Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
one of my fav IR paper

one of my fav IR paper

Ratings: (0)|Views: 104 |Likes:
Published by AisyahIlyas

More info:

Published by: AisyahIlyas on Oct 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/12/2012

pdf

text

original

 
 
Penururunan Efektifitas ASEAN paska Penandatanganan Piagam ASEAN
Analisis terhadap Mekanisme Penyelesaian Sengketa Sesudah dan Sebelum Penandatangan Piagam
Dengan melihat konteks waktu ketika ASEAN didirikan, maka tujuan pendirian ASEAN yangdisepakati dalam Deklarasi Bangkok merupakan sebuah kemajuan yang luar biasa bagi dinamika regional. Namun, selama bertahun-tahun para anggotanya segan untuk mengangkat isu yang berbau
high politics
ataumenyangkut kedaulatan dan keamanan suatu negara. Selama bertahun-tahun itu pula ASEAN menjadi perkumpulan yang amat tidak mengikat, tidak ada hukum yang benar-benar mengikat anggota secarakeseluruhan. Barulah sembilan tahun kemudian (1976) setelah pendiriannya dibuat dan disepakati perjanjianTreaty of Amity and Cooperation in South East Asia/ TAC yang cukup mengikat para anggota. TAC adalahrejim keamanan pertama bagi negara-negara ASEAN karena sebelumnya belum pernah ada seperangkat peraturan mengikat yang mengatur mekanisme penyelesaian perselisihan antar anggotanya.TAC lahir karena perbedaan atau perselisihan kepentingan di antara anggota sudah mulai muncul ke permukaan. Untuk itu, perlu ada pengaturan yang mengikat agar perselihan tidak semakin melebar. Dalam perjanjian itu, kita bisa melihat bahwa ASEAN lebih mementingkan kerjasama untuk mencegah perluasan perselisihan. Dalam TAC diatur tujuan dan prinsip dasar bagi para anggota untuk menjalankan hubungan persahabatan dan kerjasama dengan negara anggota lainnya. Aturan dan prosedur yang ada dalam TACcukup jelas, hal ini diperkuat dengan adanya wewenang bagi High Council of TAC terkait perannya dalammenghadapi masalah-masalah yang timbul di kawasan. Aturan dan prosedur bagi High Council ditetapkanmelalui pertemuan di Hanoi pada Juli 2001.Agar ASEAN dapat terus bertahan di tengah dinamika internasional yang ada, maka para anggotanyaterus melakukan adaptasi, salah satunya dengan membuat berbagai kesepakatan baru. Salah satu bentuk adaptasi itu adalah penandatanganan Piagam ASEAN pada KTT ke-13 di Singapura. Sejak saat itu, tidak ada lagi sanggahan bahwa ASEAN bukanlah sebuah organisasi karena ia telah memiliki apa yang harusdimiliki oleh sebuah organisasi internasional. Sama halnya dengan TAC, piagam itu juga mencakupmekanisme penyelesaian sengketa. Dengan demikian, mekanisme penyelesaian sengketa di kemudian haritidak lagi didasarkan pada TAC melainkan pada Piagam ASEAN. Namun, apakah mekanisme baru itumeningkatkan efektifitas ASEAN dalam menyelesaikan sengketa antar anggotanya? Pertanyaan inilah yangsaya coba jawab dalam esai ini.Seperti yang kita ketahui, para anggota ASEAN, terutama Indonesia, tengah berusaha meningkatkan peran mekanisme regional dalam usaha penyelesaian sengketa antar anggotanya, ketimbang membawasengketa-sengketa itu ke forum-forum internasional. Dengan begitu, pembahasan mengenai efektifitasnya paska penandatanganan Piagam menjadi sesuatu yang sangat pentingdan dapat dijadikan masukkan bagi para pembuat kebijakan. Pembahasan dan analisis kecil yang dilakukan oleh penulis di sini diharapkan dapatmenunjukkan apakah Piagam ASEAN mampu mendikte para anggotanya dalam menyelesaikan sengketa.Apakah mekanisme penyelesaian sengketa yang ada dalam Piagam akan semakin mampu atau semakin tidak mampu menyelesaikan sengketa antar anggotanya. Di bagian awal pembahasan, penulis akan memaparkan
 
