Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
13Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kumpulan Berita Tentang Muhammdiyah

Kumpulan Berita Tentang Muhammdiyah

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 10,520|Likes:
Published by Rohadi Wicaksono
Berisi berbagai berita dan artikel tentang Muhammadiyah dari koran Republika
Berisi berbagai berita dan artikel tentang Muhammadiyah dari koran Republika

More info:

Published by: Rohadi Wicaksono on Jul 15, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/15/2012

pdf

text

original

 
KH Ahmad Azhar Basyi
Perteguh Gerakan PembaruanMuhammadiyah
Menjelang Muktamar Muhammadiyah tahun1990 dan beberapa waktu setelah itu,diselenggarakan banyak seminar untukmengevaluasi perjalanan Muhammadiyahsebagai organisasi pembaru. Sejumlahcendekiawan muda, termasuk dari kalanganMuhammadiyah sendiri, melontarkan kritikterhadap organisasi keagamaan ini.Banyak wacana yang muncul saat itu;Muhammadiyah sudah berhenti menjadiorganisasi pembaru; pengamalan agama dikalangan Muhammadiyah sudah kering, danbahwa kalangan Muhammadiyahmengabaikan dzikir dan tak punya dimensitasawuf serta masih banyak lagi.Terhadap kritik-kritik tersebut, tampillah KHAhmad Azhar Basyir di garis depanmemberikan penjelasan. Ulama yang kalaitu menjabat sebagai Ketua UmumMuhammadiyah itu menegaskan, padadasarnya Muhammadiyah tetap menjadiorganisasi pembaru, organisasi tajdid(reformasi) dalam Islam di Indonesia.Dia berpendapat, tajdid setidaknya memilikitiga dimensi. Pertama, dimensi akidah.Dalam hal ini, semua persoalan harusdikembalikan kepada ajaran Alquran danhadis. Akidah sifatnya absolut, tetapi dalamperkembangan sejarah ia mengalamiperkembangan yang tak jarangmenimbulkan perbedaan pendapat.Akibatnya ada pikiran yang terlalu jauh,sebagaimana juga ada golongan yang'memudahkan pengertian.' Oleh karenanyadiperlukan tajdid di bidang akidah.Kedua, dimensi ibadah mahdah atau ibadahmurni. Di sini, perbedaan pendapat punharus dikembalikan pada Alquran dan hadis,karena dalam bidang ini juga terjadiperkembangan sebagaimana terjadi padabidang akidah. Ketiga, dimensi muamalat.Terkait hal ini diperlukan pengembanganpemikiran sesuai dengan perkembanganmasyarakat, sebab di dalam Alquran danhadis persoalan muamalat berupa kaidah-kaidah umum. Tajdid dalam hal inimempunyai makna dinamis.Berkenaan dengan dimensi tasawuf dalamMuhammadiyah, Azhar Basyir menyatakanbahwa Muhammadiyah juga menganuttasawuf, seperti yang ditulis Buya Hamkadalam buku
