Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Apakah Alqur'an Butuh Hermeneutika

Apakah Alqur'an Butuh Hermeneutika

Ratings: (0)|Views: 662|Likes:
Published by Ahmad Muhlisin

More info:

Published by: Ahmad Muhlisin on Oct 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

07/30/2012

pdf

text

original

 
Apakah Al-Qur'an Memerlukan Hermeneutika?Oleh: Dr. Ugi Suharto
Peneliti INSIST, Dosen di ISTAC-UIA Kuala Lumpur 
Catatan Redaksi:Dalam seminar di UMY, 10 April 2003, Dr. Ugi Suharto merupakan satu-satunyapanelis yang secara tegas menolak aplikasi hermeneutika untuk tafsir al-Quran,dengan argumentasi yang jelas. Yang mendukung penerapan hermeneutikauntuk tafsir al-Quran adalah Prof. Dr. Amin Abdullah. Sedangkan yang tidakmengemukakan pendapatnya secara tegas adalah Dr. Samih Jazuli, Haidar Bagir, dan Yunahar Ilyas. Kabarnya, pandangan Dr. Ugi ini telah menghentakkanbanyak kalangan yang mulai menggandrungi hermeneutika di Yogyakarta.Selamat menyimak tulisan ini.(Red).Hermeneutika, yang meminjam perkataan Inggris hermeneutics, dan yang jugaberasal dari perkataan Greek hermeneutikos bukan merupakan suatu istilahnetral yang tidak bermuatan pandangan hidup (world-view; weltanschauung).Apabila perkataan ini dikaitkan dengan al-Qur'an, ataupun dengan BiblicalStudies, arti hermeneutika telah berubah dari pengertian bahasa semata menjadiistilah yang memiliki makna tersendiri. Oleh sebab itu, sebelum kita membahaslebih lanjut mengenai hermeneutika al-Qur'an, lebih baik kita bahas dahuluperbedaan arti bahasa (linguistic meaning) dan arti istilah (technical meaning)hermeneutika itu sendiri. Dari segi bahasa misalnya Aristotle pernahmenggunakan perkataan itu untuk judul karyanya Peri Hermeneias yangkemudian diterjemahkan kedalam bahasa Latin sebagai De Interpretatione yanglantas dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai On the Interpretation.Namun, jauh sebelum terjemahan dalam bahasa Latin, al-Farabi (w. 339/950),seaorang ahli filsafat Muslim terkemuka, telah menerjemahkan dan memberikomentar karya Aristotle itu terlebih dahulu ke dalam bahasa Arab dengan judulFi al-'Ibarah.Aristotle sendiri ketika menggunakan perkataan hermeneias tidak bermaksudmengemukakan arti istilah seperti yang berkembang di zaman modern kini.Hermeneias yang dia kemukakan, menyusuli karyanya Kategoriai, sekedar membahas peranan ungkapan dalam memahami pemikiran, dan jugapembahasan tentang satuan-satuan bahasa seperti kata benda (noun), katakerja (verb), kalimat (sentence), ungkapan (proposition), dan lain-lain yangberkait dengan tata bahasa. Ketika Aristotle membicarakan hermeneias, dia tidakmempermasalahkan teks atau membuat kritikan terhadap teks. Jadi topik yangdibahas oleh Aristotle adalah mengenai bidang interpretasi itu sendiri, tanpamempersoalkan teks yang diinterpretasikan itu. Dari segi bahasa, al-Farabisangat tepat mengalihbahasakan hermeneuias sebagai 'ibarah yang memberikonotasi ungkapan bahasa dalam menunjukkan makna-makna tertentu.Begitulah pengertian hermeneutika yang pada asalnya hanya merujuk kepadamakna bahasanya semata.Perpindahan makna hermeneutika dari pengertian bahasa kepada pengetian
 
