Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
10Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Naskah Akademik & RUU Perumahan Dan Pemukiman

Naskah Akademik & RUU Perumahan Dan Pemukiman

Ratings: (0)|Views: 473 |Likes:

More info:

Published by: Urban Poor Consortium on Oct 19, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/11/2013

pdf

text

original

 
1
BAB IPENDAHULUAN1. Latar Belakang
Masalah perumahan adalah masalah yang kompleks, yang bukansemata-mata aspek fisik membangun rumah, tetapi terkait sektor yangamat luas dalam pengadaannya, seperti pertanahan, industri bahanbangunan, lingkungan hidup dan aspek sosial ekonomi budayamasyarakat, dalam upaya membangun aspek-aspek kehidupanmasyarakat yang harmonis. Oleh karena itu, pembangunan perumahansecara keseluruhan tidak dapat dilepaskan dari keseluruhanpembangunan permukiman dan bagian penting dalam membangunkehidupan masyarakat yang effisien dan produktif.Upaya pembangunan perumahan dan permukiman yang telahdilaksanakan selama ini, bersifat sangat sektoral dan hanya berupaproyek-proyek yang sifatnya parsial dan tidak berkelanjutan. Selain itu,upaya pembangunan perumahan yang dilakukan di daerah-daerah sangatterbatas sekali karena keterbatasan kemampuan sumber daya manusia,sumber pembiayaan maupun pengembangan pilihan-pilihan teknologi danupaya pemberdayaan masyarakat setempat yang kurang menjadiprogram utama.Pemenuhan kebutuhan rumah dari sudut
demand 
dan
supply 
 hanya terbatas pembiayaannya untuk bentuk-bentuk pasar formal bagigolongan menengah ke atas yang jumlahnya hanya mencapai maksimal20% dan terbatas sekali bentuk-bentuk kredit dan bantuan subsidi untukgolongan menengah ke bawah. Pemenuhan kebutuhan karenakekurangan jumlah rumah yang harus dipenuhi adalah sejumlah 8 jutarumah pada posisi tahun 2008 dan pertambahan akibat pertumbuhanpenduduk setiap tahun yang membutuhkan 800 ribu rumah. Sehingga,sekitar 80% kebutuhan rumah yang tidak dapat dipenuhi oleh pemerintah
 
2
dilakukan sendiri oleh masyarakat sesuai dengan kemamampuannya yang jauh dari mutu bangunan dan mutu lingkungan perumahan danpermukiman yang memadai. Oleh karena itu, bentuk-bentuk dan peranmasyarakat untuk pemenuhan kebutuhan perumahan dan permukimanperlu diberdayakan.Sebagai salah satu negara berkembang, Indonesia masihmenghadapi permasalahan besar dalam menatata perkembangan danpertumbuhan perumahan dan permukiman di kota-kotanya. Fenomenaperkembangan kota yang terlihat jelas adalah bahwa pertumbuhan kotayang pesat terkesan meluas terdesak oleh kebutuhan masyarakat,
1
 menjadi kurang serasi dan terkesan kurang terencana. Kehidupan kotabesar di Indonesia, semakin tidak nyaman akibat dari meningkatnyakepadatan penduduk, kurangnya wilayah hijau dan ruang-ruang terbuka,
2
 dan meningkatnya jumlah kendaraan bermotor dengan cepat.
1
Pada tahun 1980 penduduk perkotaan berjumlah sekitar 32,85 juta atau 22,27% dari jumlah penduduk nasional). Tahun 1990 jumlah penduduk perkotaan menjadi sekitar55,43 juta atau 30,9% dari jumlah penduduk nasional. Tahun 1995 jumlah pendudukperkotaan menjadi sekitar 71.88 juta atau 36,91% dari jumlah penduduk nasional).Tahun 2005 jumlah penduduk perkotaan diperkirakan mencapai hampir 110 juta orang,dengan pertumbuhan tahunan sekitar 3 juta orang. Sensus penduduk tahun 2000mencatat total jumlah penduduk adalah 206.264.595 jiwa(www.bps.go.id/sector/population/table1.shtml).Tingkat urbanisasi mencapai 40%(tahun 2000), dan diperkirakan akan menjadi 60% pada tahun 2025 (sekitar 160 jutaorang) (Bank Dunia, 2003). Laju pertumbuhan penduduk perkotaan pada kurun waktu1990-2000 tercatat setinggi 4,4%/tahun, sementara pertumbuhan pendudukkeseluruhan hanya 1,6%/tahun. Perkembangan kota-kota yang pesat ini disebabkanoleh perpindahan penduduk dari desa ke kota, perpindahan dari kota lain yang lebihkecil, pemekaran wilayah atau perubahan status desa menjadi kelurahan.
 
