Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pernyataan Pers Menlu RI Tahunan (2003)

Pernyataan Pers Menlu RI Tahunan (2003)

Ratings: (0)|Views: 211 |Likes:
Published by Ryan Ananta

More info:

Published by: Ryan Ananta on Oct 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF or read online from Scribd
See more
See less

11/07/2012

pdf

 
 
KEDUTAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA
EMBASSY OF THE REPUBLIC OF INDONESIA8 Darwin Avenue, Yarralumla, Canberra, A.C.T. 2600AUSTRALIA
 
PERNYATAAN PERS MENTERI LUAR NEGERI RIREFLEKSI TAHUN 2002 DAN PROYEKSI TAHUN 2003Jakarta, 8 Januari 2003
 
I. TINJAUAN UMUM1. Dinamika hubungan internasional pada tahun 2002 diwarnai berbagai gejolak dalam agenda-agendapolitik, keamanan dan ekonomi global, yang juga diperkirakan masih akan terus berkembang dan tidakmudah untuk diprediksikan pada tahun 2003. Perkembangan situasi konflik di berbagai belahan dunia,seperti masalah Palestina, Irak, dan Semenanjung Korea, masih tetap menghadirkan tantangan yangberat bagi upaya memelihara perdamaian dan keamanan internasional. Sementara itu, terorisme telahmenjadi isu internasional yang paling menonjol sepanjang tahun 2002; menambahi isu-isu internasionalpenting lainnya seperti masalah tenaga kerja, lingkungan, HAM, dan liberalisasi perdagangan.
 
2. Dampak dan imbas peristiwa 11 September 2001 di New York dan Washington D.C. pada berbagaibidang kehidupan masyarakat dunia terus bergulir sepanjang tahun 2002 dan masih akan terus bergulir pada tahun 2003. Peristiwa itu sebelumnya tidak masuk hitungan atau prediksi siapapun. Namundampaknya bagi dunia, termasuk bagi Indonesia, sungguh luar biasa. Selain masalah keamanan, aksiteror itu telah berpengaruh signifikan pada bidang ekonomi terutama perdagangan, pariwisata, dantransportasi udara.
 
3. Malangnya, ketika Indonesia mulai melangkah ke luar dari dampak peristiwa itu, kita dihadapkan padatragedi bom Bali 12 Oktober 2002. Aksi peledakan bom di Bali telah membawa dampak luas bagikehidupan politik, ekonomi, perdagangan, investasi, dan pariwisata Indonesia. Peristiwa Bali telahsekali lagi membuktikan bahwa tidak ada satupun titik di dunia yang kebal terhadap ancaman terorisme.Upaya untuk memerangi dan mengatasi dampaknya memerlukan kerjasama internasional. Ungkapanbela sungkawa, simpati dan bantuan dari masyarakat internasional kepada Indonesia, mencerminkandukungan penuh masyarakat internasional kepada Pemerintah dan rakyat Indonesia dalam upayamemerangi terorisme. Berbagai pihak, termasuk PBB dan ASEAN, telah mengeluarkan resolusi dankeputusan yang meminta semua negara untuk segera bekerjasama memberikan bantuan dan dukungankepada Indonesia serta menyerukan untuk memerangi segala bentuk terorisme.
 
4. Kerja keras dan kesungguhan Pemerintah bersama semua komponen masyarakat dalam mengatasidampak tragedi Bali telah mendapatkan apresiasi yang tinggi dari masyarakat internasional. Dalamproses investigasi, Polisi Republik Indonesia dalam waktu relatif singkat telah berhasil menangkap parapelaku pemboman dan mengungkap jaringan teroris yang terkait. Dalam waktu relatif singkat pula,proses identifikasi jenasah para korban telah dapat dirampungkan. Dalam upaya investigasi danidentifikasi tersebut, Polisi Republik Indonesia telah memanfaatkan kerjasama yang baik dari negara-negara lain seperti Australia, Jepang, Amerika Serikat dan Inggris. Hal itu membuktikan bahwamekanisme kerjasama bilateral dan multilateral yang telah ditata sebelumnya melalui proses diplomasternyata telah mendatangkan manfaat yang besar pada waktu kita secara nyata membutuhkankerjasama internasional.
 
5. Namun tantangannya sekarang adalah mengembalikan kepercayaan masyarakat internasionalterhadap keamanan di Bali dan Indonesia pada umumnya. Dengan demikian, maka dampak burukekonomi dapat segera diatasi dan Bali dapat segera pulih sebagai tujuan wisata internasional. Dalamhal ini, solidaritas dan dukungan yang telah ditunjukkan oleh berbagai kalangan masyarakat di dalamnegeri telah sangat mendukung upaya pemulihan citra Bali dan Indonesia pada umumnya di matamasyarakat internasional.
 
