Tafsirannya, menyembah dan memohon pertolongan tertuang dalam rukun Islam. Sedangkan ayat ke-6 nyaberarti
“Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus”
, tafsirannya, untuk menempuh jalan yang lurus harusberbekal Rukun Iman.
Peringatan Ahad
Ahad berarti satu, juga merupakan nama salah satu hari. Berkaitan dengan hal ini, apabila kita cobaperhatikan beberapa kejadian pada tahun 2004 yang lalu, akan kita temukan sebuah rangkaian ‘pertanda’tentang pesan tertentu yang disampaikan oleh Allah kepada manusia. Pada tahun itu, Hari Raya Idul Adhatanggal 10 Dzulhijah yang bertepatan dengan tanggal 1 Februari jatuh pada hari Ahad. Demikian juga denganHari Raya Idul Fitri 1 Syawal yang bertepatan dengan tanggal 14 November, jatuh pada hari Ahad. Maulid NabiMuhammad saw. tanggal 12 Robiul Awal yang bertepatan dengan tanggal 2 Mei pun ternyata jatuh pada hariAhad. Juga peristiwa Isra’ Miraj tanggal 27 Rajab yang bertepatan dengan tanggal 12 September dan TahunBaru Hijriyah 1 Muharram yang bertepatan dengan tanggal 22 Februari, keduanya juga terjadi pada hari Ahad.Dan yang paling akhir, ada sebuah peristiwa yang menggemparkan seisi dunia yang merenggut ratusan ribukorban jiwa, yaitu bencana gempa bumi dan Tsunami di Aceh pada tanggal 26 Desember, ternyata juga terjadipada hari Ahad.Apakah peristiwa-peristiwa besar yang sama-sama terjadi pada hari Ahad tersebut terjadi secara kebetulan?Pasti tidak. Sepertinya bumi yang terus berotasi dan berevolusi ini melalui kejadian-kejadian tersebut sedangmengumandangkan kalimat ‘Ahad’, ‘Ahad’, ‘Ahad’, ‘Ahad’, … ‘Ahad’. Lantas apakah atau siapakah ‘Ahad’ itu.Jawabnnya adalah Allah. “
Katakanlah, ‘Dia-lah Allah, Yang Maha Esa (Ahad). Allah adalah Tuhan yangbergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak adaseorang pun yang setara dengan Dia’.”
(Q.S. Al Ikhlash 112: 1-4)Peristiwa-peristiwa Ahad itu sepertinya menjadi peringatan bagi manusia untuk kembali mengingat Allah YangMaha Ahad. Zaman sekarang ini memang semakin banyak orang yang berbuat maksiat dan melalaikan perintahAllah. Sehingga, barangkali Allah pun memperingatkan kita melalui peristiwa-peristiwa tersebut. “
Dia-lahyang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allahtidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya)kepada orang-orang yang mengetahui.”
(Q.S. Yunus 10: 5)
27 Derajat
Dalam salah satu hadis disebutkan bahwa pahala shalat berjamaah adalah 27 derajat lebih tinggi dibandingkanshalat sendiri. Tentang hal ini, Agus Mustofa dalam buku
Pusaran Energi Ka’bah
menyatakan bahwa ketika kitashalat –di mana di dalamnya kita banyak membaca ayat Al Quran, berzikir, dan menyebut nama Allah–sesungguhnya kita sedang memancarkan energi positif dari dalam diri kita. Energi itu berupa getaran-getaransebagaimana digambarkan dalam firman Allah,
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah merekayang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal”
(Q.S. Al Anfal 8: 2)Menurut Agus, saat belum melakukan shalat, energi itu tidak terpancar. Tetapi ketika kita sudah memulainya,energi itu akan terpancar baik secara vertikal maupun horisontal. Agus mengibaratkan hal itu dengan lampuyang dinyalakan dengan tenaga baterai. Lampu yang dinyalakan hanya dengan satu baterai tentu kalah terangdengan yang dinyalakan dengan lebih banyak baterai. Demikian juga dengan orang yang melaksanakan shalat.Jika kita shalat sendirian, energi yang kita pancarkan hanya memiliki kekuatan satu pancaran saja. Tetapikalau kita sholat berjamaah, maka masing-masing orang memancarkan energinya masing-masing danbergabung menjadi energi yang jauh lebih besar. Hal ini persis seperti sejumlah baterai yang digabungkansecara serial untuk menghidupkan lampu. Baterai-baterai yang terhubung secara serial itu harus bersentuhansatu sama lain agar energinya bisa tersalur dan bergabung. Demikian juga halnya dengan shalat berjamaah,Rasul memerintahkan kita untuk merapatkan barisan sampai bersentuhan satu sama lain, tapi bukan berartiberdesak-desakkan. Hal ini ditafsirkan agar energi positif yang terpancar masing-masing jamaah bisatersalurkan dan bergabung menjadi pancaran energi yang lebih besar. Begitu juga denga shalat berjamaah diMasjidil Haram yang dikatakan oleh Rasul berpahala 100 ribu kali lipat dibandingkan shalat sendiri di tempatlain. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan karena adanya pancaran-pancaran energi positif dari jutaanjamaah yang melaksanakan shalat di seputar Ka’bah dan Masjidil Haram, ditambah dengan pancaran energi
Add a Comment
This document has made it onto the Rising list!