Tasauf Modern
. Menurutnya,orang dapat saja melakukan kegiatan yangberorientasi dunia tanpa meninggalkandzikir. Demikianlah ketegasan tokoh inidalam menetapkan garis kebijakanMuhammadiyah. KH Ahmad Azhar memangkemudian dikenal sebagai ulama yangbanyak menguasai ilmu agama,
low profile
,serta ibarat sumur yang tidak pernah habisditimba.KH Ahmad Azhar dilahirkan di Yogyakartatanggal 21 Nopember 1928. Dia dibesarkandi lingkungan masyarakat yang kuatberpegang pada nilai agama yakni diKauman. Ayahnya bernama HM Basyir danibunya Siti Djilalah. Pendidikan formalnyadimulai pada Sekolah RendahMuhammadiyah di Suronatan, Yogyakarta.Setelah tamat pendidikan tingkat dasatahun 1940, diapun
nyantri 
di MadrasahSalafiyah, Ponpes Salafiyah Tremas,Pacitan, Jawa Timur.Setahun kemudian dia pindah ke Madrasahal-Fallah di Kauman hingga tahun 1944 kalamenyelesaikan pendidikan tingkatmenengah pertamanya. Pendidikan lanjutankemudian ditempuhnya di MadrasahMubalighin III (Tabligh School)Muhammadiyah Yogyakarta dan rampungselama dua tahun.Pada zaman revolusi, Azhar Basyibergabung dengan kesatuan TNI HizbullahBatalion 36 di Yogyakarta. Seusaikemerdekaan, dia pun kembali ke bangkusekolah dan masuk ke Madrasah MenengahTinggi Yogyakarta tahun 1949. Tamat tahun1952, lantas meneruskan ke PerguruanTinggi Agama Islam Negeri Yogyakarta.Beberapa saat kemudian dia mendapatbeasiswa untuk belajar di UniversitasBaghdad, Irak. Fakultas Adab JurusanSastra adalah bidang yang diambil. Dari sinidia melanjutkan studi ke Fakultas Dar al'Ulum Universitas Kairo serta belajar 
islamic studies
sampai meraih gelar master berkattesis
Nizam al-Miras fi Indunisia, Bain al-'Urf wa asy-Syari'ah al-Islamiyah
(SistemWarisan di Indonesia, antara Hukum Adatdan Hukum Islam).Tak hanya di bidang keilmuan, di lapanganorganisasi pun Ahmad Azhar aktif terlibat.Sejak duduk di sekolah menengah, dia telahbergiat di Majelis Tabligh Muhammadiyah.Karir berorganisasinya ini dimulai sebagai
1
 
