YONIF LINUD 30/KUJANG I MENGHAJAR MAHASISWA.
Tidak terjangkau oleh hukum.Pasal 75 KUHAP mensyaratkan berita acara tersebut haruslah dibuat untuk setiaptindakan, baik pemeriksaan saksi, penangkapan, penggeledahan dan lain-lain yangdikuatkan adanya keterangan atau identitas dari orang yang melakukan tindakan penyelidikan tersebut dan adanya sumpah jabatan dari anggota penyelidik.Kejagung juga minta agar ketiga kasus dipisahkan pemberkasannya. Ini menunjukkanPenyidik Kejaksaan Agung masih berpikir dalam kerangka penyidikan perkara pidana biasa. Kalau peristiwa itu dipisah menjadi kasus per kasus, maka esensi pelanggaran beratHAM, yakni sistematik atau meluas menjadi hilang. Padahal, Komisi Penyelidik Pelanggaran (KPP) HAM Trisakti dan Semanggi I dan II, dibentuk karena inginmenunjukkan bahwa ketiga kasus itu merupakan satu konstruksi kebijakan yang harusdipertanggungjawabkan.Pemisahan kasus Trisakti, Semanggi I dan II seperti yang diusulkan Kejaksaan Agungakan menghilangkan esensi pelanggaran berat hak asasi manusia. Implikasi dari pemisahan rangkaian peristiwa itu akhirnya akan sekadar menghukum para pelaku dilapangan, tetapi membebaskan orang-orang yang menjadi penanggung jawab kebijakan.Berkas penyelidikan dari Komnas HAM dilimpahkan ke Kejagung pada 30 April 2002.Berkas yang ditandatangani Ketua Komnas HAM Djoko Soegianto, diterima langsung