2
 
Singapura dan Kuala Lumpur yang semula kumuh dapat berubah menjadi kota yanglapang dan hijau, seiring dengan semakin meningkatnya kesejahteraan penduduknya.Demikian pula dengan Kota Guangzhow, sebuah kota tua yang semula amat padat dankumuh, telah berubah menjadi kota yang longgar dengan flat-flat tinggi lengkap dengansarana olah raga terbuka yang memadai. Investasi dibidang perumahan vertical diGuangzhow dirangsang oleh pemberian insentif pajak serta tariff listrik dan air minumyang lebih murah. Sarana olah raga, sekolah dan kebutuhan-kebutuhan hidup laintersedia, membuat biaya transportasi menjadi murah. Keterlambatan kitamensosialisasikan hunian vertikal—meski Undang-undang Tentang Rumah Susun,terbit terlebih dahulu di bandingkan dengan Undang-undang Tentang Perumahan danPermukiman—menyebabkan kota-kota besar lain di wilayah Indonesia berkembangmelebar, menjadi tidak effisien serta mengurangi daya dukung lingkungan secarasignifikan.
 
3
Sesungguhnya, sektor perumahan dan permukiman telah menjadisalah satu sektor penting dalam perekonomian nasional.
3
Peran pentingsektor perumahan dan permukiman dalam perekonomian nasional terkaitdengan efek
multiplier 
yang dapat diciptakan, baik terhadap penciptaanlapangan kerja maupun terhadap pendapatan nasional, yang ditimbulkanoleh setiap investasi yang dilakukan di sektor perumahan. Efek investasidi sektor perumahan atas penciptaan lapangan kerja di Indonesia adalahsetiap milyar rupiah yang diinvestasikan di bidang perumahan dapatmenghasilkan sekitar 105 orang-tahun pekerjaan secara langsung,sedangkan multiplier pekerjaan secara tidak langsung, 3,5 kali.Kebutuhan rumah selalu meningkat seiring dengan tingkatpertumbuhan penduduk. Jumlah keluarga yang belum memiliki rumah(
backlog)
masih cukup besar pada tahun 2003 saja diperkirakan sekitar 6 juta unit dengan dasar data BPS tahun 2000 adalah sebanyak 4,3 jutaunit. Pertumbuhan rumah bagi keluarga baru mencapai 800.000 unitpertahun. Namun demikian, karena sisi kemampuan ekonomi masyarakatmasih sangat terbatas, karena sekitar 70% rumah tangga perkotaanmasuk dalam kategori berpendapatan rendah dengan pendapatan kurangdari Rp.1,5 juta perbulan.Penyelenggaraan perumahan dan permukiman di Indonesia,sesungguhnya tidak terlepas dari dinamika yang berkembang di dalamkehidupan masyarakat, dan kebijakan pemerintah di dalam mengelolapersoalan perumahan dan permukiman. Fakta tersebut, dapat dilihat dariadanya kesenjangan pelayanan, karena terbatasnya peluang untuk
3
 
Perhatian terhadap sektor perumahan teleh dimulai sejak zaman pra kemerdekaan,karena pada tahun 1926 Pemerintah Hindia Belanda memprakarsai pendirianPerusahaan Pembangunan Perumahan Rakyat (N.V
Volkshuisvesting 
) di 13 kotaprajadan kabupaten dan dilakukan kegiatan penyuluhan perumahan rakyat dan perbaikankampung (
kampong verbetering 
) dalam rangka penanggulangan penyakit pes. Danpada tahun 1934 juga diterbitkan Peraturan Perumahan Pegawai Negeri Sipil(
Burgelijke Woning Regeling 
 / BWR)

Activity (10)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Uge Sugiyanto liked this
Edbert Capri liked this
Thiery Henry liked this
Ifa Zhank liked this
Zaini Adlan liked this
dwi mawan liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->