Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Artikel Fadli Zon - Buku Menjadi Ajang Bersaksi dan Membela Diri

Artikel Fadli Zon - Buku Menjadi Ajang Bersaksi dan Membela Diri

Ratings: (0)|Views: 280 |Likes:
Published by Fadli Zon
Writer and Political Activist Copyright © 2009 All Rights Reserved contact@fadlizon.com

Buku Menjadi Ajang Bersaksi dan Membela Diri

PERISTIWA Mei 1998 hingga kini masih menyisakan banyak tanda tanya maupun kontroversi di masyarakat tentang bagaimana sebenarnya peristiwa itu terjadi. Belakangan ini kontroversi tentang peristiwa ini kembali menghangat dan muncul di permukaan setelah terbitnya beberapa versi buku yang ditulis oleh pihak-pihak yang terlibat dalam peristiwa tersebut. MENARIKNYA, b
Writer and Political Activist Copyright © 2009 All Rights Reserved contact@fadlizon.com

Buku Menjadi Ajang Bersaksi dan Membela Diri

PERISTIWA Mei 1998 hingga kini masih menyisakan banyak tanda tanya maupun kontroversi di masyarakat tentang bagaimana sebenarnya peristiwa itu terjadi. Belakangan ini kontroversi tentang peristiwa ini kembali menghangat dan muncul di permukaan setelah terbitnya beberapa versi buku yang ditulis oleh pihak-pihak yang terlibat dalam peristiwa tersebut. MENARIKNYA, b

More info:

Published by: Fadli Zon on Oct 13, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/17/2013

