Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
8Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Rasionalitas Dan Moralitas Politik

Rasionalitas Dan Moralitas Politik

Ratings: (0)|Views: 560 |Likes:
Published by ziyya_elhakim

More info:

Published by: ziyya_elhakim on Oct 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/20/2013

pdf

text

original

 
RASIONALITAS DAN MORALITAS POLITIK : Seni Berpolitik Oleh : Rum Rosyid, Pendidikan Sosiologi Untan Pontianak 
Pemaknaan ulang terhadap kata politik juga menjadi kebutuhan mendesak. Mahasiswasebagai bagian dari kekuatan social baru harus membangun kesadaran masyarakattentang hakekat politik yang benar. Pemkanaan umum masyarakat terhadap politik sering berhenti pada tataran hajatan pemilu, upaya konspirasi merebut kekuasaan, serta konflik nternal kepartaian. Masyarakat harus menyadari bahwa politik harus dimaknai proses dari perumusan dan pelaksanaan kebijakan public yang harus dikontrol. Pasalnya inilah ruangyang rentan untuk dijadikan alat legitimiasi penyalahgunaan kekuasaan.Politik adalah suatu proses dimana masyarakat memutuskan bahwa aktivitas tertentuadalah lebih baik dari yang lain dan harus dilaksanakan. Dengan demikian struktur politik meliputi baik struktur hubungan antara manusia dengan manusia maupun struktur hubungan antara manusia dengan pemerintah. Selain itu, struktur politik dapat merupakan bangunan yang nampak secara jelas (kongkret) dan yang tak nampak secara jelas. Hal inidapat terlihat dari contoh-contoh sebagai berikut:a). Factor -faktor yang bersifat informal (tidak atau kurang resmi) yang dalam kenyataanmempengaruhi cara kerja aparat masyarakat untuk mengemukakan, menyalurkan,menerjemahkan, mengkonversi tuntutan, dukungan, dan masalah tertentu dimanatersangkut keputusan yang berhubungan dengan kepentingan umum. b). Lembaga yang dapat di sebut sebagai mesin politik resmi atau formal, yang denganabsah mengidentifikasi segala masalah, menentukan dan menjalankan segala keputusanyang mengikat seluruh anggota masyarakat untuk mencapai kepentingan umum.Hukum dan kekuasaan politik merupakan subsistem dalam sistem kemasyarakatan.Masing-masing melaksanakan fungsi tertentu untuk menggerakkan sistemkemasyarakatan secara keseluruhan. Secara garis besar hukum berfungsi melakukansocial control, dispute settlement dan social engeneering atau inovation. Sedangkanfungsi politik meliputi pemeliharaan sistem dan adaptasi (socialization dan recruitment),konversi (rule making, rule aplication, rule adjudication, interestarticulation danaggregation) dan fungsi kapabilitas (regulatif extractif, distributif dan responsif).Dengan rasionalitas dan moralitas politik akan terlihat lebih seperti seni dan kemuliaan.Bukan kejam dan busuk yang selama ini kita lihat. Kesantunan, kedewasaan, dankeluhuran budi dalam berpolitik merupakan keniscayaan dalam membangun peradabansebuah bangsa. Tanpa itu semua nihil rasanya kalau peradaban yang agung akan tercipta.Maka dari itulah mulai saat ini juga, baik elit politik maupun para (aktivis) pemuda/mahasiswa wajib mengedepan etik moral berpolitik, berbangsa, dan bernegara. Karena politik tanpa rasionalitas moral dan ilmu pengetahuan akan menjadi sangat jahat.Sebaliknya, moral saja tanpa diimbangi kesadaran politik (kerakyatan dan kebangsaan)hanya akan menjadi tatanan kehidupan yang sia-sia. Maka berpolitiklah dengan akalsehat dan kejernihan nurani.Virgina Held (1989 : 106-123) secara panjang lebar membicarakan sistem hukum dansistem politik dilihat dari sudut pandang etika dan moral. Ia melihat perbedaan diantara
 
