Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
37Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Batunanggar, Strategi Pengawasan Bank yang Efektif

Batunanggar, Strategi Pengawasan Bank yang Efektif

Ratings:

4.55

(11)
|Views: 3,030 |Likes:
PENGEMBANGAN PERBANKAN JULI-AGUSTUS NO.78 1999
Tulisan ini disajikan dalam lima materi pokok yakni: (i)alasan dan tujuan pengawasan bank; (ii)pilar dan prinsip pengawasan bank yang efektif sebagai kerangka pemikiran; (iii)kebijakan dan strategi pengawasan bank di Indonesia beserta kelemahan utamanya; (iv)proyeksi perkembangan perbankan dimasa mendatang dan tantangan pengawasan bank; dan (v)pemikiran mengenai perlunya reorientasi paradigma dan pendekatan untuk mendukung strategi pengawasan bank yang efektif di Indonesia.
PENGEMBANGAN PERBANKAN JULI-AGUSTUS NO.78 1999
Tulisan ini disajikan dalam lima materi pokok yakni: (i)alasan dan tujuan pengawasan bank; (ii)pilar dan prinsip pengawasan bank yang efektif sebagai kerangka pemikiran; (iii)kebijakan dan strategi pengawasan bank di Indonesia beserta kelemahan utamanya; (iv)proyeksi perkembangan perbankan dimasa mendatang dan tantangan pengawasan bank; dan (v)pemikiran mengenai perlunya reorientasi paradigma dan pendekatan untuk mendukung strategi pengawasan bank yang efektif di Indonesia.

More info:

Published by: Muhammad Arief Billah on Jul 11, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/06/2012

pdf

text

original

 
STRATEGI PENGAWASANBANK SSTT A  A TTEEGGIIPPEENNGG A  A  W  W  A  A SS A  A NNBB A  A NN  YANG EFEKTIF
*
 
 Y  Y  A  A NNGGEEFFEETTIIFF
**
 
S. Batunanggar
 
 
I. Pendahuluan
 
Meskipun masa krisis yang dihadapi oleh perbankan belum dapat dikatakan berakhir, namun tanda-tanda kehidupan telah mulai terlihat diujung lorong yang selama ini seolah tak berujung. Krisis ekonomi Indonesia yang berkepanjangan memang tidak semata-mata disebabkan oleh ketimpangansistem perbankan. Namun berbagai masalah yang dihadapi oleh sektorperbankan telah menjadi pemicu krisis tersebut. Hasil survey pada berbagainegara menyimpulkan bahwa terdapat suatu korelasi yang positif antaraefektivitas pengawasan bank yang dilakukan otoritas pengawas (
supervisoryauthority
) dengan permasalahan perbankan (
banking problems
) yang terjadi.Kelemahan pengawasan bank merupakan salah satu penyebab utama terjadinya
bank mismanagement 
yang pada akhirnya menimbulkan kegagalan bank (
bank failure
).
i
Kebanyakan kasus kegagalan bank di Indonesia menunjukkan bahwacampur tangan pemilik bank dalam operasi bank dan kejahatan perbankan(
banking fraud 
) yang dilakukan oleh pemilik dan pengurus bank merupakanpenyebab utama kebangkrutan suatu bank, disamping dampak krisis keuangan yang telah mewabah di kawasan Asia sejak pertengahan tahun 1997.Sejalan arus reformasi, telah terjadi perubahan dramatis pada sektor perbankannasional. Dalam kurun dua tahun terakhir telah 54 bank -- yang sakit akibat wabah krisis dan virus
mismanagement 
tersebut -- dihukum mati karena sudahtak layak hidup dan membahayakan sistem perbankan. Bank-bank sisanyadiharapkan dapat disehatkan kembali melalui program rekapitalisasi danrestrukturisasi. Dalam rangka memperkuat kerangka peraturan
(regulatory framework)
, akhir-akhir ini Bank Indonesia (BI) telah memberlakukan berbagaiketentuan baru perbankan. Langkah itu sejalan dengan penyempurnaanperaturan di bidang perbankan yakni: Undang-Undang (UU) Perbankan
*
 
Dimuat dengan (sedikit revisi) dalam PENGEMBANGAN PERBANKAN, Insitut Bankir Indonesia,Edisi No.78 JULI-AGUSTUS 1999. Dengan judul
‘Strategi Pengawasan Bank yang Efektif diIndonesia’
.
 
Pengawas Bank, Urusan Pengawasan Bank I, Bank Indonesia, Jakarta. Alumnus MBA Program,School of Management and Finance, University of Nottingham, England (1996); E-mail address: batunanggar@hotmail.com.Tulisan ini adalah pendapat pribadi, bukan pandangan institusi.
PENGEMBANGAN PERBANKAN
JULI-AGUSTUS NO.78 1999
 