pdf

text

original

 
Writer and Political ActivistCopyright © 2009 All Rights Reservedcontact@fadlizon.com
 Artikel FadliZon.com
BBuukkuuMMeenn j jaaddiiAA j jaannggBBeessaakkssiiddaannMMeemmbbeellaaDDiiii 
PERISTIWA Mei 1998 hingga kini masih menyisakan banyak tanda tanya maupun kontroversi di masyarakat tentang bagaimanasebenarnya peristiwa itu terjadi. Belakangan ini kontroversi tentang peristiwa ini kembali menghangat dan muncul di permukaansetelah terbitnya beberapa versi buku yang ditulis oleh pihak-pihak yang terlibat dalam peristiwa tersebut.MENARIKNYA, buku-buku tentang peristiwa tersebut cenderung bukan saling melengkapi tetapi justru isinya saling berbantahan ataubertentangan satu sama lain. Atau dengan kata lain yang terjadi adalah perang wacana atau fakta lewat buku antara orang-orang ataupihak-pihak yang berseteru dalam peristiwa tersebut. Buku Bersaksi di Tengah Badai terbitan tahun 2003 yang ditulis oleh JenderalWiranto, Panglima TNI saat terjadinya peristiwa Mei 1998 misalnya, setidaknya telah memunculkan dua buku tandingan terbitanInstitute for Policy Studies (IPS), yakni buku Politik Huru-hara Mei 1998 karangan Fadli Zon dan buku berjudul Konflik dan IntegrasiTNI-AD karangan Mayor Jenderal Kivlan Zen, mantan Kepala Staf Kostrad. Terbitnya dua buku dari penerbit IPS ini sangat kentaraditujukan untuk menyanggah beberapa fakta yang ditulis Wiranto dalam buku Bersaksi di Tengah Badai.Mari simak beberapa bagian dari isi buku-buku tersebut. Dalam soal keberangkatan Wiranto di acara timbang terima PPRC ke Malangtanggal 14 Mei 1998, misalnya, apa yang diungkap Wiranto dalam bukunya disanggah oleh Fadli Zon maupun Kivlan Zen dalam bukumereka. Di bukunya, Wiranto berusaha menangkis tuduhan bahwa dirinya mempunyai agenda lain karena hadir dalam acara diMalang tersebut, seperti apa yang tertulis dalam buku Bersaksi di Tengah Badai berikut:"Sebagaimana sudah saya katakan berkali-kali bahwa informasi yang benar janganlah diputarbalikkan. Keberangkatan saya sebagaiPanglima TNI ke Malang untuk timbang terima PPRC adalah atas permintaan Pangkostrad, Letjen TNI Prabowo sendiri....Bahkansaya juga sangat menyayangkan kalau kemudian ada yang mengatakan bahwa Letjen Prabowo Subianto yang waktu itu menjadiPangkostrad telah meminta saya membatalkan acara ini dengan cara menelepon berkali-kali. Menurut saya, pernyataan yangmengatakan bahwa saya ditelepon berkali-kali ini rasanya aneh, sebab setiap teleponyang masuk selalu tercatat di sekretaris pribadi atau ajudan. Kenyataannya, permintaan pembatalan ini tak ada dalam catatansekretaris pribadi atau ajudan saya...." (halaman 32) Argumentasi Wiranto ini disanggah Fadli Zon yang dikenal dekat dengan Prabowo Subianto dan Kivlan Zen dalam buku mereka.Dalam buku Politik Huru-hara Mei 1998, Fadli Zon menulis berdasarkan wawancaranya terhadap Prabowo Subianto tanggal 26Desember 2003 sebagai berikut:"Ada peristiwa aneh yang terjadi pada pagi hari 14 Mei 1998. Hari itu, di tengah kerusuhan yang melanda Jakarta dan sekitarnya,Panglima ABRI Jenderal Wiranto memboyong jenderal-jenderal penting ke Malang untuk menghadiri sebuah upacara peralihanKomando Pengendalian (Kodal) Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC)....Sehari sebelumnya, Prabowo berkali-kali menghubungiWiranto untuk membatalkan acara tersebut karena keamanan ibukota dalam bahaya. Kalaupun harus pergi, Prabowo minta izin agar ia tetap berjaga-jaga berada di Jakarta membantu Pangdam Jaya mengatasi kerusuhan. Setelah kurang lebih delapan kalimenghubungi Wiranto, hasilnya sama saja, Prabowo harus ikut ke Malang bersama Wiranto.... (hlm 117)Soal tidak adanya catatan ajudan atau sekretaris pribadi Wiranto yang membuktikan ada tidaknya telepon Prabowo kepada Wiranto,Fadli Zon mengungkap soal itu berdasarkan wawancaranya dengan Letkol Fuad Basya, sekretaris pribadi Pangkostrad, sebagaiberikut:"Menurut sespri Pangkostrad, Letkol Fuad Basya, Prabowo menelepon beberapa kali hingga malam tanggal 13 Mei. Ia sangat yakinbahwa Prabowo berbicara dengan Wiranto untuk penundaan acara karena perkembangan situasi Jakarta. Fuad dengan tegasmengatakan bahwa ia yang menghubungi langsung sekretaris pribadi Pangab, Letkol Muktianto. Ditelepon, Fuad mendengar Prabowomengatakan "Sebaiknya jangan meninggalkan Jakarta...." (hlm 119)Perang argumen dan fakta antara Wiranto dan Fadli Zon di dua buku tersebut tidak terbatas pada kasus 14 Mei saja tetapi juga padaperistiwa-peristiwa lainnya, terutama berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang ada hubungannya antara Wiranto dengan PrabowoSubianto selama ini.
 
