Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
13Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Problem Filsafat Jilid I

Problem Filsafat Jilid I

Ratings: (0)|Views: 725 |Likes:
Published by Anom Astika
Bulletin Problem Filsafat Jilid I
Bulletin Problem Filsafat Jilid I

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Anom Astika on Oct 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/03/2012

pdf

text

original

 
Problem Filsafat
No. 1 / Tahun I / November 2009
PROBLEM
FILSAFAT
Bulletin Komunitas MarxSTF DriyarkaraNo. 1 / 2009
 
Apa PerlunyaMembaca
Das Kapital?
 
Problem Filsafat
No. 1 / Tahun I / November 2009
Problem Filsafat
No. 1 / Tahun I / November 2009
Orasi Pembukaan Serial Diskusi Membaca Kapital
berderapnya anak zamanmenyongsong rebahnya kesadaraninlander 
oleh: I Gusti Anom Astika
Yang Terhormat, para calon peserta serialdiskusi
 Membaca Das Kapital,
kawankawan
Komunitas Marx
 ,
Komunitas Hegel
 ,dan Senat Mahasiswa Sekolah TinggiFilsafat Driyarkara,Yang Terhormat, para Pengajar danCivitas Akademik Sekolah Tinggi FilsafatDriyarkara,
Yang Terhormat, para pelajar lsafat di
seluruh Indonesia,Pertama-tama, saya ucapkanterima kasih yang sedalam-dalamnyakepada berbagai pihak yang telahmembantu dan mendukung segalapersiapan penyelenggaraan serial diskusiini. Baik kepada Pembantu Ketua III STFDriyarkara, Romo Setyo Wibowo yangtelah berperan banyak membimbingpersiapan penyelenggaran acara ini,maupun kepada kawan-kawan pengurusSenat Mahasiswa STF Driyarkarayang tak henti-hentinya memberikansaran perihal bagaimana seharusnyasebuah komunitas diskusi berperandi dalam kehidupan mahasiswa STFDriyarkara. Eksklusivitas di dalam halini merupakan isu penting sehubungandengan komposisi mahasiswa STF yang beragam asal usul dan latar belakang.Karenanya terdapat banyak upaya untukmelumerkan batas batas eksklusivitasdi dalam berbagai bidang kehidupanmasyarakat akademik, dan salah satunyaadalah melalui penyelenggaraan/pembentukan komunitas studi ilmiah.Sebagai bagian dari program SenatMahasiswa, seharusnya komunitasmemiliki kemampuan untuk menjaringpartisipasi baik dari berbagai komunitaskerohaniawanan, maupun darikalangan awam. Pada titik ini problemeksklusivitas dari sebuah komunitasdiskusi perlu dilihat secara kritis sebagaicara untuk mempererat persaudaraanmaupun sebagai cara untuk memperluas
pengetahuan lsafat. Mungkin karakter
eksklusif ini tampil mengedepan padakomunitas komunitas diskusi yangterdahulu. Kendati demikian, belumselalu eksklusivitas dapat dianggapsebagai problem dasar dari keberadaan
sebuah komunitas studi lsafat di tengah
ruang belajar yang dihuni oleh banyakorang dengan berbagai macam latar belakang. Bagi kami, eksklusivitas di sinilebih serupa bahasa lain dari problempergaulan di antara mereka yang beradadi dalam komunitas dan yang di luarkomunitas, walaupun problem pergaulanitu sendiri juga tak selalu dapat dianggapsebagai sebuah problem, dan lebihserupa fenomena sosial. Apa yangperlu dipikirkan lebih jauh adalah pada bagaimana membentuk sebuah komunitas
studi lsafat yang berkemampuan
mendorong para peserta komunitas untukmenghasilkan gagasan gagasan yangkreatif sebagai konsekuensi logis daridiskusi diskusi yang berlangsung di dalamkomunitas. Artinya kemudian, yang lebihpenting adalah bagaimana menciptakansebuah ruang bagi berlibatnya berbagaiindividu di dalam komunitas studi
