Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
9Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
POLITIK PENCITRAAN

POLITIK PENCITRAAN

Ratings: (0)|Views: 330 |Likes:
Published by ziyya_elhakim

More info:

Published by: ziyya_elhakim on Oct 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/01/2013

pdf

text

original

 
POLITIK PENCITRAAN : Runtuhnya Ideologi PartaiOleh Rum Rosyid, Untan-Pontianak Pendahuluan
Sebagai penulis disertasi, yang terlibat langsung pada hari-hari politik menyulitkanfenomena survival partai Golkar menurut Akbar Tanjung melalui pendekatankelembagaan. Ia menganalisis dari konteks kesisteman, nilai (ideologi) dan kultur,kemandirian (otonomi), hingga pencitraan partai. Berubahnya sistem politik Indonesia,harus direspons secara tepat oleh Golkar. Respons tersebut didukung sepenuhnya olehkonteks nilai-nilai dan kultur organisasi. Berbeda dengan partai-partai politik padaumumnya yang bersifat sektarian, Golkar bercorak catch all. Paradigma Baru yangdirumuskan, berupaya meyakinkan bahwa Golkar selaras dengan reformasi.Sementara dalam konteks otonomi organisasi, Partai Golkar merespons perubahandengan melakukan restrukturisasi kepengurusan dengan memastikan berjalannyamekanisme demokrasi internal partai. Tidak ada lagi struktur Dewan Pembina yangotoritatif di dalamnya. Secara kelembagaan Partai Golkar “menentukan dirinya sendiri”,termasuk kebijakan dalam menentukan calon presiden dan juga memilih koalisi.Terkait dengan citra partai dan pengenalan masyarakat, kasus Partai Golkar juga menarik.Kiprah dan citra Partai Golkar telah dibangun dalam waktu yang panjang. Luasnya jangkauan jaringan organisasi dan difusinya yang demikian ekspansif baik dari sisiwilayah maupun tingkatan sosial mengakibatkan Partai Golkar dikenal secara luas.Sama dengan pragmatisme, politik citra juga lahir dari sebuah landasan teoritik yangmenganggap tindakan manusia didorong oleh stimulus atau rangsangan-rangsangansimbolis yang sering sekali tidak menggambarkan substansi. Pola bertindak seperti iniakan sangat efektif ketika masyarakat masih hidup dalam sistem kesadaran naif yangmemuja tampilan fisik, simbol-simbol dan realitas kasat mata yang mudah ditangkap olehindera. Paradigma berfikir seperti ini menjadi trend yang terus-menerus direproduksi, bahkan oleh sistem politik yang seharusnya menempati level tertinggi institusi perubahan bangsa. Dalam realitas politik hal itu terwujud dalam perilaku pemilih dalam momentum-momentum pemilihan umum di Indonesia, dimana simbol-simbol politik pencitraandireproduksi dan dikonsumsi secara masif oleh masyarakat.Dalam sebuah sistem politik modern, kedua paradigma tersebut layak-layak sajadigunakan oleh seluruh institusi politik terutama oleh partai politik yang salah satutujuannya adalah meraih sebesar mungkin suara rakyat. Instrumen-instrumen yangmendukung paradigma tersebut terbukti mampu memobilisasi kekuatan dalam rangkamemperoleh kekuasaan. Namun persoalannya, perilaku pragmatis dan politik pencitraankemudian meruntuhkan peluang bagi tumbuhnya konsistensi, komitmen dan basis nilai politik yang bersifat ideologis. Padahal paradigma politik yang berbasis ideologimerupakan landasan moral dan perilaku politik yang mendorong terjadinya perubahanstruktural yang substantif.Partai dengan pimpinan, pengurus dan warga partai yang cenderung pragmatis tentu sajaakan mudah dan cepat terjebak dalam sebuah sistem yang sedang berlaku. Keterjebakan
 
