Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
50Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
ISLAM ≠ DEMOKRASI

ISLAM ≠ DEMOKRASI

Ratings:

4.85

(13)
|Views: 29,226|Likes:
Published by A Khudori Soleh
prinsip-prinsip demokrasi pada dasarnya memang dapat di terima dan tidak bertentangan dengan Islam, tetapi hal itu bukan berarti Islam identik dengan demokrasi. Sebab, sebagai sebuah agama, Islam mengandung banyak norma dan aturan yang tidak sekedar seperti yang ada dalam prinsip demokrasi. Karena itu, membandingkan Islam dengan demokrasi, apalagi menyamakannya, sesungguhnya juga merupakan sesuatu yang tidak pada tempatnya
prinsip-prinsip demokrasi pada dasarnya memang dapat di terima dan tidak bertentangan dengan Islam, tetapi hal itu bukan berarti Islam identik dengan demokrasi. Sebab, sebagai sebuah agama, Islam mengandung banyak norma dan aturan yang tidak sekedar seperti yang ada dalam prinsip demokrasi. Karena itu, membandingkan Islam dengan demokrasi, apalagi menyamakannya, sesungguhnya juga merupakan sesuatu yang tidak pada tempatnya

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: A Khudori Soleh on Jul 18, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2014

 
DEMOKRASI ≠ ISLAM
Oleh: A. Khudori Soleh
Abstrac
Not few Moslem thinkers have tried to compare betweenIslam and democracy, to show that Islam is a religion which isaccepted in the modern society. It is not wrong, since theprinciple struggled in the democracy: equality, freedom andpluralism, are known and also striven in Islam. However, what isforgotten mostly is the fact that Islam is not just a governmentsystem, an effort to get the power or universal humanity values.Islam is a religion dealing with the belief and contains many rulesand norms as well. In the case, Islam consists of not only valuesbut also relues which might be different from values withindemocracy principles, for instance those about syura, imamah,gender and dzimmi. Therefore, comparing Islam to democracy is not fullycorrect. Moreover, if it relates to the power system, because, infact, Islam daes not talk about power. Islam contains not onlynorms or principles such as those democracy, but also otherprinciples whish can be in contrary with in. Therefore, it will be wise to say that democracy principlesdo really equal to Islam but both of them are still different. Islamis still a religion although some of its instructed points are similarwith democracy. Islam is not identical to democracy.Demokrasi telah menjadi isu penting kehidupanmasyarakat modern saat ini. Hampir tidak ada satupun negera didunia yang tidak merespon ide-ide ini, bahkan oleh pemerintahpaling korup dan tiran sekalipun, sehingga muncul istilah-istilahseperti “Demokrasi Liberal”, “Demokrasi Terpimpin”, “DemokrasiPancasila”, “Demokrasi Kerakyatan”, “Demokrasi Sosialis”, danseterusnya demi memberi ciri kepada rezim dan aspirasimereka.
1
Kenyataan tersebut tidak mengecualikan pada masyarakatIslam. Di dorong oleh keinginan untuk menghadirkan Islamsebagai ideologi modern dan sistem pemerintahan yang
1
 
The Encyclopeidia Americana
, vol 8, (Dunbury, Concectit: Grolier Incorporated, 1984),684
 
Khudori/Demokrasi/7/17/2008
progresif, para ilmuan dan penulis muslim telah menafsirkankembali teori politik dan yuridis Islam dalam istilah-istilahdemokrasi. Paham-paham seperti “pengakuan akan otoritas(
bai`ah
), musyawarah (
syura
), dan konsensus (
ijma
)”,“kesejajaran manusia di hadapan Tuhan tanpa perbedaan ras,warna kulit dan etnis”, “kebebasan berkepercayaan dan berpikirbaik muslim maupun non-muslim”, dan sejenisnya secara luasdiajukan. Semua dinyatakan untuk membuktikan watak Islamyang humanistik dan demokratis dalam konstitusi politik dankehidupan sosialnya.
2
Namun, yang patut disayangkan, bahwa hanya karenaterlalu ingin mempertontonkan kehebatan Islam dan watakdemokratisnya yang asli dalam percaturan pemikiran politikmodern, sebagian penulis muslim kontemporer justru terjebakpada sesuatu yang merugikan. Secara tidak kritis, mereka justrumerendahkan atau mengerdilkan makna ajaran agamanya ketikamengidentikkan Islam secara
vis a vis
dengan demokrasi, ataumenerima ide-ide demokrasi secara
taken for granted
sebagaisistem pemerintahan yang
shâlih likulli zamân wa makân
. Tulisan ini melihat pilar-pilar pokok demokrasi dan nilai-nilaiIslam yang dianggap identik dengannya, dan melihat nilai-nilailain dalam Islam yang sering diabaikan yang tidak sama dengankonsep demokrasi, di samping mencoba mempertanyakankeabsahan dari upaya membandingkan Islam disatu sisi dengandemokrasi disisi lainnya.
Perbandingan Yang di Pertanyakan
Membandingkan sesuatu dengan lainnya bisa dilakukan jika hal tersebut memang mempunyai persamaan danperbedaan. Begitu pula dalam aspek pemikiran, bisadikomparasikan jika masing-masing sama-sama membicarakansatu objek yang sama. Jika salah satunya tidak membicarakanobjek yang dikaji, maka komparasi hanya sesuatu yangmengada-ada.Dalam kaitan ini, menurut Sidney Hook, demokrasi adalahsuatu bentuk pemerintahan di mana keputusan-keputusanpemerintah yang penting secara langsung atau tidak langsungdidasarkan atas kesepakatan mayoritas yang diberikan secarabebas dari rakyat dewasa.
3
Artinya, demokrasi merupakanbentuk dan sistem pemerintahan tertentu. Masalahnya, jika
2
MD Al-Rayes,
 Al-Nazhâriyat al-Siyâsiyat fî al-Islâm
, (Kairo, Anglo Egyption Bookshop,1957), 302-310; Hamid al-Jamal,
 Adhwa` Ala al-Dimuqrathiyah al-Arâbiyah
, (Kairo, Maktabahal-Misriyah, 1960), 24-40; Abbas M. Aqqad,
 Al-Dimuqarathiyah fi al-Islâm,
(Kairo, Dar al-Ma`arif, tt), 43
2
 
