkan detil-detil dari hukum personal (
ahwal shakhsiyah
) seperti masalah perkawinan, perceraian, dan warisan,sebagian besar datang berdasarkan pertanyaan para sahabat kepada Nabi. Dengan2
 
kata lain, Alquran tidak akan memberikan inisiatif apa-apa menyangkut persoalankeduniaan Nabi selama Nabi menemukan model yang baik untuk diterapkan.Begitu juga, dalam bidang ekonomi, masyarakat Madinah melakukanaktivitas ekonomi sesuai dengan “aturan main” pada saat itu. Masyarakat Arabyang pencarian utamanya berdagang sangat bergantung kepada sistemmerkantilisme yang berlaku dalam sistem ekonomi-politik yang lebih luas, dalamhal ini, Romawi dan Persia. Pada masa mudanya, Nabi pernah pergi beratus-ratuskilo meter ke wilayah kekuasaan Romawi untuk menjajakan barang dagangannya.Tradisi mengikuti “arus pasar” ini tak pernah dilarang oleh Nabi, atau paling tidak tak pernah disinggung-singgung. Nabi dan para sahabatnya lebihmemilih mengikuti aturan main yang berlaku pada saat itu. Inisiatif “ekonomiIslam” baru datang belakangan (yakni pada masa Umawiyah), setelah kekuasaan politik Islam semakin luas, dan kerajaan Islam membutuhkan kurensi (alat pertukaran) sendiri untuk memudahkan transaksi ekonomi mereka, dan agar tidak tergantung dengan kerajaan-kerajaan lain.Singkatnya, Islam pada periode Madinah adalah Islam yang terus mencaritata sistem pemerintahan yang cocok. Hingga Nabi wafat, model politik yang baku tak pernah diformulasikan olehnya. Hal ini lumrah saja, karena tujuan danfungsi utama Nabi adalah sebagai seorang rasul dan bukan pemimpin --danapalagi-- pemikir politik.
BAB IISEJARAH PERADABAN ISLAMFASE MADINAH
Islam dari awal periode Madinah sudah menunjukkan budaya dan peradaban yang direfleksikan ke dalam dunia politik, ekonomi dan teknologi danlain-lain. Islam pada periode Madinah telah meletakkan nilai-nilai dasar filosofi3

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->