Kaum intelektual muda Muslim dan ulama-ulama Islam dewasa ini, karena keterbatasan ilmunyatentang Marxisme-Leninisme/Komunsme, banyak yang tergelincir sehingga menjadi pejuangajaran Marxisme-Leninisme/Komunisme tanpa sadar. Oleh karena itu, untuk mencegahterjadinya hal-hal yang demikian, maka kami sengaja menyusun tulisan ini secara ilmiah,filosofis, syar'i dan historis bahwa Komunisme (Marxisme-Leninisme) dalam segala dimensinyabertentangan dengan Islam dan senantiasa memusuhi umat Islam sepanjang sejarah.Segala koreksi dan sanggahan terhadap tulisan ini senantiasa kami terima dengan tanganterbuka. Semoga tulisan ini ada manfaatnya bagi umat Islam, dan menjadi amal shaleh bagi kamisehingga ganjaran pahala senantiasa kami harapkan dari sisi Allah SWT.
Latar Belakang Sejarahnya
Berbicara tentang Komunisme tentunya kita akan membicarakan pencetus dan pendiri dariideologi tersebut, menurut pandangan umum yang hidup di dunia sekarang ini, yaitu tidak lainadalah Karl Marx yang dilahirkan pada tanggal 5 Mei 1818 di Trier Jerman dari keluargaYahudi. Tetapi menurut
Freemasonry,
organisasi Yahudi di bawah tanah, pencetusnya tidak lainialah sekelompok golongan cahaya (
Freemasonry
), yang telah diputuskan di dalam KongresInternasionalnya di Amerika Serikat. Karl Marx, begitu kata
Freemasonry
, sebenarnya hanyaorang bayaran dari
Freemasonry
, yang dimintakan untuk menyusun teori komunis dan atheisme;dengan imbalan semua biaya penghidupan Karl Marx dijamin sepenuhnya oleh
Freemasonry
.Kebenaran pengakuan
Freemasonry
ini, akan terlihat dengan jelas nanti dalam kita membahastentang teori-teori yang dikemukakan oleh Karl Marx, bahwa ternyata ia memang tidak menguasai sepenuhnya teori-teori yang ia ambil dari berbagai konsepsi-konsepsi filsafat yangberasal dari orang-orang non Marxis. Karl Marx hanya menyusun atau lebih tepatnya menyetelkonsepsi-konsepsi filsafat yang dia pungut dari orang-orang non Marxis dalam suatu teori yangdia namakan "Komunisme".Menurut beberapa penulis biografi menduga bahwa Karl Marx mengalami suatu krisiskeagamaan ketika ia berusia l6 atau 17 tahun. Sebagai bukti, mereka menunjukkan sepucuk suratyang ditulis oleh ayah Marx; di dalam surat itu, dia memberi tahu Marx bahwa agama dapatdianggap sebagai dasar daripada kebaikan moral dan menyatakan bahwa tidak ada jeleknyauntuk percaya kepada Tuhan, karena juga sangat banyak orang besar yang percaya kepadaTuhan.Ayah Marx adalah seorang theis, seorang Yahudi yang liberal dan pengagum filsuf- filsuf "Pencerahan" dari Perancis, tetapi kemudian ia beralih agama menjadi seorang KristenProtestan, pengikut Luther. Dia juga menyuruh isteri dan anak-anaknya dibaptis dalam caraProtestan. Di sini, masalahnya bukanlah apakah hal tersebut peralihan agama yangsesungguhnya atau bukan. Dalam kedudukan seperti ayah Marx adalah "tepat danmenguntungkan" untuk menjadi seorang anggota dari agama negara.Setelah pembaptisan, kekristenan ayah Marx tidaklah lebih baik dari Keyahudiannyasebelumnya. Bagi anaknya Marx, yang patuh dan berbakti kepada ayahnya, jelaslah bahwaoportunisme orang tuanya tersebut tidak menimbulkan rasa hormat kepada agama Kristen.Tambahan pula, baik di dalam surat-suratnya yang banyak itu, maupun di dalam buku-bukunya,Karl Marx tidak pernah menyinggung tentang krisis keagamaan tersebut dan juga tidak pernahmenunjukkan rasa simpati kepada para pemeluk agama.Para pencetus teori komunisme tentu saja menolak semua agama, karena agama-agama tersebutmenurut keyakinannya semuanya mempunyai tanggung jawab yang sama atas pengasinganspiritual manusia. Tetapi Marx benar-benar membenci agama Kristen. Dia, seperti halnyabanyak kaum atheis, sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk melihat agama Kristen