Khudori/Demokrasi/7/17/2008
demokrasi dalam pengertian ini dibandingkan atau dihadapkandengan Islam seperti yang banyak dilakukan para pakar muslim,apakah Islam juga berbicara tentang sistem atau bentukpemerintahan? Inilah yang akan dilihat dalam sub-bahasan ini.Sebagaimana dikatakan Masykuri Abdillah,
4
sesungguhnya,tidak ada aturan yang jelas dalam al-Qur’an maupun hadis yangmenyebutkan bentuk dan sistem negara yang harus dijalankanmasyarakat muslim. Begitu pula, tidak ada aturan bagaimanamekanisme kekuasaan yang ada, apakah mesti ada pemisahan(
separation of power 
), pembagian (
distribution of power 
) ataupenyatuan kekuasaan (
integration of power 
) antara kekuasaanlegislatif, eksekutif dan yudikatif. Pada masa Rasul, semuakekuasaan, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif beradaditangan Rasul. Namun, saat itu Rasul lebih bertindak sebagaiseorang nabi, pemimpin keagamaan (rasul) daripada pemimpinpemerintahan, meskipun dalam beberapa kasus melaksanakantugas-tugas sebagaimana tugas seorang kepala negara, sepertimenyatakan perang, meneliti kegiatan pasar (ekonomi) danlainnya. Sebab, semua yang dilakukan Rasul lebih untukmelaksanakan dan melindungi eksistensi risalah dan agama yangdibawanya daripada untuk mempertahankan kekuasaannya.Menurut al-Jabiri, persoalan politik dalam Islam barudimulai saat ada pertemuan antara kaum Anshar denganMuhajirin di Saqifah Bani Saidah, setelah wafat Rasul, untukmenentukan khalifah.
5
Pertemuan ini di anggap sebagai rujukanutama (
ithar marji`i ra’isi
) bagi umat Islam --khususnya kaumSunni-- dalam membangun sistem khilafah dan perilaku politikmuslim. Namun, dalam pertemuan yang menghasilkankeputusan yang mengangkat Abu Bakar sebagai khalifahpengganti Rasul, sampai sejauh itu, belum memberikangambaran yang jelas tentang sistem dan bentuk negara. Sebab,persoalan politik umat Islam saat itu dibatasi pada figur yangakan menjadi penguasa bagi kaum muslimin dan bukan padanegara sebagai sebuah intuisi dan sistem.
6
3
Sidney Hook, “Democracy” dalam
 Encyclopedia Americana
, vol. 8, (Danbury,Concectit: Grolier Incorporated, 1984), 683
4
Masykuri Abdillah, “Gagasan & Trandisi Berneggara dalam Islam: Sebuah Perspektif Sejarah dan Demokrasi Modern” dalam jurnal
Tashwirul Afkar 
, no. 7, (Jakarta, tahun 2000), 98
5
Uraian lengkap tentang jalannya pertemuan di Saqifah ini, lihat Hashem,
Saqifah Awal  Persleisihan Umat 
, (Bandar Lampung, YAPI, 1989)
6
M. Abid Al-Jabiri,
Wijhah al-Nazhr Nahw `I`adah Bina’ Qadlaya al-Fikr al-Arâbi al-Mu`ashir 
, (Beirut, Markaz Tsaqafi al-Arabi, 1992), 84. Uraian lengkap tentang proses sejarahkemunculan konsep-konsep yang berkaitan dengan nalar politik Arab, lihat Jabiri,
al-Aql al-Siyasial-Arâbi: Muhaddidah wa Tajalliyatuh
, (Beirut, Markaz al-Wihdah al-Arabiyah, 1992)
3

Activity (50)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Ryanda Kaleh liked this
Mafruhin Miski liked this
arifhasibuan liked this
Boby Chaini liked this
Hikari Soraya liked this
Sri Rezqi Utami liked this
armanpkn liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->