/  3
 
racH:
~Segenggam Kepik Emas yang Kami Lepas ke Angkasa~
SEGENGGAM KEPIK EMAS YANG KAMI LEPAS KE ANGKASAwritten by: racHsegenggam kepik emas yang kami lepaskan ke angkasa itu kini pergi entah kemana. apakah ia masihhidup ataukah sudah mati,kami tidak tahu. yang jelas mungkin nasibnya tak semujur kami yang masih bernyawa hingga hari ini. terlalu sadiskah kami menyiksa makhluk sekecil dia? entahlah,masih terlalukecil usia kami untuk mengerti tentang hak asasi.duabelas tahun yang lalu, usia sekitar enam atau tujuh,tempat itu adalah surga bermain untuk anak-anak. sebuah lapangan luas yang ditumbuhi rumput liar dengan semak belukar di sepanjang sisinya.ketika matahari turun menuju peraduannya,saat sinarnya jadi seoranye kuning telur mata sapi dan saatanak-anak pulang dari sekolah untuk bermain-main,saat itulah lapangan menjadi ramai. anak laki-laki biasanya memilih di tengah lapangan bermain bola. sisanya bermain layang-layang di pinggirnya.sedangkan anak-anak perempuan lebih senang menggerombol di pinggir menggendong boneka atau bermain pasaran. ada juga yang bermain ular-ularan,
engklek 
atau ikut bermain bersama anak laki-lakiyang lain. suasana sore di lapangan itu sungguh sebuah pemandangan yang akan membuat tersenyumsiapapun yang melihat. euforia yang membumbung tinggi ke udara,teriakan-teriakan penuhsemangat,umpatan kecewa dari lawan,tangis yang sesekali terdengar serta nyanyian-nyanyian permainan yang didendangkan ceria.seandainya dulu kami bisa melukis selihai pelukis terkenal atau memotret sebaik seorang fotografer  profesional,mungkin akan kami abadikan suasana sore itu. akan kami bingkai dalam sebuah
 frame
kayu besar lalu dipajang di dinding ruang utama rumah masing-masing. ketika cucu-cucu kami datang nantidan bertanya gembar apakah itu,maka dengan senyum mengembang akan kami ceritakan tentang masakecil yang indah untuk dikenang. masa dimana kami suka sekali menangkap kepik emas lalumenerbangkannya ke angkasa.ya,dulu kami senang sekali menangkap kepik. dibanding bermain layang-layang,sepakbola atau dengananak perempuan yang lain,kami lebih senang menekuri semak belukar di sepanjang sisi lapanganmencari serangga lucu itu. kepik biasanya hinggap di dahan-dahan belukar yang berbentuk hati yangseringkali untuk makan sapi. tapi di daerah ini sedikit sekali yang memelihara sapi,jadi tanaman itutumbuh subur dimana-mana hingga kepik-kepik itu datang. para kepik membuat dahan-dahan itu jadi berlubang kecil-kecil. seringkali mereka hinggap diatasnya atau bersembunyi dibaliknya. warnanya berwarna-warni. ada yang berwarna merah dengan totol hitam di bagian sayapnya,ada yang kuning polos,ada yang perak namun lebih banyak yang berwarna emas. jika kepik yang kami tangkap sudah terkumpul banyak dan tangan kami sudah tak muat,kami akan naik ke sepeda masing-masing. berlomba mengayuh secepat-cepatnya. setelah itu sepeda yang palingdepanlah yang diberi kehormatan untuk memutuskan kapan kepik itu dilontarkan ke udara. sepedakami akan melambat lalu segenggam kepik akan lepas ke angkasa. terbang dengan indahnya.kesenangan melepas kepik emas ke angkasa itu lama kelamaan berlanjut menjadi sebuah kebiasaan.rutin,sepulang dari sekolah kami akan langsung pulang untuk ganti baju,makan siang lalu cepat-cepatmenuju lapangan untuk mencari kepik. entah bagaimana mulanya kami memilih hewan itu dijadikanhewan buruan paling favorit. mungkin karena kepik itu sangat baik hati dan tidak menyakiti saatditangkap. dia sangat penurut,tak sesulit menangkap kupu-kupu atau capung (kami harus memasang
 
