Read without ads and support Scribd by becoming a Scribd Premium Reader.
 
HERMENEUTIKA DAN METODE TAFSIR
 A. Khudori Soleh
Abstract
.
Hermeneutic as interpretation knowledge can be classified intothree categories: objective, subjective, and liberation. 1). Objectivehermeneutic means an effort to interpret and to understand themeaning of text as the author means. 2). Subjective hermeneuticmeans an effort to interpret and to understand the meaning of textbased on the social context at this time without any consideration tothe author thought. 3). Liberation hermeneutic means an effort tointerpret and to understand the meaning of text based on the spirit of circumstance and try to make the result of interpretation as the spiritto change the life and the circumstance of the interpreter and thereader. In Islamic perspective, objective hermeneutic can be comparedwith
tafsir bi al-ma’tsur,
and subjective hermeneutic can be comparedwith
tafsir bi al-ra’y.
However, hermeneutical discourse has been giving muchcontribution for the development of interpretation knowledge, so it canappear hermeneutic of liberation. It is a new penetration. If it is appliedin Islam, interpretation does not only understand the meaning of al-Qur’an text as God means or based on the context, but also an efforthow to make the result of interpretation as the spirit for Muslim societyto change their society become better and the best.
Keyword:
hermeneutic, tafsir and tradision.
Bagaimanapun baik dan agungnya sebuah teks suci, dalamhal ini al-Qur`an, ia tetap tidak akan bermakna tanpa intervensipikiran dan kesadaran manusia. Artinya, interpretasi dankesadaran manusia untuk merealisasikan pemahamannya akanteks dalam kehidupan konkrit itulah, sesungguhnya, yangmenyebabkan sebuah kitab suci menjadi agung dan bermakna.Dalam kaitannya dengan upaya memahami makna teks agarbisa diaplikasikan dalam kehidupan tersebut, telah dikenaladanya banyak pendekatan dan metodologi, seperti
tahlili,maudlû`i, muqâran
, dan seterusnya. Metode-metode penafsiranini akan terus bertambah dan berkembang sesuai denganperkembangan metodologi serta pendekatan kontemporer. Teori-teori hermeneutika yang berkembang di Barat saatini, khususnya
 productive hermeneutics
ala Gadamer,
1
ternyatamemberikan kontribusi signifikan dan membuka wacana barudalam pembacaan teks suci. Metode ini telah mengilhami parasarjana muslim kontemporer seperti Arkoun, Hasan Hanafi, FaridEsack dan Nasr Hamid Abu Zaid, dalam melakukan interpretasi
 
terhadap al-Qur`an. Tulisan ini menjelaskan teori-teorihermeneutika dan kaitannya dengan tafsir al-Qur`an tersebut.
Model-Model Hermeneutika.
Secara sederhana, hermeneutika diartikan sebagai senidan ilmu untuk menafsirkan teks-teks yang punya otoritas,khususnya teks suci.
2
Dalam definisi yang lebih jelas,hermeneutika diartikan sebagai sekumpulan kaidah atau polayang harus diikuti oleh seorang mufassir dalam memahami tekskeagamaan.
3
Namun, dalam perjalanan sejarahnya,hermeneutika ternyata tidak hanya digunakan untuk memahamiteks suci melainkan meluas untuk semua bentuk teks, baiksastra, karya seni maupun tradisi masyarakat.Selanjutnya, sebagai sebuah metodologi penafsiran,hermeneutika bukan hanya sebuah bentuk yang tunggalmelainkan terdiri atas berbagai model dan varian. Paling tidakada tiga bentuk atau model hermeneutika yang dapat kita lihat.
Pertama
, hermeneutika objektif yang dikembangkan tokoh-tokohklasik, khususnya Friedrick Schleiermacher (1768-1834), WilhelmDilthey (1833-1911) dan Emilio Betti (1890-1968).
4
Menurutmodel pertama ini, penafsiran berarti memahami tekssebagaimana yang dipahami pengarangnya, sebab apa yangdisebut teks, menurut Schleiermacher, adalah ungkapan jiwapengarangnya, sehingga seperti juga disebutkan dalam hukumBetti, apa yang disebut makna atau tafsiran atasnya tidakdidasarkan atas kesimpulan kita melainkan diturunkan danbersifat intruktif.
5
 Untuk mencapai tingkat seperti itu, menurutSchleiermacher, ada dua cara yang dapat ditempuh; lewatbahasanya yang mengungkapkan hal-hal baru, atau lewatkarakteristik bahasanya yang ditransfer kepada kita. Ketentuanini didasarkan atas konsepnya tentang teks. MenurutSchleiermacher, setiap teks mempunyai dua sisi: (1) sisilinguistik yang menunjuk pada bahasa yang memungkinkanproses memahami menjadi mungkin, (2) sisi psikologis yangmenunjuk pada isi pikiran si pengarang yang termanifestasikanpada
style
bahasa yang digunakan. Dua sisi ini mencerminkanpengalaman pengarang yang pembaca kemudianmengkonstruksinya dalam upaya memahami pikiran pengarangdan pengalamannya.
6
Menurut Abu Zaid, diantara dua sisi ini,Schleiermacher lebih mendahulukan sisi linguistik dibandinganalisa psikologis, meski dalam tulisannya sering dinyatakanbahwa penafsir dapat memulai dari sisi manapun sepanjang sisiyang satu memberi pemahaman kepada yang lain dalam upayamemahami teks.
7
24
 