 juru tulis yang tugasnya mengetik danmengantar surat.Lama kelamaan, karena kegigihan danditunjang kemampuan ilmu agamanya,Ahmad Azhar dipercaya menjadi ketuamuda Pemuda Muhammadiyah ketikalembaga ini baru didirikan tahun 1954.Jabatan ini dikukuhkan pada Muktamar Pemuda Muhammadiyah di Palembangtahun 1956. Namun tak lama jabatantersebut mesti diserahterimakan kepadaPimpinan Pusat Muhammadiyah berhubungdia harus kuliah di Baghdad dan Kairo.Kembali ke Tanah Air, dia diangkat sebagaidosen di Universitas Gadjah Mada (UGM).Sembari mengajar, Ahmad Azhar aktikembali di organisasi Muhammadiyah yangkali ini sudah di tingkat pimpinan pusat. Dialantas berkecimpung di lembaga MajelisTarjih Muhammadiyah (bidang penetapanhukum agama) dengan menjadi pimpinandari tahun 1985-1990.Tahun 1990 pula, pada MuktamaMuhammadiyah di Semarang, ulama inidiberi amanah untuk memimpinMuhammadiyah. Pada saat yang sama, diaduduk pada beberapa organisasi, antara lainsebagai salah seorang ketua Majelis UlamaIndonesia (MUI) Pusat masa bakti 1990-1995, anggota Dewan Pengawas SyariahBank Muamalat Indonesia, serta anggotaMPR-RI periode 1993-1998. Sementara ditingkat internasional ia menjadi anggotatetap Akademi Fikih Islam, OrganisasiKonferensi Islam (OKI).Pada usia 65 tahun, tokoh kharismatik inimulai memasuki masa pensiun dari kegiatanmengajar di Fakultas Filsafat UGM. Tetapi,dia tetap bertekad mengabdikan ilmunyadengan mengajar di Fakultas Hukum UGM,IAIN Sunan Kalijaga, dan UniversitasMuhammadiyah Yogyakarta.Di waktu senggangnya, Ahmad Azhar punyakegiatan lain yakni menulis buku. Beberapakaryanya antara lain
Hukum PerkawinanIslam, Garis Besar Ekonomi Islam, Hukum Adat di Indonesia, Prospek Hukum Islam di Indonesia
, dan masih banyak lagi. Disamping itu ada pula buku yang membahaspersoalan akhlak dan bidang lainnya.Saat memasuki musim haji tahun 1994,pemerintah menunjuknya selaku wakil
amirulhaj 
Indonesia. Setelah dari TanahSuci, dia kembali bekerja keras. Tak lama,tepatnya pada awal Juni 1994, ulama inimasuk rumah sakit karena komplikasipenyakit gula, radang usus dan jantung.Kondisinya kian memburuk. Dan padatanggal 28 Juni 1994, KH Ahmad AzhaBasyir meninggal dunia.
Ahmad Rasyid Sutan Mansur 
MengembangkanMuhammadiyah di Sumbar 
Muhammadiyah selama ini dikenal punyabasis yang kuat di Propinsi Sumatera Barat.Hal tersebut tidak bisa dilepaskan darikiprah salah seorang tokohnya yangbernama Ahmad Rasyid Sutan Mansur, atauyang lebih kondang dengan nama AR SutanMansur.Tokoh ini lahir di Maninjau, Sumatera Barat,15 Desember 1895. Di tempat kelahirannyaitu pula, Sutan Mansur pertama kalimemperoleh pendidikan agama meski masihsecara tradisional di dalam lingkungankeluarganya yang memang amat religius.Selain mendapatkan gemblengan agama,dia juga mendapatkan pendidikan formal.Adapun pendidikan formal didapat sejaktahun 1902 saat menimba ilmu di TweedeClass School (sekolah kelas dua), juga diManinjau, hingga tahun 1909.Kemudian atas rekomendasi dari
controlleur 
Maninjau, Sutan Mansur melanjutkanpendidikan ke Kweekschool (sekolah guru)di kota Bukitinggi. Akan tetapi karena sejakawal Sutan Mansur sudah berkeinginanbersekolah di Mesir, maka dia memutuskanuntuk belajar ilmu agama terlebih dahulukepada H Abdul Karim Amrullah, ayahandaBuya Hamka.Pada saat perkumpulan Sumatera Thawalibdibentuk pada Februari 1918 di PadangPanjang, oleh beberapa sejawat, SutanMansur sudah dipandang mampu berperansebagai guru. Oleh karenanya, SumateraThawalib langsung mengutusnya menjadiguru di Kuala Simpang, Aceh, selama duatahun.
Pindak ke Pulau Jawa
Tahun 1920, dia pindah ke Pekalongan
2
 