 
sedikit alasan mengapa penulis menganggap TAC dan Piagam ASEAN sudah dapat dikatakan sebagai bentuk rejim keamanan internasional. Di bagian kedua, penulis akan menganalisis isi TAC dan PiagamASEAN tentang penyelesaian sengketa secara damai. Dari situ penulis akan membuktikan bahwamekanisme penyelesaian sengketa dalam TAC lebih mengikat ketimbang dalam Piagam ASEAN, dengandemikian dapat dilihat bahwa PIagam ASEAN justru membuat ASEAN semakin tidak mampumenyelesaiakan perselisihan yang mungkin timbul di antara paraanggotanya. Penulis akan menganalisisnyamenggunakan kerangka konsep tentang rejim keamanan internasional yang dikemukakan oleh beberapa pakar seperti Keohane, Jervis, dan Viotti-Kauppi. Selanjutnya penulis akan menjelaskan bahwa mekanisme penyelesaian sengeketa yang ada dalam Piagam justru menurunkan efektivitas ASEAN dalammenyelesaikan perselisihan antar anggota. Dengan demikian, mekanisme penyelesaian sengketa yang adadalam Piagam justru semakin menjauhkan cita-cita para anggota yang ingin mendirikan komunitaskeamanan di wilayah Asia Tenggaara. Penulis akan menganalisis hal itu menggunakan konsep tentangkomunitas keamanan yang dikemukakan oleh Karl Deustch.
Kerangka Konsep
Interdependensi antar unit merupakan salah satu faktor terbentuknya rejim internasional. Dalammengatur hubungan yang bersifat interdependen, diperlukan seperangkat peraturan, prosedur, dan institusiterkait atau organisasi internasional untuk mengendalikan interaksi dalam isu-isu itu- dengan kata lain,dalam hubungan yang seperti itu diperlukan rejim internasional. Istilah rejim pada rejim internasionaldipinjam dari politik domestic, yang mana merujuk pada eksistensi pemerintahan (demokratis, aotoritarian,atau yang lainnya) atau seperangkat peraturan dan institusi yang dibuat untuk mengatur hubungan antar individu, kelompok, atau kelas dalam sebuah negara. Pada konteks internasional, rejim memberikan dampak  pada ketiadaan superordinasi dari satu kekuatan terpusat, perauran-peraturan dibuat dengan sukarela oleh berbagai negara dalam rangka memenuhi suatu tingkat keteraturan hubungan internasional. Stephen Krasner mendefinisikan rejim sebagai prinsip, norma, peraturan, dan prosedur pembuatan kebijakan, yang eksplisitmaupun implicit,yang memuat ekspetasi aktor-aktor yang mana bertemu dalam satu area tertentu dalamhubungan internasional
1
. Oleh karena itu, rejim internasional tidak dapat disamakan dengan organisasiinternasional. Rejim mungkin menyertai organisasi-
bu
t, the former do not have capacity to act.
2
Selain itu,organisasi internasional diasosiakan dengan sesuatu yang fokus pada lebih dari satu area rejim, misalnyaUN.Keamanan bukanlah sebuah bidang yang tabu untuk dikaitkan dengan pembentukkan rejim. Rejiminternasional di bidang keamanan (rejim keamanan internasional) adalah sesuatu yang unik dibandingkanrejim di bidang lainnya seperti politik dan ekonomi tetapi, bukan berarti dalam menganalisis rejim di bidangkeamanan diperlukan metode yang berbeda. Robert Axelrod dan Robert O. Keohane menulis:
1
Paul R. Viotti dan Mark. V. Kauppi,
 I 
nternational Relations Theory: Realism, Pl 
u
ralism, Glo
b
alism, and Beyond 3
rd 
ed.,
(Allynand Bacon, United States of America, 1999), Hlm. 215
2
 