lsafat, dan bagaimana ruang itu dapat
melahirkan kerja sama kerja sama ilmiahdi antara para mahasiswa STF Driyarkara.Boleh-bolehlah sekali waktu diskusi
Komunitas Marx
berlanjut di Lapo NiTondongta demi segelas bir dan dua porsi babi panggang agar lahir sebuah karyailmiah tentang pemikiran Karl Marx.Anggaplah itu seperti ujaran puitik SautSitompul, “Ada daun jatuh, Tulis. Ada bau babi panggang, Tulis. Tulis, tulis danTulis!”.Banyak juga yang beranggapan bahwa persoalan eksklusivitas ini berkaitdengan cara berbahasa dari mereka yang berada di dalam komunitas terhadapmereka yang baru mencoba berpartisipasidi dalam komunitas. Peristilahan yangtidak lazim, perbincangan yang berlarut-larut untuk topik yang tidak renyahdicerna oleh rata-rata mahasiswa STF boleh jadi berperan di dalam membentuk
eksklusitas itu. Lebih-lebih apabila wajah-
wajah dari mereka yang berbicara aktif didalam komunitas itu lebih memancarkankesuraman ketimbang pengharapan.“Pantaslah, sudah bahasanya aneh, yangdiomongin aneh, apalagi orang-orangnya:Autis!”, demikian kata seorang mahasiswiUI yang sekali waktu dua-tiga tahun laluhadir dalam sebuah diskusi komunitas.Anggapan itu belum selalu benar, lantarankami beranggapan bahwa “aneh” adalahsesuatu yang memang dan harus lekat pada
setiap insan pelajar lsafat, sebagaimana
manusia pada umumnya. Bukan dari“sana” nya aneh, tapi memutuskan untuk
 belajar lsafat di alam yang serba instan
dan serba butuh modal seperti sekarangini, sesungguhnya adalah ide yang
‘aneh’. “Buat apa belajar lsafat? Gak ada
untungnya!”, demikian kata ayah seorangmahasiswa STF. Adanya keanehan tidakselalu bermakna negatif, tetapi sungguhpositif ketika itu dilihat sebagai sikapkritis terhadap segala sesuatu yang penuhdengan tipuan optik, segala sesuatuyang tidak membebaskan manusia, dansebagainya. Toh keanehan-keanehanyang berlangsung di STF Driyarkara barusebatas gesture, diksi, dan bentuk bentukkebahasaan lainnya, dan belum serupaanak buah Noordin M Top yang harusmemasuki rumah lewat jendela lantaranmemasang bom pertahanan diri di pintumasuk rumahnya. Problemnya justrupada apa yang dapat dihasilkan darisegala keanehan itu sendiri. Apabila segala bentuk keanehan dari sebuah komunitasitu hanya menghasilkan orang orang yang banyak membaca buku, dan pandai bicara
lsafat tapi begitu sulit melahirkan karyakarya lsafat berdasarkan riset boleh jadi
ada tendensi anti sosial dalam komunitasitu. Boleh jadi juga komunitas itu, sepertikata Mbah Surip, sedang begitu sibukmenggendong dirinya sendiri, kemana-mana mendapatkan jalan buntu kreativitas.Entahlah, masih banyak kemungkinanyang lain. Yang jelas persoalannya bukanpada keanehan itu sendiri, tetapi lebihpada bagaimana keanehan itu berinteraksidengan lingkungan sosialnya. Jangan berharap lebih jauh akan keberadaansebuah komunitas, apabila publik STFsendiri lalu berpendapat seumpama dua bait terakhir sajak
Sia-Sia
Chairil Anwar ditahun 1943: “Ah ternyata hatimu yang takmemberi. Mampus kau dimakan sepi”.Eksklusivitas menjadi per-masalahan ketika eksklusivitas itu justru melahirkan erotisme perdebatanintelektual. Artinya bahwa problem-problem yang dibicarakan di dalam
 