keduanya dari dasar pembenarannya. “Dasar pembenaran deontologis pada khususnyamerupakan ciri dan layak bagi sistem hukum, sedangkan dasar pembenaran teleogis padakhususnya ciri dan layak bagi sistem politik. Argumentasi deontologis menilai suatutindakan atas sifat hakekat dari tindakan yang bersangkutan, sedangkan argumentasiteleogis menilai suatu tindakan atas dasar konsekuensi tindakan tersebut. Apakahmendatangkan kebahagiaan atau menimbulkan penderitaan. Benar salahnya tindakanditentukan oleh konsekuensi yang ditimbulkannya, tanpa memandang sifat hakekat yangsemestinya ada pada tindakan itu.Sistem hukum, kata Held lebih lanjut memikul tanggung jawab utama untuk menjamindihormatinya hak dan dipenuhinya kewajiban yang timbul karena hak yang bersangkutan.Dan sasaran utama sistem politik ialah memuaskan kepentingan kolektif dan perorangan.Meskipun sistem hukum dan sistem politik dapat dibedakan, namun dalan bebagai halsering bertumpang tindih. Dalam proses pembentukan Undang-undang oleh badan pembentuk Undang-undang misalnya. Proses tersebut dapat dimasukkan ke dalam sistemhukum dan juga ke dalam sistem politik, karena Undang-undang sebagai outputmerupakan formulasi yuridis dari kebijaksanaan politik dan proses pembentukannyasendiri digerakkan oleh proses politik.Dari beberapa paparan diatas kita dapat menangkap beberapa situasi yang dapat dijadikanacuan strategis dalam melakukan perubahan. Dalam konteks internal Pertama, legitimasimasyarakat terhadap proses amandemen UUD 1945. dianggap premature selain dalamwaktu yang terbatas juga pelibatan masyarakat dalam proses tersebut dinilai rendah.Kedua, fase reformasi dinilai gagal membuahkan kesejahteraan pada rakyat. Ketiga, perubahan politik tidak lebih dari pragmatisme actor politik untuk kekuasaan bukankesejahteraan rakyat. Keempat, gelombang kesadaran terhadap kerugian yang dideritaakibat eksploitasi sumberdaya alam. Sementara situasi eksternal yang dapat dijadikanmomen strategis adalah : pertama, solidaritas masyarakat dunia yang diwujudkan dalamgerakan anti globalisasi. Kedua, kemenangan pemerintahan “kerakyatan” di Amerikalatin. Ketiga, menguatnya perlawan terhadap dominasi Amerika di kawasan Asia .Berangkat dari realitas diatas maka perubahan mendesak yang harus segara dilakukan : 1.Penghapusan hutang luar negeri 2. Penguasaan Industri energi Oleh Negara untuk kemakmuran rakyat 3. Membuka lapangan kerja seluas-luasnya untuk rakyat berbasis pada pengembangan industri nasional 4. Revisi UU PM ( Penanaman Modal) 5. Tolak kenaikan harga bbm 6. pendidikan dan kesehatan gratis berkualitas untuk rakyat 7.mendesak pemerintah untuk segera melaksanakan reforma agraria 8. Mendesak agar  parpol segera melakukan fungsi pendidikan politik pada rakyat 9. Percepatan regenerasikepemimpinan politik 
Pragmatisme Politik Pemuda
Istilah pemuda atau generasi muda umumnya dipakai sebagai konsep untuk memberigeneralisasi golongan masyarakat yang berada pada usia paling dinamis, yangmembedakan dari kelompok umur anak-anak dan golongan tua. Menurut budayawanTaufik Abdullah, pemuda bukan cuma fenomena demografis, akan tetapi juga sebuahgejala historis, ideologis, dan juga kultural. (Pemuda dan Perubahan Sosial, LP3ES,
 