6. Penting untuk dicatat bahwa peristiwa Bali telah sekali lagi menunjukkan semakin dekatnyaketerkaitan antara faktor-faktor internasional dan domestik. Di satu sisi, lingkungan internasional globaldapat secara langsung mempengaruhi kehidupan keseharian masyarakat kita. Faktor-faktor di luar kitadapat secara negatif mempengaruhi agenda dalam negeri kita, yang pada gilirannya mempengaruhi
 
daya mampu kita dalam menjalankan agenda politik luar negeri. Sedangkan, di sisi lain, kebijakan dantindakan pada tingkat domestik---bahkan lokal---dapat memiliki jangkauan pengaruh pada tingkatinternasional global.
 
7. Dalam konteks keterkaitan antara faktor-faktor internasional dan domestik itu maka upaya diplomasidilakukan pula untuk memagari potensi disintegrasi bangsa, terutama dalam upaya mengatasi masalahAceh dan Papua. Sepanjang tahun 2002, kita telah berhasil meraih, memperkuat danmengkonsolidasikan dukungan penuh masyarakat internasional terhadap integritas wilayah Negar Kesatuan Republik Indonesia di berbagai forum regional (seperti ASEAN, ARF, dan PIF), organisasiglobal PBB, serta negara-negara lain secara individual. Lebih jauh lagi, dukungan masyarakatinternasional terhadap otonomi khusus sebagai modalitas penyelesaian masalah juga telah berhasildiraih.
 
8. Penandatanganan Kesepakatan Penghentian Permusuhan yang ditandatangani di Jenewa padatanggal 9 Desember 2002 merupakan tahap awal dari serangkaian proses penyelesaian masalah Aceh.Sesuai kesepakatan, tahap berikutnya adalah dialog yang melibatkan seluruh komponen masyarakaAceh (all-inclussive dialogue) dan kemudian pada tahun 2004 rakyat Aceh akan memilih parapemimpinnya secara demokratis di dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peristiwa initelah membangkitkan harapan baru bagi rakyat Aceh dan mendapat sambutan baik dari masyarakainternasional.
 
9. Dalam pengelolaan politik luar negeri yang bebas dan aktif, Indonesia terus menempatkan ASEANsebagai pilar utama (corner stone). Di samping itu, penguatan interaksi dan kerjasama juga diarahkankepada negara-negara di kawasan Asia Timur, seperti China, Jepang, dan Korea Selatan, yangtercermin melalui proses ASEAN+3. Pijakan interaksi yang kokoh dengan negara-negara tersebutsemakin penting artinya seiring dengan terus bergulirnya pemikiran dan proses ke arah "MasyarakaAsia Timur".
 
10. Sementara itu, untuk meningkatkan interaksi dengan negara-negara tetangga di kawasan Timur,Indonesia telah mengembangkan tiga struktur hubungan. Pertama, interaksi melalui pengelolaanhubungan segi tiga Indonesia, Australia, dan Timor Leste melalui "Tripartite Consultation" yang padabulan Februari 2002 di Bali telah dimulai pada tingkat Menlu. Ke-dua, pembentukan "Dialog PasifikBarat Daya" atau "Southwest Pacific Dialogue" (SwPD, terdiri dari Indonesia, Filipina, Australia,Selandia Baru, Papua Nugini, dan Timor Leste) di Yogyakarta pada tanggal 5 Oktober 2002. Ke-tiga,meningkatkan interaksi dengan negara-negara kepulauan Pasifik melalui partisipasi Indonesia sebagaimitra dialog dalam Pacific Islands Forum (PIF).
 
11. Sebagai pelaksanaan amanat konstitusi dan politik luar negeri yang bebas aktif, yang ditujukan bagikepentingan nasional, Indonesia terus berupaya membina hubungan bilateral yang baik dan salingmenguntungkan dengan negara-negara tetangga dan negara-negara penting lainnya di kawasan.Indonesia juga terus berupaya mendorong terwujudnya tata pergaulan antar-negara yang mengacupada pencapaian perdamaian, keamanan dan kemakmuran di kawasan terdekat. Situasi kawasan yankondusif pada gilirannya dapat menjadi faktor pendukung bagi upaya memulihkan kehidupan ekonomidan melanjutkan proses reformasi Indonesia.
 
12. Sengketa tentang status kepemilikan atas Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan antara Indonesia danMalaysia, berdasarkan Special Agreement tahun 1997, telah diputuskan Mahkamah Internasional padtanggal 17 Desember 2002. Keputusan Mahkamah Internasional bahwa kedua pulau tersebut miliMalaysia berdasarkan pertimbangan "effectivites" (dalam ukuran tindakan publik dari pihak BritishBorneo secara terus menerus selama 80 tahun, sebelum status quo 1969, yang bersifat penegasan dari

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
hakimjoksud liked this
Ryan Ananta liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->