istilah merupakan satu perkembangan kemudian. Sumber-sumber perkamusansepakat bahwa peralihan makna istilah itu dimulai dari usaha para ahli teologiYahudi dan Kristen dalam mengkaji ulang secara kritis teks-teks dalam kitab sucimereka. Sebuah kamus filsafat, misalnya, menyatakan:Hermeneutics. . . .Originally concerned more narrowly with interpreting sacredtexts, the term acquired a much broader significance in its historical developmentand finally became a philosophical position in twentieth century Germanphilosophy.Sebuah thesis Ph.D. mengenai hermeneutika juga menyatakan hal itu:Originally, the term 'Hermeneutics' was employed in reference to the field of study concerned with developing rules and methods that can guide biblicalexegesis. During the early years of the nineteenth century, 'Hermeneutics'became 'General Hermeneutics' at the hands of philosopher and Protestanttheologian Friedrich Schleiermacher. Schleiermacher transformed Hermeneuticsinto a philosophical field of study by elevating it from the confines of narrowspecialization as a theological field to the higher ground of general philosophicalconcerns about language and its understanding.Jadi istilah 'hermeneutika' kemudian telah beralih makna dari sekedar maknabahasa, menjadi makna teologi, dan kini menjadi makna filsafat. Menarik untukmenelusuri sedikit latar belakang mengapa hermeneutika digunakan oleh parateolog Yahudi dan Kristen untuk memahami teks-teks Bible. EncyclopaediaBritannica menyatakan dengan jelas bahwa tujuan utama hermeneutika adalahuntuk mencari "nilai kebenaran Bible."For both Jews and Christians throughout their histories, the primary purpose of hermeneutics, and of the exegetical methods employed in interpretation, hasbeen to discover the truths and values of the Bible.Mengapa dengan hermeneutika itu para teolog tersebut bertujuan mencari nilaikebenaran Bible? Jawabannya adalah karena mereka memiliki sejumlahmasalah dengan teks-teks kitab suci mereka. Mereka mempertanyakan apakahsecara harfiah Bible itu bisa dianggap Kalam Tuhan atau perkataan manusia.Aliran yang meyakini bahwa lafaz Bible itu Kalam Tuhan mendapat kritikan kerasdan dianggap ekstrim dalam memahami Bible. Encyclopaedia Britannicamenyatakan lagi:Literal interpretation asserts that a biblical text is to be interpreted according tothe "plain meaning" conveyed by its grammatical construction and historicalcontext. The literal meaning is held to correspond to the intention of the authors.This type of hermeneutics is often, but not necessarily, associated with belief inthe verbal inspiration of the Bible, according to which the individual words of thedivine message were divinely chosen. Extreme forms of this view are criticizedon the ground that they do not account adequately for the evident individuality of style and vocabulary found in the various biblical authors.Perhatikan frasa terakhir yang berbunyi "individuality of style and vocabularyfound in the various biblical authors" (gaya dan kosakata masing-masing yangditemukan pada berbagai pengarang mengenai Bible). Adanya perbedaanpengarang itulah yang menyebabkan Bible tidak bisa dikatakan Kalam Tuhan(the Word of God) secara harfiah (literal). Oleh sebab itu para teolog Kristen
 
memerlukan hermeneutika untuk memahami Kalam Tuhan yang sebenarnya.Mereka hampir sepakat bahwa Bible secara harfiahnya bukan Kalam Tuhan.Oleh sebab itu mereka merasa perlu untuk membaca Bible "between the line"demi memahami firman Tuhan yang sebenarnya. Disinilah perananhermeneutika dalam membantu memahami Bible bagi para teolog Kristen.Keadaan itu berbeda dengan kaum Muslimin, yang bisa memahami KalamTuhan dari al-Qur'an baik "on the line" atau pun "between the line."KaumMuslimin sepakat bahwa al-Qur'an itu adalah Kalam Allah yang ditanzilkankepada Rasulullah Muhammad (s.a.w.). Kaum Muslimin juga sepakat bahwasecara harfiah al-Qur'an itu dari Allah. Juga, kaum Muslimin sepakat, membacaal-Qur'an secara harfiah adalah ibadah dan diberi pahala; menolak bacaanharfiahnya adalah kesalahan; membacanya secara harfiah dalam salat adalahsyarat, dan memahami al-Qur'an secara harfiah juga dibenarkan, sementaraterjemahan harfiah dan alihbahasanya tidak dikatakan sebagai al-Qur'an. IbnuAbbas misalnya pernah menyatakan bahwa diantara pemahaman al-Qur'an ituadalah sejenis tafsir yang semua orang dapat memahaminya (la ya'dziru ahad fifahmihi). Pemahaman yang seperti ini sudah tentu merujuk pada pemahamanlafaz harfiahnya. Oleh sebab itu kaum Muslimin, berbeda dengan Yahudi danKristen, tidak pernah merasa bermasalah dengan lafaz-lafaz harfiah al-Qur'an.Perbedaan selanjutnya adalah, bahwa Bible kini ditulis dan dibaca bukan lagidengan bahasa asalnya. Bahasa asal Bible adalah Hebrew untuk PerjanjianLama, Greek untuk Perjanjian Baru, dan Nabi Isa sendiri berbicara denganbahasa Aramaic. Bible ini kemudian diterjemahkan keseluruhannya dalambahasa Latin, lantas ke bahasa-bahasa Eropah yang lain seperti Jerman, Inggris,Perancis dan lain-lain, termasuklah bahasa Indonesia yang banyak mengambildari Bible bahasa Inggris. Teks-teks Hebrew Bible pula mempunyai masalahdengan isu originality, sepertimana dinyatakan oleh seorang pengkaji sejarahBible:The Hebrew text now in our possession has one special peculiarity:notwithstanding its considerable age, it comes to us in relatively late manuscriptswhich are therefore far removed in time from the originals (sometimes by morethan a thausand years). . . .none of these manuscripts is earlier than the ninthcentury C.E.Begitu juga Kitab Perjanjian Baru, mempunyai masalah yang sama dengan KitabPerjanjian Lama:The New Testament scriptures also reflect similar problems as those of theHebrew Bible. These scriptures, particularly the gospels, were written after theperiod of Jesus, in the Greek language, that he most probably did not speak.Moreover, it is acknowledged by prominent Christian authorities that the purposeof the gospel writers was not to write objective history but for evangelicalpurpose, which in part led to the profusion of allegorical commentaries.Mengenai bahasa Hebrew Bible pula, karena tidak ada seorangpun kini yangnative dalam bahasa Hebrew kuno, maka untuk memahami bahasa HebrewBible itu para teolog Yahudi dan Kristen memerlukan bantuan bahasa yangserumpun dengan Hebrew (Semitic languages). Dan bahasa yang dapatmemberikan harapan untuk dapat mengungkap bahasa Hebrew kuno itu tidak

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->