Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
82Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sejarah Tradisi Islam Nusantara

Sejarah Tradisi Islam Nusantara

Ratings: (0)|Views: 20,763 |Likes:
Published by Taufiq El-Batami
Sejarah Tradisi Islam di Nusantara
Sejarah Tradisi Islam di Nusantara

More info:

Published by: Taufiq El-Batami on Oct 24, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2013

pdf

text

original

 
A.Seni Rupa
Tradisi Islam tidak menggambarkan bentuk manusia atau hewan.Seni ukir relief berupa suluran tumbuh-tumbuhan namun terjadi pula Sinkretisme.Sinkretisme adalah perpaduan 2 jenis seni logam.
B.Aksara dan Seni Sastra
Bahasa dan huruf Arab.Seni-seni sastra berikut =Hikayat: Dongeng yang berpangkal dari peristiwa atau tokoh sejarahBabad: Adalah kisah rekaan pujangga keratonSuluk: Adalah kitab yang membentangkan soal-soal tasawwuPrimbon adalah hasil sastra yang berisi ramalan-ramalan, keajaiban dan penentuan hari baik/buruk.
C.Sistem Pemerintahan
Kerajaan-kerajaan Hindu Budha digantikan kerajaan-kerajaan Islam.Rajanya :bergelar Sultan atau Sunan seperti halnya para waliJika rajanya meninggal tidak lagi dicandikan tetapi dimakamkan secara Islam.Sistem Kalender - Munculnya kalender Jawa yang dibuat Sultan Agung menggantikan kalender Saka.
D.Seni Bangunan/Arsitektur
Terutama mempengaruhi bangunan masjid, makam, istana.Masjid-masjid memiliki ciri-ciri khusus, antara lain:Atapnya berbentuk tumpangTidak dilengkapi dengan menaraBedug dan kentongan yang merupakan budaya asli Indonesia.Letak masjid biasanya dekat dengan istanaBeberapa jenis masjid di Indonesia :- Masjid jami- Masjid madrasah- Masjid makam- Masjid tentara dan madrasah.Bangunan-bangunan lain yang muncul : istana- istana/kraton, bangunan benteng penahanan,dan makam-makam.
1.Rumah Gadang
Gaya seni bina, pembinaan, hiasan bahagian dalam dan luar, dan fungsi rumah mencerminkankebudayaan dan nilai Minangkabau.
2.Rumah Banjar
Mulai sebelum tahun 1871 sampai tahun 1935. Bangunan Rumah Adat Banjar diperkirakan telah adasejak abad ke-16, yaitu ketika daerah Banjar di bawah kekuasaan Pangeran Samudera yang kemudianmemeluk agama IslamSebagai Contoh salah satu bentuk akulturasi yang bisa kita temui dalam saluran Kesenian, SistemPemerintahan, Sistem Penanggalan, dan Teknologi.
 