racH:
~Segenggam Kepik Emas yang Kami Lepas ke Angkasa~
 permen karet di atas kayu dulu kalau ingin menangkapnya dan beli permen karet berarti mengeluarkanuang. mengeluarkan uang berarti mengurangi jatah uang jajan. sedangkan kami tak begitu suka makan permen karet) atau tak serepot menangkap kecebong (harus rela baju jadi basah. lagipula kecebongakan berubah jadi kodok jika disimpan terlalu lama dalam kolam. kodok yang melompat-lompat itumembuat orang rumah jadi jijik selanjutnya ibu-ibu kami akan marah-marah). warnanya juga sebuahkeajaiban. kepik berwarna kuning emas,merah emas atau perak unik sekali rasanya. pernah suatu hari kami berinisiatif untuk memeliharanya. dimasukkan ke dalam plastik transparan yangdigelembungkan,diikat ujungnya kemudian diberi sedikit lubang kecil untuk udara bernafas lewat. tak lupa diberi beberapa helai daun supaya bisa makan. jika kami berangkat sekolah,makhluk kecil ituturut serta ke dalam tempat pensil masing-masing. saat jam istirahat tiba,kami akan membuka tutuptempat pensil dari besi itu bersama lalu menceritakan keadaan kepiknya masing-masing persis sepertiibu-ibu yang bertukar cerita tentang tumbuh kembang anaknya. namun semua tak tak bertahan lamaketika kami tahu Si Kepik Emas malah menjadi lemah dan tidak mau makan. kami lepaskan tapi tak mau terbang,hanya berjalan merangkak mengenaskan. semenjak itu kami sadar,kepik emas tanpaterbang sangatlah tidak menarik. selanjutnya akan lebih baik jika kepik itu dibiarkan bebas. selain itu berhentinya observasi memelihara kepik emas karena dimarahi ibu guru yang memergoki sedang bermain-main bersama kepik saat pelajaran berlangsung. sepulang sekolah kami diceramahi habis-habisan tentang betapa tidak berbudinya manusia yang menyiksa hewan.karena tidak sesuai dengan pelajaran pancasila dan budi pekerti yang diajarkan di sekolah,maka kami putuskan untuk kembali melepas kepik emas itu ke angkasa. hanya sekedar menangkap lalumelepasnya,setiap sore hari dengan naik sepeda mengayuh bebas,sebebas-bebasnya,laksana kepik yangakan diterbangkan ke udara. lalu saat genggaman dibuka kepik-kepik itu lari ke ujung jemari bersiapuntuk terbang. ketika hewan kecil itu merentangkan sayapnya untuk terbang tak terkira betapa senangrasanya. (titik-titik kecil itu berbaur bersama burung-burung yang terbang rendah kembali ke sarangnya juga bersama kelelawar malam yang bersiap mencari makan. dilatari warna langit yang merah jinggaalam terlihat sangat memesona.)anehnya selama bertahun-tahun kami menangkapnya,kepik itu tak pernah habis. lapangan itu beserta perdu-perdu liar telah menjaganya. bersama makhluk hidup dan tumbuhan lain menjadi satu kesatuanmenciptakan sebuah ekosistem yang utuh dan seimbang.namun sayang sekali,12 tahun kemudian,terakhir kami ke sana tempat itu sudah kehilangan separuhtubuhnya. berubah menjadi rumah-rumah penduduk baik yang mewah maupun yang susah (sepetak rumah kecil yang dihuni melebihi kapasitas normalnya). sisanya ditempati mobil-mobil bobrok yangmendongkrok karena tidak layak jalan (atau karena tak mampu beli bahan bakar? entahlah,yang jelas pemandangan di lapangan itu kini lebih mirip dengan pembuangan akhir mobil bekas di luar negeri.huh,kaya juga ternyata negeri ini!)yang mengenaskan adalah rumput liar yang tumbuh makin memanjang. jika diukur setara dengan tinggi pinggang orang dewasa. padahal dahulu rumput di sini tak pernah setinggi ini karena seringnya diinjak kaki-kaki setiap hari. juga hilangnya tawa riang,semangat anak-anak yang sedang bermain. beberapa pasang mata kecil mengintip dari balik jendela rumah masing-masing mengamati kami yang berdiri mematung sambil sesekali menajamkan telinga,berharap euforia sore hari itu kembali. anak-

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...