Khudori/Demokrasi/7/17/2008
demokrasi dalam pengertian ini dibandingkan atau dihadapkandengan Islam seperti yang banyak dilakukan para pakar muslim,apakah Islam juga berbicara tentang sistem atau bentukpemerintahan? Inilah yang akan dilihat dalam sub-bahasan ini.Sebagaimana dikatakan Masykuri Abdillah,
sesungguhnya,tidak ada aturan yang jelas dalam al-Qur’an maupun hadis yangmenyebutkan bentuk dan sistem negara yang harus dijalankanmasyarakat muslim. Begitu pula, tidak ada aturan bagaimanamekanisme kekuasaan yang ada, apakah mesti ada pemisahan(
separation of power
), pembagian (
distribution of power
) ataupenyatuan kekuasaan (
integration of power
) antara kekuasaanlegislatif, eksekutif dan yudikatif. Pada masa Rasul, semuakekuasaan, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif beradaditangan Rasul. Namun, saat itu Rasul lebih bertindak sebagaiseorang nabi, pemimpin keagamaan (rasul) daripada pemimpinpemerintahan, meskipun dalam beberapa kasus melaksanakantugas-tugas sebagaimana tugas seorang kepala negara, sepertimenyatakan perang, meneliti kegiatan pasar (ekonomi) danlainnya. Sebab, semua yang dilakukan Rasul lebih untukmelaksanakan dan melindungi eksistensi risalah dan agama yangdibawanya daripada untuk mempertahankan kekuasaannya.Menurut al-Jabiri, persoalan politik dalam Islam barudimulai saat ada pertemuan antara kaum Anshar denganMuhajirin di Saqifah Bani Saidah, setelah wafat Rasul, untukmenentukan khalifah.
Pertemuan ini di anggap sebagai rujukanutama (
ithar marji`i ra’isi
) bagi umat Islam --khususnya kaumSunni-- dalam membangun sistem khilafah dan perilaku politikmuslim. Namun, dalam pertemuan yang menghasilkankeputusan yang mengangkat Abu Bakar sebagai khalifahpengganti Rasul, sampai sejauh itu, belum memberikangambaran yang jelas tentang sistem dan bentuk negara. Sebab,persoalan politik umat Islam saat itu dibatasi pada figur yangakan menjadi penguasa bagi kaum muslimin dan bukan padanegara sebagai sebuah intuisi dan sistem.
3
Sidney Hook, “Democracy” dalam
Encyclopedia Americana
, vol. 8, (Danbury,Concectit: Grolier Incorporated, 1984), 683
4
Masykuri Abdillah, “Gagasan & Trandisi Berneggara dalam Islam: Sebuah Perspektif Sejarah dan Demokrasi Modern” dalam jurnal
Tashwirul Afkar
, no. 7, (Jakarta, tahun 2000), 98
5
Uraian lengkap tentang jalannya pertemuan di Saqifah ini, lihat Hashem,
Saqifah Awal Persleisihan Umat
, (Bandar Lampung, YAPI, 1989)
6
M. Abid Al-Jabiri,
Wijhah al-Nazhr Nahw `I`adah Bina’ Qadlaya al-Fikr al-Arâbi al-Mu`ashir
, (Beirut, Markaz Tsaqafi al-Arabi, 1992), 84. Uraian lengkap tentang proses sejarahkemunculan konsep-konsep yang berkaitan dengan nalar politik Arab, lihat Jabiri,
al-Aql al-Siyasial-Arâbi: Muhaddidah wa Tajalliyatuh
, (Beirut, Markaz al-Wihdah al-Arabiyah, 1992)
3