Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
TanganBerbisa-DewiKZ-TMT

TanganBerbisa-DewiKZ-TMT

Ratings: (0)|Views: 857|Likes:
Published by radiaku

More info:

Published by: radiaku on Oct 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

10/02/2010

pdf

text

original

 
TTaannggaann BBeerrbbiissaa 
Karya : Khu LungSaduran : Tjan ID
 
DIWAKTU lohor dalam musim dingin udara gelap.angin bertiup kencang.Puncak gunung Thay-pek-San yang menjulang tinggikelangit, diliputi oleh salju tebal, dari jauh bagaikan seorangtua yang rambatnya putih semuanya, berdiri tegak disamping dua belas anak bukit yang lain, tampak semakinagung dan angker.Danau Thay-pek tie diatas gunung itu yang namanyaterkenal dalam sejarah, airnya tenang, seolah-olah sebuahcermin besar, pepohonan dan bunga-bunga yang tumbuhditepi danau, Sebagian Sudah diliputi oleh salju, hinggawarna bunga yang merah bercampur dengan warna saljuyang putih, merupakan Suatu pemanangan yang menarik dipuncak gunung Thay-pek san itu.Ditempat itulah. . . tepi danau Thay-pek tie pada empatpuluh sembilan hari berselang, dengan secara tiba-tibadidalam waktu Semalam muncul sebuah gubuk. didalamgubuk itu tampak asap mengepul, disekitar asa dupa, duduk tiga-belas orang tua.Tiga- belas orang tua itu terdiri dari seorang wanita, duagolongan paderi, tiga orang kaum imam dan enam orang biasa. Kecuali seorang tua berambut putih yangmengenakan jubah berwarna kuning, yang waktu itu duduk ditengah-tengah, yang uSianya kira-kira sudah seratustahun. yang lainnya semua berusia antara enam atau tujuhpuluh tahun. Dari keadaan dan jidat mereka yang masing-masing pada menonjol, dan dari Sikapnya yang Sangatagung dapat diduga bahwa orang-orang tua itu semuamerupakan tokoh-tokoh terkemuka dalam persilatan.Mereka sehari penuh duduk diseputar pedupaan tanpa bergerak. setiap orang hanya seorang yang mendapatgiliran, yang ditugaskan untuk menambah api didalam
 
perapian. Ini juga berarti bahwa setiap orang, sekali duduk harus dua belas jam. selama dua belas jam itu, tanpamakan, tanpa bicara dan tanpa bergerak. seolah-olah patungdalam gereja.Hari berganti malam, dan malampun berganti siang lagi.Tiga belas orang itu duduk secara demikian, tanpamenghiraukan adanya angin yang tak henti-hentinya. Apidalam perapian terus menyala, dan dupa terus mengepul tak putus-putusnya.Hari itu, diwaktu lohor pada hari keempat puluhsembilan, yang ditugaskan menjaga perapian pedupaanadalah seorang paderi tua, yang sikapnya lemah-lembut Ia berjongkok dibawah perapian, Sikapnya dengan tegasmenunjukkan perasaan tegang matanya ditujukan kepadapinggir perapian yang mengepulkan asap yang semula berwarna putih, hari ini telah berubah berwarna kUning"MaSih ada setengah jam lagi. Setengah jam kemudian boleh dikeluarkan dari perapian. . .."Dimikian padri tua itu berkata sendiri dengan bersemangat, kadang-kadang seolah menyadari bahwaseorang beribadat tak seharusnya menuruti emosinya. Makakalau mengingat akan hal itu, wajahnya menjadi serius.mulutnya komat-kamit memuji nama Buddha, danselanjutnya ia meneruskan tugasnya untuk memasukkankayu-kayu kedalam perapian.orang tua berambut putih yang duduk ditengan-tengahSambil memejamkan mata, ketika mendengar suara pujiannama Buddha yang keluar dari mulut padri tua tadi, diWajahnya tiba-tiba tersungging suatu Senyum yang tak dimengerti, bersamaan itu, sepasang matanya di mukaperlahan-lahan dibuka, memancarkan Sinar tajam,kemudian lambat-lambat bangkit dari tempatnya.