Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
5Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Chega

Chega

Ratings: (0)|Views: 1,345|Likes:
Published by Hilmar Farid

More info:

Categories:Types, Speeches
Published by: Hilmar Farid on Oct 09, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

08/04/2011

pdf

text

original

 
 
1KEADILAN BAGI TIMOR LESTEPRASYARAT DEMOKRASI INDONESIA 
*
 Hilmar FaridMantan Menlu Ali Alatas pernah mengatakan bahwa masalah Timor Leste itu sepertikerikil dalam sepatu. Awalnya saya sangka ini sikap congkak seorang pejabat yang mau menganggap remeh masalah yang serius. Tapi belakangan saya berpikir bahwapernyataan itu bisa diartikan lain. Kita tahu bahwa kerikil betapa pun kecilnya tetapsaja mengganggu dan kalau dipakai berjalan selama 24 tahun pasti akanmenimbulkan masalah juga. Boleh jadi ini pesan Alatas kepada dunia bahwa masalahTimor Leste ini walau ‘kecil’ tapi mengganggu dan harus secepatnya diselesaikan. Iatahu persis bahwa pendudukan Indonesia yang membawa banyak korban itumengganjal langkah Indonesia dalam pergaulan internasional, termasuk pencalonandirinya sebagai Sekjen PBB. Kerikil itu pada akhirnya harus dikeluarkan dari sepatu.Kesempatan itu datang sesudah Soeharto mundur dari jabatannya, yang memperlihatkan bahwa yang paling berkepentingan mempertahankan pendudukan yang tidak populer itu tidak lain dari rezim Soeharto sendiri. Pada 30 Agustus 1999rakyat Timor Leste menentukan pilihan dan selebihnya adalah sejarah.Segera setelah referendum masalah keadilan bagi Timor Leste mencuat kepermukaan terutama karena pelanggaran hak asasi manusia selama referendumberlangsung. PBB sempat menurunkan komisi penyelidik ke Dili dan membicarakankemungkinan membentuk pengadilan internasional bagi para pejabat Indonesia.Pengadilan itu tidak pernah terjadi tapi tuntutan untuk menyelidiki dan mengadilipara pelaku pelanggaran tidak berhenti di sana. Berbagai inisiatif muncul termasuk pembentukan Panel Khusus untuk Kejahatan Serius oleh PBB di Dili untuk mengadili pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi antara Januari-Oktober 1999.Para pemimpin Timor Leste sendiri menyadari bahwa tidak semua pelanggaran dimasa lalu dapat diselesaikan dengan pengadilan. Pada 2002 kemudian dibentuk Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi (CAVR), yang bertugas mencatatsemua pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi antara 1974 dan 1999 di TimorLeste. Pada akhir 2005 komisi menyusun laporan setebal 2.500 halaman yang diberi judul
Chega! 
 Di Indonesia sementara itu yang terjadi sebaliknya. Tuntutan untuk menyelidiki kasuspelanggaran hak asasi manusia di Timor Leste terus diabaikan dan bahkan dihadapidengan kekerasan.
1
Ketika tekanan agar PBB membentuk pengadilan internasionalmulai menguat pemerintah Indonesia bergerak cepat membentuk pengadilan hak asasi manusia
ad hoc
untuk mencegah kemungkinan itu. Hasil pengadilan
ad hoc
itusudah dapat diduga: semua perwira yang menjadi terdakwa divonis bebas. Hanya duaorang asal Timor Leste, gubernur Abilio Soares dan pemimpin milisi EuricoGuterres, yang diputus bersalah dan dijatuhi hukuman, mungkin untuk 
*
Disampaikan dalam peluncuran buku
Chega! 
di Perpustakaan Nasional, Jakarta, 7 Oktober 2010
1
Demonstrasi menuntut keadilan bagi Timor Leste di Jakarta pada 15 September 1999 dibubarkanpaksa oleh polisi. Azas Tigor Nainggolan, seorang pengacara hak asasi manusia yang memimpindemonstrasi itu ditembak sehingga harus dirawat di rumah sakit.
 