1987). Dalam setiap episode transisi politik, peran pemuda-terutama para pemuda "elite"selalu terlibat di dalamnya. Mereka adalah generasi terpelajar - mahasiswa, profesional,akademisi, dan para aktivis pada umumnya - yang berasal dari kalangan menengah,tinggal di kota besar, memiliki kepekaan sosial dan empati politik yang tinggi.Pragmatisme adalah fenomena yang real ada dalam dunia politik. Betapa banyak darimantan aktivis yang ketahuan melakukan kongkalikong, mark up anggaran, atausingkatnya melakukan tindakan korupsi dan tercela. Hukum,dan kekuasaan/politik sebagai subsistem kemasyarakatan adalah bersifat terbuka, karena itu keduanya salingmempengaruhi dan dipengaruhi ole subsistem lainnya maupun oleh sistemkemasyarakatan secara keseluruhan. Walaupun hukum dan politik mempunyai fungsi dandasar pembenaran yang berbeda, namun keduanya tidak saling bertentangan. Tetapisaling melengkapi. Masing-masing memberikan kontribusi sesuai dengan fungsinyauntuk menggerakkan sistem kemasyarakatan secara keseluruhan.Dalam masyarakat yang terbuka dan relatif stabil sistem hukum dan politiknya selaludijaga keseimbangannya, di samping sistem-sitem lainnya yang ada dalam suatumasyarakat. Jika seorang mantan aktivis mahasiswa korupsi, mungkin saja itu terjadikarena ia sendiri telah melatihnya sejak mahasiswanya. Coba kita perhatikan anggaranyang harus dibayarkan oleh mahasiswa baru. Dalam beberapa kasus di fakultas, estimasidana untuk baju kaos lebih dari 20 ribu rupiah, namun faktanya kemudian paramahasiswa baru hanya mendapatkan kaos seharga 10 ribu (seperti kaos kampanyegratisan) bahkan dengan kualitas dibawahnya lagi. Ini fakta nyata yang terjadi di lingkupaktivis mahasiswa mereka yang notabene disebut-sebut sebagai agent of change, agent of social control, calon pemimpin, idealis, dan kritis terhadap wakil rakyat.Dalam konteks sejarah Indonesia, secara periodikal peran mereka dapat dibagi dalamangkatan 08, 28, 45, 66, 74, 80-an, hingga 90-an. Secara ideologis, mereka adalahgolongan yang kritis adaptif serta sanggup melahirkan ide-ide baru yang dibutuhkanmasyarakatnya. Sementara secara kultural, mereka adalah produk sistem nilai yangmengalami proses pembentukan kesadaran dan pematangan identitas dirinya sebagaiaktor penting perubahan.Sebagai golongan elite masyarakat, dalam banyak kasus, peran kaum muda amatmenentukan arah kehidupan bangsanya. Seperti diulas Pareto, Mosca, atau Michel(1982), mereka adalah kaum elite yang memiliki mobilitas tinggi dan peran sentral dalammenentukan opini dan keputusan mayoritas. Pada gilirannya, kaum elite itulah yangmengontrol berbagai akses atas sumber daya ekonomi dan politik negara.Jika pemuda angkatan 08 berhasil memupuk bibit nasionalisme, pemuda angkatan 28sukses menggalang ideologi persatuan nasional. Sedangkan pemuda angkatan 45 sanggupmewujudkan cita-cita kemerdekaan. Untuk angkatan 66, 74, 80, hingga 98-an bisadikatakan hanya mampu memerankan dirinya sebatas kekuatan korektif.Pascakekuasaan Orde Lama, politik nasional praktis berada di bawah kendali elitemiliter, khususnya angkatan darat. Pemuda 66 yang masuk dalam arena kekuasaan perannya tak lebih sebatas "penyuplai ide", sementara mereka yang memilih berada diluar lingkar kekuasaan berfungsi tak lebih sebagai "pengritik" negara.

Activity (8)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Oksari Sihaloho liked this
Wawan Darmawan liked this
Muhammad Maab liked this
cancoute liked this
cancoute liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->