Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
7Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
snouck hurgronje

snouck hurgronje

Ratings: (0)|Views: 271 |Likes:
Published by beMuslim

More info:

Published by: beMuslim on Jul 18, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/01/2013

pdf

text

original

Kejahatan Christian terhadap Islam dan Aceh
Kamis, 24 Mei 2007
Orientalis Kristen kelahiran Oosterhout ini tak percaya Tuhan. Tapi ia dijunjung
sebagai pahlawan oleh Belanda atas keberhasilan memecah-belah ulama
Hidayatullah.com\u2014Nama lengkapnya, Christian Snouck Hurgronje, lahir di pada 8

Februari 1857 di Tholen, Oosterhout, Belanda. Seperti ayah, kakek, dan kakek buyutnya yang betah menjadi pendeta Protestan, Snouck pun sedari kecil sudah diarahkan pada bidang teologi.

Tamat sekolah menengah, dia melanjutkan ke Universitas Leiden untuk mata kuliah Ilmu
Teologi dan Sastra Arab, 1875. Lima tahun kemudian, dia tamat dengan predikatcum
laude dengan disertasi Het Mekaansche Feest (Perayaan di Mekah).

Tak cukup bangga dengan kemampuan bahasa Arab-nya, Snouck kemudian melanjutkan
pendidiklan ke Mekah, 1884. Di Mekah, keramahannya membuat para ulama tak segan
membimbingnya. Dan untuk kian merebut hati ulama Mekah, Snouck memeluk Islam dan
berganti nama menjadi Abdul Ghaffar.

Snouck Hurgronje adalah sosok kontroversial khususnya bagi kaum Muslimin Indonesia,
terutama kaum muslimin Aceh. Bagi penjajah Belanda, dia adalah pahlawan yang berhasil
memetakan struktur perlawanan rakyat Aceh. Bagi kaum orientalis, dia sarjana yang
berhasil. Tapi bagi rakyat Aceh, dia adalah pengkhianat tanpa tanding.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan peran Snouck sebagai orientalis ternyata hanya
kedok untuk menyusup dalam kekuatan rakyat Aceh. Dia dinilai memanipulasi tugas
keilmuan untuk kepentingan politik.

Seorang peneliti Belanda kontemporer Koningsveld, menjelaskan bahwa realitas budaya di
negerinya membawa pengaruh besar terhadap kejiwaan dan sikap Snouck para
perkembanagan selanjutnya.

Snouck berpendapat bahwa Al-Quran bukanlah wahyu dari Allah, melainkan adalah karya
Muhammad yang mengandung ajaran agama. Pada saat itu, para ahli perbandingan
agama dan ahli perbandingan sejarah sangat dipengaruhi oleh teori "Evolusi" Darwin. Hal
ini membawa konsekuensi khusus dalam teori peradaban di kalangan cendikiawan Barat,
bahwa peradaban Eropa dan Kristen adalah puncak peradaban dunia.

Sementara, Islam yang datang belakangan, menurut mereka, adalah upaya untuk
memutus perkembangan peradaban ini. Bagi kalangan Nasrani, kenyataan ini dianggap
hukuman atas dosa-dosa mereka. Ringkasnya, agama dan peradaban Eropa adalah lebih
tinggi dan lebih baik dibanding agama dan peradaban Timur. Teori peradaban ini
berpengaruh besar terhadap sikap dan pemikiran Snouck selanjutnya.

Pada tahun 1876, saat menjadi mahasiswa di Leiden, Snouck pernah mengatakan, "Adalah
kewajiban kita untuk membantu penduduk negeri jajahan -maksudnya warga Muslim
Indonesia- agar terbebas dari Islam". Sejak itu, sikap dan pandangan Snouck terhadap
Islam tidak pernah berubah.

Snouck pernah mengajar di Institut Leiden dan Delf, yaitu lembaga yang memberikan pelatihan bagi warga Belanda sebelum ditugaskan di Indonesia. Saat itu, Snouck belum pernah datang ke Indonesia, namun ia mulai aktif dalam masalah-masalah penjajahan Belanda.

