Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
13Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
PRAGMATISME KOALISI PARTAI

PRAGMATISME KOALISI PARTAI

Ratings: (0)|Views: 784 |Likes:
Published by ziyya_elhakim

More info:

Published by: ziyya_elhakim on Oct 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/02/2013

pdf

text

original

 
PRAGMATISME KOALISI PARTAIOleh : Rum Rosyid, Untan Pontianak Pendahuluan
Istilah pragmatisme sebetulnya hanya dikenal dalam ilmu filsafat, dan jarangdiperbincangkan dalam ranah politik. Menurut pengertiannya, pragmatisme berarti aliranyang beranggapan bahwa kebenaran adalah apa yang bernilai praktis dalam pengalamanhidup manusia. Ia merupakan instrumen dalam pencapaian-pencapaian tujuan, manfaat(Lorens Bagus, Kamus Filsafat, hlm. 877). Maka, sesuatu dilakukan sejauh memberimanfaat, kegunaannya bagi saya atau kelompok-ku. Berdasarkan pengertian tersebut,dapat dipahami bahwa para elite politik tak jarang terjebak dalam koalisi pragmatisme.Koalisi partai yang saat ini terbentuk semakin terkesan pragmatis. Pasalnya, karakter  partai-partai yang ada hanya sebatas seberapa besar pembagian kekuasaan yang merekadapatkan bila berada dalam suatu koalisi. Demikian, pandangan pengamat politik Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi di sela-sela diskusi dengan topik Koalisi dan Capres 2009, di Jakarta, Sabtu (16/5/09)."Elite politik yang ada senang bermain akrobat politik, sehingga mereka menunjukkan pragmatisme. Misalnya, komunikasi politik yang dilakukan antara PDI-P dan Demokrat, padahal kita tahu sebelumnya, keduanya kontra pada waktu kampanye kemarin. PDI-Ptidak menyetujui program BLT dan kenaikan BBM yang SBY terapkan. Ternyata, ituhanya skenario PDI-P semata, guna menurunkan posisi tawar Prabowo," katanya.Bukti pragmatisme, katanya, juga terlihat dari sebagian besar elite partai, seperti PDI-Pdan Golkar, yang tidak bisa menyatukan suaranya dalam koalisi. Sebab, satu pihak ingin bergabung dengan partai incumbent dan pihak lain ingin menjadi oposisi, dengan harapan bisa mengalahkannya.Koalisi pragmatisme berarti koalisi yang dibangun berdasarkan manfaat, kegunaan untuk elite politik saja. Terbentuk sebuah koalisi bukanlah atas dasar kepentingan rakyat banyak, tetapi atas dasar kepentingan para petinggi partai politik peserta koalisi.Sasarannya tidak lain adalah kekuasaan semata, bagi-bagi jatah kursi menteri di kabinet.Tak heran, partai-partai yang sebelumnya sangat bertolak belakang baik asas, visi danmisi partai, dalam hitungan detik runtuh seketika. Hal itu terkondisikan oleh sikap elite partai politik yang lebih mengedepankan kekuasaan, kursi menteri ketimbangkepentingan rakyat banyak, misalnya partai-partai yang berasaskan religius seperti PKS,PPP yang akhirnya lebih memilih koalisi dengan partai demokrat (nasionalis) ketimbang partai yang se-asas. Bagi mereka figur SBY, yang adalah capres dari partai demokrat periode 2009-2014 sangat signifikan. Ide koalisi agamis-nasionalis pun bermunculan,yang sebetulnya didasarkan pada pragmatisme politik.Sebuah pertanyaan kunci layak dilayangkan. Apakah, geliat politik yang sudah kianmengkristal, atau dalam bahasa Prof Kuntowijoyo, berupa "gejala- gejala" perpaduankekuatan politik, dengan warna "sekuler" dan "religius", yang terwakilkan dalamkampanye pemilu lalu, sungguh sebagai sebuah gerakan kultural yang bersentuhandengan sivilisasi politik nasional, atau sekadar sebuah persenyawaan politik (kekuasaan)yang sebenarnya tidak teruji mampu membawa perubahan konstruktif bagi masa depan
 