 
S. Batunanggar
,
Strategi Pengawasan Bank yang Efektif No.10/1998 dan UU Bank Indonesia No.23/1999 baru yang antara lainmenetapkan mengenai kemandirian BI.Perubahan yang telah dan akan terjadi secara teramat cepat tersebut harusditanggapi secara cepat pula. Agar organisasi tetap
survive
dan mampumencapai sasarannya secara efektif, maka perubahan itu perlu didaptasi dandiantisipasi melalui perubahan paradigma, strategi, tehnik dan alat-alat yangdiadopsi.Memasuki milenium ketiga, terdapat berbagai issu strategis bagi bank-bank dalam rangka mempertahankan kelangsungan usahanya. Selain menghadapi berbagai masalah internal yang pelik seperti tingginya
non performing loans
 (NPLs),
negative spreads
, dan kekurangan modal
(capital deficiency)
, bank- bank akan menghadapi banyak tantangan dari lingkungan industri
(businessenvironment)
yang terus berubah dan akan ditandai dengan tingkat kompetisi yang semakin ketat dengan masuknya bank-bank asing ke dalam sistemperbankan nasional (baik melalui pembukaan jaringan/kantor baru maupunmelalui akuisisi terhadap dan aliansi strategis dengan bank-bank domestik),likuiditas yang semakin ketat dengan akan distopnya keran kredit likuiditas BIdalam rangka
the lender of last resort 
, dan semakin diketatkannya pengawasan bank oleh BI antara lain melalui adopsi kebijakan transparansi dan penegakanhukum (
law enforcement)
.Dengan perubahan struktur perbankan dan berlakunya Undang-undangNo.23/1999 itu, tugas BI dibidang pengawasan bank dalam rangka mewujudkansistem perbankan yang sehat jelas menjadi semakin berat dan kompleks. Terkaitdengan topik ini, timbul beberapa pertanyaan mendasar. Apakah strategipengawasan bank yang ditempuh oleh BI selama ini sudah efektif. Jika belumapakah strateginya yang tidak tepat atau pelaksanaannya yang tidak konsisten? Apakah strategi pengawasan yang ditempuh sudah tepat untuk kondisi spesifik perbankan Indonesia? Lalu apa saja kelemahan yang perlu diperbaiki dankebijakan yang perlu ditempuh?. Tulisan singkat ini mencoba membahaspertanyaan-pertanyaan tersebut.
 Tulisan ini disajikan dalam lima materi pokok yakni:
 pertama
, alasan dantujuan pengawasan bank;
kedua,
pilar dan prinsip pengawasan bank yangefektif sebagai kerangka pemikiran;
ketiga
, kebijakan dan strategi pengawasan bank di Indonesia beserta kelemahan utamanya;
keempat,
proyeksiperkembangan perbankan dimasa mendatang dan tantangan pengawasan bank;dan
terakhir 
, pemikiran mengenai perlunya reorientasi paradigma danpendekatan untuk mendukung strategi pengawasan bank yang efektif diIndonesia.
PENGEMBANGAN PERBANKAN
JULI-AGUSTUS NO.78 1999
2
 
S. Batunanggar
,
Strategi Pengawasan Bank yang Efektif 
II. Pengawasan Bank: Apa dan Mengapa?
Bank memiliki posisi khusus sebagai lembaga kepercayaan
(trust)
karena bisnisutamanya adalah menghimpun dana
(funding)
dari dan meminjamkannya
(lending)
kepada masyarakat. Jika kepercayaan tersebut terganggu, dapatterjadi rush
(bank run)
 yang pada akhirnya dapat menyeret seluruh sistemperbankan kejurang krisis. Karena itulah mengapa bank dan lembaga keuanganperlu diatur dan diawasi secara berhati-hati.Pengawasan bank bertujuan untuk menciptakan dan memelihara sistemperbankan yang sehat, tumbuh secara wajar dan bermanfaat bagi perekonomiannasional. Sejalan dengan perkembangan sistem pengawasan bank dan lembagakeuangan yang diadopsi di negara-negara maju, sejak awal tahun 90an diIndonesia mulai diterapkan suatu konsep yang dikenal dengan pengawasan bank yang berhati-hati
(prudential supervision). Prudential supervision
adalahsuatu metode pengawasan yang digunakan untuk mencegah bank-bank danlembaga keuangan mengambil risiko-risiko yang berlebihan
(unacceptablerisks)
sehingga dapat membahayakan kepentingan para kreditur (penyimpandana) dan stabilitas sistem keuangan. Dalam hal ini bukannya bank-bank tak diperkenankan mengambil risiko sama sekali, namun tujuannya adalah untuk menjamin bahwa risiko yang dihadapi bank-bank adalah 'wajar'
(acceptable),
 artinya risiko tersebut dapat dicover oleh alat pengaman
(buffers)
yang dimiliki bank. Untuk itu, otoritas pengawasan bank menetapkan seperangkat ketentuan yang mencakup permodalan, likuiditas, integritas lembaga dan manajemennya,dan ketentuan kehati-hatian lainnya yang meliputi batas maksimum pemberiankredit, posisi devisa netto, kualitas asset dan kecukupan provisi dan sebagainya.
III. Pilar dan Prinsip Pengawasan Bank 
Berikut ini diuraikan sekilas kerangka dasar dan prinsip pengawasan bank sebagai acuan.
a. Tiga Pilar Pengawasan Bank 
Pengawasan itu pada intinya selalu bertumpu pada tiga elemen dasar yaitu:
 pertama
, adanya acuan atau standar yang harus dipenuhi;
kedua
, review atau perbandingan antara kondisi aktual dengan standar; dan
ketiga
, koreksiatas penyimpangan. Fungsi pengawasan bank yang dilakukan oleh otoritaspengawasan
(supervisory authority)
pun demikian juga adanya.Pengawasan bank pada dasarnya dibangun atas tiga pilar utama yakni
 pertama
, kebijakan atau peraturan
(policy or regulation guidelines)
sebagairambu-rambu;
kedua,
sistem pemantauan
(monitoring system)
untuk memastikan dipatuhi atau dilanggarnya rambu-rambu yang ditetapkan; dan
ketiga
, penerapan sanksi
(law enforcement system)
jika terjadi pelanggaranatau penyimpangan dari bingkai rambu-rambu kehati-hatian dimaksud.
PENGEMBANGAN PERBANKAN
JULI-AGUSTUS NO.78 1999
3

Activity (37)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
dedygaluh8328 liked this
Nadia Isfandari liked this
Wahid Smart added this note
np mesti bayar mulu cieh.... :(
Ranjid Khan liked this
Daud Risan liked this
Sardi Prasetia liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->