Pada saat yang sama perang Aceh mulai bergolak. Saat tinggal di Jedah, ia berkenalan
dengan dua orang Indonesia yaitu Raden Abu Bakar Jayadiningrat dan Haji Hasan
Musthafa. Dari keduanya Snouck belajar bahasa Melayu dan mulai bergaul dengan para
haji jemaah Dari Indonesia untuk mendapatkan informasi yang ia butuhkan.

Pada saat itu pula, ia menyatakan ke-Islam-annya dan mengucapkan Syahadat di depan
khalayak dengan memakai nama "Abdul Ghaffar."

Seorang Indonesia berkirim surat kepada Snouck yang isinya menyebutkan "Karena Anda telah menyatakan masuk Islam di hadapan orang banyak, dan ulama- ulama Mekah telah mengakui ke-Islaman Anda". Seluruh aktivitas Snouck selama di Saudi ini tercatat dalam dokumen-dokumen di Universitas Leiden, Belanda.

Snouck menetap di Mekah selama enam bulan dan disambut hangat oleh seorang 'Ulama
besar Mekah, yaitu Waliyul Hijaz. Ia lalu kembali ke negaranya pada tahun 1885. Selama
di Saudi Snouck memperoleh data-data penting dan strategis bagi kepentingan
pemerintah penjajah. Informasi itu ia dapatkan dengan mudah karena tokoh-tokoh
Indonesia yang ada di sana sudah menganggapnya sebagai saudara seagama.

Kesempatan ini digunakan oleh Snouck untuk memperkuat hubungan dengan tokoh-tokoh
yang berasal dari Aceh yang menetap di negeri Hijaz saat itu. Snouck kemudian
menawarkan diri pada pemerintah penjajah Belanda untuk ditugaskan di Aceh. Saat itu
perang Aceh dan Belanda mulai berkecamuk. Snouck masih terus melakukan surat
menyurat dengan 'Ulama asal Aceh di Mekah. Snouck tiba di Jakarta pada tahun 1889.
Jendral Benaker Hourdec menyiapkan asisten-asisten untuk menjadi pembantunya.
Seorang di antaranya adalah warga keturunan Arab Pekojan, yaitu Sayyid Utsman Yahya
Ibn Aqil al Alawi. Ia adalah penasehat pemerintah Belanda dalam urusan Islam dan kaum
Muslim atau asisten honorair.

Dalam buku \u201dAl-Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa\u201d, Utsman bin Abdullah Al-\u2019Alawi dikenal
seorang pengabdi Pemerintah Kolonial Belanda yang amat setia. Untuk kesetiaannya yang
luarbiasa itu, ia dianugerahi \u201cBintang Salib Singa Belanda\u201d tanggal 5 Desember 1899
tanpa upacara resmi. Ia bahkan pernah mengarang khotbah jum\u2019at yang mengandung do\u2019a
dalam bahasa Arab untuk kesejahteraan Ratu Belanda Wilhelmina. Khotbah dan do\u2019a itu
kemudian dikenal di kalangan umat Islam sebagai \u201cKhotbah Penjilat\u201d\u2026.

Dalam upaya memadamkan pemberontakan Islam, Sayyid Utsman Al-\u2019Alawi ini dikenal
pula dengan fatwanya yang menyatakan bahwa jihad itu bukanlah perang melawan orang
kafir, melainkan perang melawan nafsu-nafsu jahat yang bersarang pada diri pribadi
setiap orang. Selain Al-\u2019Alawi, Snouck juga dibantu sahabat lamanya ketika di Mekah,
Haji Hasan Musthafa yang diberi posisi sebagai penasehat untuk wilayah Jawa Barat.
Snouck sendiri memegang jabatan sebagai penasehat resmi pemerintah penjajah Belanda
dalam bidang bahasa Timur dan Fiqh Islam. Jabatan ini masih dipegangnya hingga setelah

kembali ke Belanda pada tahun 1906.
Pembersihan Aceh

Misi utama Snouck adalah "membersihkan" Aceh. Setelah melakukan studi mendalam
tentang semua yang terkait dengan masyarakat ini, Snouck menulis laporan panjang yang
berjudul kejahatan-kejahatan Aceh. Laporan ini kemudian jadi acuan dan dasar kebijakan
politik dan militer Belanda dalam menghadapai masalah Aceh.

