Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
6Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Format Baru Otonomi Daerah

Format Baru Otonomi Daerah

Ratings: (0)|Views: 350 |Likes:
Published by Agung Jatmiko

More info:

Published by: Agung Jatmiko on Oct 15, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/22/2011

pdf

text

original

 
PERENCANAAN DAN ANALISIS PEMBANGUNAN DAERAHFormat Baru Otonomi Daerah:
Menuju Daerah Membangun?
Agung Jatmiko
AbstraksiSejak tahun 2001 Inodnesia secara formal telah menjalankan desentralisasi pemerintahan(ekonomi) dengan semangat tunggal memberikan kewenangan yang lebih besar kepadadaerah untuk mengurus dirinya sendiri, termasuk urusan ekonomi. Pola pelaksanaandesentralisasi yang tidak konsisten sejak jaman revolusi kemerdekaan hingga era orde barumembuat Indonesia seolah kehilangan arah dalam melaksanakan desentralisasi. UU No.22/1999 dibuat oleh pemerintah peralihan sebagai dasar untuk melaksanakandesentralisasi dengan lebih terarah dan diikuti dengan munculnya UU No.32/2004. Hubunganfiskal pusat-daerah juga telah diatur dalam UU No.25/1999. Namun, di tengah semangat pelaksanaan otonomi daerah juga banyak ditemui berbagai kendala mulai dari misalokasianggaran, munculnya perda-perda bermasalah dan banyak lainnya. Hal ini menunjukkan pelaksanaan desentralisasi di Indonesia masih sangat jauh dari sempurna. Tulisan ini berupaya untuk menguraikan perjalanan desentralisasi Indonesia sejak diberlakukannya UU No.22/1999 dan bagaimana pelaksanaannya serta beberapa isu sentral dalakm pelaksanaanotonomi daerah.
 
Pendahuluan
Sejak tahun 1990-an negara-negara di seluruh dunia, tidak terkecuali di negara maju,disibukkan dengan proyek penataan kembali pengelolaan ekonomi di dalam negeri. Di negaramaju restrukturisasi perekonomian tersebut difokuskan kepada upaya untuk membangunhubungan keuangan intra-pemerintahan agar bisa mengimbangi perkembangan kegiatanekonomi yang semakin kompleks. Sedangkan di negara yang sedanga mengalami transisiekonomi seperti di Eropa Timur, sedang giat-giatnya membenahi sistem keuangan pemerintah daerah dan perimbangan keuangan pusat dan daerah. Di luar itu, banyak negara berkembang lainnya juga berpikir keras untuk melakukan desentralisasi fiskal sebagai salahsatu jalan meloloskan diri dari berbagai jebakan ketidakefisienan pemerintahan,ketidakstabilan makro ekonomi, dan ketidakcukupan pertumbuhan ekonomi yang telahmenyebabkan negara-negara itu jatuh terperosok akhir-akhir ini (Bird dan Vaillancourt,1998:1). Proses yang sama setidaknya juga berlangsung di Indonesia, ketika pada tahun 2001memaklumatkan pemberlakuan otonomi daerah (desentralisasi) yang terlebih dahulu diikutidengan masa peralihan dari rezim Orde Baru menuju pemerintahan dengan basis semangatreformasi.Secara teoritis, desentralisasi sendiri bisa didefiniskan sebagai penciptaan badan yangterpisah (
bodies separated 
) oleh aturan hukum (undang-undang) dari pemerintah pusat, dimana pemerintah (perwakilan) lokal diberi kekuasaan formal untuk memutuskan ruanglingkup persoalan publik Jadi di sini basis politiknya ada di tingkat lokal, bukan nasional.Dalam pengertian ini, meskipun era otoritas pemerintah lokal terbatas, namun hak untuk membuat keputusan diperkuat melalui undang-undang dan hanya dapat diubah lewat legislasi baru baru (Mawhood, 1983). Dengan begitu, prinsip desentralisasi dapat disinonimkandengan isntilah µdiet¶, yakni untuk mengurangi obesitas akut yang diderita sebuah negara.Untuk konteks, obesitas tersebut terpantul dalam wujud jumlah penduduk yang besar,wilayah yang teramat luas, dan ragam multikultur masyarakat yang sangat variatif. Dengan pemahaman ini, yang dimaksud dengan program diet adalah mencoba menurunkan level pelayanan masyarakat ke tingkat wilayah adminsitratif yang paling rendah. Dengandesentralisasi diharapkan kemampuan pemerintah daerah untuk mengatur pembangunanmenjadi lebih lincah, akurat, dan cepat.
 