Menjelajah Seni dan Tradisi Islam
Tema ini diilhami oleh apa yang kulakukan dalam riset dokumentasi. Riset ini berusahamendokumentasikan beberapa kesenian tradisi Islam yang ada di Indonesia. Yang rencananya untuk tahun ini akan dilakukan di lima Kabupaten/kota yaitu Bantul, Purwokerto, Rembang, Jombang danLamongan. Namanya riset dokumentasi, ya riset ini berusaha mendokumentasikan hal-hal yang terkait dengan senitradisi Islam. Seni tradisi Islam merupakan tema sentral dan merupakan prasyarat bagi kesenian yangmau di dokumentasikan. Artinya suatu kesenian yang memiliki unsur seni atau keindahan. Unsur tradisiyang artinya keseniaan tersebut merupakan tradisi lama yang masih bersifat asli, belum tercampur dengan aspek komersialisme dan modernisasi alat musik kontemporer. Kesenian tersebut merupakanekspresi kesenian masyarakat yang merupakan bagian dari upacara adat atau keagamaan. Selain itukesenian tersebut harus bernafaskan Islam, baik secara tersirat maupun tersurat.Rencananya setiap daerah di atas akan diambil 5 macam kesenian yang berbeda. Dan sampai tulisan inikutulis, riset tersebut sedang berjalan. Di Bantul, sudah selesai dengan dokumentasi kesenian:
Sholawat Montro, Rodat, Sholawat Jawi, Sholawat Maulud, Singiran
. Di Purwokerto sudah separuh jalan, dimanasudah berhasil mendokumentasikan kesenian
Genjring dan Pujian Banyumasan
, dan rencana dalamwaktu dekat ini akan mendokumentasikan
 Peksimuda, Begalan Islami, Angguk 
.Untuk daerah yang lain, kami masih berusaha mencari
kontak person
dan
 jenis kesenian
yang sesuai.
Ada masukan? atau ada yang mau jadi kontak person?
Kemunculan seni tradisi Islam baik di Jawa maupun di Luar Jawa (dengan berbagai nama danistilahnya) tentu merupakan ekspresi keberagamaan (
religion
) masyarakat yang bersifat local. Sehingga jenis dan macamnya sangat beragam. Namun yang pasti sentuhan budaya local dengan agama Islamyang berlangsung telah melahirkan sebuah bentuk seni baru yang berfungsi baik sebagai ekspresikeagamaan maupun ekspresi budaya. Apapun nama dan tujuannya kesenian tradisi Islam merupakan bagian penting dalam penyebaran Islam di Indonesia, dan mungkin bahkan di dunia. Berkat kearifantokoh-tokoh penyebar Islam dalam mengelola percampuran antara syareat Islam dengan budaya local,maka banyak dihasilkan sebuah karya seni yang indah dan merupakan alat sosialisasi yang hebat sertametode dakwah yang paling efektif.Khusus di Jawa ada istilah
“syi’iran”
yaitu sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatuseni tradisi islam dengan campuran bahasa jawa. Istilah ini kalau dilacak akar sejarahnya tentu masihsangat erat dengan keberadaan Wali Songo di Jawa. Di daerah lain, tradisi semacam ini sangat mungkinmuncul dengan istilah lain.
Syi’iran
merupakan bagian penting dari keseluruhan tradisi Islam di Jawa,meskipun istilah inipun masih berkembang di pedalaman jawa atau di daerah tertentu (misal sunda).
Latar Belakang Kitab Kuning: Tradisi IntelektualIslam Nusantara
Sejauh bukti-bukti historis yang tersedia, sangatlah mungkin untuk mengatakan bahwa Kitab Kuningmenjadi text books, references, dan kurikulum dalam sistem pendidikan pesantren, seperti yang kitakenal sekarang, baru dimulai pada abad ke-18 M: Bahkan, cukup realistik juga memperkirakan bahwa pengajaran Kitab Kuning secara massal dan permanen itu mulai terjadi pada pertengahan abad ke-l9 Mketika sejumlah ulama Nusantara, khususnya Jawa, kembali dari program belajarnya di Makkah.Perkiraan di atas tidak berarti bahwa Kitab Kuning, sebagai produk intelektual, belum ada dalam masa-masa awal perkembangan keilmuan di Nusantara. Sejarah mencatat bahwa, sekurang-kurangnya sejaabad ke-16 M, sejumlah Kitab Kuning, baik dengan menggunakan bahasa Arab” bahasa Melayu,maupun bahasa Jawi, sudah beredar dan menjadi bahan informasi dan kajian mengenai Islam.Kenyataan ini menunjukkan bahwa karakter dan corak keilmuan yang dicerminkan Kitab Kuning, betapapun juga, tidak bisa dilepaskan dari tradisi intelektual Islam Nusantara yang panjang, kira-kirasejak lima abad sebelum pembakuan Kitab Kuning di pesantren-pesantren.
 