Writer and Political ActivistCopyright © 2009 All Rights Reservedcontact@fadlizon.com
 Artikel FadliZon.com
BBuukkuuMMeenn j jaaddiiAA j jaannggBBeessaakkssiiddaannMMeemmbbeellaaDDiiii 
Bantahan atas kesaksian Wiranto seperti yang diungkap dalam buku Bersaksi di Tengah Badai yang paling anyar dan baru-baru inisempat menjadi pembicaraan di berbagai media, adalah sanggahan Kivlan Zen tentang peran Wiranto dalam pembentukanPamswakarsa yang dituangkan Kivlan dalam bukunya yang berjudul Konflik dan Integrasi TNI-AD. Terbitnya buku Kivlan Zen inimembuat perseteruan dua mantan petinggi di TNI AD ini mencuat ke permukaan dan menguak konflik di tubuh TNI.Kivlan Zen melalui bukunya yang diterbitkan pada bulan Juni 2004 lalu mengungkap peran Wiranto sebagai pihak yang memberiperintah pembentukan kelompok massa pendukung Sidang Istimewa (SI) yang kemudian dikenal sebagai Pam- swakarsa.Pernyataan Kivlan ini sekaligus membantah kesaksian Wiranto di buku Bersaksi di Tengah Badai bahwa ia (Wiranto) tidak tahu-menahu soal terbentuknya Pamswakarsa tersebut. Berikut kutipan pernyataan Kivlan di buku Konflik dan Integrasi TNI-AD soalpembentukan Pamswakarsa."Massa pendukung SI pada awalnya adalah Pamswakarsa dari Pemuda Pancasila, FKPPI, Pemuda Panca Marga, dan Banser. Tetapikemudian semuanya mengundurkan diri karena ketakutan dengan massa anti-SI yang cukup besar dan militan. Pembentukan massapendukung SI didasarkan atas perintah Panglima ABRI Wiranto agar aparat tidak berhadapan langsung....Massa pendukung SI atauyang kemudian disebut Pamswakarsa yang disiapkan oleh Mayjen Kivlan Zen antara lain terdiri dari massa Islam, Remaja Masjid,...."(hlm 122)Tudingan Kivlan bahwa Wiranto terlibat dalam pembentukan Pamswakarsa ini menyanggah kesaksian Wiranto dibukunya yangberbunyi:"...Para pendukung terselenggaranya SI MPR dan para pendukung Presiden Habibie mulai melakukan kegiatan mereka berupa pawaimaupun apel di lapangan. Berikutnya, entah dari mana asalnya mereka ini kemudian dinamai Pam Swakarsa. Padahal pengertianPam Swakarsa tidaklah demikian." (hlm 146)Dengan terbitnya buku Kivlan Zen, melengkapi fenomena buku berbalas buku atau perang wacana lewat buku seperti pada kasus-kasus lain sebelumnya seperti Buloggate, Talangsari Lampung, Tanjung Priok, maupun peristiwa September 1965.Maraknya perang wacana lewat buku ini tidak terlepas dengan maraknya pembuatan buku-buku biografi yang didominasi oleh politisi, jenderal maupun pejabat-pejabat yang bermasalah. Tengok saja, bisa dikatakan seluruh tokoh politik yang mencalonkan diri menjadipresiden kali ini berlomba-lomba membuat buku biografi dan bisa ditebak tujuannya tidak lain untuk menaikkan citra di masyarakatdemi kemulusan jalan menuju istana. Buku-buku biografi itu antara lain SBY Sang Demokrat, Amien Rais for President: MenujuIndonesia Sejahtera, dan buku-buku biografi calon presiden lainnya. Demikian pula, buku-buku yang bersifat pembelaan diri antaralain buku Jalan Terjal Menegakkan Kebenaran: Menolak Kompromi, Jadi Korban Politik karangan Rahardi Ramelan berkaitan dengankasus Bulog, HA Muhammad Ghalib: Menepis BadaiMenegakkan Supremasi Hukum yang disusun oleh Usamah Hisyam, dan buku-buku semacam yang intinya berisi pembelaan diri sangtokoh terhadap berbagai tuduhan yang menimpa dirinya juga bermunculan.Namun yang menjadi persoalan, apakah fenomena ini memberi dampak positif bagi masyarakat pembaca atau dunia perbukuan?Saat ini, apakah lantaran mereka bisa mendapatkan alternatif informasi atau fakta sehingga "kebenaran" terungkap atau malahsebaliknya masyarakat justru menjadi bingung?Menanggapi fenomena ini pengamat industri buku Frans Meak Parera mengatakan, bahwa dari satu sisi munculnya buku-buku barutersebut perlu disambut positif karena dapat memperbanyak judul buku baru di tengah minimnya perkembangan jumlah judul bukubaru di Indonesia. Segi positif lainnya menurut Frans Parera adalah adanya perkembangan kemajuan dalam segi sensorsif. "Menurutsaya ini adalah kemajuan. Dulu, kalau satu kelompok tidak suka tentang satu buku, kalau perlu mereka membakar buku itu.Membakar atau membeli semua buku itu. Tapi sekarang tidak, dalam arti dia buat buku lalu di pihak lain juga buat buku. Ini adalahsalah satu langkah toleransi yang lebih tinggi. Menurut saya, dari segi komunikasi ilmiah ini ada perkembangan," kata Parera

Activity (3)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Fajar Sriningsih liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->