 
2mempertahankan argumentasi Orde Baru bahwa yang terjadi di Timor Lestesesungguhnya adalah ‘perang saudara’ dan bahwa kehadiran militer Indonesia lebihuntuk menengahi konflik itu. Pengadilan itu sendiri dalam prosesnya disulap menjadipanggung bagi para perwira TNI untuk mengobarkan patriotisme. Ketika
Chega! 
 diumumkan pemerintah Indonesia malah mendesak pemerintah Timor Leste untuk membentuk Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP), dan mengabaikan
Chega! 
sama sekali.Sepuluh tahun setelah referendum orang mengira bahwa jalan bagi orang TimorLeste untuk mencari keadilan atas pelanggaran hak asasi manusia selama 24 tahunpendudukan Indonesia sudah tertutup. Perhatian internasional semakin lemah danpemerintah Timor Leste sendiri kelihatan tidak antusias. Di titik inilah saya kirametafora ‘kerikil dalam sepatu’ tepat untuk dipikirkan lebih mendalam. Terlepas dariapa maksud Alatas yang sesungguhnya, saya kira metafora itu merupakan pengakuantersirat bahwa pendudukan Indonesia juga membawa luka bagi Indonesia sendiri.Betapa tidak, jika setiap hari selama 24 tahun harus berjalan dengan kerikil dalamsepatu. Dalam tulisan singkat ini saya ingin memperlihatkan hubungan antarapenegakan kebenaran dan keadilan bagi Timor Leste dengan proses demokratisasi diIndonesia.
Chega! 
tidak hanya penting bagi orang Timor Leste tapi juga untuk publik Indonesia yang memperjuangkan demokrasi.
* * *
 
Chega! 
adalah laporan paling lengkap mengenai apa yang dilakukan rezim Soeharto diTimor Leste selama 24 tahun. Presiden RDTL menyebutnya sebagai ‘ensiklopedisejarah’. Bagi bangsa Indonesia laporan itu melengkapi catatan pelanggaran hak asasimanusia yang dilakukan oleh rezim Soeharto sejak Oktober 1965. Pendudukan diTimor Leste tidak bisa dilihat sebagai penyimpangan atau perkecualian tapi sebuahepisode yang konsisten dengan watak rezim Soeharto selama 32 tahun berkuasa.
2
 Informasi yang dikumpulkan dalam
Chega! 
bisa menjadi bahan pembanding untuk melihat pelanggaran hak asasi manusia di wilayah yang lain seperti Aceh dan Papua,pembunuhan massal 1965-66, kerusuhan dan kekerasan seksual pada Mei 1998 ataupenculikan aktivis pro-demokrasi 1997-98. Dengan membaca
Chega! 
kita bisamemahami lebih baik pola pelanggaran, sosok para pelaku dan motivasi mereka, sertarantai komando dan organisasi yang bertanggungjawab dalam semua kasus tersebut.Tetapi sebelum sampai ke sana ada baiknya kita lihat beberapa kesimpulan penting dari
Chega! 
mengenai pendudukan Indonesia di Timor Leste.Pertama, laporan itu merumuskan
apa yang sesungguhnya terjadi 
. Pemerintah Indonesiamengklaim bahwa Timor Leste adalah wilayah Indonesia yang diintegrasikan karenaorang Timor Leste sendiri menghendaki demikian.
Chega! 
sebaliknya bertolak darilandasan bahwa Timor Leste adalah wilayah yang tidak berpemerintahan sendiri
non-self governing territory
 ) karena proses dekolonisasi yang tidak selesai, dan bahwapendudukan Indonesia adalah pelanggaran terhadap hak rakyat Timor lestemenentukan nasib sendiri ( 
right to self-determination
 ). Penyelidikan menunjukkan bahwarezim Soeharto menyusun rencana mencaplok Timor Leste jauh sebelum orang Timor Leste konon ‘meminta integrasi’ dengan Indonesia melalui Deklarasi Balibopada 30 November 1975. Sejak setahun sebelumnya militer Indonesia melancarkan
2
 
Chega! 
mencakup periode 1974-99 yang memperlihatkan bahwa kekuasaan rezim Orde Baru tidak dengan sendirinya berakhir ketika Soeharto mengundurkan diri pada Mei 1998.
 