Acapkali dipertanyakan mengapa, misalnya, hanya fiqih, ushuluddin, tasawuf, tafsir, hadis, dan bahasaArab yang menjadi disiplin ilmu utama di pesantren-pesantren? Tentu saja,jawaban atas pertanyaan inihanya bisa dirumuskan secara memuaskan bila mempertimbangkan perkembangan intelektual Islam Nusantara sejak periode awal pembentukannya. Bagaimanapun juga, pembakuan Kitab Kuning di pesantren sangat berkaitan dengan tradisi intelektual Islam Nusantara kurun awal.Asal-usul dan perkembangan tradisi intelektual dan keilmuan Islam Nusantara sejauh ini telahmengundang perhatian sejumlah sarjana dan pengamat yang menekuninya. Di antara mereka -untuk menyebut beberapa nama adalah Taufik Abdullah, Kuntowijoyo, Martin van Bruinessen,AbdurrahmanWahid, dan Azyumardi Azra. Dalam berbagai karyanya, masing-masing intelektual itumemberikan analisis dan penilaian atas masalah ini.Walaupun berbeda rumusan karena perbedaan pendekatan yang digunakan, hasil kajian mereka agaknyamemperlihatkan kecenderungan yang sama dalam mempertimbangkan dua faktor penting, yakni 1)kontak ulama Nusantara dengan ulama Timur Tengah seba- gai bagiandari proses internasionalisasiIslam, dan 2) interaksi (ketegangan) budaya Islam dengan budaya lokal sebagai konsekuensi logis dari proses Islamisasi Nusantara. Kedua faktor ini berperan dalam membentuk dan inewarnaitorak keilmuanIslam Nusantara seperti, antara lain, tercermin dalam tradisi pendidikan pesantren, khususnya di Jawa.Dalam penelusurannya yang bersifat sosio-historis, TaufikAbdullah menangkap lima gelombang pemikiran keislaman Nusantara. Gelombang-gelombang itu dimaksudkan sebagai pola hidupkeberagamaan (Islam) yang mencerminkan pandangan keislaman secara kolektif dan permanen di masatertentu, tidak individual dan tidak fragmentaris. Karenanya, terhadap kelima gelombang itu, ia tidak memberikan label yang ketatberkenaan dengan disiplin-disiplin keilmuan, kecuali sekadar menyebutkantekanan-tekanannya saja. Sebaliknya, ia menerangkan perkembangan sikap umat (community)dalammemperlakukan Islam sebagai jalan hidup, termasuk dalam kaitan- nya dengan kekuasaan.Gelombang pembentukan pemikiran Islam, yang disebut gelombang pertama oleh Taufik Abdullah, baru berlangsung di Nusantara sepanjang abad ke-13 M sampai dengan abad ke-16 M. Dari bukti- buktiyang dapat dipercaya, baik dalam bentuk batu nisan di Samudeta Pasai, buku-buku sejarah tradisionalsemisal Hikayat Raja-raja Pasai dan Sejarah Melayu, maupun laporan-laporan pengelana asing, sepertiMarco Polo dan Ibnu Batutah, dapat dipastikan bahwa kekuatan Islam sudah hadir pada abad ke-13 Mdi ujung Pulau Sumatera (Samudera Pasai). Meskipun demikian, sampai abad ke-14 M, kekuasaan itu belum tampil sebagai hegemoni politik paling berpengaruh dan masih kalah jauh dari kekuasaan Hindu-Budha, Majapahit, yang pada waktu itu telah berdiri di ujung timur pulau Jawa. Barulah pada pertengahan abad ke-15 M dan awal abad ke-16 M, kekuasaan Islam memegang hegemoni politik terbesar di Nusantara melalui kerajaan Malaka yang telah memeluk Islam-di wilayah-wilayah perairan(maritim).Yang terpenting dari gelombang ini adalah bahwa Islam sudah tampil tidak hanya sebagai agama dankomunitas, tetapi sudah menjadi kekuatan yang berpengaruh di hadapan tradisi lokal Hindu-Budha.Internalisasi ajaran Islam telah sampai pada tahap yang cukup ekspresif dan demonstratif. Islam dankomunitasnya sudah merasa beda dari non-Islam, kafir, yang telah hadir sebelumnya. Dalam gelombangini pula, pandangan dan pemikiran keislaman yang berkembang sudah sangat mendasar, sepertimenyangkut batas-batas antara dunia dan akhirat dan antara dunia kini yang haqq, dan dunia lama yangkafir: Prinsip-prinsip kosmopolitanisme Islam berarti bahwa semenjak gelombang ini sudah mulaidiletakkan dengan cara merujukkan kultur kehidupan umat Islam Nusantara dengan kultur Islam yanguniversal. Penerjemahan syair-syair pemujaan atas Nabi Muhammad saw. (barzanji) dan mitos-mitosIslam, baik dari Arab maupun dari Parsi ke dalam buku-buku sejarah Melayu -yang kemudianditerjemahkan lagi ke dalam bahasa Jawa -merupakan salah satu capaian intelektual Islam pentingdalam gelombang ini.Gelombang kedua dimulai sebagai kelanjutan atau konsekuensi dari capaian gelombang pertama.Ajaran-ajaran Islam, sebagaimana diajarkan teks-teks resmi, terus merambat dalam kehidupanmasyarakat luas dan kemudian menggantikan agama-agama masyarakat (folk-religions). Kontemplasiatau renungan yang mempersoalkan manusia dalam kaitannya dengan Yang Mahatinggi dan Mahaabadidimulai dalam gelombang ini. Puncaknya adalah kontemplasi Hamzah Fansuri dan SyamsuddinSumantrani di Sumatera, dan Syaikh Siti Jenar di Jawa, sebelum akhirnya masing-masing dibantai oleh Nuruddin ar-Raniri dan Walisongo.

Activity (82)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
elieglory liked this
Iwan Irawan liked this
Bety ECeks liked this
Taufiq El-Batami added this note
yupss... Silahkan di gunakan sebaik2 nya,.... senang bisa membantu anda semua ^_^
Irfan Rizaldi liked this
Laela Karyati Karyati added this note
izin ngeprint ya ?
Ema Sinthiana liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->