ketika cita-citanya untuk menempuhpendidikan di Mesir tidak tercapai. Namunkekecewaannya tidak berlangsung lama,sebab pada tahun 1922 Sutan Mansur bertemu dengan KH Ahmad Dahlan, pendiriMuhammadiyah. Tokoh kharismatik inidatang ke Pekalongan guna mengadakantabligh Muhammadiyah.Peristiwa tersebut ternyata mengubahperjalanan hidupnya kemudian. Dia begituterkesan dengan kefasihan KH AhmadDahlan dalam menjelaskan berbagaipersoalan agama. Kepribadiannya yanglembut, bersahaja, serta rendah hatisemakin menumbuhkan simpati dari banyakorang, termasuk dirinya.Dari ulama itulah, Sutan Mansur banyakmenimba pengetahuan mengenaiMuhammadiyah. Maka pada tahun yangsama, dia masuk menjadi anggotaorganisasi kemasyarakatan ini dan sekaligusberkenalan dengan sejumlah tokohMuhammadiyah semisal KH AR Fakhruddindan KH Mas Mansur. Dan kembali SutanMansur makin mengenal Islam tidak hanyadari aspek hukumnya, melainkan juga aspeksosial kemasyarakatan, dan ekonomi daridua tokoh tadi.Tahun 1923 dia menjadi guru serta mubalighMuhammadiyah. Muridnya terdiri daripelbagai kalangan, antara lain bangsawanJawa (R Ranuwihardjo, R Tjitrosoewarno,dan R Oesman Poedjooetomo), keturunanArab, serta orang Minang perantauan yangmenetap di Pekalongan dan sekitarnya. Duatahun kemudian dia kembali ke daerahkelahirannya sebagai mubalighMuhammadiyah untuk wilayah Sumatera.
Mengembangkan Muhammadiyah
Sejatinya, sebelum Sutan Mansur, pikiran-pikiran dari Muhammadiyah sudah lebih duludisebarluaskan oleh H Abdul KarimAmrullah, bahkan beberapa cabangMuhammadiyah sudah berdiri di Maninjaudan Padang Panjang. Dengan kata lain, HAbdul Karim Amrullah telah membuka jalanbagi Sutan Mansur untuk lebihmengembangkan Muhammadiyah diSumatera Barat. Dan penyebaran gerakanini justru semakin pesat setelah diamendapat dukungan dari tokoh-tokohmasyarakat setempat dan sejumlah alimulama 'kaum muda'.Di samping itu, selaku mubaligh tingkatpusat Muhammadiyah (1926-1929) diaditugaskan mengadakan tabligh keliling keMedan, Aceh, Kalimantan (Banjarmasin,Amuntai dan Kuala Kapuas), Mentawai sertabeberapa bagian Sumatera Tengah danSumatera Selatan. Aktivitasnya juga melatihpemuda-pemudi dalam lembaga KulliyatulMuballigin yang didirikannya untuk menjadikader Muhammadiyah.Adapun metode yang digunakan untuklatihan itu adalah
mujadalah
(kelompokdiskusi). Murid-muridnya antara lain DuskiSamad (adik kandungnya sendiri), AbdulMalik Ahmad (penulis tafsir Alquran), ZeinJambek, Marzuki Yatim (mantan Ketua KNISumatera Barat), Hamka, Fatimah Latif,Khadijah Idrus, Fatimah Jalil, dan Jawanis.Pada tahun 1930 diselenggarakan Kongreske-19 Muhammadiyah di Minangkabau.Salah satu keputusannya adalah perlunya jabatan konsul Muhammadiyah di setiapkaresidenan. Maka berdasarkan KonferensiDaerah di Payakumbuh tahun 1931,dipilihlah Sutan Mansur sebagai konsulMuhammadiyah untuk wilayah SumateraBarat hingga 1944. Kemudian atas usulkonsul Aceh, konsul-konsul seluruhSumatera setuju untuk mengangkat SutanMansur selaku imam MuhammadiyahSumatera.Ketika berlangsung KongresMuhammadiyah ke-32 di Purwokerto tahun1953, dia terpilih sebagai Ketua PusatPimpinan (PP) Muhammadiyah. Tiga tahunberikutnya yakni pada Kongres ke-33 diPalembang, dia terpilih kembali sebagaiketua PP Muhammadiyah. Lantas padakongres ke-35 tahun 1962 di Yogyakarta,Sutan Mansur diangkat sebagai PenasehatPP Muhammadiyah sampai 1980.Tercatat selama masa kepemimpinannyadua periode (1953-1959) dia berhasilmerumuskan
khittah
(garis perjuangan)Muhammadiyah. Antara lain mencakupusaha-usaha menanamkan danmempertebal jiwa tauhid, menyempurnakanibadah dengan khusyuk dan
tawadlu 
,mempertinggi akhlak, memperluas ilmupengetahuan, menggerakkan organisasidengan penuh tanggung jawab, memberikancontoh dan suri tauladan kepada umat,konsolidasi administrasi, mempertinggikualitas sumber daya manusia, sertamembentuk kader handal.Selain aktif di organisasi, dia pun dikenalsebagai penulis yang produktif. Buku-
3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->