Pada bagian pertama, Snouck menjelaskan tentang kultur masyarakat Aceh, peran Islam,
'Ulama, dan peran tokoh pimpinannya. Ia menegaskan pada bagian ini, bahwa yang
berada di belakang perang dahsyat Aceh dengan Belanda adalah para 'Ulama.

Sedangkan tokoh-tokoh formalnya bisa diajak damai dan dijadikan sekutu, karena mereka
hanya memikirkan bisnisnya. Snouck menegaskan bahwa Islam harus dianggap sebagai
faktor negatif, karena dialah yang menimbulkan semangat fanatisme agama di kalangan
muslimin. Pada saat yang sarna, Islam membangkitkan rasa kebencian dan permusuhan
rakyat Aceh terhadap Belanda. Jika dimungkinkan "pembersihan" 'Ulama dari tengah
masyarakat, maka Islam takkan lagi punya kekuatan di Aceh. Setelah itu, para tokoh-tokoh
adat bisa menguasai dengan mudah.

Bagian kedua laporan ini adalah usulan strategis soal militer. Snouck mengusulkan
dilakukannya operasi militer di desa-desa di Aceh untuk melumpuhkan perlawanan rakyat
yang menjadi sumber kekuatan 'Ulama. Bila ini berhasil, terbuka peluang untuk
membangun kerjasama dengan pemimpin lokal. Perlu disebut di sini, bahwa Snouck
didukung oleh jaringan intelijen mata-mata dari kalangan pribumi.

Cara yang ditempuh sama dengan yang dilakukannya di Saudi dulu, yaitu membangun
hubungan dan melakukan kontak dengan warga setempat untuk mendapatkan informasi
yang dibutuhkan. Orang-orang yang membantunya berasumsi bahwa Snouck adalah
seorang saudara semuslim. Dalam suatu korespondensinya dengan 'Ulama Jawa, Snouck
menerima surat yang bertuliskan "Wahai Fadhilah Syekh AIlamah Maulana Abdul
Ghaffar, sang mufti negeri Jawa. "

Lebih aneh lagi, Snouck menikah dengan putri seorang kepala daerah Ciamis, Jawa Barat pada tahun 1890. dari pernikahan ini ia peroleh empat anak: Salamah, 'Umar, Aminah dan Ibrahim. Akhir abad 19 ia menikah lagi dengan Siti Sadijah, putri khalifah Apo, seorang 'Ulama besar di Bandung. Anak dari pernikahan ini bernama Raden Yusuf.

Snouck juga melakukan surat menyurat dengan gurunya Theodor N\u00f6ldeke, seorang
orientalis Jerman terkenal. Sekedar catatan, N\u00f6ldeke adalah orientalis dan pakar
Kearaban dari Jerman. Tahun 1860 aia menerbitkan bukunya, Geschichte des Qurans
(Sejarah al-Quran). Karyanya ini dikembangkan bersama Schwally, Bergstr\u00e4sser, dan Otto
Pretzl, dan ditulis selama 68 tahun sejak edisi pertama.

Sampai saat ini, Geschichte des Qorans menjadi karya standar bagi para orientalis
khususnya dalam sejarah kritis penyusunan Al-Quran. Musthafa A\u2019zhami, dalam bukunya,
The History of The Qur\u2019anic Text, mengutip satu artikel di Encyclopedia Britannica (1891),
dimana N\u00f6ldeke menyebutkan banyaknya kekeliruan dalam Al-Quran karena, kata

Activity (7)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Aramsul liked this
Aramsul liked this
Dewi Setya liked this
ibrahimgakcakep liked this
Bang Asn Awi Hmt liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->