Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
19Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
PRAGMATISME POLITIK

PRAGMATISME POLITIK

Ratings: (0)|Views: 1,645 |Likes:
Published by ziyya_elhakim

More info:

Published by: ziyya_elhakim on Oct 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/18/2013

pdf

text

original

 
PRAGMATISME POLITIK : Buah Ideologi KapitalismeOleh Rum Rosyid, Pendidikan Sosiologi, Untan – Pontianak Pendahuluan
Pragmatisme berasal dari bahasa Yunani pragma berarti perbuatan (action) atau tindakan(practice). Isme berarti ajaran, aliran, paham. Dengan demikian, pragmatisme berartiajaran/aliran/paham yang menekankan bahwa pemikiran itu mengikuti tindakan. DalamKamus Besar Bahasa Indonesia, pragmatisme berarti kepercayaan bahwa kebenaraan ataunilai suatu ajaran (paham/doktrin/gagasan/pernyataan/dan sebagainya) bergantung pada penerapannya bagi kepentingan manusia. Sedangkan pragmatis berarti bersifat praktisdan berguna bagi umum; bersifat mengutamakan segi kepraktisan dan kegunaan(kemanfaatan); mengenai/bersangkutan dengan nilai-nilai praktis. Karena itu, pragmatisme memandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah faedah atau manfaat.Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh pragmatisme benar jika membawa suatu hasil.Dengan kata lain, suatu teori itu benar jika berfungsi. Jadi, pragmatisme dapatdikategorikan ke dalam pembahasan mengenai teori kebenaran.(epistemology).Pragmatis adalah suatu sifat, ciri yang menyatakan seseorang lebih cenderung bersifat praktis, terbingkai,dan kaku. Contoh : apabila seseorang berencana, atau memiliki suatu planning dalam kehidupannya misalnya masuk partai, aktif berorganisasi dsbnya, namun punya tujuan yang jelas, sehingga tujuan yang ditetapkannya semula harus dicapainyadengan keterlibatannya langsung dan dengan sesegera mungkin dicapai, tanpa maumenunggu proses atau melewati proses yang lama, apalagi berbelit-belit. Biasanyaidentik dengan orang yang kurang penyabar, selalu ingin simple, praktis sehingga kadangmenjadi meleset dari sasaran awal. Bahkan dapat menjadi bias, karena ambisius tadikarena umumnya org yang pragmatis selalu super ambisius. Karakteristik lain golonganini seperti ini juga cepat puas dan cepat bosan karena tidak melalui proses. Orang-orangyg memiliki sifat seperti ini cenderung apabila misalkan ingin melakukan perubahan akanmenempuh Revolusi (perubahan secara cepat) bukan dengan Evolusi ) perubahan secaralamban.Ide ini merupakan budaya dan tradisi berpikir Amerika khususnya dan Barat padaumumnya yang lahir sebagai sebuah upaya intelektual untuk menjawab problem-problemyang terjadi pada awal Abad 20. Pragmatisme mulai dirintis di Amerika oleh Charles S.Pierce yang kemudian dikembangkan oleh William James dan John Dewey. Munculnya paham tersebut tidak dapat dilepaskan dari perkembangan ajaran/paham lainnya padaAbad Pertengahan (Renaissance), yaitu ketika terjadi pertentangan yang tajam antaragereja dan kaum intelektual. Pertentangan itu menghasilkan kompromi: pemisahan agamadari kehidupan (sekularisme), sebuah asas yang dianut ideologi kapitalisme.Pragmatisme merupakan pemikiran cabang kapitalisme. Landasan pemikirannya punsama, yakni pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). Hal ini tampak dari perkembangan sejarah kemunculan pragmatisme yang merupakan perkembangan lebihlanjut dari empirisme. Empirisme adalah paham yang memandang bahwa sumber  pengetahuan adalah empiri atau pengalaman manusia dengan menggunakan pancainderanya. Dalam konteks ideologis, pragmatisme berarti menolak agama sebagai sumber 
 
ilmu pengetahuan. Kebenaran, menurut James dalam bukunya, The Meaning of Truth,adalah sesuatu yang terjadi pada ide, yang sifatnya tidak pasti. Sebelum seseorangmenemukan satu teori berfungsi maka tidak diketahui kebenaran teori itu. Kebenaranakan selalu berubah sejalan dengan perkembangan pengalaman. Sebab, yang dikatakan benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Oleh karena itu, paham pragmatismetidak mengenal adanya kebenaran mutlak. Kebenaran ditentukan oleh kemanfaatan.Konstalasi politik pasca tumbangnya rezim orde baru menimbulkan euforia demokrasiyang dasyat. partai politik menjamur dimana-mana, kebebasan berbeda pendapat menjadihal yang lumrah dan lembaga legislatif tidak lagi menjadi setempel pemerintah tetapiterlihat aktif mengkritisi kebijakan pemerintah. Sayangnya, hal ini tidak diimbangidengan pembentukan karakter politik yang bermartabat. Dasar pengambilan kebijakan para politisi bukanlah pada kepentingan rakyat banyak tetapi lebih pada kepentingankelompok atau partainya masing-masing. Ambisi kekuasaan seakan mengalahkan flatform dan kebenaran hakiki. Magnet kekuasaan menarik semua kelompok untuk tampil pada posisi eksekutif. Politik yang mestinya bermazhab netral bermetaforfosis menjadimonster mengerikan yang membungkus kejahatan dengan label untuk rakyat,meninabobokan idealisme atas nama kekuasan dan jabatan.Ketika hasrat berkuasa merampok ideologi dan cita-cita politik, peluang yang selaluterbuka adalah sebentuk oportunisme politik yang mendorong elite politik bertingkahsebagai perampok kekuasaan. Sosok perampok kekuasaan selalu berhitung denganrealitas yang mengitarinya, bukan dengan memuliakan idealitas yang menjadikeyakinannya. Bukan gejala yang janggal jika realpolitik membinasakan idealpolitik.Sebab, realpolitik merupakan rujukan bagi politik atau diplomasi yang secara primer didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan praktis ketimbang gagasan ideologis.Realpolitik hanya berhitung pada kekuasaan yang ingin didapatkan sambil dengan anekatipu daya mematikan idealitas, moralitas, dan prinsip-prinsip humanitas.Realpolitik berkaitan erat dengan filsafat politik yang bernama realisme politik. Padaaliran filsafat politik ini, ungkap Alexander Moseley (2006), kekuasaan menjadi dan bahkan keharusan untuk dijadikan sebagai tujuan utama tindakan politik. Sadar atautidak, filsafat realisme politik itu sangat kuat tertancap dalam diri kalangan elite politik negeri ini. Memburu kekuasaan sesuai dengan kepentingan egoisme mereka telahdemikian nyata terlihat, bahkan telah menjadi banalitas. Dan, setiap banalitas politik tidak hanya menyajikan kevulgaran tindakan meraih kekuasaan, tetapi juga kekasaran dalammereduksi prinsip-prinsip etika politik.
Pertarungan Ideologi
Peta perpolitikan di Indonesia saat ini dan akan datang tidak akan banyak berubah.Pertarungan antara Islam dengan sekulerisme terus terjadi. Dalam realitasnya,sekularisme terwujud dalam dua bentuk, yakni Kapitalisme Liberal, dan Sosialis Kanan(Soska).
1. Kapitalisme Liberal
Dalam bidang politik, penganut idiologi kapitalisme liberal selalu menggunakan
 