Problem Filsafat
No. 1 / Tahun I / November 2009
Problem Filsafat
No. 1 / Tahun I / November 2009
sebuah perdebatan dapat dan hanyadapat diperbincangkan oleh mereka yang berlibat di dalam komunitas dan belumselalu dipikirkan perihal keterlibatanorang di luar komunitas sebagai bagiandari perdebatan. Oleh sebab perbincanganyang berlangsung di dalam komunitassudah sedemikian canggihnya, sehinggaorang di luar komunitas perlu berpikirdua kali dua puluh empat jam tanpaharus lapor RT untuk berlibat di dalamkomunitas. Oleh sebab, perdebatan yang berlangsung sudah demikian luas cakuppemahamannya; oleh sebab problem-problem di dalam perdebatan itu
dibicarakan dengan diksi losos yang
tak terurai segera penjelasan ataupunterjemahannya; langsung dalam waktusekejap keengganan menyapu semangatuntuk berlibat. Apa sebenarnya yangdiperdebatkan dan apa-apa saja yang
dibahasakan secara losos?
Pembentukan sebuah komunitaspada dasarnya tidaklah sama denganpembentukan perkumpulan suportersepakbola dan atau perkumpulanpemuja arwah gentayangan. Adanyasebuah komunitas di dalam lingkupmasyarakat akademik pun sudah pasti bukan perkumpulan pesta pora dan
orgy
. Melainkan berdasarkan kebutuhanmempelajari kekhususan pemikiran
seorang lsuf misalnya, dan boleh jadi
 juga sebuah ekskursus (studi banding) ke berbagai pemikiran tentang modernisme,misalnya. Pendek kata, di dalam prosespembentukan sebuah komunitas problem
pertama yang harus dawab adalah“persoalan apa di dalam lsafat yang
perlu dipelajari secara serius”. Apakah ituserupa pemikiran-pemikiran dari seorang
tokoh lsafat, ataukah itu isu-isu pentingdi dalam lsafat, seluruhnya dapat
dianggap sebagai awal dari pembentukansebuah komunitas. Problem kedua yang
perlu dawab adalah pada bagaimana
mempersiapkan proses belajar di dalamkomunitas. Bagi kami dari
Komunitas Marx
 dasar dari problem kedua ini lebih merujukpada pemikiran Marx tentang komunitassebagaimana yang dituangkannya dalam
Economic and Philosophical Manuscript
 , bahwa:“Dengan hakekat kemanusiaanyang menciptakan komunitassejati manusia, di sana manusiamenciptakan komunitas kemanusiaanmelalui aktivasi dari hakekatnya.Hakekat manusia adalah hakekatsosial yang bukan merupakankekuasaan abstrak umum terhadapindividu, tetapi hakekat dari setiapindividu, yang berkait denganaktivitas, kehidupan, pikirandan kesejahteraan dari individuitu sendiri... Manusia bukanlahabstraksi, tetapi sungguh individu-individu yang nyata, hidup dan unikdari hakekat (komunal) ini”.
1
Artinya, proses belajar ini perlumempertimbangkan kepentingan darisetiap individu untuk dapat berlibatdi dalam komunitas. Bukan sekedarmobilisasi rasa ingin tahu yang dapat
dadikan dasar untuk mempersiapkan
proses belajar, tetapi justru pemahaman
terhadap problem-problem lsafat dan
problem-problem realitas sosial yang
dapat direeksikan secara losos. Penting
karenanya memperhatikan bagaimana
Antonio Gramsci mendenisikan lsafat
sebagai sebuah materi pendidikan:“Konsepsi seseorang tentang duniaadalah tanggapan atas sejumlah
problem spesik tertentu yang
diletakkan oleh realitas, yang cukup
spesik dan ‘orisinal’ oleh karena
kemendesakan dari relevansinya”.
2
Beberapa alinea sebelumnya AntonioGramsci menulis dengan begitu lugas:“Adalah penting untukmenghancurkan prasangka meluas
 bahwa lsafat adalah sesuatu yanganeh dan sulit hanya karena lsafat
merupakan aktivitas intelektual yang