 I 
b
id 
., 216
 
 
It has been noted that military-security issue displayed more of the characteristic associated with anarchythan do political-economic ones. Charles Lipson, for instance, has recently observed that political-economyrelationships are typically more institutionalized than military-security ones. This does not mean, however,that the analysis of these two sets of issues requires two separate analytical frameworks. Indeed, one of themajor purposes of the present collection is to show that
a single framework can throw light on
b
oth
.
3
 Keohane juga mengamini pendapat Mersheimer bahwa ³there is no clean analytical line between economicand security issues´.
4
Jadi, dalam memahami perilaku-perilaku kerjasama yang ada di dalam rejimkeamanan internasional, kita dapat meggunakan pola berpikir seperti yang kita pakai milsanya dalammenganalisis rejim perdagangan. Negara juga akan mendapat keuntungan dengan memberikan sebagiankedaulatannya kepada rejim keamanan. Jika pada rejim perdagangan internasional negara bisa memperolehakses dalam perdagangan internasional, maka dengan terlibat dalam suatu rejim keamanan negara akanmendapatkan keuntungan berupa ³bantuan´ untuk menangkalan ancaman yang mungkin timbul dari duniainternsional. Dengan kata lain, meminjam istilah Robert Jervis, dalam menghadapi ancaman internasionalterhadap keamanan, negara akan
increased gains from cooperation
atau
increased costs of non-cooperations.
5
 Manifestasi yang lebih tinggi dari rejim keamanan internasional adalah apa yang disebut olehDeuscth sebagai komunitas keamanan. Komunitas keamanan didefiniskan sebagai ³a group of people´integrated by a ³sense of community,´ that is, ³a belief on the part of individuals in a group that they havecome to agreement on at least this one point: that common social problems must and can be resolved by processes of µpeaceful change¶´ (Deutsch et al., 1957: 5).
6
Deustch berpendapat bahwa komunitas keamananterbentuk melalui kepatuahan pada pada nilai-nilai utama yang dianut, termasuk aturan-aturan yang telahdibuat. Dalam komunitas keamanan harus ada jaminan bahwa para anggotanya tidak akan menyelesaikansengketa dengan cara-cara selain di luar perang.
7
 
ASEAN: Selayang Pandang
Bagi ASEAN, kerjasama keamanan yang ada menjadi terinstitusionalisasi dikarenakan adakemiripan perspesi tentang ancaman terhadap keamanan nasional. Konflik yang terjadi di negara tetanggadapat mengganggu eksistensi dan pencapaian tujuan-tujuan nasional. Untuk itulah para pemimpin negara-negara di Asia Tenggara menginisiasikan terbentuknya organisasi itu. Sejak awal ia didirikan, paraanggotanya memang telah berusaha mengarahkan organisasi itu untuk mewujudkan adanya komunitaskeamanan di wilayah itu. Bahkan dalam buku yang berjudul
 M 
asyarakat Asia Tenggara
 M 
en
uju
Kom
u
nitas ASEAN 2015
, ASEAN diklaim sudah merupakan Komunitas Keamanan sejak awal ia didirikan, karena salah
3
 
 I 
b
id.,
43
4
 
 I 
b
id.
 
5
Robert Jervis,
 From Balance to Concert 
:
 A St 
u
dy of 
 I 
nternational Sec
u
rity Cooperation
, diakses darihttp://links.jstor.org/sici?sici=0043-8871%28198510%2938%3A1%3C58%3AFBTCAS%3E2.0.CO%3B2-%23, pada 13 Januari2008 
6
Andrej Tusicisny,
Sec
u
rity Comm
u
nity and Their Val 
u
es: Taking 
 M 
asses Serio
u
 sly
dalam
 I 
nternational Political Science Review
, Vol. 28, No. 4, hlm. 426
7
 
Visi Sat 
u
Asia Tenggara
oleh Ikrar Nusa Bhakti, diakses darihttp://www.unisosdem.org/ekopol_detail.php?aid=8554&coid=4&caid=33, pada Minggu, 13 November 2009, pukul 17.40

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->