tersebut terjadi karena partai politik tersebut berada dalam sebuah ruang sistem rasionalyang sarat dengan pertimbangan-pertimbangan kontraktual, sedangkan pertimbangankontraktual biasanya sangat realistis dan tergantung pada peta pasar politik. Keuntunganatau manfaat, biaya (cost) atau kerugian, konsekuensi negatif/positif maupun orientasihasil yang terus mengalami dinamika dapat mengombang-ambingkan eksistensi partai politik. Posisi di tengah peta pasar politik tersebut tak akan pernah menghasilkan perubahan-perubahan jangka panjang yang sebenarnya berkontribusi terhadapterbentuknya kesetiaan konstituen. Dengan kata lain, rakyat yang selama ini memiliki sisi pragmatisme juga sebenarnya memiliki kepentingan dan menghargai sisi-sisi konsistensidan prinsip-prinsip jangka panjang dari sebuah partai. Akhirnya, dalam jangka waktutidak begitu lama, partai seperti ini akan cepat ditinggalkan oleh rakyat.Sama halnya dengan pragmatisme, partai politik yang mengandalkan politik pencitraan juga mengalami nasib yang sama karena larut dalam sebuah struktur simbolis yangcenderung mengalami perubahan secara cepat. Penilaian terhadap citra cepat luntur karena cenderung mengabaikan substansi. Pada waktu tertentu citra akan efektif karenamemberi makna lebih daripada citra sebelumnya, namun degradasi terhadap citra terjadiketika citra lebih indah, dan populis telah muncul. Pencitraan dalam partai politik jugatak melahirkan kader di dalam partai karena berisi para penunggang bebas (free rider) berorientasi pragmatis di dalam partai. Pola seperti ini jelas manipulatif karena dikemasoleh media sebagai sumber produksi hyperrealitas.
Gelombang Pragmatisme Partai Politik 
Banyak partai berdiri, lembaga-lembaga menjamur, bahkan tokoh yang dulunya samasekali tidak tenar menjadi sedemikian booming. Ada yang booming karena keunikannyadalam berimprovisasi, juga ada yang booming karena ketahuan melakukan tindak  pindana korupsi. Era ini sudah benar-benar terbuka, dan ini jelas dimanfaatkan oleh paramantan aktivis mahasiswa. Banyak yang bergabung ke Partai Politik, ada yang jadi calegdi posisi atas atau sekedar untuk belajar dan memenuhi kuota sehingga dimasukkannamanya di nomor-nomor buntut. Di era keterbukaan dengan puluhan partai ini membuatorang begitu mudah menjadi wakil rakyat dengan membawa-bawa nama rakyat. Tak  peduli pernah sarjana atau tidak, cukup dengan mengeluarkan berlembar-lembar danadapatlah dia ijazah. Walau sebusuk apapun dia, kalau media telah memainkan perannya,tulisan, bahkan biografi dibuat, yang busuk tadi pun seketika harum. Maka tak heranmuncullah calon wakil rakyat yang karakter politiknya “nggak jelas”, pragmatis, cacatmoral, juga hukum.Anggota DPR dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arif Mudatsir Mandan berpendapat saat ini kepercayaan masyarakat terhadap partai politik menurun sangattajam akibat perilaku para politisinya. Salah satu sebabnya adalah perubahan orientasiyang hanya diabdikan untuk modal. “Ideologi kita sangat pragmatis, hampir tak adasesuatu yang diperjuangkan untuk yang akan datang,” katanya dalam seminar yangdiselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia(IKA PMII) di Jakarta, Kamis (17/7/08). Hal ini berbeda dengan para politisi di masa laluyang masih memiliki ideologi politik yang diperjuangkan, yang menjadikannya memilikisebuah visi bagaimana Indonesia ke depannya.
 
Pemilu 2009 ternyata menjadi “kuburan” bagi partai politik Islam. Meski ada satu partaiyang sedikit meningkat perolehan suaranya, akan tetapi secara keseluruhan merekamengalami penurunan, bahkan kegagalan karena adanya peraturan ambang batas untuk  bisa duduk di parlemen (parliamentary threshold) membuat beberapa di antaranya gagalke Senayan. Parpol Islam yang dimaksud di sini adalah parpol yang menjadikan Islamsebagai asas partai. Mereka adalah PKS, PPP, PBB, PKNU, PBR, PMB, dan PPNUI.Merujuk hasil final perhitungan KPU, perolehan suara mereka cuma sebesar 18,17%,turun sekitar 3,17% dari akumulasi suara parpol Islam (PKS, PPP, PBB, PBR, danPPNUI) pada pemilu 2004 yang mencapai 21,34%. Jika kita bandingkan dengan pemilu- pemilu sebelumnya, perolehan parpol Islam 2009 termasuk yang buruk (lihat Tabel).Tabel Jumlah Suara Partai-partai Berasaskan Islam pada Pemilu di IndonesiaTahunNama PartaiProsentasesuara1955197119771982198719921997199920042009Masyumi, NU, PSII, Perti NU, Parmusi, PSII, PertiPPPPPPPPPPPPPPPPPP, PBB, PK, PNU, PSII, PKU, Masyumi, PUI, PSII 1905,Masyumi BaruPBB, PPP, PPNU, PKS, PBR PKS, PPP, PBB, PKNU, PBR, PMB, PPNUI43,5027,1229,2927,7815,9717,0122,4316,2521,3718,17(Diolah dari berbagi sumber)Membaca fenomena tersebut, Pemilu 2009 adalah episode lanjutan, meminjam AbdulMunir Mulkhan, runtuhnya mitos politik santri. Jika pada Pemilu 1955 akumulasi suara parpol Islam masih bisa digjaya dengan 43,5% tetapi terus turun sampai titik terendahsaat kekuasaan puncak otoritarian Soeharto pada Pemilu 1987 (15,97%) dan 1992(17,01%). Mengapa ini bisa terjadi? Didukung oleh kekuatan represif, Soeharto berhasilmelakukan proyek kuningisasi (baca: Golkar-isasi) yang pada akhirnya menyebabkanterjadinya deideologisasi Islam.
Liberalisasi Modal : menata system rekrutmen kepemimpinan
Umat Islam yang pada Pemilu 1955 berhasil diyakinkan oleh para politisi Islam akan pentingnya kekuatan politik Islam, maka pada era kekuasaan Soeharto berbalik diyakinkan bahwa tidak ada relevansi antara Islam dengan politik. Maka urusan politik  betul-betul menjadi profan dan sebaliknya Islam hanya dipenjara pada urusan sakral,ritual. Deideologisasi Islam ini dilakukan sampai ke akar-akanya. Sehingga siapa sajayang memperjuangkan Islam politik, maka akan masuk bui. Bahkan secara intelektual, proyek ini pun diselaraskan dengan wacana “Islam Yes, Partai Islam No” dan idesekularisasi lainnya yang digagas Nurcholish Madjid.

Activity (9)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Angga Prilya liked this
Ridho Fharies liked this
Ali Fakhrudin liked this
Ira Widiyastuti liked this
wae_desta9723 liked this
Idham Holik liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->