spesik yang secara sosial menjadi
kategori khusus kaum spesialis atau
para lsuf sistematik dan profesional.
Sudah saatnya ditunjukkan bahwa
semua orang adalah “lsuf” dengan
membuat batasan-batasan maupun
karakteristik ‘lsafat spontan’ yang
sesuai bagi semua orang”.
3
Arti pentingnya bukan pada bagaimana
Gramsci mendenisikan lsafat sebagai
sebuah konseptualisasi dunia, tetapi
 justru pada bagaimana melihat lsafat
sebagai sebuah upaya untuk memperluaspemahaman tentang dunia dengan melihat
 bahasa, kemasukakalan dan kebakan,
serta folklor sebagai bagian-bagiannya.Akan tetapi apa yang dikemukakanoleh Gramsci di muka agak bermasalah
lantaran terjadi pemisahan antara lsafatprofesional dan lsafat spontan, antararealitas yang dipahami oleh para lsuf
dengan realitas yang dipahami olehorang biasa. Ketika dua pemahamanterhadap realitas itu dipertemukan diranah praktis menjadi sulit untuk mencari
rumusan rumusan lososnya. Dalam
artian apabila pendidikan dibayangkansebagai sebuah proses pembentukan
pemikiran lsafat, dan oleh karenanya
perlu memperhitungkan keterkaitanantara teori dan praktek; pencerapanpengetahuan dan ketrampilan menulis
lalu bagaimana meletakkan lsafat dalamdimensi praksis? Lefebvre kemudian
menjawabnya sebagai berikut:“Praksis bagaimana pun dibentuknyatetap merupakan sesuatu yangterbuka: praksis selalu menunjukpada ranah kemungkinan. Secaradialektis, inilah tepatnya maknadari determinasi: yang negatifmengandung yang positif, menegasimasa lalu dalam makna yangmungkin, dan memanifestasikannyasebagai totalitas. Setiap praksismemiliki dua koordinat historis:yang pertama menujuk masa lalu,yang sudah dan sedang diselesaikan,sedang yang lain pada masa depanpada hal mana praksis menjaditerbuka dan memungkinkan untukdiciptakan.”
4
Pemaknaannya di sini lebih berkait dengan
lsafat sebagai sebuah media pendidikan,
sebagai sarana yang terus mendoronglahirnya pemaknaan pemaknaan baruterhadap pengalaman-pengalamanhidup manusia. Bahasa memang selalu
mengandung nilai losos, tetapi barumemiliki penjelasan losos ketika
dihubungkan dengan aktivitas manusia
yang lain. Adanya lsafat bukan oleh
karena kebiasaan membaca buku, dan berdiskusi sepanjang hari demi lahirnya
gagasan-gagasan losos. Melainkan ia
lahir melalui riset, melalui penyelidikanterhadap berbagai macam problem
lsafat, baik yang sudah ditulis oleh paralsuf maupun terhadap problem-problem
kongkret. Artinya kebutuhan untuk
mempelajari lsafat di sini tidak hanya
didasarkan pada ketertarikan terhadap
problem problem lsafat, tetapi juga
tujuan maupun kepentingan individu
di dalam mempelajari lsafat. Apakah
itu untuk menempa kemahirannya di
dalam menelisik gagasan losos di balik
fenomena realitas sosial, ataukah itu untukmerancang sebuah direktori pemikirandari perspektif Marxis, seluruhnya cobadiwadahi dalam proses diskusi dalamrangka praksis ini. Menarik jika kemudiankita memperhatikan perkembangan yangpaling belakangan dalam studi studi
lsafat dari garis Marxian, yang kini sudah
mencakup bidang bidang kehidupan
yang spesik seperti problem emansipasi
kaum peranakan sebagaimana yangdiadvokasi oleh Cornel West, problem

Activity (13)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Anggar Septiadi liked this
Anchu Uj liked this
Fuad Nawawi liked this
Pun Auf liked this
Pun Auf liked this
Diens Filqolby liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->