 
3berbagai operasi tertutup dan infiltrasi ke wilayah Timor Leste. Salah satu episode yang terkenal adalah serangan ke Balibo pada 16 Oktober 1975 yang menyebabkantewasnya lima jurnalis Australia di sana. Pada 7 Desember 1975 militer Indonesia dibawah perintah Soeharto melancarkan invasi ke Timor Leste dan menduduki wilayahitu secara ilegal.Kedua, soal
tanggung jawab
.
Chega! 
mengatakan korban jiwa akibat pendudukanmencapai sekitar 100.000 orang. Sekitar 10.000 orang mati dibunuh sementaralainnya mati di kamp-kamp ‘pemukiman kembali’.
3
Tanggung jawab atas semua initerutama ada pada Presiden Soeharto dan juga pada ABRI, badan-badan intelijendan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang bertanggung jawabatas perencanaan dan pelaksanaan. Tanggung jawab ini mengikuti rantai komandodalam tubuh militer, sehingga perbuatan pelaku di lapangan tidak dapat dilepaskandari perintah yang diberikan (atau pembiaran) oleh atasan. Laporan itu jugamenyertakan daftar nama para perwira yang memimpin ABRI (kemudian TNI) sejak 1975 sampai 1999, dan juga mereka yang bertugas di Timor Leste. Banyak darinama-nama itu yang kemudian menduduki jabatan penting dalam birokrasi, danmemperlihatkan bahwa pelanggaran hak asasi manusia tidak dianggap masalah olehrezim Soeharto. Butir lain yang tidak kalah penting menyangkut tanggung jawab iniadalah “bangsa Indonesia tidak memikul tanggung jawab atas pelanggaran-pelanggaran ini.” Ada pemisahan yang jelas antara
negara
dan
bangsa
yang sering dicampur aduk dalam diskursus publik di Indonesia. Implikasi dari pernyataan iniakan saya bahas lebih lanjut di bagian terakhir.Komunitas internasional ikut bertanggung jawab karena membiarkan rezim Soehartomelanggar hukum internasional tanpa sanksi apapun. Hampir semua negara majuseperti Amerika Serikat, Australia dan negara-negara Eropa, mengakui hak menentukan nasib sendiri tapi dalam pemungutan suara di Dewan Keamanan danMajelis Umum PBB tidak mendukung resolusi yang mengecam Indonesia. Justrusebaliknya dalam berbagai forum resmi negara-negara ini berpihak pada rezimSoeharto karena ingin menjaga hubungan baik dan kepentingan ekonomi masing-masing. Hal itu yang menjelaskan mengapa misalnya negara-negara ini atas nama‘demokrasi dan kebebasan’ menghukum Irak ketika Saddam Husein melancarkaninvasi ke Kuwait pada Agustus 1990, tapi membiarkan pembunuhan massal dipemakaman Santa Cruz, Dili, pada 12 November 1991. pada 12 November 1991.Sejak berkuasa rezim Soeharto mengubah haluan ekonomi Indonesia, membuka diribagi penanaman modal asing, dan membina hubungan baik dengan negara-negara yang sangat berpengaruh dalam percaturan politik internasional. Timor Leste bukanhanya ‘kerikil dalam sepatu’ Jakarta, tapi satu dari sekian banyak kerikil dalam sepatu Washington.Ketiga,
motivasi pelaku
. Pembunuhan massal terhadap orang yang tidak bersenjatasering dianggap sebagai ‘ekses’ dari pendudukan. Saya ingat waktu TNI dan milisipro-integrasi menghancurkan Dili, para pemimpin militer meminta publik memahami ‘sikap emosional’ para prajurit di lapangan.
Chega! 
menegaskan bahwapelanggaran hak asasi manusia terjadi bukan tanpa alasan, tetapi karena pemerintahIndonesia secara sistematis ingin membasmi gerakan yang memperjuangkan hak menentukan nasib sendiri di Timor Leste. Para pemimpin militer secara terbuka
3
Laporan itu juga menyebut pembunuhan yang terjadi ketika ada konflik internal (1974-76) dan yang dilakukan oleh gerakan perlawanan setelah invasi Indonesia.

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Beby Amaral liked this
Titi Supardi liked this
Tomix Pribadi liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->