Pendekatan Big Bang atau Zig-Zag?
Sejarah mencatat bahwa upaya desentralisasi di Indonesia bak ayunan pendulum: polazig-zag terjadi antara desentralisasi dan sentralisasi. Upaya desentralisasi telah dicobaditerapkan pada masa penjajahan Belanda (1900-1940) dan revolusi kemerdekaan (1945-1949); di luar periode itu sentralisasi secara administratif, politik dan fiskal amat terasa (Jayadan Dick,2001).Upaya serius untuk melakukan desentralisasi di Indonesia pada masa reformasi dimulaidi tengah-tengah krisis yang melanda Asia dan bertepatan dengan proses pergantian rezim.Dari rezim otoritarian ke rezim yang lebih demokratis setelah jatuhnya pemerintahanSoeharto dan sebagai reaksi yang kuat dari kecenderungan sentralisasi kekuasaan dan sumber daya di pemerintah pusat selama tiga dekade terakhir.Masalahnya, pemerintahan demokratis yang datang setelah pergantian rezim tidak memiliki kekuatan ³pemersatu nasional´ seprti yang dimiliki rezim sebelumnya, juga tidak memiliki daya sentrifugal politis. Banyak propinsi yang kaya sumber daya alam menyatakanketidakpuasan akan hasil eksplitasi sumber daya alamnya yang sebagian besar digunakanoleh pemerintah pusat. Struktur pemerintahan terpusat telah mengakibatkan kesenjanganregional antara Jakarta atau Jawa dengan luar Jawa, maupun antara Kawasan Timur Indonesia dan Kawasan Barat Indonesia (Kuncoro, 2002). Rasa sentiment yang munculadalah sumbangan yang sangat besar yang diberikan propinsi yang kaya sumber daya alam pada pembangunan ekonomi nasional tidak sebanding dengan manfaat yang diterima.Pergeseran prioritas pembangunan dari sektor pertanian ke sektor industri yangmendukung pertanian, yang tidak disertai dengan pertimbangan spasial, memberikan dampak  percepatan pembangunan di satu pihak dan penumpukan konsentrasi manufaktur di pihak lain. Sebagai hasil dari pendekatan tersebut antara lain peningkatan kontribusi dari sektor manufaktur dan jasa yang terkonsentrasi di Jawa dan sebagian di Sumatra. Studi yangmenganalisis tren aglomerasi dan kluster dalam sektor industri manufaktur Indonesia,1976-1999, menyatakan bahwa kebijakan liberalisasi perdagangan yang diterapkan pemerintahIndonesia sejak 1985 telah berdampak pada semakin menguatnya konsentrasi industri secaraspasial di daerah-daerah perkotaan di Pulau Jawa, terutama di wilayah Jabotabek-Bandungdan Gerbangkertosusila (Kuncoro, 2002). Studi Kuncoro juga menyimpulkan bahwakonsentrasi spasial industri besar dan menengah dapat diasosiasikan dengan konsentrasi perkotaan di Pulau Jawa. Hal yang sama juga dapat dilihat dari kontribusi PDRB Jawa

Activity (6)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Riw Chan liked this
Riw Chan liked this
aal_haliim liked this
Djunaidi Tauda liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->