demokrasi sebagai jargon dan alat demi mewujudkan dan mempertahankan kemenangan politik. Dalam bidang ekonomi, penganut idiologi kapitalisme liberal (neolib) sangat percaya pada legitimasi pasar bahwa pasar bebas adalah prekondisi yang esensial bagiterlaksananya sebuah distribusi yang adil untuk kesejahteraan dan demokrasi politik.Secara epistemology dengan munculnya gerakan Neoliberalisme, membuat masyarakatIndonesia menjadi semakin tidak berdaya. Karena ilmu ekonomi indigenous yaitu SistemEkonomi Pancasila semakin menjadi tidak berdaya. Sebagai akibatnya, gerakan Neoliberalisme tidak semata melanda dunia perekonomian bahkan menjalar dalam bidang kependidikan.Inti ideology neoliberalisme adalah liberalisasi perdagangan dan investasi yang berbasisspekulasi. Secara keseluruhan badan-badan dunia seperti APEC, WTO, GATT padadasarnya bungkus dari ideology neoliberalisme. Ada banyak asumsi yang harus dipenuhiuntuk menyesuaikan dengan model peningkatan anggaran yang ditetapkan oleh DPR,seperti pertumbuhan ekonomi, pemasukan negara, dan lainnya. Jadi tidak dapatdipastikan jumlahnya secara tepat, kata Indra. Ia mengatakan pemerintah akan lebihmenekankan pada upaya mengembangkan model peningkatan anggaran pendidikan yanglebih efektif dan efisien, dengan menjalankan banyak program secara terpadu (MediaIndonesia 18 Agustus 2004).Karena penyerahan diri pada peranan pasar itulah, maka mereka langsung ataupun tidak meminta pemotongan pengeluaran-pengeluaran publik untuk pelayanan-pelayanan sosial.Atas nama efisiensi yang lebih besar, berbagai BUMN, pengelolaan barang dan jasa,sebaiknya diserahkan pada investor-investor swasta. Kemudian, mereka juga umumnyamengeliminasi konsep the public good atau community dan menggantinya dengan konsepindividual responsibility.Kelompok ini, saat ini sedang mengendalikan kekuasaan dan menjadi penopang penguasasekarang. Secara politik mereka ditopang oleh kelompok pro demokrasi seperti AndiMallarangeng yang meraih gelar Doctor of Philisophy di bidang ilmu politik dari Northern Illinois University (NIU) Dekalb, Illinois, Amerika Serikat pada tahun 1997 danRizal Mallarangeng adiknya yang menyelesaikan MA dan PhD dalam bidang ilmu politik di Universitas Negeri Ohio, Amerika Serikat (1999). Rizal mendirikan Freedom Institute bekerjasama dengan Friedrich Naumann Stiftung, juga (save our nation). Mereka jugaditopang berbagai lembaga riset dan LSM. Secara ekonomi, mereka ditopang olehkelompok Mafia Berkeley, seperti Poernomo Yusgiantoro, Boediono, Sri Mulyani, dll.Kelompok kapitalisme liberal ini lebih banyak berkiblat ke AS. Neo liberalisme adalah versi liberalisme klasik yang dimodernisasikan. Neo liberalisme berisi tema-tema liberal klasik tentang pasar bebas, peran negara yang terbatas danindividualisme (yakni, kebebasan dan tanggung jawab individu) yang disesuaikandengan kondisi modern. Dunia sekarang sangat berbeda dari dunia awal abad ke –19, danneoliberlisme merupakan cerminan baik dari pengalaman dan perkembangan teroretisyang silih berganti maupun masalah yang muncul didunia kita sekarang. Perbedaanantara neo liberalisme dan liberlisme klasik tercermin dalam karya tokoh gerakan neoliberal yang berpengaruh, Friedrcih von Hayek.

Activity (19)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Zainab Rahmat liked this
Angga Prilya liked this
Annisa Filania liked this
Mulyadi Sutopo liked this
Zainuddin Ali liked this
Ujang Endang liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->