Menjelajah Seni dan Tradisi Islam
Tema ini diilhami oleh apa yang kulakukan dalam riset dokumentasi. Riset ini berusahamendokumentasikan beberapa kesenian tradisi Islam yang ada di Indonesia. Yang rencananya untuk tahun ini akan dilakukan di lima Kabupaten/kota yaitu Bantul, Purwokerto, Rembang, Jombang danLamongan. Namanya riset dokumentasi, ya riset ini berusaha mendokumentasikan hal-hal yang terkait dengan senitradisi Islam. Seni tradisi Islam merupakan tema sentral dan merupakan prasyarat bagi kesenian yangmau di dokumentasikan. Artinya suatu kesenian yang memiliki unsur seni atau keindahan. Unsur tradisiyang artinya keseniaan tersebut merupakan tradisi lama yang masih bersifat asli, belum tercampur dengan aspek komersialisme dan modernisasi alat musik kontemporer. Kesenian tersebut merupakanekspresi kesenian masyarakat yang merupakan bagian dari upacara adat atau keagamaan. Selain itukesenian tersebut harus bernafaskan Islam, baik secara tersirat maupun tersurat.Rencananya setiap daerah di atas akan diambil 5 macam kesenian yang berbeda. Dan sampai tulisan inikutulis, riset tersebut sedang berjalan. Di Bantul, sudah selesai dengan dokumentasi kesenian:
Sholawat Montro, Rodat, Sholawat Jawi, Sholawat Maulud, Singiran
. Di Purwokerto sudah separuh jalan, dimanasudah berhasil mendokumentasikan kesenian
Genjring dan Pujian Banyumasan
, dan rencana dalamwaktu dekat ini akan mendokumentasikan
Peksimuda, Begalan Islami, Angguk
.Untuk daerah yang lain, kami masih berusaha mencari
kontak person
dan
jenis kesenian
yang sesuai.
Ada masukan? atau ada yang mau jadi kontak person?
Kemunculan seni tradisi Islam baik di Jawa maupun di Luar Jawa (dengan berbagai nama danistilahnya) tentu merupakan ekspresi keberagamaan (
religion
) masyarakat yang bersifat local. Sehingga jenis dan macamnya sangat beragam. Namun yang pasti sentuhan budaya local dengan agama Islamyang berlangsung telah melahirkan sebuah bentuk seni baru yang berfungsi baik sebagai ekspresikeagamaan maupun ekspresi budaya. Apapun nama dan tujuannya kesenian tradisi Islam merupakan bagian penting dalam penyebaran Islam di Indonesia, dan mungkin bahkan di dunia. Berkat kearifantokoh-tokoh penyebar Islam dalam mengelola percampuran antara syareat Islam dengan budaya local,maka banyak dihasilkan sebuah karya seni yang indah dan merupakan alat sosialisasi yang hebat sertametode dakwah yang paling efektif.Khusus di Jawa ada istilah
“syi’iran”
yaitu sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatuseni tradisi islam dengan campuran bahasa jawa. Istilah ini kalau dilacak akar sejarahnya tentu masihsangat erat dengan keberadaan Wali Songo di Jawa. Di daerah lain, tradisi semacam ini sangat mungkinmuncul dengan istilah lain.
Syi’iran
merupakan bagian penting dari keseluruhan tradisi Islam di Jawa,meskipun istilah inipun masih berkembang di pedalaman jawa atau di daerah tertentu (misal sunda).
Latar Belakang Kitab Kuning: Tradisi IntelektualIslam Nusantara
Sejauh bukti-bukti historis yang tersedia, sangatlah mungkin untuk mengatakan bahwa Kitab Kuningmenjadi text books, references, dan kurikulum dalam sistem pendidikan pesantren, seperti yang kitakenal sekarang, baru dimulai pada abad ke-18 M: Bahkan, cukup realistik juga memperkirakan bahwa pengajaran Kitab Kuning secara massal dan permanen itu mulai terjadi pada pertengahan abad ke-l9 Mketika sejumlah ulama Nusantara, khususnya Jawa, kembali dari program belajarnya di Makkah.Perkiraan di atas tidak berarti bahwa Kitab Kuning, sebagai produk intelektual, belum ada dalam masa-masa awal perkembangan keilmuan di Nusantara. Sejarah mencatat bahwa, sekurang-kurangnya sejak abad ke-16 M, sejumlah Kitab Kuning, baik dengan menggunakan bahasa Arab” bahasa Melayu,maupun bahasa Jawi, sudah beredar dan menjadi bahan informasi dan kajian mengenai Islam.Kenyataan ini menunjukkan bahwa karakter dan corak keilmuan yang dicerminkan Kitab Kuning, betapapun juga, tidak bisa dilepaskan dari tradisi intelektual Islam Nusantara yang panjang, kira-kirasejak lima abad sebelum pembakuan Kitab Kuning di pesantren-pesantren.