Indonesia. "Pragmatisme religius" secara sepintas mendedahkan optimisme sosio-politik di tengah kondisi perpecahan sosial yang masih mengurung Indonesia. Tetapi jikadicermati, sebenarnya masih ada kecemasan sosial yang tidak kalah serius. Rakyatsedang menghadapi teka-teki besar. Rakyat, di hadapan pembauran politik sekarang,seolah memperoleh "obat penenang" mujarab bahwa persoalan bangsa hampir pasti dapatdiselesaikan karena ada "integrasi" kekuatan politik, atau dalam bahasa Muhammad Ali,"ada semacam proses kreatif" demi melampaui perilaku dikotomik yang telahmencelakakan Indonesia dalam kurun-kurun sejarah lalu.Munculnya sikap pragmatis dalam koalisi partai, karena mereka dihadapkan padakenyataan bahwa tidak ada partai yang menang mutlak sehingga dengan penuh percayadiri mereka mengajukan calon presiden. Karena itu, realita mengharuskan mereka untuk  berkoalisi. Mau tidak mau, beberapa partai bersatu tanpa memperhatikan lagi sekat-sekatideologis yang ada. Visi dan misi serta platform partai yang digembar-gemborkan dalamkampanye Pemilu seolah tidak berarti apa-apa. Partai Bulan Bintang (PBB) berkoalisidengan Partai Demokrat. PNUI berkoalisi dengan Partai Golkar. PBR dengan PAN. PPPmendukung PDIP dalam pencalonan presiden kendati akhirnya mengajukan calon presiden sendiri. PKB, yang nyata-nyata memendam dendam kepada Partai Golkar karena dianggap telah menjatuhkan pemerintahan Abdurrahman Wahid, akhirnya berkoalisi juga. Golkar yang dulunya dikecam habis-habisan sebagai partai Orde Baru,malah sekarang dirangkul oleh banyak partai atau orang-orang yang dulu mengecamnya.Alasannya, juga pragmatisme politik.
Oposisi Setengah Hati
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri kembali mengumumkan posisi PDIPsebagai partai oposisi di parlemen. Dulu, PDIP merangkul Golkar, PDS, dan PPP dalamKoalisi Kebangsaan. Seiring perubahan peta politik, koalisi itu pun melempem.Kini hanya tinggal PDIP dan PDS yang tersisa dari unsur Koalisi Kebangsaan setelahGolkar dan PPP membanting stir menjadi partai pendukung pemerintah.Koalisi untuk oposisi yang sudah lama bergulir di parlemen sampai sekarang juga belummenunjukkan kinerja yang produktif dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah. Ketikaharga BBM dinaikkan pada Maret dan Oktober 2005, pengaruh oposisi tidak sekuat pengaruh partai pro-pemerintah yang sempat menamakan diri Koalisi Kerakyatan. Ketika bergulir usulan pengajuan hak interpelasi tentang telekonferensi, oposisi juga tidak  berhasil membendung manuver partai propemerintah yang berupaya menggagalkaninterpelasi.Oposisi yang diproklamasikan oleh PDIP kembali ditantang dengan adanya usulan hak angket kasus impor beras yang sekarang sedang bergulir di parlemen. Setelah 11 menteridipanggil ke Istana, apakah oposisi masih memberikan harapan untuk meloloskan niat pelaksanaan hak angket. Optimisme itu mulai meredup ketika sejumlah menteri yang bertemu di Istana berhasil melobi partai masing-masing untuk membatalkan hak angket.Kuat dugaan bahwa usulan hak angket akan mental di paripurna yang akan digelar 24Januari 2006.
 
PPP misalnya, berpeluang tak mendukung hak angket setelah Menteri Koperasi danUKM Suryadharma Ali berhasil mendesak Hamzah Haz. Menteri lain yang berhasilmenjalankan amanat Istana antara lain Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi ErmanSuparno dan Menteri Pertanian Anton Apriantono. Lantas, masihkah ada harapan oposisiyang digalang PDIP bisa berjalan efektif? Oposisi di Indonesia boleh dibilang 'mahluk  baru' yang lahir mendadak. Oposisi baru bergulir seiring dengan euforia reformasi pasca-1998.Tetapi sampai sekarang oposisi yang sejati belum ada buktinya. Banyak masalahmemang, termasuk bahwa tidak ada format oposisi yang ideal yang siap untuk diterapkan. Partai yang bertekad menjadi barisan oposisi juga tidak berpijak padalandasan ideologi atau format visi-misi yang sama sehingga sangat sulit membangunkekuatan oposisi yang solid. Selain itu, oposisi masih dipahami sebatas mengeritik ataumenolak kebijakan pemerintah yang tidak populis tanpa disertai solusi kebijakanalternatif yang bisa ditawarkan kepada pemerintah.Dalam kasus penolakan kenaikan harga BBM misalnya, partai yang menentang kebijakanitu tidak memiliki format kebijakan alternatif yang aplikatif. Akibatnya, oposisi hanyadipahami sebatas menentang atau mengkritisi pemerintah tanpa ada tawaran jalan keluar yang konkret. Dengan demikian oposisi politik dimanfaatkan sebagai strategi politik untuk mendapat dukungan publik sekaligus meruntuhkan citra lawan. Dengan kata lain,oposisi dalam praktek adalah 'politik oposisi'.
Sulitnya Menjadi Oposisi
Ada tiga hal yang menjadi alasan mengapa oposisi di Indonesia masih sulit dijalankan.Pertama, di Indonesia hampir pasti tidak ada partai ideologis. Oposisi mengandaikanadanya basis yang kokoh yang menyatukan unsur dalam oposisi. Basis yang paling klasik adalah ideologi. Oposisi mensyaratkan adanya ideologi yang kuat. Dengan ideologi itu,kekuatan oposisi bisa bekerjasama membangun kekuatan yang kompak. Masalahnya, partai politik di Indonesia hampir pasti tidak memiliki ideologi yang mapan. Akibatnya,sangat sulit membangun kerjasama antarpartai. Bahkan di internal partai juga perpecahansulit dijembatani karena tidak adanya ideologi yang kuat yang bisa menjadi 'jiwa bersama'.Kedua, partai politik terjebak pragmatisme. Pragmatisme tidak memerlukan pemikiranyang matang dan ideologi yang kokoh. Pragmatisme hanya memperhitungkankeuntungan praktis yang ada di depan mata. Uang dan kursi kekuasaan seringkalimenjadi tawaran yang menarik bagi kaum pragmatis. Partai politik kita kebanyakanterjebak dalam pragmatisme ini. Ini risiko dari tidak adanya ideologi yang mapan.Dalam kondisi kepartaian yang seperti ini sangat tidak mungkin mengharapkan adanyaoposisi murni. Golkar dan PPP hengkang dari Koalisi Kebangsaan adalah cermin dari pragmatisme itu. Atau kader Golkar yang melompat ke pangkuan Yudhoyono-Kalla padasaat Golkar (di bawah kepemimpinan Akbar Tanjung) mengusung Wiranto-Wahid dalam pilpres 2004.Ketiga, konspirasi politik. Pada masa Orde Baru, pemerintah dan legislatif merupakan

Activity (13)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Ulfa Ilyas liked this
Marulak Sihaloho liked this
Muhammad Maab liked this
Loveyz Ranca liked this
Den'z Amwar liked this
sahrulgunawan liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->