Selanjutnya, untuk dapat memahami maksud pengarangsebagaimana yang tertera dalam tulisan-tulisannya, karena styledan karakter bahasanya berbeda, maka tidak ada jalan bagipenafsir kecuali harus keluar dari tradisinya sendiri untukkemudian masuk kedalam tradisi dimana si penulis teks tersebuthidup, atau paling tidak membayangkan seolah dirinya hadirpada zaman itu. Sedemikian, sehingga dengan masuk padatradisi pengarang, memahami dan menghayati budaya yangmelingkupinya, penafsir akan mendapatkan makna yang
objektif 
sebagaimana yang dimaksudkan si pengarang.
8
 Dalam aplikasinya pada teks keagamaan, penafsiran atasteks-teks al-Qur`an, misalnya, (1) kita berarti harus mempunyaikemampuan gramatika bahasa Arab (
nahw-sharaf 
) yangmemadai, (2) memahami tradisi yang berkembang di tempat danmasa turunnya ayat, sehingga dengan demikian kita dapatbenar-benar memahami apa yang dimaksud dan diharapkan olehteks-teks tersebut. Begitu pula dalam kasus teks-teks sekunderkeagamaan, seperti karya-karya al-Syafi`i (767-820 M). Selainmemahami karakter bahasa dan istilah-istilah yang biasadigunakan, kita juga harus paham tempat dan tradisi dimanakarya-karya tersebut ditulis.
Qaul al-qadîm
dan
qaul al-jadîd
disampaikan di tempat dan tradisi yang berbeda. Selain itu, jugaharus memahami kondisi psikologis Syafi`i sendiri, apakah ketikaitu menjadi bagian dari kekuasaan, sebagai oposan atau orangyang netral. Karya-karya Ibn Rusyd (1126-1198 M), misalnya,sangat berbeda ketika ia berposisi sebagai bagian darikekuasaan (menjadi hakim) dan saat menjadi filosof. Tanpapendekatan-pendekatan tersebut, pemahaman yang salah menurut Schleiermacher— tidak mungkin terelakkan.
Kedua
, hermeneutika subjektif yang dikembangkan olehtokoh-tokoh modern khususnya Hans-Georg Gadamer (1900-2002) dan Jacques Derida (l. 1930).
9
Menurut model kedua ini,hermeneutika bukan usaha menemukan makna objektif yangdimaksud si penulis seperti yang diasumsikan modelhermeneutika objektif melainkan memahami apa yang terteradalam teks itu sendiri.
Stressing mereka adalah isi teks itusendiri secara mandiri bukan pada ide awal si penulis. Inilahperbedaan mendasar antara hermeneutika objektif dan subjektif.Dalam pandangan hermeneutika subjektif, teks bersifatterbuka dan dapat diinterpretasikan oleh siapapun, sebab begitusebuah teks dipublikasikan dan dilepas, ia telah menjadi berdirisendiri dan tidak lagi berkaitan dengan si penulis. Karena itu,sebuah teks tidak harus dipahami berdasarkan ide si pengarangmelainkan berdasarkan materi yang tertera dalam teks itusendiri. Bahkan, penulis telah “mati” dalam pandangan kelompok
25
Search History:
Searching...
Result 00 of 00
00 results for result for
  • p.
  • Notes
    Load more